Monday, February 25, 2008

tentang lagu cinta. dan R.E.M


Michael Stipe does not feel comfortable writing about the upside of life. For him, the words that express love are often clichés, the ability to capture thrill and joy, without sounding maudlin, trite or overly sentimental, is a skill even some of the best songwriters don't possess. The language of the lover and the lovelorn in pop is worn out, stale.
basi. gitu kata Stipe, yang kemudian dikutip sama David Buckley dalam buku R.E.M Fiction; An Alternative Biography.

aku setuju sama Stipe. semua kata cinta yang tampaknya begitu mudah diucapkan dan diulang-ulang-ulang dalam lagu-lagu pop itu membuat maknanya semakin lama semakin dangkal. dan jadinya sudah nggak berarti lagi, karena sudah terlalu sering dipakai, bahkan untuk hal-hal yang nggak perlu. lalu kalo orang bilang masih belum menemukan cinta, atau masih mencari cinta, rasanya jadi overrated. nyari apa sih? cinta?... banyak tuh, disebar-sebar di lagu-lagu cheesy. hihihi...

itulah sebabnya sepanjang perjalanan karir mereka, R.E.M nyaris nggak pernah bikin lagu yang temanya tentang cinta-cintaan. aku bilang nyaris, karena ada dua lagu yang memang bercerita tentang tema ini, diluar tema-tema lain dalam lagu-lagu R.E.M yang emang dari sananya udah nggak biasa. thanks to Stipe yang artistik dan selalu sibuk menenggelamkan diri dalam berbagai hal, entah itu kebudayaan, kesenian, politik, agama, sejarah, aktivisme dan bahkan dongeng serta legenda dari masa lalu, lirik lagu-lagu R.E.M jadi punya rentang bahasan yang sangat luas.

misalnya "What's The Frequency, Kenneth?" diilhami oleh peristiwa penyerangan yang dilakukan terhadap seorang anchor CBS. yang lalu jadi lagu beraroma surreal, diawali dengan sebuah pertanyaan dan diteruskan dengan...

I was brain-dead, locked out, numb, not up to speed
I thought I'd pegged you an idiot's dream


atau lagu "Drive" yang salah satu liriknya adalah homage untuk Pyton, band yang juga berasal dari Athens-Georgia ...hey kids, rock and roll....sebetulnya berasal dari lirik lagu mereka. sementara lagunya sendiri kata Stipe menunjukkan dukungan R.E.M buat Motor Voter Bill, salah satu undang-undang populer yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Bill Clinton.

balik lagi ke pada soal lagu cinta, lagu pertama yang bisa dengan mudah disebut lagu cinta-nya R.E.M adalah "The One I Love" dari album Document, yang dirilis tahun 1987. lagunya cerah ceria, suara gitarnya Peter Buck juga enak banget didengerinnya. liriknya manis dan sederhana.

This one goes out to the one I love
This one goes out to the one I've left behind

A simple prop to occupy my time

This one goes out to the one I love

tapi kalau diperhatikan baik-baik, apa iya sih ini lagu cinta? karena kalo emang iya... masa sih kekasih bisa direduksi jadi 'a simple prop to occupy my time'? hihihi...
bukannya fungsi pacar semestinya bisa lebih banyak dari sekedar alternatif untuk membunuh waktu (dan kebosanan)?
*ngakak*

lagu kedua yang (akhirnya) memang benar lagu cinta adalah "At My Most Beautiful". dan seperti sudah bisa diduga, kalau band-band yang cool seperti ini bikin lagu cinta, liriknya pasti dahsyat dan selalu sukses bikin orang jadi terdiam seribu bahasa, kehabisan kata-kata. speechless.

I read bad poetry Into your machine
I save your messages

Just to hear your voice

You always listen carefully

To awkward rhymes
You always say your name,

Like I wouldn't know it's you,

At your most beautiful


At my most beautiful
I count your eyelashes, secretly
With every one, whisper I love you


I let you sleep.
I know you're closed eye watching me

Listening, I thought I saw a smile

ini adalah lagu cinta favoritku selama tiga minggu terakhir. setiap kali mendengar dan ikut menyanyikannya, pikiranku selalu melayang padamu. sayang sekali aku belum bisa menulis lagu cintaku sendiri. jadi untuk sementara, lagu ini yang kupinjam dan kuberikan untukmu.

Sunday, February 24, 2008

toilet tale

kantorku bekerjasama dengan satu travel agent paling besar di Jepang untuk bikin semacam booth, tempat turis-turis Jepang yang sedang berkeliling Ubud bisa menunggu shuttle bus atau sekedar melepas lelah. idenya sederhana. tiap hari bus mereka akan datang dua kali, menurunkan penumpang dan kemudian menaikkan penumpang lagi. biasanya ini terjadi antara jam 11 sampai paling sore jam 14.

tentu saja selama masa-masa itu dua toilet yang ada di depan jadi sangat sibuk. tak henti-hentinya dipakai. kalau aku sendiri mau memakainya dan keliatan yang ngantri banyak, aku lebih memilih kabur ke dekat lobby, atau lebih jauh lagi sekalian ke spa.

satu hal yang kuherankan, orang-orang Jepang ini gemar sekali membanting pintu. padahal pintu toiletnya baik-baik aja. engselnya sering diminyaki, nggak berkarat, nggak berat dan nggak bermasalah. tapi setiap hari, aku bisa dengar minimal 5 kali pintu dibanting.
bam! bikin sakit telinga.

kalo udah nggak tahan biasanya aku mengeluarkan keluhan panjang-pendek dari ruanganku. dalam bahasa Indonesia ato bahasa Jawa.
"harus dibanting ya, bok... pintunya?"

hal kedua yang juga bikin aku terheran-heran... sekali lagi, ini hanya terjadi sama orang Jepang dan nggak terjadi sama orang-orang dari negara lain, entah itu orang Eropa, Korea atau Amerika. yeah, aku jadi pengamat perilaku pengguna toilet dari berbagai negara secara nggak sengaja.

aku ulangi.
hal kedua yang bikin aku heran adalah, sering sekali mereka mengalami kesulitan keluar dari kamar mandi. seolah-olah terkunci. bener, deh! setiap hari adaaaaaa aja yang mengalami ini. tadinya, aku pikir karena ada masalah dengan kunci pintu kamar mandi. aku minta orang untuk memeriksanya, dan mencobanya berkali-kali. dan ternyata baik-baik aja. trus aku inget kalo kejadian ini hanya dialami orang-orang dari negara tertentu.

setelah dua minggu berlalu, kami jadi tau kalau mereka punya kebiasaan lucu. kalo ngunci pintu, muter kuncinya dua kali. tapi waktu membukanya, cuma muter kunci sekali, terus langsung diguncang-guncang dengan nggak sabaran. hmmm... selalu begitu sebabnya. ya jelas aja, pintunya ngotot nggak mau dibuka. jadilah setiap kali salah satu staff harus buru-buru ke depan toilet dan meminta supaya yang bersangkutan memutar kuncinya sekali lagi. itu pun seringkali nggak langsung dikerjain. hehe...
dan nanti, nggak berapa lama kemudian, kejadian itu akan berulang.

semua ini udah berlangsung beberapa bulan, dan hanya mereka yang begitu, memang. orang-orang Jepang yang aneh.

Wednesday, February 20, 2008

I Love Mahen

waktu posting lirik-lirik ini ke Kampung Gajah, aku cuma berniat membagi Soundtrack of The Day. iyah... aku masih dengerin The Cardigans terus, dan lagu Hold Me ini diambil dari album Long Gone Before Daylight.

kemarin aku nge-loop lagu ini seharian.

Hold me, don't ever leave me
Know me, never believe me
Stay here but don't get too near me
Leave me, leave me alone
But don't ever let me go

Show me, but don't ever teach me
Touch me, don't try to reach me
Hold me but don't ever keep me
Baby, don't ever let me in

And don't let me win

'Cause I leave myself to you
Yes, I release myself with you
I believe in me and you
So don't ever say you do

.... dan serusnya. lirik lengkapnya cari sendiri, yah!

balasan-balasan awal sebetulnya bikin aku seneng, karena terus ada yang ikutan posting lirik lagu lainnya, yang judulnya mirip-mirip. misalnya Hold Me, Thrill Me, Kiss Me, Kill Me-nya U2, atau Hold Me, Thrill Me, Kiss Me-nya Gloria Estefan, yang ternyata lagu kebangsaannya Joan.

tapi tentu bukan Kampung Gajah namanya kalo satu thread nggak belok ke arah lain.

dan yang menyimpang dari jalurnya kali ini Mbak DheeYan alias Bunda Endhoot. aku tau lah dia melakukan ini karena dukungannya yang nggak abis-abis padaku. sekalian juga aku tau dia emang kesenengan karena kemarin sempat jadi juru bicara waktu bikin press lilis. hihihi.

dengan demikian, url yang Bunda bikin, valid.

exanthem

Ari sakit dan sampai dirawat di Rumah Sakit Bintaro.
ini berita besar, soalnya selama empat belas tahun aku kenal dia, nggak pernah sekali pun sahabatku ini masuk rumah sakit. sekalinya sakit parah adalah sakit tipes, dan itu pun cuma pindah dari kamarnya di lantai 2 ke kamar Ochie yang letaknya dibawah. jadi nggak harus naik turun tangga kalo mau ke kamar mandi, ato mo ambil makanan di dapur.

makanya pas malem-malem dia telepon dan bilang "tebak deh, gue ada dimana?" aku nggak bisa nebak dan balik nanya "dimana?"
*dasar akunya males*

dari badannya yang berbintik-bintik merah, serta kadar trombosit yang turun, dokter memvonis kalo Ari kena Demam Berdarah. dan karena dia keliatan tenang-tenang dan sehat-sehat aja, aku malah jadi makin khawatir. setahuku, kalo kayaknya baik-baik saja, itu malah demam berdarah dari jenis yang berbahaya.

dia bilang, rencananya akan dirawat di rumah sakit selama 3 hari.
"kalo lebih dari tiga hari, ntar gue dateng kesana"
I mean it.

di hari kedua, ketahuan kalau ternyata yang menyerangnya bukan DBD, tapi dicurigai keracunan obat atau terserang satu virus yang belum ketahuan apa pastinya. waktu itu, dokternya bilang kalo Ari kemungkinan harus di-isolasi.
hihihi, ini kayak penjahat kambuhan yang berbahaya kalo dijadikan satu dengan narapidana yang lainnya di penjara. hihihi. seberbahaya itu ternyata si Ari.

hari ketiga, ketahuan nama virusnya Exanthem. keren ya?
ini masih segolongan sama penyakit-penyakit semacam campak dan cacar air. sama-sama disebabkan virus, dan sama-sama bikin bintik-bintik di kulit. apa mungkin Lindsay Lohan juga punya virus ini ya?
*masih terganggu sama hasil foto-fotonya pura-pura jadi Marilyn Monroe*

cuma, penjelasannya di wiki kok malah begini;
An exanthem is a widespread rash, usually of viral origin, and usually occurring in children. children? Ari? padahal dia lebih tuwa daripada aku.

penjelasan tambahannya, emang ada jenis virus yang menyerang trombosit, hal itu menjelaskan kenapa kadarnya sempat turun, sehingga dicurigai DBD. tapi mungkin juga ini karena reaksi yang berlebihan terhadap obat, terutama antibiotik.
makanya, Ri... jangan suka beli obat di wharung. it's not good buat kesehatan kamyu.

welcome home, yaaa...

Monday, February 18, 2008

tentang cinta. dan the cardigans



udah berhari-hari niat untuk nulis tentang lagu ini sejak Wesly ngasih 46 lagu dari album The Best of Cardigans. aku suka band ini. musiknya menyejukkan hati, enak dipake buat goyang-goyang kaki sembari beresin kerjaan yang nggak ada habisnya. gimana mo abis, lha wong kerjaan semuanya ditumpuk terus ditunda. nggak dikerjain. emang siapa yang mo disuruh beresin? hihihi...

suatu siang aku loop lagu For What It's Worth berkali-kali. pertamanya cuma didengerin, lalu ikutan nyanyi, lama-lama hapal liriknya juga. menikmati melodinya yang riang, tampak menarik dinyanyikan pada saat pool party sore-sore, dengan minuman segar dan air yang bercipratan dimana-mana. bagaimanapun juga, ini lagu cinta. dan ini lagu cinta yang bahagia.

tapi kalo didengerin lagi baik-baik, ada yang berbeda dari caranya The Cardigans menyatakan cintanya. normalnya kalo ngomongin cinta kan ya pake kata-kata indah... yang dengan mengucapkannya tanpa nada aja udah terasa indahnya. kadang terlalu manis, sampai dari kata-kata itu bisa mengalir air perasan tebu, atau nira. bisa langsung dijadikan gula kelapa, atau dijadikan tuak dan bikin yang meminumnya mabuk. mabuk cinta.

kata The Cardigans, l.o.v.e adalah the four letter word-the dirtiest word that you could ever said. dan untuk bilang cinta, yang benar-benar cinta, itu kayaknya nggak banget deh.

The four letter word got stuck in my head
The dirtiest word that I've ever said
It's making me feel alright.

For what it's worth I love you
And what is worse I really do
Oh what is worse I'm gonna run run run
'Till the sweetness gets to you
And what is worse I love you!

cara mikirnya mungkin rada mirip dengan lirik lagu Something Stupid.
And then I go and spoil it all
By saying something stupid
Like I love you

para pecinta boys band yang alirannya memang menye-menye, silakan aja protes dan punya pendapat lain. tapi menyatakan cinta dan bilang I love you itu kayaknya sesuatu yang mestinya sangat dihindari, karena bikin suasana jadi nggak seru lagi. yang fun, yang lucu, yang bikin hepi, semuanya hilang karena pernyataan ini.

hmm...
apakah menyatakan cinta berarti kelemahan? semacam penyerahan diri dalam suatu ikatan yang suffocating, yang bikin nggak bisa bernapas dan membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri? kehilangan kebebasan dan kuasa atas ke-aku-an, yang lalu harus dibagi bersama dengan orang lain?
apakah berkomitmen terdengar begitu menyeramkan?

Thursday, February 14, 2008

perfect jokes

Gerbang Kedatangan - Sukarno Hatta
sejak turun dari pesawat, udah senyum-senyum. waaa... udah sampai Jakarta. angin berhembus sejuk sepanjang jalan melintasi tarmac. perjalanan lancar dan nggak ada delay. membaca "Radiohead - Welcome to The Machine" selama duduk di pesawat, dengan hanya sekali terganggu. waktu melirik ke bangku sebelah kiri, aku menemukan ibu-ibu berusia 40-an yang sedang sibuk mengecat kuku jarinya dengan warna merah darah. jrit! nggak belepotan pula. aku menatapnya beberapa detik dengan sorot mata penuh kekaguman.
pesawatnya kena turbulence 4 kali, lho! sampe harus matiin lampu dua kali selain pas take off dan landing. aku sibuk membaca dan berdoa, ibu ini sibuk mengecat kuku.

masuk ke bangunan bandara, semua lancar. nyaris lengang. senyumku semakin lebar, membayangkan waktu pertemuan yang sudah dekat. aku nggak perlu antri di luggage claim karena bawaanku semua masuk kabin. belok ke kiri, makin dekat dengan pintu keluar. uhm, mulai deh... bayangin adegan pertemuan di bandara seperti di film-film. inget pertemuan di gerbang kedatangan, jadi inget Love Actually... trus jadi inget The Terminal. contoh yang kedua kayaknya salah, deh.

aku teringat kata-katanya di telepon sebelum aku berangkat, yang bikin aku tersipu bersemu merah jambu. dan berima.
"nggak akan susah mengenali kamu di bandara. aku tinggal cari yang paling cantik"

tapi begitulah, masih dengan senyum dan adegan film berputar di otakku yang sok romantis, aku keluar dari gerbang kedatangan terminal 1A Bandara Sukarno-Hatta yang malam itu panas luar biasa.

dan aku disambut oleh... supir taksi serta calo angkutan.

"taksi, mbak?"
"mau ke bandung, neng?"
aku celingak-celinguk ngeliat ke kanan-kiri. orang-orang yang aku liatin pada ngeliatin balik. tapi semuanya nggak ada yang kukenal. ups, ada yang nggak bener, nih.

kukeluarkan hp dari dalam tas dan bergerak ke arah kursi kosong terdekat. masih tetep sambil noleh ke kanan dan ke kiri. masih dengan hp di tangan, aku liat ada sosok yang tampak familiar, kelihatan mencari-cari dari balik pagar hitam pemisah di luar gerbang kedatangan.

kudekati, kayaknya kenal, deh. jangkung, kurus, berjaket hitam, pake topi hitam juga.
*colek-colek*
"kamu nggak ngeliat aku keluar tadi?"
ekspresi wajahnya yang kaget dan agak malu dan terlihat senang nggak akan kulupakan.


Gerbang Kedatangan - Ngurah Rai
aku adalah salah satu dari lima orang terakhir yang turun dari pesawat malam itu. kalo nggak karena duduk kursi yang paling dekat dengan gang, aku males banget desak-desakan menunggu pintu pesawat dibuka. aku nggak suka orang asing memasuki 'ruang pribadi'ku. harusnya mereka berada minimal 30 cm dariku.

sekali ini barangku masuk bagasi. aku santai, kok.
keluar dari luggage claim, cari-cari ATM dan dikasih tau kalo ATM Permata adanya di Keberangkatan Internasional. ugh, males banget. jauh!

untung ada ATM Bersama. yayaya, ini aku sedang promosi terselubung karena udah sering diselamatkan ATM Bersama. I love you, ATM Bersama.

beres dengan urusan ATM, aku pergi ke loket taksi bandara. janjiannya malam ini akan ketemu Iman di Nusa Dua. tapi dia nggak bisa jemput, jadi aku kesana sendiri ajah. sebenernya rada males sih naik taksi bandara, mahalnya minta ampun. tarifnya bisa 40% lebih mahal daripada kalo pake taksi biasa yang ber-argo. tapi ya, sudahlah. apa boleh buat. aku berjalan keluar dari loket diiringi tukang taksi yang sudah membawakan tasku.

"Dian Ina! aku menjemputmu!" tau-tau ada sebuah suara memanggilku.
"he! Pippi!" aku cuma bisa menyerukan namanya karena kaget.
uhm, kayaknya aku udah bilang kalo aku pulangnya akan bareng sama Iman, jadi emang nggak nyangka banget Pippi akan datang menjemput. aku memandang tukang taksi dengan wajah bingung. aku noleh lagi ke Pippi sambil bilang
"aku udah bayar taksi"
"nggak papa, mbak. bisa dibatalkan kok" kata si tukang taksi dengan baiknya.

aku balik lagi ke loket taksi bandara, menerima kembali uangku, mengucapkan terima kasih dan permintaan maafku, sambil senyum manis. jangan ngambek ya, paaak... kataku dalam hati.

aku lalu mengikuti Pippi ke arah parkiran motor. sambil mendengarkan ceritanya yang berapi-api dan bersemangat, tapi hanya bisa kutangkap sepotong-sepotong, karena aku masih sibuk dengan hpku yang berdering-dering tanpa ampun.

aku masih bicara di telepon waktu aku lihat Pippi jongkok, 3 meter dari deretan motor yang diparkir, dan dengan frustrasi mengeluh...
"aku lupa bawa helm buatmu...."

aku cuma bisa ngakak.

Sunday, February 03, 2008

Ayah vs Anak lelakinya


waktu blogwalking, aku menemukan blog-post ini, yang membuatku teringat pada percakapanku dengan Papa, tentang adik bungsuku, satu-satunya anak laki-laki di rumah, yang tahun ini mulai masuk kuliah. umur tujuh belas itu kan sedang lucu-lucunya. lagi heboh nongkrong tiap hari sama temen-temen di kampus, yang bilangnya kuliah dan pulangnya tengah malem, hihihi... dan lagi sibuk pendekatan sama sekian banyak gadis sekaligus. pendekatan aja mulu, yang diteleponin tiap hari ganti, tapi nggak ada yang jadi. ahaha...

Papa memang cuma bicara sekilas, tapi aku ngerti lah kalau beliau khawatir dan rada-rada cemas sama adikku ini. terutama sama pergaulannya di luar. yah, gimana lagi. jadi orangtua emang penuh dilema, 'kan. kalau terlalu ketat mengawasi, nanti anaknya tertekan dan nggak bisa berkembang dan berontak. kalau memberi kebebasan, takutnya si anak akan memanfaatkan kesempatan dan jadi lepas kendali. makanya waktu aku bilang "Papa jangan terlalu khawatir sama Memet". dengan nada sedih Papa bilang "abis gimana, namanya juga anak"

aku langsung diem. bener juga, ya.

hal lain yang bisa menjelaskan sikap Papa, adalah karena aku dan adik perempuanku, sama-sama keluar rumah sejak umur belasan. aku pergi umur 18 untuk kuliah di Jogja, adikku masuk asrama sekolah perawat umur 15. itu terjadi di tahun yang sama karena usia kami terpaut tiga tahun. aku kembali ke rumah waktu berumur 23 tahun. dan umur 24 aku pergi lagi. hihihi...

jadi Papa nggak benar-benar mengikuti perkembangan kami (aku dan adikku) pas lagi lucu-lucunya, karena kami tinggal jauh dari rumah. nggak tau kalo aku juga melakukan hal yang lebih kurang sama dengan adik bungsuku. bedanya mungkin cuma aku nggak mendekati cowok-cowok, tapi memilih-milih... mana yang paling ganteng dan paling cool. ahahaha...
menghadapi adik bungsuku adalah pengalaman pertama untuk Papa. pada aku dan adikku, Papa nggak terlalu bisa ikut campur karena tau-tau kami udah jadi aja. aku memilih gaya hidup yang Papa anggap alternatif dan sangat keras kepala sama pilihan-pilihanku. dan aku bersikeras nggak mau tinggal serumah dengan orang tua lagi.

Papa jelas ingin sesuatu yang lain untuk adik bungsuku.

kemarin sore waktu baca buku Ayah vs Anak Lelakinya ini, aku malah jadi senyum-senyum sendiri teringat Papa, dan adik bungsuku. aku pikir buku ini bagus buat dibaca orang awam, karena penulisnya, seorang psikolog dan ibu dari dua anak, bisa memaparkan analisanya dengan bahasa yang sangat mudah dicerna, nggak pake istilah yang aneh-aneh, dan nggak mengutip kesana kemari. yang terakhir ini menurutku kecenderungan penulis baru, yang merasa perlu memakai nama-nama besar untuk menunjukkan bahwa dia pintar dan sudah pernah membaca buku atau teori tertentu. please, deh. kalo mau baca teori orang, nanti aku beli sendiri bukunya.

selain itu, dari analisanya, jelas bahwa Ieda Poernomo Sigit Sidi adalah seorang feminis. seluruh analisanya tidak bias dan sensitif gender. terlihat bahwa ia sangat memahami berbagai persoalan yang disebabkan oleh kontruksi budaya (dan agama), terutama dalam hubungannya dengan peran laki-laki dan perempuan, serta bagaimana dinamika hubungan antara dua gender. hal ini menjadikan kasus-kasus yang ditulis dalam buku ini sangat relevan dengan konteks masyarakat Indonesia. nggak sulit buatku untuk mengingat cerita hidupku, saudara atau temanku, yang disana-sini bersesuaian dengan hal-hal yang ditulisnya.

kalaupun ada hal-hal yang tidak ditulisnya, misalnya hubungan antara ayah dan anak laki-laki yang secara terbuka mengakui kalau ia seorang penyuka sesama jenis, aku rasa itu hanyalah sebuah pilihan, dan bukan kekurangan buku ini.

sayang editornya kurang jeli dan teliti, sehingga ada beberapa alur cerita yang agak membingungkan, atau kurang tepat logikanya. kalo yang ngedit Joan, editor yang dalam darahnya mengalir EYD, mungkin ceritanya akan jadi lain.
uhm, apa Bu Ieda mau saya kenalkan?

Thursday, January 31, 2008

I love Cinta Laura

*wink*

thanks to Nenda, and her persuasive approach, aku jadi join in the group Aku Cinta CINTA LAURA. what a joy! karena she is a very charismatic figure di television Indonesia. such an inspirational moment. dia adalah inspirasi untuk orang banyak di negara ini, dimana education tidak, uhm... not so good, sehingga I think kita harus pergi ke Australia untuk improve our Bahasa Indonesia.

Cincha Lawra (beginilah charra membachanya) adalah my role model dalam look (can you see rambutnya yang beautiful?) and fashion dan cara menghadapi journalists. she will not kasih komentar yang tidak bermutu seperti "no comments". Cincha selalu knows apa yang she wants to say. dan tau apa yang harus dia share ke all of her fans di Indonesia. jaman sekarang, siapa sih yang masih mau naik ojek waktu hujan becek? everybody wants to naik mobil, you know!

segera setelah aku bergabung di grup ini, aku hapus grup-grup lainnya, yang tidak perlu. misalnya, aku yakin ID-Gmail Pirates akan minder kalo harus berhadapan dengan Cincha Lawra, jadi lebih baik aku menyelamatkan muka mereka, dan menghapusnya from my profile.

for those who want to join in the fans club of the greatest celebrity figure in Indonesia, cepatlah bikin account Facebook dan bergabung di grup ini. satisfaction guaranteed!

Wednesday, January 30, 2008

Second chance for Pamela



aku pernah punya perjanjian serius dengan diriku sendiri untuk nggak akan pernah mendengarkan Toto lagi. kayaknya gara-gara itu sempat juga melarang seseorang untuk nyanyiin lagu Toto di suatu kafe, hanya karena aku datang ke tempat itu suatu malam. sebelum sampai, aku kirim sms yang bunyinya "malam ini, jangan ada lagu Toto. please"
*lirik kampung sebelah*

ha!
dan siang ini malah jadi membahas lagu Pamela, dari album The Seventh One, karena liriknya sangat relevan dengan topik yang sedang dibahas di YM. mau nggak mau aku juga jadi inget masa lalu, waktu obrolannya sampai pada soal there is no second chance, for the one who leaves it all behind. yang aku sambung dengan sometimes you just don't know what you got till its gone.

eh, aku malah dikirimi lagu Pamela abis itu.
dan ya, udah! kuakhiri saja perjanjian untuk nggak akan pernah mendengarkan lagu Toto. pada hari ini, aku mendengarkan Toto lagi setelah lima tahun lewat. aku berikan kesempatan kedua untuk Toto, dan untukku.

Thursday, January 24, 2008

choice and understanding

Newsweek edisi 21 Januari memuat sebuah sebuah artikel tentang gap antara generasi pertama imigran di Amerika dengan anak-anak mereka. wait! jangan bayangkan kalau yang disebut imigran generasi pertama itu terjadi ratusan tahun yang lalu, yang kemudian sekonyong-konyong memerangi Indian. did I say sekonyong-konyong? :p

para imigran masa kini, sebagaimana pendahulu mereka ratusan tahun yang lalu, datang dari berbagai negara untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. mereka adalah tipikal orang yang rela melakukan apa saja agar anak-anak mereka memperoleh kesempatan, pendidikan dan pekerjaan yang menjamin hidup mereka kelak. mereka bekerja 80-90 jam per minggu dan meninggalkan segala hal di negara asalnya untuk memungkinkan hal tersebut terjadi.

masalah mulai timbul ketika anak-anak mereka mengambil jalur yang tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. anak-anak mereka mendapatkan tekanan yang luar biasa untuk study hard, get into top schools and choose careers that offer financial stability witout considering personal fulfilment. maka ketika anak-anak yang sudah diterima di universitas ternama seperti Harvard atau Stanford kemudian justru memilih karir yang kurang diharapkan, seperti menjadi filmmaker, pekerja sosial untuk human trafficking, atau menjadi musisi.

"I sometimes feel guilt, having chosen to be an artist, because I know that if I had chosen a scientific background, I could help my parents a lot more" salah satu dari mereka mengakui.

tapi ada juga yang dapat support penuh dari ibunya, atas pilihannya menjadi musisi. si ibu menjadi penggemarnya yang nomor satu, karena si anak berhasil menggapai mimpinya. salah satu lagu yang ditulisnya, berjudul "Mama", berlirik seperti ini;

who worked 16 hours just the other day
breaking her back, breaking her pride, her bones
so that we wouldn't ever have to do the same
never have to groan and moan
when we were on our own

musisi ini menyebut kehidupan ibunya sebagai sumber inspirasi yang tak ada habisnya karena ibunya telah memilih untuk mengabdikan diri untuk keluarga ketimbang mengejar mimpinya sendiri. "because she didn't get to live her dreams, I have to"

dan tiba-tiba aku teringat orangtuaku. yang aku yakin seringkali heran dan khawatir pada jalan yang kupilih dan keputusan yang aku ambil. dengan keras kepala menempuh jalur yang berbeda dari apa yang dapat mereka pahami. aku tau kalau mereka nggak selalu mengerti apa dan kenapa aku melakukan sesuatu. tapi kesadaran bahwa mereka selalu memberikan kasih sayang dan dukungan tanpa syarat membuat aku menjalani hidup dengan lebih percaya diri.

dalam artikel itu, ditulis pula tentang hubungan antara Irshad Manji dan ibunya, Mumtaz Manji. Irshad yang menulis buku kontroversial berjudul "The Trouble with Islam" mendapatkan dukungan penuh dari ibunya, seorang muslim yang taat dan aktif memakmurkan masjid. pada akhirnya buku karangan anaknya menyulut gunjingan dari sesama jamaah di masjid, dan ia hanya berkomentar singkat mengenai hal itu "until this day, there are so many people who don't talk to me. but who cares? my daughter comes first"

hmmm... I can't wait to meet my parents on Saturday.

Wednesday, January 23, 2008

Tiga Stanza Untuk Gabriella. #3

Gabriella mengirimiku buku sketsa dari Losari. membuatku ingat kalau aku belum menyelesaikan bagian terakhir dari tiga cerita tentangnya.



tapi sebelum bercerita banyak mengenai hal lain yang dilakukan Gabri, sebaiknya aku tunjukkan dulu buku sketsanya seperti apa. ide buku ini sederhana aja. ada seniman yang diminta membuat sketsa dari setiap sudut yang menarik di Losari, lalu Gabri menulis sedikit hal-hal yang mau dia sampaikan mengenai tempat itu. Misalnya bagaimana ia menemukan stasiun kayu kuno yang sekarang jadi tempat pendaftaran dan penerimaan tamu. dan begitulah, itu jadi buku sketsa yang mengembalikan kenangan orang yang pernah tinggal di Losari, sekaligus memperkenalkan Losari pada orang yang belum pernah tinggal disana.





selain buku sketsa itu tadi, bagian terakhir kisahku mengenai Gabriella ini juga akan berisi tentang apa yang dilakukan Yayasan Losari dengan buku, masih di desa Gemawang. mereka membantu masyarakat desa untuk membuat perpustakaan, uhm... semacam taman bacaan masyarakat, dan aku sempat juga mengunjungi tempat ini. namanya TBM Nurul Fatah, dan sekarang masih menumpang di salah satu rumah penduduk walaupun sudah ada tanah yang akan dipakai untuk mendirikan taman bacaan yang permanen, tapi pembangunannya masih belum selesai.



tapi mereka memang luar biasa. seseorang sampai rela meminjamkan rumahnya sampai waktu yang belum ditentukan untuk menampung taman bacaan. ini di desa, lho! dan ini desa yang minat baca masyarakatnya masih rendah. tapi kesadaran warganya untuk maju benar-benar harus kuacungi jempol. mereka berinisiatif sendiri untuk mengumpulkan buku-buku, majalah dan berbagai jenis bacaan untuk dimasukkan sebagai koleksi, dan tak lupa menggunakan teori persepuluhan Dewey untuk membuat label dan kode bukunya.

dari swadaya masyarakat, mereka juga berhasil mengumpulkan uang sekitar 15 juta rupiah untuk membangun taman bacaan secara permanen. dilihat dari sisi manapun, duit segitu itu banyak! lalu, beberapa pemuda desa juga menjadi pengurus perpustakaan, secara sukarela menjaga dan merawat koleksi, serta mengawasi setiap pengunjung yang datang. pada hari-hari libur, sebuah konvoi bermotor yang terdiri dari para pemuda desa juga pergi ke desa-desa lain, terutama yang letaknya cukup jauh dari jalan raya, untuk menyebarkan fliers mengenai perpustakaan desa Gemawang. sampai saat itu, belum pernah aku merasa terharu karena kegiatan konvoi motor.

nah, sekalian aku mau menawarkan, buat yang punya majalah atau buku atau bahan bacaan lainnya, dan berminat untuk menyumbang atau menambah koleksi Perpustakaan Gemawang, bisa mengirimkan buku-buku dan lainnya ke:

Yayasan Losari
Losari Coffee Plantation- Resort and Spa
Desa Losari-Grabag
PO BOX 108, Magelang 56100

Jawa Tengah, Indonesia


kunjungan keliling kami hari itu, diakhiri di Pondok Diakona. ini adalah sebuah panti asuhan yang menampung lebih dari seratus anak yatim piatu, anak dari keluarga yang sangat miskin, atau anak yang tidak diinginkan oleh keluarga mereka. ketika pengasuh panti menceritakan tentang bagaimana sebagian besar anak yang cacat datang, air mataku rasanya sudah nggak bisa kutahan lagi. bayi-bayi yang cacat sebagian besar datang ke pintu panti dalam keranjang, atau diletakkan begitu saja di dekat tempat sampah. mengetahui bahwa pengasuh panti tidak akan membuang mereka lagi.





kami sampai tepat saat mereka akan makan siang. jadi kami berkeliling dulu sebelum bertemu dan ngobrol dengan mereka. aku memperhatikan ada beberapa diantara anak di panti asuhan ini memiliki down syndrome, sehingga tidak bisa diajak bercakap-cakap dengan cara yang normal. salah satunya kemudian memilih Ayu menjadi ibunya. aku sempat memotret mereka berdua. aku yakin dalam hatinya, anak berkaus kuning itu juga tersenyum.



Rumah Diakona baru saja selesai direnovasi dengan bantuan dari HSBC Kita, sehingga mereka bisa punya kamar-kamar tambahan untuk menampung lebih banyak anak. gedung baru itu punya sirkulasi udara yang baik dan memang dirancang untuk menampung banyak orang sekaligus. kata Gabriella, tempat tidur dan kasurnya didatangkan dari Losari, setelah sebelumnya hanya sekali dipakai oleh Paspampres yang mengawal Presiden SBY waktu menginap di Losari. kedengarannya memang merepotkan kalo mau kedatangan Presiden, sampai harus beli kasur dan tempat tidur baru. tapi untunglah, masih bisa dipergunakan untuk hal baik sesudahnya.



cerita apapun yang kudengar hari itu, hal apapun yang kami lakukan di Pondok Diakona hari itu, seperti berusaha menumpahkan bergalon-galon air mataku. aku betul-betul harus berusaha keras mengendalikan diri. haru dan perasaan tidak berdaya campur aduk jadi satu. ingatan bahwa aku seringkali lupa bersyukur dan berterima kasih atas semua yang sudah kudapatkan, terasa mencabik-cabik hati. disisi lain, aku juga terharu karena melihat anak-anak di Pondok Diakona tampak sehat dan terawat. jadi kalau dalam foto-foto di postingan ini aku bisa tersenyum, itu adalah hasil dari usahaku mengeraskan hati, supaya tidak terduduk lemas berkubang air mata ketika anak-anak itu menghampiriku, mengucapkan selamat datang dan mengajakku bercakap-cakap.


di foto ini, aku dan Ayu ikut menyanyi bersama anak-anak Pondok Diakona, tak lama setelah mereka makan siang. kalau nggak salah, kami sedang menyanyikan More Than Words waktu foto itu diambil.



setelah itu kami pergi mengunjungi perpustakaan mereka. tempatnya betul-betul menyenangkan! dan koleksi bukunya cukup beragam, suasananya juga nyaman. ada banyak buku bacaan anak, dan mereka juga punya TV serta beberapa film untuk ditonton beramai-ramai. di salah satu rak, kami menemukan juga buku-buku klasik seperti Chronicles of Narnia dan Robin Hood. tapi yang bikin kami kaget adalah buku "Heidi Grown Up". pasti pada tau kan, cerita Heidi, gadis yang tinggal di gunung bersama kakeknya, yang lalu dikirim ke kota untuk menemani gadis kaya yang tinggal di rumah mewah, tapi badannya lemah sehingga nggak bisa berjalan dan harus duduk di kursi roda. ternyata ada versi ketika Heidi sudah dewasa! aku jadi penasaran seperti apa isi bukunya.




aku terkagum-kagum sama Gabri yang bisa dengan cool bisa tersenyum, bicara dan mendengarkan cerita anak-anak. memeluk mereka, tertawa bersama mereka, nyaris tanpa perubahan ekspresi yang berarti. walaupun menurut pengakuannya, setiap kali datang, ia selalu trenyuh dan siap menumpahkan air mata kapanpun juga.


tak heran, waktu aku mengucapkan selamat berpisah pada Gabri, air mata haru yang kutahan-tahan selama beberapa hari itu tak bisa kubendung lagi. dengan mata berkaca-kaca, aku memeluknya, lalu hanya bisa berkata.
"Gabri, thank you for doing so much untuk orang Jawa"

duka yang menyusun sendiri petualangannya

  rasa kehilangan seorang penonton pada aktor yang dia tonton sepanjang yang bisa dia ingat, adalah kehilangan yang senyap. ia tak bisa meng...