Monday, October 29, 2007

pb2007: menyemat wajah pada nama

bahasa kerennya, kopdar.
saat ketika orang-orang yang selama ini saling bicara melalui ketikan di tuts keyboard mereka, dari ribuan meja yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, berkumpul di satu tempat selama lebih dari 6 jam. nggak semuanya, memang. tapi mengumpulkan sekitar 500 blogger di satu tempat yang sama, bukanlah pekerjaan yang gampang.

dan panitia Pesta Blogger 2007 sudah melakukan kerja yang luar biasa untuk menyelenggarakan pertemuan itu. bisa membuat Menteri Kominfo Muhammad Nuh merasa tertarik dan terlibat. bisa mendapatkan dukungan dari begitu banyak pihak. well done, Enda Nasution. nggak percuma aku jadi manajer fans clubnya. hihihi.



sekalian aku mau menyelipkan pesan sponsor. jangan lagi-lagi mengira Enda itu perempuan. malu dong, menyebut diri sendiri blogger tapi nggak melakukan fact check sebelum menulis. jelas-jelas foto Enda terpasang di blognya. lengkap dengan jenggot yang asli dan bukan tempelan.

aku sampai di lokasi Pesta Blogger hanya beberapa menit sebelum panitia berseru-seru supaya semua peserta masuk ke dalam ruangan. udah gitu harus pake acara online dulu karena aku lupa sama entry code-ku. rasanya seperti menjadi anggota sekte rahasia yang terlibat ritual penting. sebutkan kata sandinya untuk bisa masuk ke dalam ruangan.



sekitar 30 orang warga Kampung Gajah berkumpul dan terlibat Pesta Blogger hari ini. sebagai mailing list yang bukan komunitas blogger tetapi menguasai dunia persilatan, kami memiliki keuntungan dari segi jumlah dan volume suara. makanya dengan senang hati kami ikut bersorak dan bertepuk tangan untuk blogger-blogger dari daerah dan komunitas lain, yang jumlahnya lebih sedikit. dan ketika nama ID-Gmail disebut oleh MC, atau pada bagian akhir pidato ketua panitia... tepuk tangan, sorakan dan teriakan kami terdengar membahana. tentu saja aku termasuk salah satu yang paling ramai dan paling norak-norak bergembira.

apakah kamu juga mendengar medley "I love you, Enda" yang kami kumandangkan?



setelah sesi pertama dan makan siang, diadakan semacam focus group discussion yang kalo ndak salah hari itu disebut sebagai break-up session. aku harap tidak ada yang berpasangan dan jadi putus gara-gara ikut disalah satu sesi bersama-sama, yaaa...

aku mengunjungi semua break up session kecuali yang membahas Blog Perempuan. menurutku, kategori blog perempuan itu sendiri semestinya tidak ada. apalagi kalau dikaitkan dengan stereotyping isu dan hal-hal yang dibahas dalam blog. mengapa harus digarisbawahi sebagai blog perempuan, hanya karena yang menulis perempuan? kalo dasarnya perbedaan gender, kenapa tidak ada blog laki-laki? apakah perempuan sebegitu terbelakang dan perlu 'disantuni' dengan komentar dan link? sehingga harus ditulis dengan garis bawah. ini blog perempuan.

lalu disebut juga blog perempuan sebagian besar isinya tentang masakan, anak dan fashion. wah, ini pengkotak-kotakan yang berbahaya. dan bisa tergelincir pada generalisasi yang salah kaprah. menurutku, penulis yang baik adalah mereka yang menulis mengenai hal-hal yang betul-betul mereka ketahui, atau mereka kuasai. biasanya, penulis seperti inilah yang akan menjadi penulis yang berhasil. Arundhati Roy menulis tentang orang-orang India. begitu pula dengan Kiran Desai. meskipun Kiran kini tinggal di Amerika Serikat. mereka menulis tentang hal-hal dan orang-orang dimana mereka berakar dan memiliki pengalaman.

dan jika para blogger yang menulis tentang masakan karena gemar memasak, atau menulis tentang fashion karena suka belanja pakaian dan menjadi fashionable, kenapa harus diberi tag blogger perempuan dan hal-hal yang dibahas dalam blog perempuan? dan tidak ada tag blog laki-laki dan blogger laki-laki untuk hal-hal yang berbau otomotif, misalnya.
aku yakin para blogger laki-laki yang sudah mempunyai anak juga akan dengan senang hati bercerita tentang anak mereka dalam blog.
trust me, I know.

hal kedua yang membuatku urung menyampaikan pendapat dalam salah satu break up session adalah pertanyaan-pertanyaan seperti... topik apa yang sebaiknya kita tulis dalam blog? topik seperti apa yang akan memancing banyak komentar? apakah sebaiknya blog kita berisi tentang current issues atau tetap menjadi personal blog?

sejujurnya, pertanyaan-pertanyaan jenis ini yang membuat aku seringkali merasa kalau milis lain emang nothing™. kenapa? karena warga Kampung Gajah menurutku sudah melewati tahap itu dan ada di level yang lebih tinggi, sehingga bisa menulis dengan kebebasan tertentu. tanpa ikatan isu, tanpa tekanan komentar, tanpa pikiran "mau menulis hal-hal yang kira-kira bikin orang berkunjung, kirim komen dan ngelink".

please, menulislah karena kamu tergerak. menulislah karena kamu merasa terlibat. menulislah karena kamu ingin berbagi. menulislah, karena itu hal yang kamu sukai.

maka dalam Pesta Blogger 2007 ini, hal yang paling aku nikmati adalah saat-saat ketika pertama kali bicara dengan orang-orang yang tulisannya aku baca. yang menyapaku di mailing list dan kusapa balik. yang sudah berkali-kali bicara denganku di Yahoo Messenger baik secara personal maupun beramai-ramai saat arisan. eh, nggak lupa ngobrol bentar sama Wimar Witoelar juga:-)







aku bisa menyematkan wajah pada nickname dan ID mereka.
aku bisa yakin bahwa aku bicara pada satu sosok yang solid dan nyata. karena pada akhirnya, aku berjumpa dan berbincang dengan mereka secara langsung. tentu dibumbui tawa lebar berkepanjangan.

terima kasih, gajah-gajah Jakarta. terima kasih Pesta Blogger 2007.
:D

All photos by Oom Ganteng yang memang ganteng dan nggak kayak oom-oom. Tapi foto mencari entrycode is by Abud dan fotoku sama Oom Ganteng is by Herry.

Monday, October 22, 2007

sekelumit segalanya

liburan lebaran sudah selesai.
tadi pagi para reporter di TV melaporkan kalau jalan-jalan di Jakarta belum sepadat biasanya. lalu lintas belum mengalami kemacetan, Jakarta belum pulih. dan blog ini belum diupdate sejak tanggal 1 Oktober. sampai-sampai ada yang menyindir dengan memberi komentar berlebaran di tulisan yang sama sekali tidak bercerita tentang lebaran.

*tendang yang nyindir, hihihi*
eh, tapi maafin lahir dan batin juga yaaa...

tidak menulis setelah sekian lama, membuat otakku sedikit beku dan jari-jariku rada lupa sama tempat tuts di keyboard. dari tadi ngetik salah terus. padahal yang diketik cuma junk oneliner. gimana coba kalo panjang?
anyway, aku sempat punya khayalan muluk akan menulis selama berlibur di Malang dan Pacitan. tentu saja gagal total. aku hanya berhasil mendownload email-email yang masuk ke account kantor (kalo nggak, bisa-bisa aku terkubur ratusan email) dan memberi makan Puff, my magic dragun fluff friend. hayooo... yang pada kecanduan facebook, apakah binatang piaraannya udah pada dikasih makan?

tapi tadi malem otakku udah sedikit terasah setelah nonton Sur Mes Lèvres, film Perancis yang adalah gabungan dari genre drama, thriller dan crime. jalan ceritanya tertata dengan baik dan detail yang ada dalam film itu semuanya dipikirkan dan dieksekusi dengan baik. walapun semua cerita tentang tokoh-tokohnya 'selesai', tapi nggak berakhir dengan memaksa, dan sama sekali nggak cheesy. aku sangat lega waktu Carla dan Paul akhirnya berhasil. mengingat segala kerepotan yang mereka alami;)

buat Trinie Lupin, mungkin kalo kamu nonton film ini, kamu akan lebih memahaminya dengan baik, daripada aku:) jangan lupa kalo nonton harus bersama orang yang menyenangkan, dan yang membuatmu merasa nyaman. karena teman nonton yang asyik itu sangat penting!

jadi sekarang ini, aku mau bercerita tentang segala macam hal yang teringat dari liburanku selama 8 hari penuh. hari-hari yang bikin Iman (bukan kamu, mBu) protes karena ditinggalin kantor begitu lama. heran, sekretaris ditinggal bosnya pergi kok malah bete. yang jamak sih mestinya hepi berat.

tapi sebelum bercerita, marilah memakai blotting tissue untuk membersihkan minyak dari wajah di hari yang panas dan gerah ini.

Makanan buatan Mama
hal yang paling utama dan paling penting dari liburan adalah kesempatan makan yang enak, banyak, gratis dan bisa dipilih sendiri menunya. aku sudah menyiapkan list yang isinya daftar masakan yang sangat susah kutemukan di Ubud (atau Bali) dan kalopun kutemukan, rasanya nggak seenak buatan Mama. setiap hari, aku nggak pernah merasa lapar, karena Mama memasak ini itu dan aku akan makan dengan riang dan gembira. mau naik berapa kilo juga boleh deh. toh aku turun 4 kg selama Ramadhan. aku sampe terharu deh. selama seminggu itu, di meja nggak pernah ada ayam broiler di meja. Opor dan masakan lain yang berbahan dasar ayam dibuat dari ayam kampung karena aku alergi ayam broiler. lalu di hari terakhir, selain Lemper isi daging, Mama juga membuat Sayur Nangka yang sedappp!!! sebagai ganti lodeh nangkaku yang hilang. Mama juga sempat bikin Tong Seng, Rawon, Bihun Goreng yang juara!, Kering Tempe, Sayur Buncis dan Tahu yang enak dimakan dengan lontong, juga Sup Sayuran, dan Ikan Layur segar yang digoreng kering ditemani sambal kecap.
sigh, sementara seminggu ini aku harus detox untuk membersihan sistem pencernaan dengan hanya minum jus dan air putih. tapi aku kok cerita tentang berbagai makanan ini ya?




tapi foto-fotonya adalah foto cemilan tradisional waktu lebaran. minus Kolang kaling manis berwarna hijau yang harum dan enak banget. keripik-keripik dan rengginang ini sengaja aku upload untuk Joan.

Warisan
bagian ini aku tulis sekalian buat memperingati diriku sendiri.
sesama saudara sedarah itu, bagaimanapun juga nggak akan bisa terhapus hubungannya. jangan hanya sewaktu muda aja jadi saudara kandung, tapi setelah besar nggak mau bicara satu sama lain karena masalah harta. I believe that blood is thicker than water.
buat orang-orang tua yang merasa punya warisan juga, sebaiknya sejak awal menulis surat wasiat. supaya ketahuan siapa yang mendapatkan apa dan berapa banyak, di sebelah mana.

liburan ini, aku menyaksikan kisah nyata yang berlaku seperti cerita shitnetron yang paling ngetop dan paling digemari. karena ada perebutan harta, intrik dengan wanita ketiga dan kedengkian. tinggal kurang polisi dan penjahat aja untuk jadi film India.

KAPAN???
tentu saja pertanyaan ini keluar. hihihi...
dan karena aku udah tau pertanyaan ini akan keluar, aku sudah menyiapkan berbagai versi jawaban sesuai dengan jenis pertanyaan yang diajukan, dan intensitas rasa ingin tahu yang bersangkutan.
kalo yang bertanya membahasnya dengan serius dan penuh nada kekhawatiran, aku juga menjawabnya dengan serius, dengan nada yang menenangkan.
"tentu saja menikah itu aku pikirkan. tapi kalau belum ada yang bisa diajak berpikir tentang itu, jadinya kan absurd tuh. kayak lukisan abstrak tanpa bentuk. ya nggak?"

nah, kalo yang bertanya nadanya sedikit menggoda, dan biasanya dilakukan tetangga dan tante-tante yang masih muda, serta mengaku udah gatal pengen bantu-bantu kalo Papa-Mama bikin hajatan, aku bilang
"segera, tante. siap-siap rewang ya??"
kalo mereka melanjutkannya dengan tanya
"calonnya siapa? orang mana?"
aku akan menjawab dengan nada yakin
"tinggal satu itu yang saya belum tahu, tante. kalau persiapan yang lain sih udah beres"

kalo yang bertanya menambahi dengan ucapan "jangan terlalu milih-milih"
aku akan bilang "jodoh itu kan Allah yang menentukan, tante. walopun aku milih, kalo nggak sesuai dengan ketentuannya Allah, nggak akan bisa jadi. cuma nggak tau nih, apa masih nyasar atau gimana, kok nggak datang-datang jodohnya. oyah, tante kan udah naik haji... dibandingkan sama aku mestinya doanya tante lebih makbul. boleh titip salam, tolong tanyain jodohku udah sampe dimana?"

tapi jawaban standarnya sih begini
"nanti kalo udah ada kepastian, pasti dikasih tau, Pakdhe (atau panggilan yang lain, disesuaikan dengan yang bertanya). jangan khawatir. pasti dikabarin, bikin press conference dan ngundang orang-orang. belum pernah main ke rumah di Malang kan?"

Rumah Nenek
keluarga besarku berasal dari Pacitan. Papa dan Mama sama-sama lahir dan besar disana. tapi tahun ini, di rumah keluarga Papa sudah nggak ada Mbah lagi karena Mbah Kakung dan Putri sama-sama sudah meninggal. tahun lalu, selain Mbah Putri dari Papa dan Mama, aku masih punya Eyang Putri, nenek buyutku yang juga neneknya Mama.



tahun ini, rumah Mbah Putri dari Mama dan Papa sama-sama kosong. dari keluarga Papa karena barusan meninggal Mei lalu, sementara dari Mama karena pindah ke rumah Bulik. sedih banget deh melihat dua rumah yang dulu begitu hidup dan meriah dan penuh warna, sekarang jadi sunyi senyap dan mati. huhuhu...

tapi memang perubahan itu nggak bisa dicegah ya?
setelah Paklik dan Bulik-ku menikah, pekarangan yang dulunya halaman luas dan jadi tempat menanam buah dan sayur disulap jadi rumah. sementara Mbah Kakung dan Putri semakin tua, sampai akhirnya rumah induk ditutup, menjadi kos-kosan yang sepi tak bertuan selama penghuninya mudik ke kampung masing-masing.

Pantai dan Dermaga





Pacitan itu terletak di tepi Samudera Hindia. lautnya hijau dan ombaknya besar. pasirnya putih. banyak ikan. seumur hidupku, aku selalu ingat, kapanpun bisa makan ikan sebanyak-banyaknya di Pacitan. pas lebaran hari kedua , pasar sudah buka dan aku pergi membeli ikan sama Mama. kami belanja Layur, ikan gurih yang tipis memanjang berwarna perak dengan kepala berbentuk segitiga. tapi di kedai Budhe Karti ada juga Tuna segar (yang pasti enak dibuat Spicy Tuna Salad), ikan Abon, ikan Kakap Merah dan ikan Singapur yang lebih kecil tapi warnanya mirip. selain itu masih ada udang segar yang merona menggoda dan cumi-cumi yang menghitam berkubang tinta.

setiap hari selama di Pacitan, aku selalu pergi ke pantai. berjalan-jalan sepanjang pasir dan membiarkan kakiku basah disapu ombak yang rajin berdatangan.
sayangnya, aku nggak pergi ke dermaga tempat ikan-ikan diturunkan setiap pagi, yang letaknya hanya 200 meter dari tempat pelelangan ikan. abisnya, kapal-kapal itu datangnya pagi banget sih. dan kalo mau ikan yang rasanya masih manis karena baru turun dari kapal nelayan, harus mau duduk tertusuk angin laut yang dingin pada pukul empat pagi!
jadi aku cuma foto-foto aja di deket dermaga. dan juga di pantai.

Tasya Miranda
teman baiknya Mama selama beberapa bulan terakhir. matanya lentik dan senyumnya manis. suka makan kerupuk, es krim dan cokelat. setiap hari ia akan datang untuk melihat ikan di aquarium di ruang tengah kami. dia akan minta seseorang untuk menyeret kursi makan ke dekat aquarium supaya bisa berdiri diatasnya, memandang ikan-ikan dari tempat yang lebih nyaman. dia belum bisa membedakan panggilan untuk Mama dan Papa, jadilah Tasya memanggil Papa dengan "Bu Hanan" instead of "Pak Hanan", hihihi.
maklum, umurnya baru dua tahun setengah. anak Oom Ivan yang jarak tempat tinggalnnya cuma serumah dari rumah Mamaku. selain ikan, dia juga suka kucing, burung dan ayam. terbukti waktu aku ajak pergi ke Pasar Burung di belakang hotel Splendid Inn, dia sibuk mendatangi kandang dan sangkar berbagai binatang sambil bilang "ini kucingnya Chaca. ini ayamnya Chaca. ini burungnya Chaca" satu-satunya binatang yang dia takuti di pasar itu, dan nggak dia tanyakan "itu apa, mbak?" adalah kura-kura. pelukannya mengerat dan agak panik waktu aku menggendongnya melewati kandang kura-kura.
kalo ada Tasya, kegemaranku berkhayal akan tersalurkan dengan baik. dia akan mengajakku naik ke lengan sofa sambil bilang "ayo naik kuda!" dan aku akan berkuda dengannya ke arah tembok. "kita kemana, mbak?" tanyanya.
"kita pergi nabrak tembok" jawabku.



tapi memang ngobrol sama anak seumur dia itu absurd. mungkin seperti bercakap-cakap dengan Andy Warhol. coba nonton Factory Girl, deh. suatu sore aku sedang menyetrika pakaian dan dia ikutan masuk ke dalam kamar yang dulunya kamar adik laki-lakiku. di dinding penuh ditempeli poster klub bola, kesebelasannya, pemain bintangnya dan berbagai logo kesebelasan sepak bola. ampun deh... sesorean aku harus menjawab pertanyaan "itu siapa?" yang nggak ada habisnya. kalo pas ada namanya sih aku tinggal baca. tapi kalo namanya nggak ketulis? aku nggak tega buat kasih jawaban ngawur. Mama yang lewat di depan pintu kamar sambil ketawa bilang
"sabar ya, mbak. nggak boleh capek jawabnya, dan nggak boleh nggak dijawab lhoo"
yeah, rite.

dua hal yang paling aku ingat dari Tasya Miranda adalah suara tawanya yang khas dan serak basah "Hohoho" dan seruannya waktu masuk ke dalam rumah, atau waktu ada yang mengganggunya. "Hoy!".
hihihihi, dik Tasya boleh main bajak laut sama mbak Ina, kalo gitu. ahoy matey!

KFC?
bangunan ini aku temukan di Taman Dayu, di tengah-tengah jalan antara Surabaya dan Malang. sebetulnya dulu Taman Dayu itu komplek perumahan yang punya konsep keren banget. mendekatkan diri pada alam, serba natural dan hijau dan sehat. tapi karena ternyata orang-orang yang punya gaya hidup seperti itu dan punya duit untuk beli rumah disitu jarang yang bersedia tinggal di tempat yang out of nowhere, trus udah gitu ada kolam lumpur raksasa yang bikin ribuan orang maleeeeessss banget kalo harus melewati jalan panjang nan macet antara Surabaya dan Malang (tepatnya di sekitar Porong) jadilah Taman Dayu bergeser kelas menjadi komplek perumahan yang nggak ada bedanya dengan komplek lain yang lebih murahan.
itu sih analisaku digabungkan dengan analisa Papa soal keberadaaan KFC yang bentuknya nggak banget di bagian depan kompleks Taman Dayu ini. arsitekturnya menggabungkan antara kubah masjid dengan La Sagrada Familia. hasilnya?
bisa dilihat sendiri.





wah!
tidak terasa sekarang udah sore banget yaaa... padahal tulisan ini tadi kumulai waktu tengah hari. disambil dengan angkat telepon, meeting informal, chatting, balas pesan-pesan di facebook, dan memikirkan ide untuk copywriting satu iklan. tentu saja idenya masih belum dapat. jadi harus diteruskan dengan bertapa di kamar malam ini, sambil membongkar bahan yang sudah terkumpul.

Minal Aidin wal Faidzin yaaa...
Maafin aku lahir dan batin atas segala salah kata, salah kutip dan salah tulis di blog ini. juga kalo-kalo ada yang nggak berkenan di shoutbox dan gambar-gambarnya.

Monday, October 01, 2007

cumi goreng tepung

sepanjang Ramadhan ini, aku lebih sering memasak sendiri di rumah, daripada beli makanan jadi di warung. kalau waktunya harus tetap di kantor sampai selepas waktunya buka (yang juga beberapa kali terjadi) atau ada undangan berbuka puasa bersama (walaupun yang mengajak makan bersama belum tentu juga berpuasa), itu bisa dihitung sebagai berkah Ramadhan, karena gratisan!

jangan tanya apakah aku bisa masak. tapi jangan juga meragukan kemampuanku. masakanku memang sebaiknya hanya aku sendiri yang makan karena pertama, penampilannya suka nggak kompak, sama sekali nggak sesuai dengan rasanya. dan kedua, aku takut ada yang keracunan:D
tapi sebetulnya minggu lalu aku udah ada kemajuan. waktu bikin pudding dengan resepnya Bara Pattiradjawane, 5 orang lain yang ikut menghabiskannya kelihatan masih sehat-sehat aja sampai sekarang.

nah, beberapa hari yang lalu aku mencoba membuat cumi goreng tepung, tanpa melakukan riset secara seksama, bagaimana sebaiknya memperlakukan, membumbui dan menggoreng cumi itu. akibatnya, berantakan. cuminya amis nggak karuan, bentuknya lebih seperti potongan jantung pisang daripada cumi. jangan tanya kok bisa jadi hancur gitu bentuknya, karena aku juga nggak tau sebabnya. pokoknya kacau deh.

hari ini aku membaca-baca resep di internet dan menemukan kalo ternyata bikin cumi goreng tepung memang nggak semudah yang aku pikir sebelumnya. ada proses ini itu yang harus dikerjakan, dan cukup memakan waktu. pantesan kalo beli harganya mahal. ternyata itu sebabnya.

moral of the story... mendingan minta ditraktir cumi goreng tepung ajah!

Saturday, September 29, 2007

I hope you wore Red yesterday



And if the darkness is to keep us apart
And if the daylight feels like it's a long way off
And if your glass heart should crack
And for a second you turn back
Oh no, be strong



You're packing a suitcase for a place none of us has been
A place that has to be believed to be seen
You could have flown away
A singing bird in an open cage
Who will only fly, only fly for freedom

Walk on, walk on
What you've got they can't deny it
Can’t sell it, can’t buy it
Walk on, walk on
Stay safe tonight

And I know it aches
And your heart it breaks
And you can only take so much
Walk on, walk on

Lyrics by U2.Walk On. From the album "All That You Can't Leave Behind
Images taken from NYT website

Thursday, September 27, 2007

yang tertinggal dari minggu lalu

yang sedang memegang kamera itu Jim Goldberg, salah satu anggota Magnum Photo yang prestisius dan pemenang Henri Cartier-Bresson International Award 2007. Jim kedua yang aku kenal setelah Jim Geovedi. di sebelahnya, berdiri Doug Dubois. Dubois kedua yang aku ketahui setelah Eugene Dubois, yang mengumumkan penemuan Pithecanthropus erectus.

pertemuan dengan Jim dan Doug terjadi secara tidak terduga pada suatu Sabtu siang yang berangin di awal bulan Ramadhan. sampai kadang-kadang aku merasa, selain penuh berkah, Ramadhan di Bali lebih menantang karena begitu banyak godaan terhidang. misalnya menemani Jim dan Doug makan siang:D

menyaksikan fotografer hebat yang sedang bikin foto-foto di Bali untuk New York Times ini memang menakjubkan. luar biasa. aku terkagum-kagum sampai lupa ngajakin foto bareng.
ah!

Wednesday, September 19, 2007

Pak SBY, kok nuklir sih...

kenapa kita harus bikin PLTN dan pakai tenaga nuklir sebagai sumber energi alternatif to, Pak? kenapa harus, gitu lho? kenapa semangat banget mau mengaplikasikan teknologi itu di Indonesia? apa karena ngefans sama Einstein? eh, itu hukumnya Einstein kan yang dipakai buat menghitung besarnya energi nuklir? kalo salah bilang yaa...

uhm, kalo alasannya karena selama ini kita punya ketergantungan yang terlalu besar terhadap energi berbahan bakar fosil (seperti minyak dan batubara), sebetulnya ini masalah yang dihadapi oleh banyak sekali negara di dunia. bukan cuma Indonesia yang menghadapi. tapi kenapa sih kita takut akan kehabisan?

sebenarnya bukan takut lagi ya, karena emang minyak kita udah habis dijual dari sejak jaman Mafia Berkeley dulu itu. tapi sebenarnya jawabannya ada kok, Pak. coba Pak SBY ngecek lagi buku-buku IPS yang dulu saya pakai buat belajar di SD. katanya negara kita itu adalah negara agraris. artinya negara yang sebagian besar penduduknya adalah petani. well, itu penjelasan sederhana dari konsep yang menyebutkan bahwa pertanian (semestinya) adalah tulang punggung perekonomian di negara kita.

artinya apa?

konsep dasar pertanian adalah menjadi desa, masyarakat, atau negara yang self-sufficient. yang bisa mencukupi kebutuhannya sendiri akan berbagai hal. terutama dalam soal-soal pangan. nah, apakah prinsip ini bisa diaplikasikan dalam menyelesaikan ketergantungan energi ini?

BISA BANGET.

udah pernah denger soal mobil-mobil yang bahan bakarnya berasal dari minyak nabati belum Pak? itu loh... yang bisa jalan dengan cairan semacam bensin yang berasal dari minyak jagung, kedelai, gandum, atau bahkan minyak kelapa? jagung, kedelai, gandum dan kelapa itu kan bisa ditanam banyak-banyak di negara kita yang luas ini. jadi kita bisa menghasilkan minyak nabati sebanyak yang diperlukan, untuk memenuhi kebutuhan akan bahan bakar yang sudah tidak bisa dipenuhi lagi oleh bahan bakar fosil.

tapi PLTN kan buat pengganti energi listrik ya, Pak? bukan buat ngidupin mobil?
padahal bisa loh! ada banyak mobil hybrid sekarang. yang bisa jalan karena memakai batere. yah, kira-kira kayak tamiya lah! pasti dulu Pak SBY juga pernah beliin tamiya buat Agus dan adiknya. nah, ngecharge baterenya itu pake listrik, Pak. jadi kan listrik juga bisa dipakai untuk menghidupkan mobil. eh, tapi dari tadi saya belum cerita tentang energi alternatif lain untuk menghasilkan listrik yang banyak selain dengan nuklir ya?

coba sekarang Pak SBY keluar dari ruangan yang ber-AC dan dingin sejuk itu, lalu keluar. tapi jangan pake payung, dan jangan langsung masuk mobil. keluar aja ke halaman.

panas nggak, Pak? iya, yang bikin terasa panas itu sinar matahari namanya. dan sinar matahari ini, bisa diubah menjadi listrik, Pak. namanya listrik tenaga surya. keren ya, Pak?

kita punya sinar matahari yang melimpah ruah, Pak. dari Sabang sampai Merauke. di pantai, di gunung, di desa-desa, di berbagai kota di Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa. pokoknya banyak deh! cukup untuk bikin kulit turis jadi gosong dan gadis-gadis di pantai tampak eksotik. cukup buat mengeringkan jemuran pakaian di lebih dari 1000 pulau yang dihuni dari 13.700 lebih pulau di seluruh Indonesia. cukup buat mengeringkan sale pisang, kerupuk nasi, gabah, kopi, cengkeh, kayu, dan anak-anak sekolah yang disetrap sama gurunya.

sinar matahari itu sumber energi yang nggak ada habis-habisnya, Pak. mungkin habisnya waktu kiamat, yang sudah dekat itu. sinar matahari juga menghasilkan energi yang nggak menimbulkan terlalu banyak polusi, dan yang paling penting, sinar matahari satu-satunya sumber energi yang tidak menimbulkan ketergantungan baru lagi.

tidak akan bikin ketergantungan pada negara yang punya uranium seperti kalo kita bikin PLTN.

teruus... energi ini juga sudah terbukti efektif, lho! ada beberapa daerah di Indonesia Timur yang sudah memakai listrik dari tenaga matahari, Pak. kata mereka... bahkan ketika hari mendung, sinar matahari yang sudah diserap sebelumnya masih bisa memberi tenaga listrik sampai tiga hari kemudian. hebat 'kan, Pak?

lagian, energi nuklir itu sangat nggak aman lho, Pak. kalo aman... Perancis akan bikin percobaan meluncurkan rudal nuklir di negaranya sendiri, dan bukannya di Samudera Pasifik. apalagi orang-orang di negara kita itu kan murah hati. suka ngasih potongan dan diskon. nanti kalo buat bikin reaktor nuklir itu bahannya di-diskon, ongkosnya di-diskon, dan standar keamanannya di-diskon gimana? emangnya nyawa dan badan orang Indonesia mau di-diskon juga? asal punya nuklir, nggak papa deh kalo kakinya cuma tumbuh sebelah dan otaknya rusak karena kena radiasi.

ayo dong, Pak... kita jadi self-sufficient, yuk? ayo kita menggunakan sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan lebih menguntungkan untuk bangsa kita sendiri. saya tahu investasi yang diperlukan pasti besar sekali. tapi kita kan bisa memperhitungkan BEP-nya, bisa menghitung gimana caranya supaya negara kita mengeruk keuntungan banyak-banyak dari sumber daya yang nggak habis-habis itu. kalo soal menghitung keuntungan, anggota DPR yang ijasahnya dipertanyakan juga pinter 'kan, Pak? saya yakin minyak nabati dan tenaga surya adalah jawaban yang lebih baik daripada nuklir.

uhm, mungkin boleh juga kalo reaktornya dipasang di komplek perumahan tempat Pak SBY tinggal, dan bukannya di Semenanjung Muria. apa nggak takut sama kejadian kayak di Chernobyl, Pak?

Friday, September 14, 2007

Menyiram bunga dengan Matematika

tiba-tiba aku berpikir tentang rumus-rumus Matematika.

ceritanya aku lewat Jalan Hanoman dalam perjalanan singkat 6 menit dari rumah ke kantor. lalu aku lihat orang sedang menyiram bunga. alih-alih pake gembor, dia melubangi pantat ember dan membawa embernya keliling-keliling di sekitar petak bunga. keliatannya sama aja, sih. tapi kalo dipikir lagi, dibandingkan dengan gembor yang hanya berlubang di bagian mulutnya... pada proses mengisi air dan membawa ember itu dari keran air ke petak bunga, pasti udah ada air yang tumpah. dan bunga yang paling deket dengan keran air akan menerima air paling banyak, atau malah kebanyakan, sementara petak bunga yang letaknya paling jauh dari keran air akan menerima air paling sedikit. tanpa rumus Matematika, kita bisa tahu kalau gembor lebih efektif daripada ember yang pantatnya dilubangi.

nah, pikiran tentang rumus Matematika itu datang karena aku bertanya dalam hati, mana yang lebih efektif dan efisien. menyiram dengan gembor, atau selang air?
persoalannya dengan selang air adalah, kita nggak bisa langsung mengukur berapa banyak air yang dikeluarkan untuk sepetak bunga. kalo di gembor air kan gampang banget. sekali angkut 5 liter, tiga kali angkut 15 liter. katakan yang tumpah dalam sekali angkut 200 ml, berarti bisa menyiram seluruh petak bunga dengan 14,4 liter.

sementara untuk mengukur dengan selang air, kita harus memperhitungkan kecepatan air mengalir dan jumlah air yang keluar dari mulut selang dalam satu waktu tertentu (misalnya 5 menit), dan air yang tumpah atau nggak terpakai adalah air yang masih ada dalam badan selang setelah air dimatikan.

kalau udah bisa menghitungnya, baru ketahuan, pada saat bagaimana selang lebih efektif, dan pada saat bagaimana gembor lebih efektif. walaupun jelas pakai gembor lebih capek ngangkatnya daripada kalo pake selang air.

setelah memikirkan itu, dan tidak berhasil mengingat-ingat rumus Matematikanya, aku jadi menyesal dulu suka nggak serius sama pelajaran Matematika, dan memandang papan tulis dengan pikiran..."mo dipake apa sih rumus kayak gitu?". dan akibatnya nilai Matematika-ku emang paling bagus 7. hihihi... itu pun udah pake acara minta diajarin sama cowok ganteng tetangga depan rumah temen sekelasku.

tapi memang sepanjang sejarahku sekolah, guru Matematika yang aku temui tidak pernah berusaha membuat pelajarannya jadi menarik. sepertinya lebih menikmati citra kalau pelajaran Matematika itu sulit, kalau gurunya membosankan, atau killer.
sebenarnya ini semacam seruan buat para guru Matematika, supaya orang-orang seperti aku semakin berkurang:D

anyway, ada yang mau ngerjain hitungan Matematika buat masalah yang diatas tadi?

Wednesday, September 12, 2007

peti untuk jantungku

aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertamaku sesaat setelah sampai di Aneh-Aneh.

tempat itu adalah penggambaran yang sempurna terhadap Jones Salvage Yard milik Paman Titus dalam cerita Trio Detektif. bedanya, Aneh-Aneh melulu berisi kayu. dari pangkalan terbukanya, yang terlihat hanyalah kayu sepanjang mata memandang. sebagian besar dari kayu-kayu yang ada disana adalah bagian bonggol pohon, yang paling dekat dengan akar. lalu ada juga lempengan kayu yang tebalnya berbelas atau berpuluh senti, dengan ukuran lebar yang membuatku berdecak kagum. membayangkan bahwa lempengan kayu itu berasal dari sebuah pohon yang begitu besar, sampai diameternya bisa mencapai 2M, atau lebih. apapun yang terbuat dari kayu yang bisa kamu bayangkan ada disini. kursi, meja, lemari, papan, balok, patung, pitu kuno, kerangka rumah, tiang yang biasa ditemui dalam rumah-rumah Jawa di Kudus, patung, fosil kayu, lempengan papan yang memotong penampang melintang akar (dan membuatnya jadi mempunyai lekukan indah secara alami), serbuk kayu, serutan kayu, serpihan kayu... apapun.

di tempat itu juga aku melihat berbagai jenis kayu. jati, ebony, ulin, asam, johar, sonokeling dan entah apalagi. selain daerah hamparan terbuka, terdapat juga berbagai ruangan yang merupakan tempat penyimpanan kayu-kayu khusus, bengkel kerja untuk proyek-proyek yang berhubungan dengan kayu, ruang pamer patung dan benda-benda yang hendak dijual, kantor, rumah tinggal pak insinyur, pokoknya... tempat itu adalah labirin kayu yang menyimpan dan mengerjakan segala hal yang berhubungan dengan kayu.

dari kartu namanya, aku bisa membaca kalau Aneh-Aneh yang menyebut dirinya 'Curious Arts' ini bisa mengerjakan segala jenis furniture kayu, rumah yang bisa dibongkar pasang, mereproduksi benda-benda tua yang terbuat dari kayu (mungkin bisa juga mendiskusikan pembuatan benda antik, hihi), mencarikan benda-benda yang jarang ditemukan (aku nggak tau bendanya harus terbuat dari kayu atau nggak), juga membuat benda-benda berdasarkan pesanan.

sore itu, aku menemani Onet memesan kursi yang diinspirasi oleh desainer-arsitek-seniman kesayangannya, Gaudi.
dan saat menelusuri tempat itu, aku justru tertarik pada benda ini:





mungkin aku akan memesan peti ini untuk menyimpan jantungku. agar bisa kuberikan padamu, supaya aku bisa selamanya mengarungi lautan. dan kamu menjelma jadi penguasa lautan karena mencintaiku.
yaya, ini khayalan untuk menemani hari pertama berpuasa yang baru dimulai 5 jam yang lalu. selamat berpuasa juga buat kamu:D

Monday, September 10, 2007

siapa yang bilang...



kalau film ini film komedi yang lucu?

jangan tertipu sama gambarnya yang cheesy, maupun pilihan font-nya, dan tampang para pemainnya yang terlihat imut. jangan cepat-cepat bilang  kalo dari covernya, film ini mestinya film nggak penting kayak reality show-nya Paris Hilton yang nggak banget.

ceritanya manis dan mengalir dengan enak. dialognya enak didengarkan, nggak berlebihan dan dalam beberapa scene cukup penting untuk dikutip. dan karena film ini bercerita tentang persahabatan, banyak adegan yang terasa sangat mengharukan.

padahal aku mau nonton film ini karena dikasih tau kalo filmnya lucu dan menghibur.
tapi sekarang aku malah bersimbah air mata. haduh...

*ambil tisu lagi*

Sunday, September 09, 2007

lagi baca bukunya Pak Wimar

sekarang ini, lagi baca refleksinya Wimar Witoelar yang judulnya 'No Regrets'.

yaya, aku tau ini basi banget karena buku itu udah terbit dari sejak tahun 2002. bahkan sebelum aku lulus kuliah. tapi nggak papa kan? malah menurutku, sebaiknya aku baca buku ini skarang, karena pengalaman menyaksikan naik turunnya presiden udah aku alami beberapa kali.

Suharto-Habibie-Gus Dur-Megawati-SBY

sempat nggak nonton TV selama hampir dua tahun, dan sempat merasa ketinggalan isu-isu politik yang beredar disana sini. tapi nggak apalah. lha wong kalo ngeliat berita di TV, aku malah jadi emosi sendiri. kenapa sih otak pada nggak dipake? kok bisa-bisanya bikin kebijakan konyol kayak gitu?

tadinya kukira, kalau aku nggak ngerti isu yang beredar dan sibuk sama diriku sendiri untuk beberapa saat, aku akan lebih bisa menghargai apa yang dilakukan pemerintah negara ini dan bis amengharapkan perubahan ke arah yang lebih positif. tapi ternyata aku salah besar. rasanya segala hal makin parah aja.

aku suka berpikir kalau para politisi, orang-orang yang duduk di pemerintahan, anggota DPR yang selalu sok kebakaran jenggot tapi nggak berbuat apa-apa untuk hal-hal yang penting, sebaiknya disuruh duduk manis di kelas mata kuliah Strategi. supaya jangan terlalu sering bikin kebijakan konyol yang membuat mereka semakin bodoh. tapi kalo dipikir lagi...

mungkin mereka malah akan tertidur di kelas, mungkin mereka akan bengong dan menanyakan hal-hal yang bodoh dan tidak relevan, mungkin mereka hanya akan manggut-manggut dengan tatapan kosong dan bilang setuju sambil bertepuk tangan di akhir kelas, tapi don't have the slightest idea, apa yang dibicarakan di kelas itu. capek deh...

aku jadi memikirkan politik lagi gara-gara baca 'No Regrets'.

tapi yang paling penting sebenarnya, buku ini mengklarifikasi hal-hal yang membuat keningku berkerut di masa lalu, atas sikap dan kebijakan Gus Dur. aku jadi bisa manggut-manggut sambil bergumam "oo... ternyata gitu toh?" pada diriku sendiri sambil mebaca-baca tulisan yang tercetak di dalamnya.

makasih ya, Pak Wimar...
*kasih senyum yang paling manis*

hmmm, mungkin habis ini akan aku teruskan dengan baca 'Hell, Yeah!'
eh tapi... Cosa Nostra: A History of The Sicilian Mafia-nya masih menganggur tergeletak di meja. hihihi... kalo sama buku memang suka lapar mata. dan tau-tau khilaf berbelanja:D

Pak Wimar, kapan ke Bali lagi? nanti saya ajak makan bebek goreng:D

Sunday, September 02, 2007

disambiguation

Kevin told Azlina that he likes me because I'm a giggler. hihihi.
komentar yang autentik dari orang yang mengomentari Thom Yorke dalam album The Eraser dengan "how cute..."

Norman bilang aku adalah seorang komedian.
waktu itu kami baru selesai meeting sambil makan dessert di La Lucciola. tempat itu dipilih karena letaknya persis di depan pantai Kayu Aya. tapi jangan tanya harganya.
entah bagaimana, tiba-tiba obrolannya sampai pada soal kucing. Norman bercerita tentang Lucifer, kucing hitamnya yang sangat lucu sekaligus nakal.
hari itu, tetangga Norman di apartemen mengundang bosnya untuk makan. entah bagaimana, Norman tahu kalau perempuan separuh baya ini nggak begitu pintar memasak, tapi hari itu dia menyiapkan pie daging untuk menjamu bosnya. setelah pie itu matang, ia mengeluarkannya dari oven, lalu meletakkannya diatas meja supaya dingin. tapi ia lupa menutup jendela. Lucifer yang nakal kemudian masuk ke dapur wanita itu dan menyantap pie daging, sampai tertangkap basah oleh wanita malang yang harus menanggung malu di hadapan bosnya. atau kira-kira begitulah yang dia katakan ketika mendatangi apartemen Norman sambil marah-marah, sementara Norman tak kuasa menahan tawa.
aku bilang sama Norman, harusnya bos wanita itu berterima kasih pada Lucifer. "he might get poisoned, you know!" kataku pada Norman yang seketika terpingkal-pingkal.

kata Krishna, aku selalu pintar. bahkan meskipun belum makan.
makanya dia nggak setuju Indra menyebutku SAM karena aku baru smart after meal. kalaupun harus SAM, mestinya untuk smarter after meal.

kata Erwin, bertahun-tahun yang lalu, aku terlalu rasional.
karena ketika dia mengeluh panjang lebar tentang kematian teman-temannya waktu mendaki gunung, aku bilang padanya "yang meninggal harus direlakan, supaya mereka tenang. yang ditinggalkan, masih punya banyak urusan yang belum selesai. termasuk diantaranya menghadapi orangtua mereka-mereka yang meninggal, dan meminta penjelasan"

kalo dipikir-pikir lagi, ngomong begitu sama yang lagi susah itu terdengar kejam. dingin.

beberapa yang lain bilang pikiranku seperti kartun. terlalu banyak gambar yang berseliweran dalam kepalaku sampai sulit buatku untuk membedakan mana yang nyata, dan mana yang terjadi di dalam mimpi. misalnya seperti ingatan tentang senja ketika aku melihat beberapa orang Kaukasian berpakaian lusuh berjejalan di dalam mobil bak terbuka. mereka seperti kumpulan tukang batu yang baru pulang bekerja. tapi mereka Kaukasian. masa sih mereka jadi tukang batu?
sampai hari ini aku nggak ingat apakah itu mimpi atau bukan.

tapi aku juga sempat sedih karena ada dua orang yang pernah bilang kalau aku terlalu pintar dan terlalu maju. halah, itu maksudnya apa ya?
apa karena mereka merasa bodoh? apa mereka merasa minder? atau karena menurut mereka, semestinya perempuan nggak lebih pintar dan lebih maju dari laki-laki?

mayoritas orang bilang aku banyak bicara, atau disebut juga ceriwis, atau disebut juga cerewet. Ido bilang dia langsung tahu kalau aku yang datang ke Warkop karena suaraku terdengar membahana dari ujung ke ujung ruangan. "kamu nggak pernah capek bicara ya?" tanya-nya. hihihi
kalau dipikir-pikir, mulut inilah yang "memberiku makan" dalam beberapa tahun terakhir. jadi aku nggak keberatan dengan segala sebutan itu.

kemarin, Windu bilang aku ini mutant. seperti Wolverine. he? kok bisa?
*ngeluarin pisau tajam dari sela-sela jari*
aku cakar-cakar kamu, Ndu!

duka yang menyusun sendiri petualangannya

  rasa kehilangan seorang penonton pada aktor yang dia tonton sepanjang yang bisa dia ingat, adalah kehilangan yang senyap. ia tak bisa meng...