alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi

DateTuesday, October 14, 2008   Comment

hari pertama masuk kerja setelah lebaran, aku udah harus ketemuan sama klien, seorang sales manager sebuah usaha penerbitan global yang berkantor di Singapura. dengan klien ini, aku sudah berkali-kali berhubungan lewat email dan telepon, tapi sama sekali belum pernah ketemu muka.

sore itu, aku akhirnya bertemu dengan dia yang keturunan melayu berkulit cokelat karamel, dengan riasan wajah yang tak berlebihan, sepatu hak tinggi warna hitam, rok mini biru berpola putih dan atasan lengan pendek warna putih juga. ia terlihat ceria dan bersemangat walaupun hari itu dia punya 11 meeting dan ketemu aku dan Iman adalah meeting-nya yang terakhir.

salah satu hal yang paling seru diobrolin kalo baru pertama kali ketemu orang kayak gini adalah kesan-kesan mereka selama perjalanan di Bali. apalagi buat orang-orang yang melakukan business trip, biasanya mereka akan dengan senang hati bercerita, karena udah penat sama segala urusan kerjaan.

klien kami itu bilang kalau perjalanannya di Bali sekali ini sangat-sangat mengesankan, karena dia mengalami banyak cerita yang sebenernya di saat terjadinya sangatlah bikin frustasi. misalnya waktu dia mau booking kamar untuk tinggal. memang selama Lebaran kemarin, entah kenapa Bali (baca:Kuta dan sekitarnya) yang biasanya hanya dipenuhi sama turis domestik saja, didatangi juga secara berbondong-bondong oleh turis Jepang, Australia, Amerika dan Eropa. makanya di saat yang harusnya low season ini, dia nggak bisa dapat kamar dimana-mana, dan terpaksa menginap berpindah-pindah, semalam disini, selama disitu, dua malam disana.

lalu setelah itu dia harus bikin janji ketemuan sama banyak orang. aku nggak bisa berhenti ketawa selama dia bercerita bagaimana frustrasinya meminta para sekretaris ini untuk mengeja nama dan alamat email bos mereka masing-masing. soalnya gini, mereka terbiasa dengan cara mendiktekan gaya reservasi tiket.
contoh, kalo namanya MARK, mereka akan mengejanya mama-alfa-romeo-kilo
dan karena nggak ada kata-kata "Mama for M, Alfa for A..." dan seterusnya, yang mendengar dengan tekun mencatat mamaalfaromeokilo@xxx.com, dan setelah nutup telepon baru terpikir "why? this person is a general manager and he used mama-something for his email addresss? professional email address?"
ini masih ditambah lagi dengan salah eja yang seringkali terjadi, atau karena ngobrolnya lewat telepon lantas kelewatan mencatatnya, lalu ada salah paham soal mulai mengulang dari sebelah mana
"...tango-oscar-nancy"
"wait! what is it before echo?"
"which echo?"
dan kalau ada dua atau tiga 'echo' di dalam kata yang tadi diejakan, klienku mengaku, dia seringkali nggak dikasih tau apakah ini mulai dari 'echo' pertama, atau kedua, atau mengulang dari awal. hihihi...

"and everybody is MADE" katanya dengan nada penuh putus asa.
aku sama Iman langsung ngakak bareng. berkepanjangan. sementara dengan wajah memelas klienku bercerita kalau dia selalu bingung karena jarang sekali ada orang yang mau dengan sukarela memberikan nama belakangnya sebagai panggilan. memang, kebiasaan di pulau ini, semua orang dipanggil dengan nama urutannya, yaitu Putu, Wayan, Made, Nyoman atau Ketut. dan klienku bilang, rasanya nggak sopan buat dia untuk tanya lagi "Made who?" atau "Putu who?"
padahal nantinya, kalau dia mau menelepon atau bertemu dengan orang yang bersangkutan, dia nggak akan bisa menerangkan kalau ditanyai "Made yang mana?"

yang kayak gini ini sempat bikin dia ketemuan sama orang yang salah. yang dengan tampang bingung dan canggung menemuinya, seolah tanpa janji. dan kemudian ketika memberi kartunama, ternyata orang ini beda departemen dengan orang yang dia maksud.

ceritanya setelah itu adalah tentang nyasar di jalan dan masalah-masalah tak terduga seperti tertahan di belakang truk yang terhenti karena nggak kuat melewati tanjakan. juga sopir yang entah kenapa punya kecenderungan untuk bertanya pada orang yang jelas-jelas kecil kemungkinannya tau jalan (pada saat mereka nyasar)... si sopir akan turun di sebuah rumah atau warung terpencil yang seolah tak berpenghuni dan udah lama sekali nggak ada yang lewat, ngobrol sama orang tersebut selama sepuluh menitan dan kembali ke mobil dengan bilang "ooh, dia nggak tau jalan"

sementara, kalau ternyata yang turun adalah klienku, nantinya orang yang ditanyai itu bukannya langsung menunjukkan jalan, tapi justru menanyakan hal-hal lain, atau segala yang nggak ada hubungannya dengan apa yang dia tanyakan.

klienku mengambil kesimpulan bahwa "memang ritme di pulau ini lambat, sehingga suasananya terasa nyaman. tapi jadi nggak bisa efektif-efisien kalau bekerja dengan cara kayak gini. dan orang-orangnya juga ramah, nggak konfrontatif, makanya apapun yang kamu tanyakan atau yang kamu minta, semuanya diajwab dengan 'iya' atau 'OK' padahal belum tentu mereka mengerti apa yang kamu maksudkan. atau bisa mengerjakannya"
oh, well.

Comment

Blogger David P Pangaribuan at 8:46 PM, October 22, 2008 said:

Bali memang menyimpan berjuta pesona seakan mempunyai magnit yang sangat kuat untuk mengajak kembali para wisatawan, beragam kesulitan yang kita alami seakan sirna dan terlupakan, terkalahkan oleh keindahan pulau dewata. Story yang menarik Mbak.

Anonymous Anonymous at 4:19 PM, May 06, 2009 said:

haha..kocak!!
* ina, jd keterusan baca blog-nya niy :-)
ola

Post a Comment

Shoutbox



Instagram