Wednesday, January 30, 2008

Second chance for Pamela



aku pernah punya perjanjian serius dengan diriku sendiri untuk nggak akan pernah mendengarkan Toto lagi. kayaknya gara-gara itu sempat juga melarang seseorang untuk nyanyiin lagu Toto di suatu kafe, hanya karena aku datang ke tempat itu suatu malam. sebelum sampai, aku kirim sms yang bunyinya "malam ini, jangan ada lagu Toto. please"
*lirik kampung sebelah*

ha!
dan siang ini malah jadi membahas lagu Pamela, dari album The Seventh One, karena liriknya sangat relevan dengan topik yang sedang dibahas di YM. mau nggak mau aku juga jadi inget masa lalu, waktu obrolannya sampai pada soal there is no second chance, for the one who leaves it all behind. yang aku sambung dengan sometimes you just don't know what you got till its gone.

eh, aku malah dikirimi lagu Pamela abis itu.
dan ya, udah! kuakhiri saja perjanjian untuk nggak akan pernah mendengarkan lagu Toto. pada hari ini, aku mendengarkan Toto lagi setelah lima tahun lewat. aku berikan kesempatan kedua untuk Toto, dan untukku.

Thursday, January 24, 2008

choice and understanding

Newsweek edisi 21 Januari memuat sebuah sebuah artikel tentang gap antara generasi pertama imigran di Amerika dengan anak-anak mereka. wait! jangan bayangkan kalau yang disebut imigran generasi pertama itu terjadi ratusan tahun yang lalu, yang kemudian sekonyong-konyong memerangi Indian. did I say sekonyong-konyong? :p

para imigran masa kini, sebagaimana pendahulu mereka ratusan tahun yang lalu, datang dari berbagai negara untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. mereka adalah tipikal orang yang rela melakukan apa saja agar anak-anak mereka memperoleh kesempatan, pendidikan dan pekerjaan yang menjamin hidup mereka kelak. mereka bekerja 80-90 jam per minggu dan meninggalkan segala hal di negara asalnya untuk memungkinkan hal tersebut terjadi.

masalah mulai timbul ketika anak-anak mereka mengambil jalur yang tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. anak-anak mereka mendapatkan tekanan yang luar biasa untuk study hard, get into top schools and choose careers that offer financial stability witout considering personal fulfilment. maka ketika anak-anak yang sudah diterima di universitas ternama seperti Harvard atau Stanford kemudian justru memilih karir yang kurang diharapkan, seperti menjadi filmmaker, pekerja sosial untuk human trafficking, atau menjadi musisi.

"I sometimes feel guilt, having chosen to be an artist, because I know that if I had chosen a scientific background, I could help my parents a lot more" salah satu dari mereka mengakui.

tapi ada juga yang dapat support penuh dari ibunya, atas pilihannya menjadi musisi. si ibu menjadi penggemarnya yang nomor satu, karena si anak berhasil menggapai mimpinya. salah satu lagu yang ditulisnya, berjudul "Mama", berlirik seperti ini;

who worked 16 hours just the other day
breaking her back, breaking her pride, her bones
so that we wouldn't ever have to do the same
never have to groan and moan
when we were on our own

musisi ini menyebut kehidupan ibunya sebagai sumber inspirasi yang tak ada habisnya karena ibunya telah memilih untuk mengabdikan diri untuk keluarga ketimbang mengejar mimpinya sendiri. "because she didn't get to live her dreams, I have to"

dan tiba-tiba aku teringat orangtuaku. yang aku yakin seringkali heran dan khawatir pada jalan yang kupilih dan keputusan yang aku ambil. dengan keras kepala menempuh jalur yang berbeda dari apa yang dapat mereka pahami. aku tau kalau mereka nggak selalu mengerti apa dan kenapa aku melakukan sesuatu. tapi kesadaran bahwa mereka selalu memberikan kasih sayang dan dukungan tanpa syarat membuat aku menjalani hidup dengan lebih percaya diri.

dalam artikel itu, ditulis pula tentang hubungan antara Irshad Manji dan ibunya, Mumtaz Manji. Irshad yang menulis buku kontroversial berjudul "The Trouble with Islam" mendapatkan dukungan penuh dari ibunya, seorang muslim yang taat dan aktif memakmurkan masjid. pada akhirnya buku karangan anaknya menyulut gunjingan dari sesama jamaah di masjid, dan ia hanya berkomentar singkat mengenai hal itu "until this day, there are so many people who don't talk to me. but who cares? my daughter comes first"

hmmm... I can't wait to meet my parents on Saturday.

Wednesday, January 23, 2008

Tiga Stanza Untuk Gabriella. #3

Gabriella mengirimiku buku sketsa dari Losari. membuatku ingat kalau aku belum menyelesaikan bagian terakhir dari tiga cerita tentangnya.



tapi sebelum bercerita banyak mengenai hal lain yang dilakukan Gabri, sebaiknya aku tunjukkan dulu buku sketsanya seperti apa. ide buku ini sederhana aja. ada seniman yang diminta membuat sketsa dari setiap sudut yang menarik di Losari, lalu Gabri menulis sedikit hal-hal yang mau dia sampaikan mengenai tempat itu. Misalnya bagaimana ia menemukan stasiun kayu kuno yang sekarang jadi tempat pendaftaran dan penerimaan tamu. dan begitulah, itu jadi buku sketsa yang mengembalikan kenangan orang yang pernah tinggal di Losari, sekaligus memperkenalkan Losari pada orang yang belum pernah tinggal disana.





selain buku sketsa itu tadi, bagian terakhir kisahku mengenai Gabriella ini juga akan berisi tentang apa yang dilakukan Yayasan Losari dengan buku, masih di desa Gemawang. mereka membantu masyarakat desa untuk membuat perpustakaan, uhm... semacam taman bacaan masyarakat, dan aku sempat juga mengunjungi tempat ini. namanya TBM Nurul Fatah, dan sekarang masih menumpang di salah satu rumah penduduk walaupun sudah ada tanah yang akan dipakai untuk mendirikan taman bacaan yang permanen, tapi pembangunannya masih belum selesai.



tapi mereka memang luar biasa. seseorang sampai rela meminjamkan rumahnya sampai waktu yang belum ditentukan untuk menampung taman bacaan. ini di desa, lho! dan ini desa yang minat baca masyarakatnya masih rendah. tapi kesadaran warganya untuk maju benar-benar harus kuacungi jempol. mereka berinisiatif sendiri untuk mengumpulkan buku-buku, majalah dan berbagai jenis bacaan untuk dimasukkan sebagai koleksi, dan tak lupa menggunakan teori persepuluhan Dewey untuk membuat label dan kode bukunya.

dari swadaya masyarakat, mereka juga berhasil mengumpulkan uang sekitar 15 juta rupiah untuk membangun taman bacaan secara permanen. dilihat dari sisi manapun, duit segitu itu banyak! lalu, beberapa pemuda desa juga menjadi pengurus perpustakaan, secara sukarela menjaga dan merawat koleksi, serta mengawasi setiap pengunjung yang datang. pada hari-hari libur, sebuah konvoi bermotor yang terdiri dari para pemuda desa juga pergi ke desa-desa lain, terutama yang letaknya cukup jauh dari jalan raya, untuk menyebarkan fliers mengenai perpustakaan desa Gemawang. sampai saat itu, belum pernah aku merasa terharu karena kegiatan konvoi motor.

nah, sekalian aku mau menawarkan, buat yang punya majalah atau buku atau bahan bacaan lainnya, dan berminat untuk menyumbang atau menambah koleksi Perpustakaan Gemawang, bisa mengirimkan buku-buku dan lainnya ke:

Yayasan Losari
Losari Coffee Plantation- Resort and Spa
Desa Losari-Grabag
PO BOX 108, Magelang 56100

Jawa Tengah, Indonesia


kunjungan keliling kami hari itu, diakhiri di Pondok Diakona. ini adalah sebuah panti asuhan yang menampung lebih dari seratus anak yatim piatu, anak dari keluarga yang sangat miskin, atau anak yang tidak diinginkan oleh keluarga mereka. ketika pengasuh panti menceritakan tentang bagaimana sebagian besar anak yang cacat datang, air mataku rasanya sudah nggak bisa kutahan lagi. bayi-bayi yang cacat sebagian besar datang ke pintu panti dalam keranjang, atau diletakkan begitu saja di dekat tempat sampah. mengetahui bahwa pengasuh panti tidak akan membuang mereka lagi.





kami sampai tepat saat mereka akan makan siang. jadi kami berkeliling dulu sebelum bertemu dan ngobrol dengan mereka. aku memperhatikan ada beberapa diantara anak di panti asuhan ini memiliki down syndrome, sehingga tidak bisa diajak bercakap-cakap dengan cara yang normal. salah satunya kemudian memilih Ayu menjadi ibunya. aku sempat memotret mereka berdua. aku yakin dalam hatinya, anak berkaus kuning itu juga tersenyum.



Rumah Diakona baru saja selesai direnovasi dengan bantuan dari HSBC Kita, sehingga mereka bisa punya kamar-kamar tambahan untuk menampung lebih banyak anak. gedung baru itu punya sirkulasi udara yang baik dan memang dirancang untuk menampung banyak orang sekaligus. kata Gabriella, tempat tidur dan kasurnya didatangkan dari Losari, setelah sebelumnya hanya sekali dipakai oleh Paspampres yang mengawal Presiden SBY waktu menginap di Losari. kedengarannya memang merepotkan kalo mau kedatangan Presiden, sampai harus beli kasur dan tempat tidur baru. tapi untunglah, masih bisa dipergunakan untuk hal baik sesudahnya.



cerita apapun yang kudengar hari itu, hal apapun yang kami lakukan di Pondok Diakona hari itu, seperti berusaha menumpahkan bergalon-galon air mataku. aku betul-betul harus berusaha keras mengendalikan diri. haru dan perasaan tidak berdaya campur aduk jadi satu. ingatan bahwa aku seringkali lupa bersyukur dan berterima kasih atas semua yang sudah kudapatkan, terasa mencabik-cabik hati. disisi lain, aku juga terharu karena melihat anak-anak di Pondok Diakona tampak sehat dan terawat. jadi kalau dalam foto-foto di postingan ini aku bisa tersenyum, itu adalah hasil dari usahaku mengeraskan hati, supaya tidak terduduk lemas berkubang air mata ketika anak-anak itu menghampiriku, mengucapkan selamat datang dan mengajakku bercakap-cakap.


di foto ini, aku dan Ayu ikut menyanyi bersama anak-anak Pondok Diakona, tak lama setelah mereka makan siang. kalau nggak salah, kami sedang menyanyikan More Than Words waktu foto itu diambil.



setelah itu kami pergi mengunjungi perpustakaan mereka. tempatnya betul-betul menyenangkan! dan koleksi bukunya cukup beragam, suasananya juga nyaman. ada banyak buku bacaan anak, dan mereka juga punya TV serta beberapa film untuk ditonton beramai-ramai. di salah satu rak, kami menemukan juga buku-buku klasik seperti Chronicles of Narnia dan Robin Hood. tapi yang bikin kami kaget adalah buku "Heidi Grown Up". pasti pada tau kan, cerita Heidi, gadis yang tinggal di gunung bersama kakeknya, yang lalu dikirim ke kota untuk menemani gadis kaya yang tinggal di rumah mewah, tapi badannya lemah sehingga nggak bisa berjalan dan harus duduk di kursi roda. ternyata ada versi ketika Heidi sudah dewasa! aku jadi penasaran seperti apa isi bukunya.




aku terkagum-kagum sama Gabri yang bisa dengan cool bisa tersenyum, bicara dan mendengarkan cerita anak-anak. memeluk mereka, tertawa bersama mereka, nyaris tanpa perubahan ekspresi yang berarti. walaupun menurut pengakuannya, setiap kali datang, ia selalu trenyuh dan siap menumpahkan air mata kapanpun juga.


tak heran, waktu aku mengucapkan selamat berpisah pada Gabri, air mata haru yang kutahan-tahan selama beberapa hari itu tak bisa kubendung lagi. dengan mata berkaca-kaca, aku memeluknya, lalu hanya bisa berkata.
"Gabri, thank you for doing so much untuk orang Jawa"

Wednesday, January 16, 2008

a taste of dream

bisa tidur nyenyak sebenarnya bukan pengalaman yang terlalu istimewa. setidaknya buat orang yang nggak pernah mengalami kesulitan tidur. nggak pernah amnesia, nggak pernah mengalami harus sudah bangun jam 7 pagi walaupun pergi tidur jam 2 dini hari.

buatku, tidur nyenyak dalam waktu yang panjang adalah kemewahan yang nggak setiap hari bisa didapatkan. makanya terasa agak aneh pas pergi ke Jogja-Bandung-Jakarta akhir tahun kemarin, bisa-bisanya aku tidur nyenyak selama tujuh malam berturut-turut, walaupun setiap malam aku berada di tempat yang berbeda-beda.

rasanya jadi seperti merasakan sekecap mimpi pada masing-masing persinggahanku setiap malam. oyah, postingan ini rada basbang karena harusnya ditulis pas abis liburan tahun baru, tapi baru sempat dikerjain sekarang.


27.12; Rumah Indie, Jogja
kayaknya hanya di rumah ini deh aku tidur sekamar sama tuan rumah. Indie ini sekarang menulis untuk websitenya yang berisi segala cerita tentang hidup di Jogja, termasuk dari sisi kuliner, seni dan jalan-jalan. dia juga menulis untuk sebuah majalah fashion dan kami jadi membahas-bahas tentang penulisan untuk fashion. seneng deh, bisa begitu. soalnya udah lama banget kami nggak ketemu dan cerita-cerita seperti waktu di kampus dulu. atau seperti nyaris sepanjang dua hari semalaman itu.


28.12; Rumah Pak Warno, Jogja
letaknya memang hampir keluar Jogja. dan Wonocatur itu ternyata nggak ada hubungannya sama Condong Catur. :D
di rumah ini aku mengalami pagi yang menyenangkan bersama Pak Warno dan Bu Rini. membahas topik-topik yang bervariasi, mulai dari seni rupa, masa lalu, kehidupan masa kini, sampai urusan-urusan yang berkaitan dengan jodoh dan masa depan. lengkap deh, pokoknya!

hari itu juga aku baru tahu kalau ternyata Bu Rini adalah vokalis dari band keroncong paling legendaris di Jogja, yaitu Keroncong Sukar Maju. wah! aku langsung memperkenalkan diri sebagai pengagum. sesuatu yang ia sambut dengan tawa sumringah. hihihi...

aku bahkan sempat bicara dengan anak kedua keluarga ini, Gita, yang sedang mengikuti program AFS di Vermont. dan lucu juga karena aku sama Gita, yang saat itu aja langsung dikenalin, bisa seketika lancar ngobrol dan cerita-cerita. kayak udah pernah ketemu sebelumnya.


29.12; Studio Taman Jiwa, Muntilan
di studio ini sebetulnya aku lebih sibuk sama dua ekor anjing yang namanya sama ini. sebutlah Bo! dan salah satu atau kedua anjing ini akan segera menghampirimu. mereka manja banget!
dan setelah aku foto disana sini, dengan setia mereka mengikutiku setiap kali jalan hilir mudik menyeberangi halaman dari rumah induk ke studio.





30.12; Kereta Api Turangga, Jogja - Bandung
aku duduk sendiri, sesuai dengan tiketku. dikasih selimut begitu mulai duduk, dan dapet juga 4 bantal bermerek kereta api. Turangga itu berangkat tengah malam dari Jogja, bikin aku lumayan lama duduk-duduk menggosip sama Jambul di Stasiun Tugu. seperti biasanya, kalo lagi nunggu dan ada temennya, pastilah seluruh keributan datangnya dari arah tempat dudukku.

baru sekali ini aku tidur dalam posisi ketekuk nggak enak, tapi bisa tidur lama, tanpa pegal-pegal dan tanpa kesemutan. ajaib banget lah, pokoknya.


31.12; Rumah Abi, Bandung
malam tahun baru yang seru bersama warga Kampung Gajah. sebetulnya cerita di rumah ini bisa jadi satu postingan blog sendiri. tapi berhubung aku sedang nggak dalam mood untuk menulis laporan, jadi buat yang pengen tahu bagaimana cerita kopdarnya, mendingan minta diceritain sama Mahen yang udah bikin report aja.

aku sampai di rumah ini sore-sore setelah pulang dari belanja barang-barang yang mau dipergunakan untuk acara malamnya, sekalian dengan beli jaket kulit warna ungu akibat dikomporin Abi. rumahnya sejuk dan well designed, thanks to orang tuanya Abi yang arsitek dan desainer interior.

setelah mandi, tiba-tiba hawa ngantuk mulai terasa. dan hamparan bed cover yang melapisi matras itu terasa begitu mengundang. aku segera terlelap dalam hitungan detik. bangun-bangun langsung ngerasa laper dan jadi harus menghadapi tatapan Abi yang bengong mendengar pengakuan laparku, padahal baru berselang tiga jam dari waktu makan siang.

hihihihi, tapi sebelum aku jadi cranky, Abi buru-buru memastikan aku dapat Indomie goreng lengkap dengan telur ceploknya. thanks, Abi. having a friend like you is a bless.

malemnya, waktu pergantian tahun kira-kira tinggal kurang satu jam lagi, aku yang udah kecapekan nyanyi-nyanyi, masih kenyang karena udah makan duluan, dan kebawa-bawa hawa yang sejuk nyaman dengan dikelilingi teman-teman, mendadak terlelap dengan sukses di kasur yang terhampar di depan TV, sambil memakai jaket yang warnanya nggak matching sama warna bajuku itu. dan lihatlah apa yang mereka lakukan padaku selama aku tidur.



walopun aku emang rada keterlaluan, sih. karena aku tetep nggak bangun walopun suasana begitu riuh-rendah, gegap-gempita, pake acara ditiup-tiupin terompet ke kupingku segala. walaupun sambil dikasih selimut juga. hihihi...


01.01; Rumah Taufik, Bandung
aku menulis postingan ini sekaligus untuk minta maaf sama Taufik. karena sesampai di rumahnya, setelah mandi, kami berencana pergi makan bareng. sebelum mandi aku dan Taufik udah cempat ngobrol-cerita-curhat seperti biasa. abis mandi juga cerita-cerita lagi. lalu tiba waktunya Isya dan Taufik pamit ke masjid depan dulu.

niatnya sih pergi. niatnya mo makan malam sambil menikmati suasana Bandung.
tapi niat tinggal niat, karena begitu Taufik pulang dari masjid, aku udah terlelap dengan manisnya di kasur yang empuk itu. duh, kesannya kok obrolannya Taufik jadi dongeng pengantar tidur ya?


02.01; Rumah Ari, Jakarta
setelah tidur terus di Bandung, nginep di rumah Ari malah jadi penuh kegiatan;))
sempat makan malam bareng Ochie dan Oom Deddy, minus Tante yang lagi pergi naik haji. sempat nonton Quickie Express sama Ari dan Fikri, sempat ngopi dan nggak sengaja ketemu make up artist yang kerja bareng aku di Komaneka bulan lalu. dan sempat pergi beli DVD! hihihi...
tapi hampir lupa bawa tiket waktu mau berangkat ke airport.
*wink*

Saturday, January 12, 2008

La Vie En Rose

Hold me close and hold me fast The magic spell you cast This is la vie en rose When you kiss me heaven sighs And though I close my eyes I see la vie en rose
akan perlu waktu lama sekali untuk melupakan cara Marion Cotillard dalam perannya sebagai Edith Piaf naik ke atas panggung. gerak tubuhnya, senyum dan terutama tatapan matanya yang berbinar-binar membuatnya tampak begitu bercahaya. Cotillard berhenti menjadi dirinya sendiri, dan sepenuhnya menjadi Piaf dengan segala hal yang melekat padanya. rambut ikal keriting, bibir penuh berwarna merah darah, alis mata yang tipis, garis rambut yang jauh, menunjukkan kening yang luas. seluruh tampilan itu diperkuat dengan gerakan tubuh yang sempurna. posisi berdiri, cara tangan bergerak, ekspresi waktu menyanyi, caranya berjalan, bagaimana bahu sedikit membungkuk dan terlihat kaku, sementara bagian tubuh yang lain terlihat bebas. Edith Piaf hidup hanya untuk menyanyi diatas panggung. dan Cotillard berhasil menerjemahkan pesan itu dengan tepat. Piaf diatas panggung menjelma menjadi dewi yang diberi nyawa oleh musik yang mengalun mengiringinya. dewi bergaun hitam berkalung salib emas yang selalu dikenakannya. dewi yang begitu mencintai seni suara dan lagu bahkan hingga saat kanker sudah menggerogoti tubuhnya, ia masih bisa bergerak, bersemangat dan berekspresi karena sebuah komposisi yang bagus. sebuah komposisi yang menggugah. Piaf terlahir dan dibesarkan oleh tempaan kerasnya hidup. setelah ditelantarkan oleh ibunya, Piaf kecil tumbuh berpindah-pindah. mula-mula dititipkan pada nenek dari ibunya, lalu di rumah bordil yang dikelola nenek dari ayahnya saat ia mengalami kebutaan sementara, sampai kemudian ia berkeliling bersama ayahnya dalam sirkus, sebelum kemudian mereka menggelar pertunjukan akrobat dan nyanyian bersama. kehidupannya di jalan menurutku membentuk kepribadian Piaf seperti tampak dalam film. ia menghargai ayahnya, membenci ibunya, mencintai Momone, memberikan segala-galanya untuk memiliki cinta, dan memiliki gairah hidup yang begitu besar meskipun segala sesuatu terenggut dari kedua telapak tangannya yang indah. ia dipisahkan paksa dari Titine pada usia 8 tahun. adegan pemisahan ini kemudian berulang pada saat polisi menjemput Momone dari kamar tempatnya tinggal bersama Piaf. Marcelle anaknya meninggal pada saat berusia 2 tahun. Louis Leplee yang menemukannya di jalan dan memberinya kesempatan pertama untuk tampil di panggung mati dibunuh. tapi yang menghancurkannya adalah kematian Marcel Cerdan, kekasihnya yang terikat pernikahan dengan perempuan lain. Piaf dalam film itu berkata; "Tuhan jadi saksiku bahwa dalam hubungan ini aku tidak meminta apa-apa, tetapi aku bersedia memberikan segala-galanya" maka ketika Marcen meninggal dalam kecelakaan pesawat Air France yang naas pada malam saat ia kembali dari New York menuju Paris untuk menemuinya, hidup Edith Piaf berakhir. ia kehilangan alasan untuk meneruskan hidup yang begitu tragis, hampa dan sengsara. hanya musik, lagu dan ketergantungannya pada obat-obatan terlarang yang menopang hidupnya selama lima tahun ke depan. namnu jika hidupnya mudah, barangkali Edith Piaf tidak akan jadi legenda seperti yang kita kenal sekarang.

Saturday, January 05, 2008

desember ceria 10

"kamu romantis" katanya sambil tersenyum. komentar yang membuatku tersenyum balik. sebelumnya Ugoran bilang kalau dia sudah membaca pengantar yang kutulis untuk pameran tunggal Wayan Suja, yang bisa didownload disini, (sekalian promosi) dua hari sebelum aku memberikan katalog pameran itu padanya. malam ini.

malam saat aku bertemu lagi dengan Ugoran Prasad ini memang istimewa karena kami semua sedang berkumpul untuk merayakan masa lalu. tahun 1997, Forum Musik Fisipol pertama kali mengadakan acara "Desember Ceria", pentas musik yang lahir dari kegemaran dan keseharian nongkrong bersama di area sekitar kantin-pohon mangga-tapal kuda-depan setrajana-kandang babi. ya, kami menyebut ruangan tempat kami bekerja menyiapkan acara musik sebagai Kandang Babi. dari pentas pertama itu, timbul keinginan untuk melakukannya terus menerus, setiap tahun. meski dengan uang yang terbatas, dengan peralatan seadanya, dengan cuaca Desember yang seringkali tak bersahabat.

lalu semakin banyak band lahir dan tumbuh bersama pentas ini. lalu FMF memutuskan untuk menampilkan hanya band-band yang menyanyikan lagu mereka sendiri, bukan sekedar cover version lagu orang lain. lalu waktu terus berjalan, dan tahu-tahu Desember Ceria sudah berusia 10 tahun.

malam itu aku disambut senyum lebar beraroma air kedamaian, dirangkul dalam dekap rindu dan persahabatan, ditepuk bahu dengan sayang, diselingi canda tawa dan pekik keceriaan, lalu mereka akan mengacak rambutku seperti selalu kuingat.
"apa kabarmu?" sapa dan tanya kudengar berkali-kali.


Jambul-Ina-Ugoran-Yossie

dan aku bertemu band lamaku, Melancholic Bitch, secara utuh. rasanya sudah lama sekali berlalunya tahun-tahun ketika aku pikir aku nggak bisa hidup tanpa mereka. Yossie, Ugoran dan Teguh Hari a.ka Jambul. lalu belakangan ada Yanu dan Aan juga. senang sekali rasanya bisa turun ke lapangan di depan Plasa Fisipol yang becek oleh gerimis, berteriak ke arah panggung seperti groupies bersama teman-teman, berharap mendengarkan lagu-lagu keparat dari masa lalu.

"Ugo, I love youu!!!"
bwahahahaha... memang gitarisnya lebih ganteng. tapi mendingan panggil-panggil vokalis, soalnya kalo bukan kita-kita sebagei kru dan mantan kru, siapa lagi yang akan mengelu-elu-kannya. ahahahaha...

beberapa teman, seperti aku, datang dari luar kota, menyengajakan diri supaya bisa bertemu dengan semua teman. ada pula yang nitip dibeliin suvenir aja, asal masih tercatat sebagai anak FMF, komunitas tanpa bentuk yang prestisius. hehehe... seleksi masuknya susah! nggak semua orang bisa tahan berlaga disini.

lewat tengah malam ketika Kill the DJ dan DJ Vanda masih nyalang di panggung, aku meninggalkan kampus dengan hati yang bernyanyi dan berbunga-bunga. kelopaknya tersebar sepanjang langkahku meninggalkan parkiran yang sangat kukenal, diiringi ikatan persahabatan yang mengambang di udara, dan tak akan lenyap dengan mudah. Yossie dan istrinya melambaikan tangan, Ugoran dan kekasihnya yang cantik sudah lenyap terlebih dulu. Jambul yang duduk di sudut meja, yang gelarnya everybody's darling-nobody's lover, berbisik padaku "kapan punya waktu bertemu lagi?"

segera, kataku. nanti ku-sms.

Thursday, January 03, 2008

serendipity

adalah disapa seorang teman yang sudah bertahun-tahun tak bertemu denganmu, di sebuah kota yang jaraknya 20 jam perjalanan darat dari tempatmu tinggal. teman itu bilang, ia memutuskan untuk mendatangimu karena melihatmu menyeberang jalan.

serendipity, adalah menerima sms dari seseorang, pada saat kamu sedang mengetik sms untuknya, mengenai hal yang sama. lalu mendadak hatimu terasa hangat karena menyadari, selama beberapa saat, kalian tengah saling memikirkan.

selamat tahun baru!
:D

Wednesday, December 19, 2007

Tiga Stanza Untuk Gabriella. #2



tempat itu dulunya adalah sebuah sekolah dasar. akibat keberhasilan program KB, jumlah siswanya turun drastis dan pada akhirnya terpaksa ditutup. semua bangunannya masih lengkap. ruang kelas yang kosong, mungkin dengan bangku dan meja di dalamnya, kini jadi tempat sapi-sapi yang kehujanan berteduh. jadi tempat penggembala menyimpan jerami.

dulu, itu adalah sebuah SD Inpres yang ideal. dengan arsitektur yang sama dari Sabang sampai Merauke, dan halaman luas yang membentang sampai kejauhan, dibatasi oleh jalan berbatu dan sawah penduduk.

di jalan berbatu itu, dari kejauhan kulihat Andrea mendekati kami dari atas sepedanya, dengan rambut pirangnya yang berkibar-kibar dan earphone tertancap di liang telinga. senyumnya melebar setelah sosok kami memasuki jarak pandangnya. jalan berbatu itu terhubung dengan Losari, dan semakin menjadikan bangunan SD yang terlantar ini sebagai tempat yang ideal untuk menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan batik.

dalam waktu yang tak lama lagi, orang akan bisa berkunjung ke tempat ini sebagai bagian dari tur setengah hari yang diawali dengan trekking keliling desa, belajar sedikit tentang batik, dan diakhiri dengan makan siang.

sebetulnya itu ideku.



satu-satunya hal yang kusesali dari masa kecil yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain adalah keadaan yang tidak memungkinkan aku untuk sering bertemu dengan nenekku. akibatnya, aku tidak mewarisi keterampilannya membatik. kalau saja kami sering bertemu, tentu aku sudah bisa meyakinkannya untuk mengajariku, meskipun ia menganggap keterampilan itu sudah ketinggalan jaman dan nggak perlu lagi diturunkan pada anak dan cucunya.

aku ingat waktu aku berumur 10 tahun, dalam satu kesempatan yang sangat jarang, kami sekeluarga menghabiskan sebulan liburan di Pacitan. di rumah Mbah Milatin dan Mbah Kayat yang bersebelahan di Peden, aku menemukan beberapa ibu dan nenek yang sedang membatik. waktu itu aku sedang jalan-jalan sama Mbah Kakung yang masih sehat.

kini yang tersisa tinggal Mbah Kayat. dan setelah nenekku terkena serangan stroke tahun lalu, hanya itu satu-satunya ingatanku tentang membatik.

justru di Bali hidupku bersinggungan lagi dengan batik. melihat, menyentuh, mengagumi dan mempelajarinya setiap hari. seperti deja vu yang terjadi selalu dan terus, ketertarikan dan ikatan yang kurasakan pada batik datang dari bawah sadarku. kalau aku punya kehidupan lain sebelum kehidupan saat ini, boleh jadi pada kehidupan lain itu aku dan batik memang tak terpisahkan.

dan luapan rasa itu membuncah tanpa ampun, sebuah tong kayu yang diisi terlalu penuh sehingga permukaan airnya menjilat bibir tong -nyaris tumpah, seluruh ingatan, haru dan sesal bercampur aduk menjadi satu ketika aku mengunjungi rumah tempat warga desa Gemawang membatik siang itu.

untuk menyambut kedatangan kami yang bergaya seperti turis, dengan jins dan t-shirt dan kacamata hitam, mereka semua memakai batik tulis yang mereka buat sendiri. pakaian apa yang lebih istimewa dari pada sesuatu yang menunjukkan keterampilan dan kemampuan orang yang memakainya.

warga desa ini sudah mulai membatik sejak dua tahun yang lalu, atas dorongan Gabriella Teggia dan Yayasan Losari. sebelumnya, di sekitar daerah itu sama sekali tidak ada orang atau komunitas yang membuat batik. kalau kuingat-ingat, memang belum pernah kutemui literatur yang menyebut bahwa di Kabupaten Semarang dikenal motif atau jenis batik tertentu. CMIIW, ya...

mereka yang membatik menggabungkan diri dalam satu kelompok dan berkegiatan di rumah salah satu warga desa, tempat kami dijamu kue pancung siang itu. pembagian tugasnya sederhana, sebagian besar laki-laki memusatkan perhatian pada pengolahan kain, pembuatan pola, dan pewarnaan. sementara para perempuan yang tangannya tetap lebih banyak membatik. keheningan dalam ruangan tempat membatik begitu terasa, sampai aku khawatir justru kedatangan kami yang membuat keheningan itu pecah, dan membuyarkan konsentrasi.



aku mendengar suara canting beradu dengan wajan kecil tempat malam dipanaskan, mendengar suara nafas dihembuskan pada malam yang cair sebelum diterakan.



mereka memulainya dari awal. mulai dari mengolah kain, membuat pola, menerakan malam, dan mewarnai batik dengan bahan-bahan alami. salah satu pola baru yang dikembangkan, bermotif kopi yang merupakan tanaman yang banyak dijumpai di sekitar tempat ini. saat ini, terutama, mereka sedang berusaha keras menguasai teknik pewarnaan dengan nila, tanaman yang dengan mudah bisa dijumpai di sawah, tapi banyak yang tidak tahu kegunaannya.



padahal hanya sekitar satu abad yang lalu, Jawa terhisap habis oleh politik tanam paksa VOC. nenek moyangku membangun Belanda dengan menanam nila. dengan ingatan yang pendek, kita begitu mudah melupakan sejarah dan warisan nilai-nilai.

kadang aku takut memikirkan begitu banyak hal yang lenyap karena kita tidak ingat lagi.

Thursday, December 13, 2007

yang 2007 aja belum beres

eh, si Ari nge-tag aku supaya bikin resolusi tahun 2008.

hum... ada sih temen yang bilang kalo resolusi tahun 2008-nya adalah berhenti bikin resolusi karena toh nggak ada juga yang diberesin. hihihi... itu terjadi pada semua rencanaku untuk menulis, yang memang lebih banyak hancur berantakannya, daripada jadi rapi dan bagus dan selesai, untuk bisa dinikmati.

tapi kayaknya nggak ada salahnya juga bikin resolusi yang kira-kira cukup masuk akal untuk dilaksanakan dan bisa terwujud dalam waktu satu tahun. walopun ehm, salah satu resolusiku tahun ini kayaknya akan ada hubungannya dengan sapi terbang dan serba nggak pasti.

dan inilah mereka, aku susun berdasarkan huruf abjad.

BELAJAR. ingin kembali ke sekolah dan belajar lagi di jenjang S2. kayaknya aku udah ceritakan juga di atas situ, tuh. sekarang ini memang memasuki masa yang sangat menyita waktu dan perlu kerja keras lebih, karena itu... aku harus:

lebih DISIPLIN. lebih rajin bangun pagi, lebih rajin menepati jadual yang dibuat sendiri, lebih bisa memanajemen waktu daripada sekarang ini, karena kayaknya banyak kekacauan terjadi dalam hidupku akibat aku suka menunda-nunda dan nggak serius sama deadline yang udah aku bikin sendiri. payah.

untuk rencana yang berhubungan dengan HIDUP, aku ingin bisa mengambil keputusan untuk spend the rest of my life with someone. doain ya?!

LIBUR. ingin punya waktu sebulan, tanpa ngantor, dan hanya dipakai untuk menulis, membaca, memotret, traveling dan memasak.

tapi selain libur, juga tetap harus KERJA, dan bisa punya satu bisnis kecil sendiri, yang bukan mlm, dan melayani berbagai permintaan sesuai dengan kemampuan melakukan sidejobs, yang range-nya dimulai dari mengorganisir acara, kunjungan dan project, manajemen artis, menulis, menerjemahkan dan berbicara di hadapan publik, sampai berbelanja.
oya, aku juga berencana untuk mengerjakan sebuah art and culture project yang menarik.

aku juga berniat jadi lebih TERAMPIL, dengan belajar bikin masakan Thailand. kenapa Thai food? karena rasanya enak dan segar dan nggak overcooked seperti rata-rata masakan Indonesia (kecuali Indomie).

dari sisi kesehatan TUBUH, aku bertekad harus bisa mengenyahkan jerawat dan punya muka yang bersih dan sehat. anyway, muka kan cuma satu. walopun setahun ini aku udah bisa bikin buku tentang hidup bersama jerawat.

yang terakhir dan yang paling penting adalah soal VOLUNTARY works. aku lagi ngumpulin duit untuk beli iPod [red] supaya bisa ikut patungan beliin obat untuk mereka yang terpapar HIV/AIDS. aku harap aku bisa menyumbangkan uang lebih banyak untuk orang lain yang memerlukan. jadi tolong doain supaya rejeki tetap lancar supaya aku bisa lebih banyak memberi yaaa...

okeh, sekarang ini waktunya mengalihkan tag ini ke 8 perempuan yang lain. yaitu Astri, Neng Quds, Bunda, Jeng Henny, Joan, Jeng Mira, Rara dan Suster Golda.

Thursday, December 06, 2007

I shop, therefore...

whoever said money can't buy happiness simply didn't know where to go shopping

perintahnya sederhana.
"Jeng, tolong belanja barang-barang untuk welcome bags buat beberapa tamu yang akan datang dari Australia beberapa hari lagi"
ada 11 orang dewasa dan 1 anak perempuan berumur dua tahun yang harus dibelikan hadiah-hadiah yang kemudian dimasukkan dalam tas untuk tiap-tiap orang.

tapi ketika aku membaca salinan email yang setelah diprint panjangnya jadi 3 halaman itu, aku jadi terdiam. gimana nggak, pertama karena usia orang yang harus dibelikan hadiah berkisar antara 40-50 tahun. susah bener menerka apa yang mereka mau.
kedua, salah satu diantara mereka berulang tahun dan karenanya harus dibelikan hadiah yang spesial. tanpa keterangan mendetail siapa orang ini, kecuali namanya dan sebutan birthday boy. ketiga, karena disana-sini petunjuk itu berisi "use your creativity" atau "you choose yaa"

dan nggak boleh salah.
ini seperti menjual kucing dalam karung dan yang dijual harus kucing yang sesuai dengan selera pembelinya.

maka di hari Minggu yang gerah itu, dengan salinan email, notes, pena dan uang yang dimasukkan dalam amplop dokumen besar berwarna cokelat, aku menjelajah Kuta, Denpasar, Sukawati dan Ubud untuk menemukan semua barang yang harus kumasukkan dalam semua welcome bags.

aku mengawalinya dengan membeli beberapa buah buku sesuai pesanan untuk hadiah spesial. kuputuskan untuk membeli buku tentang Batik Pesisir untuk birthday boy yang ternyata seorang fashion stylist. karena merasa sudah cukup dengan Periplus Galeria, aku nggak berkeliling lagi, lalu terus ke Carrefour Sunset Road untuk membeli printilan kecil macam kartupos, pena, mosquito repellent (ada yang untuk anak ternyata) ... sampai kemudian sadar kalau perlu membeli stationery yang lebih lucu dan menarik, mestinya aku ke Gramedia.

maka aku kembali lagi ke Galeria. betul-betul pintar.

di Gramedia Galeria aku berkutat di section yang menjual dekorasi dan hiasan bernuansa Natal untuk menemukan kertas-kertas tebal untuk membuat kartu yang akan jadi identitas tiap tas, tali untuk menggantung kartu-kartu itu, bunga-bunga berwarna perak untuk menghiasnya, serta kertas daur ulang oranye yang cantik untuk membungkus kado, lengkap dengan pita dan kartu khusus untuk Eva, si kecil yang berumur 2 tahun. aku membeli juga spidol 10 warna dan buku sketsa polos untuk dibuat scrapbook.

suntuk di Galeria, aku meneruskan pencarian ke Jalan Sulawesi, tempat aku memasuki berbagai toko dan memilih, menawar, membongkar, memilih dan menawar lagi sebelum membayar tiap helai sarung batik, kain destar dan selendang yang kubeli. mungkin sekitar 5 atau 6 toko kumasuki. tak semuanya berhasil kutawar murah. di sini aku senang sekali karena bisa menemukan batik tulis bermotif Lokcan (Phoenix) yang monokrom dengan dasar putih dan pewarnaan indigo biru tua untuk Gary, the birthday boy. seperti Fawkes, semua burung Phoenix berumur panjang. itu doaku untuk Gary.

seterusnya aku naik ke lantai 3 Pasar Badung buat mencari kebaya mungil untuk si kecil. aku menemukan satu yang berwarna putih dengan bunga-bunga oranye, disesuaikan dengan bawahannya yang juga oranye. cantik sekali. aku cuma berharap ukurannya nggak terlalu kecil.

sebelum terlalu sore, aku bergegas ke Jalan Teuku Umar untuk membeli handphone. segala urusan makan siang dan ngemil dan minum aku lakukan di salam mobil untuk menghemat waktu. di toko selular aku dilayani perempuan muda yang tampangnya agak males-malesan waktu aku minta handphone GSM yang paling gampang dipakai dan paling murah.
"390 ribu" katanya.
aku lalu mengikutinya ke tempat dimana handphone itu berada. dan menemukan bahwa ada handphone lain yang harganya 370 ribu. "kalo yang ini barangnya ada?" tanyaku.
dia mengangguk agak malas-malasan.
"oke, kalo gitu saya beli lima"
senyumnya jadi cerah sebelum beranjak mengambilkan benda yang kuminta.

jadilah perempuan itu kuminta untuk mengeset hp, memasukkan berbagai nomor ke dalamnya, memprogram ringtone-nya dan lain-lain. sayang jaringan XL waktu itu lagi down, sehingga dia nggak bisa sekalian melakukan registrasi atas nomor-nomor baru. uhm, itu berarti aku yang barus melakukan registrasi.

selama menunggu, aku sempat membeli penyambung dari colokan kaki tiga ke colokan kaki dua untuk chargernya. aku menyebut benda itu moncong babi. tapi sebenarnya nama benda itu apa sih?

dari Sulawesi aku pergi ke Sukawati. membeli kipas kayu kecil, tas untuk memuat semua barang dan dompet manik-manik yang nantinya akan diisi dengan sabun natural. ini mungkin toko yang paling cepat ngasih potongan harga. karenanya aku nggak berlama-lama disana. lalu langsung ke Ubud.

setelah ngedrop barang-barang di rumah, aku pergi berkeliaran di toko-toko sekitar Ubud untuk membeli dupa harum dan korek api, pita perak, hitam dan kuning untuk mengikat berbagai benda, amplop untuk kartu pos, syall sutra sintetis dari Cina, syall batik tulis Madura yang tinggal satu-satunya, serta peta Bali untuk semua orang. berikutnya masih ditambah gaun batik kecil yang desainnya sangat manis untuk Eva, serta pulsa telepon untuk semua handphone baru.

waktu semuanya udah selesai dibeli, badanku rasanya udah makin menipis dan layu. padahal aku masih harus makan malam sama Iman, lalu ketemuan lagi sama Vincent, Nikki dan Sari di Ubud Hanging Garden yang tempatnya di hutan belantara nun jauh di ujung Payangan sana.

tapi aku sangat menikmati belanja hari itu. walaupun memang belanja yang paling enak adalah beli untuk diri sendiri, sesuai selera sendiri, tanpa khawatir kehabisan uang. dan ketika belanja untuk orang lain jadi lebih rumit dan sulit.

PS. kalo ada yang nggak suka belanja, karena ribet dan karena nggak tau mesti beli apa dimana, kabarin aku aja. kalo hari baik dan aku sedang nggak sibuk dan moodnya lagi pas, aku mau kok jadi personal shopper lagi!:D

PPS. quote yang diatas itu pertama kali aku tahu dari signature-nya Blub. tapi ternyata itu quote dari Bo Derek, perempuan yang canggih. hihihihi...

Thursday, November 29, 2007

Tiga Stanza Untuk Gabriella. #1

"Saya pertama kali datang ke Indonesia tahun 65. Saya belajar Bahasa Indonesia di rumah sakit tempat saya bekerja sebagai Biologist. Saya sudah datang ke banyak tempat di Indonesia tapi sekarang tinggal di Jawa Tengah. Saya jatuh cinta pada Jawa Tengah. Hati saya ada di sini"



itulah yang dikatakan Gabriella Teggia di hadapan sekitar 100 undangan yang menghadiri pembukaan kembali Joglo Cipta Wening, sebuah museum yang menyimpan koleksi desain batik dari Imogiri dan daerah lainnya di Yogyakarta. entah buat yang lain, tapi aku merasa tersentuh, melihat seorang perempuan Italia dengan rambut berwarna pirang dan kacamata lebar berwarna kecokelatan menyatakan cintanya pada tanah Jawa dengan suara bergetar. baru tiga hari aku mengenalnya. tapi dalam tiga hari itu, aku menyaksikan bagaimana rasa cinta tidak hanya dilontarkan dalam kata semata, tetapi diwujudkan dalam berbagai hal yang menggugah.

ini kisah tiga hari yang mengharukan. dan kisah ini bagian pertamanya.

Malam itu aku tersuruk di jalan berbatu yang terjal. Jadi ini sebabnya aku diwanti-wanti untuk memakai ‘comfortable walking shoes’, batinku. Aku yakin suasana di sekitarku saat itu sangatlah indah. Andai aku bisa melihatnya. Tetapi jalan berbatu yang terjal itu hanya diterangi oleh lampu badai yang berselang setengah meter antara satu dan lainnya di dua sisi jalan. Nyalanya yang berkelap-kelip seperti kunang-kunang terperangkap dalam toples kaca sangatlah tidak memadai untuk memungkinkanku melihat landscape seperti apa yang sedang kulewati.

Kami menuju ke arah bayangan gelap yang menggumpal di kejauhan. Semakin dekat semakin jelas kulihat bahwa yang kami datangi itu adalah rumah-rumah joglo yang keseluruhan bangunannya terbuat dari kayu. Salah satunya berwarna hijau tosca dengan kusen berwarna cokelat tua. Staff yang mengantar kami memberikan kunci. Jadi inilah kamar… err, villa yang akan kuhuni. Dua malam ini, aku akan tinggal sendiri dalam sebuah rumah joglo. Apakah gadis-gadis yang sedang dipingit pada masa lalu diperlakukan semewah ini juga?

Kamar ini pantas menjadi kamarnya Nyai Dasima.





Dan bolehlah aku menganggap diriku sedang menjadi semacam Nyai Dasima di tengah perkebunan kopi di jantung Pulau Jawa. Ah, tapi Nyai Dasima tidak tinggal di perkebunan kopi karena ia dicintai setangah mati oleh seorang pembesar VOC. Mungkin lebih tepatnya, aku mendapatkan kamar Nyai Dasima di perkebunan milik Nyai Ontosoroh. Tokoh perempuan favoritku dalam kisah-kisah yang diceritakan Pramoedya. Tapi dalam kisahku ini, perkebunan kopi yang masih berkabut pada pukul 6 pagi ini dimiliki oleh Gabriella Teggia. Perempuan yang berkeras memintaku memanggilnya hanya dengan nama depan, tanpa sebutan ‘Ibu’ atau ‘Tante’, meskipun usia kami terpaut hampir 50 tahun.

Bayangkanlah sebuah perkebunan kopi yang terletak di lereng gunung. Dengan begitu banyak pohon besar, kebun bunga, kebun sayuran, dan kebun kopi. Kesemuanya tertata cantik, tapi juga dibiarkan tumbuh secara alami. Bayangkan membuka pintu joglomu dan melihat kabut tipis diantara dahan-dahan pohon, lalu bayangan samar gunung mengambang di atas hamparan puncak pohon. Bayangkan berada di sebuah tempat yang seperti membawamu kembali ke masa lalu, seratus atau seratus lima puluh tahun yang lalu. Lalu kamu terhanyut...



Percakapanku dan Gabri yang pertama adalah tentang mutiara. Yang kedua mengenai batik. Itu terjadi setelah aku bercerita padanya bahwa aku mengelola sebuah galeri seni dan gift shop yang berisi berbagai macam batik, kerajinan dan perhiasan. Ia adalah penyuka baroque, mutiara yang bentuknya tak sempurna. Kami juga membahas freshwater pearl berwarna kelabu yang kusematkan di lubang telinga dalam perjalanan bermobil ke Losari malam itu.





Aku mengalami waktu yang luar biasa selama dua malam menginap di Losari. Foto-foto kamar dan pemandangan yang sempat kuambil kusertakan disini. Kami selalu makan roti yang segar, baru keluar dari panggangan. Selalu makan sayuran yang masih terasa manis karena baru dipetik. Selalu menghirup udara yang bersih. Tentu disertai juga dengan mendengar cerita-cerita kocak yang kadang bikin aku merasa perlu untuk mengelus dada. Terutama kalau berkaitan dengan tamu-tamu yang berkelakuan aneh. Misalnya mengenai seorang tamu yang menolak dipindahkan pada saat Losari terpaksa 'ditutup' untuk sementara karena pada saat itu SBY datang dan menginap di sana. Kebayang kan betapa repotnya Gabri untuk menjelaskan pada tamu yang keras kepala bahwa kehendak seorang presiden dengan aturan protokoler yang sangat ketat tidak bisa dibantah.

"Bapak Presiden, Anda bisa menginap disini tapi harus berbagi dengan tamu yang lain"
kayaknya nggak mungkin kalo mesti ngomong begitu deh.

Saat-saat makan selalu ditemani dengan live music. Entah itu kelompok anak-anak muda (yang ternyata gitarisnya temanku) yang memainkan lagu-lagu Latin, kelompok warga desa yang memakai baju koko berwarna putih, memainkan lagunya Matta Band dalam gaya keroncong dengan penyanyi berkebaya lengkap, ataupun para pemusik Bossa Nova... selalu ada musik mengiringi makanan yang enak dengan porsi berlimpah ruah itu.

Tapi nggak ada yang ngalahin Spa-nya!
Aku mendapatkan pijatan dan facial selama 2 jam. Dan nyaris selama waktu itu, setiap kali si terapis mulai bekerja, segalanya jadi gelap dan hitam. Aku akan tertidur sampai tiba waktunya untuk membalik badanku.

Ah! kalian juga harus mencoba keindahan resort ini.

duka yang menyusun sendiri petualangannya

  rasa kehilangan seorang penonton pada aktor yang dia tonton sepanjang yang bisa dia ingat, adalah kehilangan yang senyap. ia tak bisa meng...