Saturday, December 27, 2008

perlu pencerahan

kalau diperhatikan, ada beberapa hal kecil yang kelihatan kurang penting tapi mengganggu. gangguannya kadang terasa signifikan, kadang juga cuma seperti tai mata. wajar, tapi nggak pada tempatnya dilihat sama orang lain.

sekarang ini sambil mengernyit-ngernyit karena mengingat hal-hal itu, aku menuliskannya. anggaplah ini salah satu entry blog yang paling nggak penting yang aku bikin tahun ini. hihihi.

kenapa orang bisa ngajak kamu chatting, meng-add jadi teman di facebook, mengirim sms, atau menelepon orang yang nggak dikenal tanpa alasan?
sampai hari ini, aku masih nggak ngerti harus menjawab apa pada permintaan seperti "boleh kenalan nggak?" yang rasanya terlalu absurd untuk dijawab "boleh" dan terlalu arogan kalo harus menjawab "nggak boleh". oke, aku cenderung menjawab yang terakhir, karena alasan sederhana. aku nggak tertarik untuk ngobrol lebih lanjut sama ybs dan merasa terlalu aneh diinterogasi dan ditanya-tanya sama orang yang aku nggak tau siapa, dan nggak ada apapun urusannya. anyway, aku juga bukan artis. and I don't have superstar mentality to be one .

yang kedua, kenapa banyak yang nggak merasa terganggu kalau mereka salah tulis nama orang?
kadang-kadang udah tinggal copy-paste aja, bisa salah. dan kayaknya budaya meminta ejaan nama orang masih belum terlalu umum disini. aku beruntung namaku nggak terlalu untuk ditulis. makanya kalau ada yang menamai anaknya dengan gabungan huruf-huruf yang agak panjang, suka ada teman yang komentar "ini nanti pasti jadi repot karena bakalan sering salah tulis". seumur-umur, kalau terima surat atau undangan buat papaku, yang namanya 'Abdul Hanan', 75% yang terbaca adalah Abdul Manan atau Afnan. padahal nama sesimpel itu. nggak terhitung juga berapa banyak nama anak yang di rapornya beda dengan nama di akta kelahiran, karena yang menulis terlalu nggak peduli sama penulisan nama yang benar.

kenapa banyak orang yang tetap menyingkat tulisan waktu chatting atau kirim email?
aku paling males baca dan balas sms yang terlalu banyak singkatannya. kelamaan mikirin apa arti ketikannya. jadi jangan heran kalau aku jarang membalas sms yang membacanya aja bikin aku sebal. apalagi kalo kasusnya di YM. perasaan internet nggak membatasi jumlah huruf dan karakter. jadi kenapa masih disingkat aja?
oya, kalo belum fasih mengetik cepat dengan blackberry, jangan chatting pake hp, deh.

lain-lainnya masih banyak.
tapi kategorinya udah beda karena setingkat lebih mengganggu. mungkin lain kali aku bikin lagi daftarnya.

Sunday, December 14, 2008

Dear Benny dan Mice



aku menulis surat ini hanya dua puluh empat jam setelah pertemuan kita yang mengesankan di peluncuran Lost in Bali. buatku mengesankan, buat kalian sih terserah. soalnya, setelah acara pembacaan dan diskusi buku yang traumatis dengan novelis yang karyanya laris manis itu, aku jadi agak ragu dan segan mau datang ke perbincangan dengan penulis. kuatir pulangnya muntah-muntah.

tapi kalian berdua ternyata biasa-biasa aja. nggak terlalu memalukan, juga nggak terlalu berlebihan. nggak bikin aku shock, tercengang, atau gimana. jadi aku lega. soalnya aku suka banget baca Benny&Mice, udah sejak bertahun-tahun yang lalu. kalo sekiranya di acara kemarin kalian tampil seperti bintang shitnetron stripping atau personil band cheesy menghadapi fans abegeh di mal, kayaknya dengan segera buku-buku Benny&Mice-ku harus dihibahkan. agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

jadi aku menulis surat ini untuk berterima kasih pada kalian berdua, atas beberapa sebab.

pertama, karena kalian berdua jujur dan apa adanya. bukan hanya dalam memilih karakter yang merupakan kombinasi dari curhat colongan, ghibah dan memperolokkan orang lain, tapi tetep mau aman dengan menggunakan identitas diri sendiri, tapi juga karena kalian bicara tentang hal-hal yang nyata dan benar-benar ada. tentang sesuatu yang dekat dan bisa dilihat setiap hari, tentang kenyataan bahwa lebih banyak orang yang nggak punya tapi bergaya punya, merasa keren walaupun norak, dan mencari keuntungan dari kesempatan sesempit apapun. kejujuran yang bikin aku ketawa ngakak, satir dan kadang-kadang agak tertohok.

soalnya, dan ini alasan kedua, ada beberapa kartun kalian yang dengan tepat menceritakan siapa diriku. ini bisa disebut alasan yang narsis nan introspektif. karena aku punya beberapa hape dengan provider yang berbeda-beda. juga karena aku termasuk salah satu yang males menghadapi WISNU asal Jakarta akibat kelakuan sejumlah oknum dari kota bersangkutan yang suka nawar nggak kira-kira, tapi setelah ngotot panjang-lebar ternyata nggak jadi beli. yang paling oke memang turis bule yang homok. mereka cenderung beli barang mahal dan nggak minta diskon. entah kenapa.
selain itu, aku juga sering memberikan info-info yang sama dan pastinya udah basi karena udah ratusan kali kuberikan pada orang-orang yang datang ke Bali, dan yang paling parah, orang tuaku di Malang tinggal di kompleks perumahan yang namanya River Side, karena letaknya di sebelah Kali Mewek. you got me, there.

alasan ketiganya, aku berterima kasih karena di tengah urusan-urusan yang berseliweran di kepalaku, isi dompet yang semakin tipis, dolar yang naik turun, hari depan yang tak pasti, telepon dari bos yang bikin senewen, dan berbagai tetek bengek lainnya yang bikin hidup kadang terasa berat dan rumit, buku-buku kalian selalu berhasil membuatku tertawa terpingkal-pingkal. sampe-sampe Papa melarangku membawa masuk buku 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta ke tempat bikin SIM karena khawatir pak polisi meragukan kewarasanku.

last but not least, aku berterima kasih karena kartun kalian membuatku merasa baik-baik aja. karena masih ada dua pecundang yang nasibnya lebih malang, kelakuannya lebih norak, dan tampangnya lebih menyedihkan daripada aku. hihihi...

Wednesday, November 05, 2008

Barack Obama menang!

it's a dream come true.
seorang campuran Afro-Amerika, dengan nama belakang yang aneh, dan nama tengah Husein (inget Saddam, dong), yang ayahnya berasal dari suatu daerah antah berantah di Kenya, dan tidak berasal dari keluarga tua-elit-kaya raya seperti lazimnya para politikus di Amerika, sekarang jadi orang nomor 1 di negeri itu. jadi orang yang punya kekuasaan paling besar di seluruh dunia.

kemenangannya seperti siraman darah segar untuk sesuatu yang tengah sekarat, memberi harapan untuk sehat dan tetap bertahan hidup. menginspirasi, memberi semangat dan membuat orang percaya kalau tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. aku percaya.

ternyata kita masih bisa mempercayai kebaikan hati manusia, percaya bahwa di dunia yang semakin gila ini, kerja keras, kecerdasan dan kemampuan-lah yang bisa jadi penentu keberhasilan. bukan sekedar uang, bukan warna kulit. ternyata, tak selamanya kenyataan berkhianat.

kita masih punya harapan untuk melihat dunia yang lebih baik. yang lebih layak untuk ditinggali. punya harapan untuk masa depan yang patut diperjuangkan.
*ambil tissue lagi*

Tuesday, November 04, 2008

sejenak bersama pornografi

Aku jarang sekali mengutip utuh tulisan orang lain ke dalam postingan blog-ku. Nyaris semuanya adalah tulisan hasil buah pikiranku sendiri. Tapi mengenai subjek pornografi ini, aku udah terlanjur kepancing emosi dan jadi main perasaan daripada bisa berpikir jernih dalam berkomentar mengenai kebodohan para pembuat Undang-Undang yang sampai hari ini miskin pengetahuan, malas membaca dan berasumsi kalau otak semua orang sama kotornya dengan otak mereka.

Tulisan Ignas Kleden ini, menjelaskan secara komprehensif hal-hal yang tidak bisa kukeluarkan dan menyesak di dada. Luar biasa. Aku ingin orang lain juga membacanya. Tulisan asli aku dapatkan dari situs majalah Tempo interaktif, lalu aku salin juga di blogku. Selamat membaca.


Pornografi dan Asumsi-asumsi Antropologis

Rencana Undang-Undang Republik Indonesia tentang Pornografi (selanjutnya: RUU Pornografi) masih menimbulkan kontroversi yang luas dalam berbagai kelompok masyarakat Indonesia dan penolakan oleh beberapa kelompok budaya tertentu. Kalau kita membaca teks RUU Pornografi ini, apa yang jelas dalam teks itu hanyalah sanksi dan hukuman. Sementara itu apa yang tidak jelas adalah ketentuan mengenai apa yang dilanggar dan mengapa suatu tindakan atau suatu barang atau benda dianggap mengakibatkan pelanggaran.

Dalam pasal 1 ayat 1 RUU ini, dirumuskan suatu definisi yang mengartikan pornografi sebagai ”materi seksualitas yang dibuat manusia” yang dikualifikasikan sebagai ”dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat”. Dengan rumusan itu diandaikan bahwa secara publik dapat diketahui apa yang dapat membangkitkan hasrat seksual pada seseorang dan apa yang tidak, padahal pengetahuan tentang keadaan tersebut sulit sekali ditetapkan secara ilmiah, karena bersifat sangat subyektif. Kalau seorang pemuda melihat foto gadis pacarnya (dalam pakaian lengkap) kemudian muncul rasa rindu pada dirinya disertai imajinasi-imajinasi erotis dan hasrat seksual, apakah foto itu harus dibakar atau harus diserahkan kepada pemerintah daerah untuk dimusnahkan?

Kesulitan pertama dalam menghadapi teks RUU Pornografi ialah anggapan yang mendasari teks ini bahwa hasrat seksual adalah sesuatu yang buruk dan membahayakan keseimbangan masyarakat. Para legislator kita kiranya tahu juga bahwa hasrat seksual adalah suatu energi yang netral pada manusia, sama netralnya dengan nafsu makan, hasrat untuk jadi kaya atau terkenal, dan ambisi untuk berkuasa. Apalagi seksualitas itu, seperti ditunjuk dalam psikologi modern, merupakan energi yang jauh lebih luas dan menyebar dari sekadar seksualitas genital, karena bersifat sangat difus (seperti yang dibuktikan oleh Sigmund Freud dan Michel Foucault misalnya). Secara sederhana pun, kita akan paham bahwa tanpa hasrat seksual tidak ada kehidupan keluarga, dan tidak ada juga cinta antara manusia yang diekspresikan secara fisik, atas cara yang jauh lebih luas dan kaya daripada sekadar ”persanggamaan”, yang berulang kali disebut dalam teks RUU ini. Tanpa hasrat seksual mungkin tidak akan ada kesenian dan kesusastraan yang demikian memperkaya peradaban manusia.

Kesulitan nomor dua ialah anggapan bahwa manusia memberikan satu respons yang sama kepada satu stimulus yang sama. Kalau para legislator kita meluangkan sedikit waktu membaca buku-buku teks yang sederhana dalam ilmu psikologi, antropologi, atau sosiologi, mereka akan segera paham bahwa tingkah laku manusia sangat sulit diramalkan, karena hubungan di antara stimulus dan respons bersifat serba terbuka, dan hal inilah yang membedakan manusia dari binatang yang hidup hanya berdasarkan insting. Dalam kehidupan instingtif hubungan antara stimulus dan respons bersifat tertutup, karena stimulus yang sama akan mengundang respons yang sama. Kalau Anda menumpahkan darah di laut, hiu akan segera datang. Kalau Anda membuang sampah makanan di halaman rumah, lalat akan segera merubung. Akan tetapi, kalau seorang pengendara sepeda motor tertabrak mobil dan terbaring dalam keadaan berlumur darah di trotoar, respons orang-orang yang melihatnya akan berbeda-beda: ada yang segera menolong, ada yang menonton dari jauh, dan ada yang segera menghindar karena takut berurusan dengan polisi.

Dalam tingkah laku sosial selalu terlibat bahwa satu stimulus yang sama dapat menimbulkan sepuluh atau dua puluh respons yang berbeda, dan sebaliknya satu respons yang sama dapat muncul dari sepuluh atau dua puluh stimuli yang berbeda. Setelah Agus Condro membuat pengakuan bahwa dirinya telah menerima uang Rp 500 juta agar mendukung pemilihan Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia pada 2004, dan setelah dia juga mengaku bahwa dia tidak sendirian telah menerima uang tersebut, respons anggota DPR RI lainnya bermacam-macam: ada yang menutup mulut, ada yang berpikir keras untuk mengembalikan uang itu, dan ada yang tetap berkelit dengan susah payah. Terlihat di sini bahwa satu stimulus (yaitu pengakuan Agus Condro) telah mengundang respons yang berbeda-beda dari anggota DPR RI yang lain (Tempo, 25-31 Agustus 2008). Sebaliknya, partai-partai politik sekarang ini sibuk membuat poster, membagi-bagikan kaus, turun ke daerah-daerah pemilihan, atau membiayai perjalanan mudik Lebaran, dengan tujuan menarik simpati calon pemilih. Berbagai-bagai stimuli diberikan untuk menghasilkan satu respons yang sama (yaitu agar orang-orang memilih partai bersangkutan dalam pemilihan umum).

Karena itu, bagaimana mungkin para legislator kita begitu berpretensi bahwa mereka tahu tentang hubungan di antara ”materi seksualitas yang dibuat manusia” dan keadaan ”yang membangkitkan hasrat seksual”? Sebuah film porno dapat menimbulkan rangsang seksual pada yang satu, rasa jijik pada yang lain, dan bahkan dapat membuat seseorang menjadi frigid. Kalau seseorang memandang Tugu Monas, dan timbul imajinasi seksual pada dirinya, apakah Tugu Monas harus dirobohkan?

Kesulitan nomor tiga ialah anggapan para legislator bahwa mereka mempunyai pengetahuan yang memadai tentang hubungan di antara ”materi seksualitas yang dibuat manusia” dan ”nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat”. Masyarakat yang mana? Masyarakat Indonesia terdiri dari demikian banyak kelompok budaya yang mempunyai nilai-nilai dan ukurannya sendiri tentang ”materi seksualitas” yang dianggap bersifat susila atau bukan. Orang-orang di Pulau Timor, Sabu, dan Rote akan berciuman dengan hidung kalau bertemu. Ini dilakukan antara laki-laki dan perempuan, antara laki-laki dan laki-laki, dan antara perempuan dan perempuan. Semua kita tahu juga kaum laki-laki di Papua akan mengenakan koteka dalam ucapara adat mereka—apakah semua ini sesuai atau tidak sesuai dengan ”nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat”?

Memastikan dari ruang sidang di Senayan tentang apa yang sesuai atau tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat Indonesia yang demikian plural dengan kebudayaan yang mungkin paling heterogen di dunia ini adalah tindakan yang tak dapat dipertanggungjawabkan, karena menganggap bahwa masyarakat Indonesia adalah homogen. Dapat timbul kesan bahwa para legislator ingin memaksakan ukuran-ukuran mereka sendiri tentang apa yang bersifat susila atau bukan, dan mengundangkannya atas nama masyarakat. Apalagi anggota masyarakat sendiri diberi wewenang oleh RUU ini agar turut mengawasi pelanggaran ketentuan mengenai pornografi dengan akibat pidana. Hal ini pasti menyulut konflik dan kekerasan antara kelompok-kelompok budaya, dan memberikan kemungkinan untuk main hakim sendiri di antara anggota masyarakat yang menjadikan alasan pornografi untuk menghabisi lawan politiknya.

Kesulitan keempat ialah anggapan bahwa segala sesuatu dapat diatur oleh undang-undang, dan karena itu harus diatur oleh undang-undang. Anggapan ini tidak benar dan harus ditolak. Karena, undang-undang tidak sanggup mengatur perasaan orang tentang keindahan, perasaan cinta, simpati, rasa bahagia, selera makan, dan penggunaan waktu senggang. Dalam kaitan yang sama undang-undang mustahil mengatur perasaan erotis dan hasrat seksual seseorang. Semua yang baru disebut itu mustahil diatur oleh undang-undang, dan hanya dapat diatur oleh kebudayaan dan pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan khusus dalam agama, atau dalam latihan-latihan yang bersifat kejuruan.

Kita tahu bahwa tidak pernah dibenarkan bahwa sebuah undang-undang disusun untuk mengatur bagaimana seharusnya seorang berpikir, meskipun percobaan untuk mengatur pikiran orang selalu menjadi godaan besar dalam sistem politik yang otoriter atau totaliter. Atas cara yang sama tidak pernah dibenarkan juga bahwa undang-undang mengatur perasaan orang, termasuk perasaan erotis dan hasrat seksual, sejauh perasaan-perasaan itu tidak diwujudkan dalam tindakan yang merugikan kepentingan orang lain. Indonesia akan ditertawakan oleh negara lain karena melakukan pelanggaran kemerdekaan orang dalam hal yang paling privat dan subtil.

Pada akhirnya RUU Pornografi dapat menimbulkan sinisme baru. Ada demikian banyak istilah yang berhubungan dengan seksualitas dalam teks RUU ini: persanggamaan, persanggamaan menyimpang, masturbasi, alat kelamin, menyajikan secara eksplisit alat kelamin, dan lain-lain. Kalau seseorang membaca istilah-istilah itu dan kemudian timbul hasrat seksual pada dirinya, apakah teks RUU ini pun harus dianggap sebuah pornografi?

Saturday, November 01, 2008

aku dan fashion



tahun ini aku mulai menulis dalam subjek fashion dan membaca buku ini menjadi salah satu bagian dari risetku. tulisan-tulisan itu tentu ada hubungannya sama persekongkolanku dengan Iman Lubis, yang memperkenalkanku pada editor majalah Dewi, Soap, a+, swankglossy dan beberapa perancang busana muda Indonesia. buat yang udah kenal aku cukup lama, pasti tahu kalau aku sejenis orang yang melakukan macam-macam hal secara musiman. utamanya untuk soal menulis, membaca dan menonton.

misalnya selama tiga bulan ini, selain fashion, kecenderunganku adalah House, How I Met Your Mother, Nirvana, Thai Food dan yang terbaru Charlie Chaplin. itu berarti aku akan membaca berbagai biografi dan berbagai tulisan, menonton sekurangnya dua season atau tiga film, sebelum bisa menulis satu blogpost. terdengar merepotkan. tapi menyenangkan.

balik lagi ke buku ini, selama membacanya, aku merasa seperti sedang bertualang di Paris pada era 70-an, waktu sejarah fashion kontemporer dimulai. melalui buku ini aku memahami kenapa Paris disebut-sebut sebagai kiblat fashion dunia. ada beberapa sebabnya.

pertama, karena sejumlah desainer yang melakukan perubahan besar dalam dunia fashion bekerja dan menjadi besar di sini. mereka adalah Gabrielle Chanel (lebih dikenal sebagai Coco), Christian Dior, Yves Saint Laurent dan Karl Lagerfeld. empat nama ini memberi sumbangan luar biasa untuk dunia fashion.

Chanel memodernkan pakaian wanita dengan membuatnya jadi 'simpel tapi mahal'. ia juga menerjemahkan penampilan wanita modern dengan memberinya pakaian yang diadaptasi dari pakaian pria yang didesain untuk membuat wanita bekerja bergerak leluasa, tapi tetap cantik dan elegan. dengan bahan-bahan yang dianggap 'sederhana' seperti jersey, ia menciptakan baju berkualitas tinggi dengan model dan jahitan terbaik. dari Coco Chanel, lahir image perempuan yang enerjik dan mandiri dengan rok selutut, warna pakaian yang cenderung gelap, rambut pendek berpotongan bob dan bisa nyetir. jangan ketawa dulu, dia melakukannya sebelum Perang Dunia II. it's a breakthrough.

buat yang mau tau dari mana asalnya siluet pakaian wanita yang 'pas membalut tubuh', bisa menelusurinya dalam sketsa-sketsa yang dibuat Christian Dior. pinggang ramping, siluet melebar di pinggul, rok berlipit yang mengembang penuh, jahitan yang pas di lengan-ketiak-bahu (Dior dikabarkan sangat terobsesi untuk membuat bagian ini sempurna jatuhnya), siluet pakaian yang membuat wanita terlihat seperti bunga (atau gitar spanyol) adalah bagian penting dalam rancangan Dior.

sementara Yves Saint Laurent dikenal karena rancangannya yang berhasil mendandani setiap wanita yang memakainya, membuatnya jadi lebih cantik. beberapa review sampai menyebutkan bahwa pakaian rancangan YSL menyempurnakan bentuk tubuh pemakainya, salah satunya dengan menyempurnakan potongan bahu pada pakaian. rancangannya mengandung unsur maskulin untuk siang hari dan sangat feminin untuk malam hari, dengan kesan cantik, lembut, mewah dan dreamy yang menonjol (bayangkan pakaian yang kalo nggak mengkilap-licin-jatuh, ya tembus pandang-melambai-sexy). ia juga termasuk generasi terakhir desainer yang merancang dan punya rumah modenya sendiri, dan tidak pernah bekerja di rumah mode lain. tentu, dia juga melegenda karena karya adi busananya yang luar bisa, dan secara konsisten memukau editor majalah fashion dan fashionista selama berpuluh tahun.

sementara 'Kaiser' Karl Lagerfeld justru dikenal karena kemampuannya bekerja untuk berbagai rumah mode secara simultan, sangat profesional menjaga komitmennya bekerja freelance dan punya pendekatan sangat modern karena sangat konstruktif dan terbuka bagi perkembangan mode. Karl tidak segan bekerja untuk merancang pret a porter, sesuatu yang dianggap 'rendah' oleh para perancang haute couture. walopun tetep aja, Karl baru dianggap mencapai kesuksesan waktu dia mulai bekerja untuk Chanel dan berhasil 'menginterpretasikan' gaya rancangan Coco Chanel dengan cara baru.

alasan kedua Paris dianggap kiblat mode karena dari Paris-lah mode jadi satu industri yang luar biasa besar. disana model mulai dibayar sampai puluhan ribu franc untuk sekali melangkah di catwalk, fotografer fashion, desainer dan rumah mode mendapatkan penghasilan yang fantastis.

The Beautiful Fall sendiri secara khusus bercerita tentang YSL dan KL, yang awalnya berteman, lalu kemudian menjadi rival yang bersaing sengit di industri mode. dan karena kemunculan mereka berdua di akhir dekade 50-an tepat pada saat dunia mode berkembang pesat dan apapun yang tercipta selama dua dekade sesudahnya, seperti jadi penemuan besar yang akan terus dipergunakan sampai hari ini. aku merasa sangat iri pada mereka yang terlahir pada masa itu, merasakan kehidupan yang serba bercahaya di Paris, menjadi bagian dari perubahan yang menentukan arah peradaban mode di masa yang akan datang.

hmmm... kayaknya aku sedang buka rahasia rujukan konsultasi fashion-ku buat warga Kampung Gajah, nih.

Monday, October 27, 2008

Teflon Revolution

salah satu hal penting yang kulakukan tahun ini, yang pasti akan membuat nenekku bangga adalah berlatih membuat masakan Thai. bukan, bukan karena nenekku keturunan raja Bhumibol. bukan juga karena beliau sangat gemar masakan Thailand. aku malah sangsi apa ada masakan Thai yang pernah mampir ke piring beliau.

sebabnya karena buat beliau, perempuan yang nggak bisa masak itu adalah kesalahan sejarah yang harus dihapuskan. jauh di dalam hatinya, mungkin beliau agak-agak khawatir dan menduga bahwa penyebab cucunya yang cantik ini masih belum menikah di usia 28 tahun adalah karena kekurangan kemampuan dalam hal masak-memasak, sesuatu yang diramalkannya akan membuat seorang perempuan 'dibuang ke tempat sampah' oleh mertuanya.

jangan kuatir, nenekku sayang...

nah, waktu aku menemukan buku tebal bergambar berwarna yang judulnya Thai, The Essence of Asian Cooking, aku segera mempelajari bahan-bahannya dengan seksama. membaca apa itu fish sauce, apa gunanya oyster sauce, bedanya light soy sauce dengan sweet soy sauce, berapa macam vinegar yang dipakai, termasuk berbagai jenis curry paste. aku juga baru tahu kalau ada yang namanya magic paste, dan bahwa wijen itu ada dua macam, putih seperti yang biasa kukenal, dan hitam. penjelasan bahan dan teknik memasaknya aja 67 halaman.

aku mulai mencoba-coba berbagai resep secara intensif dalam dua bulan terakhir ini. dan dengan bangga kuumumkan bahwa yang telah mencoba masakanku, berdasarkan resep-resep dalam buku itu, sampai hari ini masih hidup dan berada dalam keadaan sehat wal afiat.
*grinning*

the problem is, sebulan terakhir ini aku mulai merasakan kebutuhan yang mendesak akan wajan anti lengket. seiring dengan makin rumitnya urusan goreng menggoreng, wajan alumuniumku di kos jadi tampak nggak memadai lagi. seringkali masakanku udah terlalu gelap bagian luarnya, sementara bagian dalam masih berair, terlalu cepat panas, atau terlalu lengket sampai masakan tinggal dua per tiga porsi karena yang sepertiga ketinggalan di wajannya, adalah masalah-masalah yang semakin sering aku alami setelah sekian resep aku coba.

maka aku membelinya!
setelah berkali-kali mengecek satu demi satu model dan ukuran wajan di supermarket, seperti orang mau membeli senjata andalan. mengambilnya dari gantungan, merasakannya di tangan, membolak-baliknya, mengecek apakah wajan ini cukup handy? cukup ringan? nggak terlalu besar? harganya nggak keterlaluan? well, aku juga baru tahu kalau ada wajan berdiameter 24 cm yang harganya 300 ribu lebih. dua wajan bisa dipakai untuk beli memori macbook 1G.

aku seperti Midori di Norwegian Wood.

dua hari ini, rasanya aku nggak bisa berhenti nyobain wajan baru.
mulai dari buat menggoreng bacem yang agak tricky karena mudah sekali gosong gara-gara kandungan gula-nya yang tinggi, tempe dan segala yang bergoreng tepung, telur dadar yang super tipis, omelet dengan isi yang biasanya jadi lengket sana-sini. oh! semuanya serba nggak lengket dan bisa menghiasi piringku dengan permukaan halus, rata dan licin. gaya sekali, masakanku jadi keren!
wah, penemu teflon ini harus punya villa khusus di surga.

dan kini aku, dengan wajanku, siap menghadapi dunia.
*berpose menghunus wajan teflon*

Tuesday, October 21, 2008

ini adalah reminder

dari Butet Manurung aku tahu kalau airport tax di Bandara Sultan Thaha di Jambi adalah Rp 8000 waktu mengumpulkan bukti-bukti perjalanannya. dan aku jadi makin kagum setelah mengetahui kalau untuk keluar dari hutan tempatnya bekerja bersama Orang Rimba, setelah berjalan kaki berjam-jam Butet harus naik ojek cukup jauh, lalu naik travel lebih jauh lagi sebelum sampai ke bandara. Butet yang manis dan pembawaannya tenang ini benar-benar luar biasa.

Butet, adalah salah satu penulis Indonesia yang diundang dalam Ubud Writers and Readers Festival 2008. dan ia juga salah seorang yang setiap hari, minimal dua kali sehari, akan menerima sms-ku yang diawali dengan Ini adalah reminder. kata-kata berikutnya bisa apa aja. mulai dari sesi yang sebaiknya dihadiri, acara khusus yang mengundang beberapa penulis tertentu, sesi tambahan yang jadualnya berbeda dengan yang ada di buku program, dan lain sebagainya.

tugasku sebagai LO penulis Indonesia sebenarnya lebih seperti bergerak dari balik layar, kalo nggak bisa disebut kalong, karena mereka baru akan bertemu denganku setelah malam tiba, paling nggak setelah jam 6 sore. aku biasanya ikut serta di acara peluncuran buku, acara gratis untuk masyarakat, atau special events, karena jam-jam sesi utama terjadi saat jam kantor, yang tidak bisa kutinggalkan.

agak sayang sebenarnya, karena misalnya, aku jadi hanya menyaksikan hanya satu sesi-nya Guntur yang selalu penuh dipadati peminat dan kabarnya sempat berisi insiden soal penerjemahan yang membuat beberapa orang tersinggung berat. ah, aku kelewatan drama-drama yang seru begitu (maklum ya, yang aku tonton di TV cuma infotainment. kalau ingat)

pada hari pertama, dalam listku sebenarnya hanya ada 4 penulis saja. aku ketemu mereka secara singkat, tukeran nomor hp, lalu berpisah lagi dan sejak itu terhubung lewat sms dan telepon. tapi sejak hari pertama itu, sedikit demi sedikit daftarku berkembang. memasuki hari ke-3, aku sudah menjadi penghubung antara nyaris seluruh penulis Indonesia dengan manajer program Indonesia.

sejak itu, jempolku semakin miring karena kebanyakan mengetik sms. lalu mas Triyanto Triwikromo bisa berkomentar "smsmu selalu dimulai dengan 'ini adalah reminder'...".
tapi nggak sia-sia juga jempol miring ini. aku jadi tahu siapa saja yang akan datang memenuhi undangan dan jadual dan siapa saja yang berhalangan, seperti Reda Gaudiamo yang tiba-tiba mengalami masalah pencernaan, lalu harus istirahat setengah hari dan dengan terpaksa melewatkan Street Carnival di Jalan Gootama.

penting, karena dengan mengetahui siapa yang berhalangan, aku lantas bisa mengalokasikan penulsi lain untuk mengisi kekosongan itu. juga penting buat penulis karena mereka bisa mengirim pesan SOS jika sewaktu-waktu memerlukan sesuatu, mulai dari transportasi yang agak-agak susah diatur rapi karena di Ubud nyaris nihil transportasi umum, salah jalan dan keterusan seperti yang dialami Lily Farid waktu mencari SMP Ubud, atau saat Ayu Utami kesulitan menemukan tempat membeli oleh-oleh, sampai seruan untuk pertolongan pertama pada kesepian dan kebuntuan komunikasi.

seperti terjadi pada acara khusus In Praise of Wine and Women.
"apa nggak ada volunteer atau siapa yang bisa menemaniku? aku tenggelam dalam lautan orang asing" kata Dino Umahuk, penyair romantis-gombal (bisa juga disebut lebai) asal Ambon yang sekarang tinggal di Aceh, lewat sms. "aku mau menemanimu, tapi aku belum mandi" jawabku sebelum datang bersama tim SAR ke Casa Luna dua puluh menit kemudian.

agak mirip dengan kecemasannya tentang 'bagaimana cara pulang ke Ubud' waktu seharian berada di Denpasar untuk mempersiapkan acara pembacaan karya oleh Landung Simatupang di hadapan anak-anak SMU, dimana Dino harus menyanyikan musikalisasi puisinya. lagu yang kemudian mendadak jadi hits di kalangan penulis Indonesia, dan para penggembiranya.
Lagu doti-doti!

sejak itu, kami seperti menemukan bakat terpendam. para siswa SMU yang manis-manis merubungnya untuk berfoto bersama dan memintanya menandatangani antologi sastra UWRF. maka ia yang berangkat ke Ubud sebagai penyair, pulang ke Aceh dengan kemungkinan menjadi biduan, setidaknya kalau Linda Christanty jadi memproduseri-nya.

nah, waktu acara Street Carnival, secara tak sengaja, kupasangkan dia dengan Iyut Fitra, yang ternyata bisa menjadi tandem duet mautnya. kita bisa menyebutnya Fitra-Umahuk, seperti Abbot-Costello, atau Muller+Hess, atau bahkan Glenn Fredly-Dewi Persik (coba ketik 'duet maut ' di google). yang satu memainkan lagu sendu pada gitar, yang satu lagi berdiri membacakan puisi, baik itu puisinya sendiri, maupun puisi pasangan duetnya yang sedang menyanyi. pertunjukan ini ternyata digemari banyak orang. seluruh isi Jalan Gootama tumpah ruah ketika pertunjukan ini diteruskan, sampai akhirnya dihentikan.

hingga malam terakhir, ketika satu demi satu mereka mengkonfirmasi jadual penerbangan untuk meninggalkan Bali, aku masih dikirimi dan mengirim berbagai jenis sms dan menelepon kesana kemari. sampai lewat tengah malam dan dini hari menjelang waktu mereka mulai berpamitan. selamat jalan Mashuri, Faizi, kang Ahmad Tohari, Azhari, Dyah Merta, dan Andrea Hirata. terima kasih banyak, I'm having a great time!

Thursday, September 25, 2008

House and I




Dr. Gregory House adalah pahlawan baruku. dia yang berjalan terseok-seok dengan tongkat, yang bermata biru, berusia setengah baya, jarang bercukur dan menolak memakai jas putih serta bersikeras memakai sneakers, jeans dan kaos oblong adalah sosok yang sekarang kupuja dan mengisi relung hatiku. *duduk manis di pojokan buat fans Hugh Laurie bareng sama Henny*

aku nggak papa deh, biar dibilang aneh juga. tapi cowok yang sarkastik, nggak peka apakah jawabannya bikin orang lain sakit hati ato nggak, yang dengan segala cara berusaha menguras emosi lawan bicaranya -memojokkannya tanpa ampun sekaligus seenaknya ini... buatku tampak sexy. dalam banyak hal, aku pikir House ini sangat menarik. mungkin Allison Cameron adalah jenis perempuan yang sama dengan aku, makanya dia nekat tetap mencintai House, sementara yang ditaksir, walopun tau, tampak acuh tak acuh dan nggak memberi ruang buat Cameron untuk mendekat.

"...you look for excuses to be alone" gitu kata Boyd, salah satu pasien yang diselamatkan House tentang dokter yang nyentrik ini.

selain sexy, aku pikir House ini juga cerdas (jelas aja, dia memecahkan kasus-kasus penyakit yang udah bikin dokter-dokter lain nyerah), witty (ini aku nggak nemu padanan bahasa Indonesia-nya), sekaligus lucu! aku sering banget ketawa sendiri di depan TV gara-gara ngeliat caranya dia menjawab Lisa Cuddy, bos yang seringkali kehilangan sabar dan angkat tangan ngeliat kebandelan House plus kedewasaannya yang berhenti di umur 17 tahun.
joke-joke rasis yang dia lontarkan pada Eric Foreman juga harus diakui kocak-bandel sekaligus. yang bikin scriptwriter emang hebat, sih. misalnya di satu episode yang House merebut spidol yang dipakai Foreman menulis di papan (peran yang biasanya diambil oleh House) sambil bilang sama Foreman:
"Sorry, there's a reason they call it the Whiteboard. It's not my rule."
dan waktu Chase maupun Cameron nggak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan House, sementara Foreman punya jawaban, dengan lantang Foreman bilang sama House:
"OK, we can all stare at each other or we can investigate what caused the heart failure. Just the heart failure. You wanna give me that Black marker?"
kocak, kan?!

tapi, dibalik semua keserampangannya dan pemberontakannya yang sering bikin kepala geleng-geleng (seriously, kalo aku harus jadi pasiennya, aku mendingan nggak banyak ngelawan, tapi langsung menjawab semua pertanyaannya dengan jujur), Gregory House sebenarnya sangat perhatian, sensitif, sekaligus teman yang sangat menjaga perasaan. dia hanya jadi manipulatif untuk hal-hal yang berhubungan dengan usaha memecahkan misteri penyakit pasien, menyelamatkan nyawa dan mendapatkan tambahan Vicodin. dia seperti sanggup melakukan apa saja asal tujuan itu tercapai.

tentang Vicodin ini, sebabnya nggak lain adalah nyeri menahun yang dia alami, yang kalau tidak segera diatasi dengan painkiller akan bikin dia nggak bisa berfungsi dengan baik.

hanya sedikit orang yang bisa melihat sisi lain dirinya ini, maka tak heran masih ada James Wilson, kepala departemen Oncology, satu-satunya sahabat House. terlepas dari kebiasaan House meminjam uang, bikin Wilson repot untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang dibikin House dan mengambil makanan Wilson tanpa ijin, House yang paling paham kesusahan Wilson saat menghadapi perpisahan dengan istrinya. etapi jangan bayangin mereka curhat-curhatan berdua, tangis-tangisan nonton film drama sambil makan es krim loh, yaaa...
ini dua cowok yang seperti nggak ngaku kalo mereka sering curhat-curhatan satu sama lain. padahal tiap episode mereka curhat dan gosip terus!

House juga satu-satunya yang tahu usaha Cuddy untuk punya anak. dia nggak membocorkannya pada orang lain, dan nggak mengejek Cuddy tentang itu, sampai insiden ketika seorang inspektur polisi menekan Wilson dan tiga orang anggota tim departemen Diagnostic.
Cuddy bilang ke Wilson "I've seen House be rude a thousand times, usually to achieve something. I have never seen him be mean just because he can."
dan waktu Wilson nanya apa yang sebenarnya terjadi, karena dia nggak pernah liat Cuddy sampai nangis-nangis darah begitu, Cuddy bilang...
"People think House has no— inner censor. The fact is he holds himself back, because when he wants to hurt. He knows just where to poke a sharp stick."

House juga yang tau tentang penyakit ayah Robert Chase yang sudah sangat parah. dia juga yang mengetahui kekalutan hati Chase waktu ayahnya meninggal, sampai waktu Chase harus bekerja di waktu liburan karena kekurangan uang dan dia dicoret dari daftar warisan ayahnya.

House yang berusaha membuat Cameron lebih 'dingin', supaya dia tidak mudah disakiti orang-orang yang cenderung kejam dan mau menang sendiri. House juga yang menyadarkan Foreman akan kekurangan yang harus dia tutupi setelah ia bangun dari koma akibat tertular penyakit yang diderita seorang polisi yang menanam ganja di rumahnya.

tak heran, Foreman bilang
"he's the best doctor I've ever worked with"

Saturday, August 30, 2008

mutantmonkey

alkisah, setelah sekian tahun baru berlalu, dua sejoli ini akhirnya datang juga ke Bali, dalam sebuah acara wisata berdua yang katanya 'secon honeymoon'. karena sebelum datangnya udah heboh dulu, jadilah aku setuju mengantar mereka jalan-jalan keliling Ubud. untung aku masih boleh ikut foto-foto. makanya nggak terlalu terasa jadi obat nyamuk.



keliatan nggak kalo sebenarnya aku sama Tub kayak janjian pake baju yang warnanya sama, supaya Blub bisa jadi 'wanita lain' ditengah-tengah kami berdua?

berhubung hari itu adalah sehari sebelum Galungan, maka nasi ayam kedewatan tutup, dan aku nggak jadi bisa ngajakin mereka makan disana. we ended up eating at Nuri's. lalu setelah itu foto-foto di sekitar Pura Gunung Lebah, terus sempat juga nyari lulur Sekar Jagat, dan ke Kakiang makan mango tart.

yang ini, foto di area dekat Pura Gunung Lebah. tentu, aku sebenarnya lebih tertarik sama sungai dan rimbunan tanamannya, daripada sama dua orang yang jadi foreground ini. herannya, kameraku lebih suka kalo fokusnya jatuh di hidung Blub. jadi ya, apa boleh buat.



nah, waktu aku nganterin mereka ke Monkey Forest, suasana mendadak jadi seru. beberapa monyet mendekati kami. dua diantaranya jalan ke arahku. yang satu memeluk kaki kananku... berusaha memanjat kakiku. sementara yang satunya lagi, yang agak lebih gede, peluk-peluk betis kanan.

"hmmm... kenapa sayang? cari mama? itu tuh... mama yang pake baju kuning dan berkacamata"
bad joke. karena si monyet di kaki kanan tiba-tiba menggigitku. terasa perih dan sakitnya kayak abis teriris pisau.

aku lantas mendatangi penjaga dan mengatakan kalau aku digigit monyet asuhannya. dengan ketenangan yang luar biasa, si penjaga memintaku menunjukkan bekas gigitan monyet itu, dan lantas berkomentar "oh... itu nggak papa. kalo berdarah, baru dikasih antiseptik"

karena dia kalem-kalem aja, aku juga jadi ikutan tenang kan, ya. biar bagaimanapun, kan si penjaga itu lebih berpengalaman. termasuk dalam soal gigitan monyet.

tapi dokter yang memeriksaku keesokan harinya, sama sekali nggak setuju. dia menjelaskan panjang lebar bagaimana gigi binatang itu seperti kebun binatang, tempat segala kuman dan bakteri merajalela. dia juga menjelaskan kemungkinan tetanus dan rabies. aku langsung diem. dan tetep diem lama sampe disuruh pulang setelah luka gigitan itu dibersihkan. di Monkey Forest nggak pernah ada kasus rabies, katanya.

sudah 11 hari berlalu sejak gigitan itu terjadi. bekasnya di betisku sudah hilang. awalnya, aku pikir aku akan jadi mutan, supermonkey atau wonder primata. ternyata sampai hari ini aku masih belum mengalami pertambahan populasi bulu yang terlebihan. aku cuma sering ngerasa pengen memanjat pohon kelapa.
tapi aku masih harus bersabar dan melihat apa yang akan terjadi 17 hari dari sekarang.

we wouldn't know before 28 days after.

Monday, August 11, 2008

pelacakan mustahil


pagi-pagi, sesampai di kantor terima pesan yang isinya permintaan untuk mencarikan alamat seorang seniman bernama Alit Sembodo lalu mengirimnya ke klien melalui email.

merasa nggak punya data tentang seniman ini di database, aku lantas menghubungi Mikke Susanto, kamus berjalan pertama yang bisa ditanya-tanyai tentang seniman. karena sebagian besar seniman Indonesia kan sekolahnya di ISI Jogja. lalu Mas Mikke ini tinggal di Jogja, dulu kuliah di ISI dan sekarang ngajar di sekolah seni itu juga.

begitu mendengar pertanyaanku, Mas Mikke langsung bertanya balik
"kamu mau telepon dia?"
"iyah. aku mau telepon terus mau minta alamat studionya"
"kalo gitu, kamu harus menelepon alam baka" gubrak!
"eh, udah meninggal gitu, Mas?" aku bertanya balik dengan nada kaget
"iya, tahun berapa ya, aku udah (ngajar) di ISI kok. kalo nggak salah tahun 2003. udah berapa tahun itu?"
"uhm, 5 tahun ya...sekarang kan 2008." lalu diam sesaat. dan terus aku bicara lagi.

"Mas, kalo aku bisa telepon dia, berarti aku canggih ya?" kataku sambil cekikikan
"oh, iya! kamu kalo bisa telepon dia, bisa telepon Affandi juga"
"iyah, nanti aku bisa tanya ke Affandi 'apa kabar, Oom!' gitu ya?" aku pun makin ngawur.

setelah menutup telepon, aku masih kepikiran sama seniman ini. dan ternyata aku menemukan salah satu karyanya yang akan dilelang di Singapura tanggal 16 besok, tepat sehari sebelum ulang tahun Republik Indonesia. karyanya bagus, dan aku pasang bersama tulisan ini. sayang, seniman dengan karya sebagus ini harus pergi di usia yang masih sangat muda.

uhm, beneran belum ada provider telepon genggam yang punya BTS di daerah kekuasaan Hades, ya?

duka yang menyusun sendiri petualangannya

  rasa kehilangan seorang penonton pada aktor yang dia tonton sepanjang yang bisa dia ingat, adalah kehilangan yang senyap. ia tak bisa meng...