Saturday, July 11, 2009

adventure series: the haunted fortress of rhijnauwen

laki-laki tua itu memakai jaket kedap air di luar jaket tebalnya yang tampak hangat dan berwarna oranye. celana khaki-nya berujung pada sepatu trekking, kepalanya terbenam dalam topi hijau tua. di tangan kanannya sebuah payung panjang ia perlakukan bagai tongkat memandu langkahnya melintasi rerumputan dan jalanan licin yang tersusun dari bata merah yang tampak berumur. seperti matanya yang memandang ramah dari balik kacamata berbingkai logam kekuningan. tubuhnya gemuk, tapi wajar untuk orang seusianya. kurasa umurnya tak kurang dari 65 tahun. mungkin lebih. dan dalam cuaca sedingin ini, orang harus punya cukup cadangan lemak kalau tidak mau terhuyung-huyung sempoyongan tertiup hembusan angin jahanam. seperti yang setiap hari terjadi padaku.

ia mengawali kisahnya dengan memperkenalkan diri. lalu menceritakan bagaimana benteng tua yang tampak kokoh, anggun sekaligus menyeramkan itu mulai dibangun. bagaimana dinding bata setebal 1,3 sampai 1,6 meter itu sengaja dirancang untuk memperkuat pertahanan Utrecht, setelah Perang Dunia I, melengkapi pertahanan air, serangkaian parit selebar 3-5 m sedalam 40-50 cm yang dibangun mengelilingi beberapa kota di Belanda untuk melumpuhkan kekuatan mobilisasi musuh. Fort of Rhijnauwen di Kromm Rijn adalah satu dari sekian banyak benteng di seluruh Belanda yang termasuk dalam jaringan Nieuwe Hollandse Waterlinie.

bahkan pada jam 11 pagi, tempat ini membuatku merinding.

ia bercerita bahwa benteng ini tidak pernah mengalami masa pertempuran, saat para tentara harus bertahan menghadapi serbuan musuh, meskipun sesungguhnya ia dirancang untuk itu. benteng ini hanya dipergunakan selama 15 tahun, sebelum akhirnay ditinggalkan. tapi tetap saja, di tempat ini... sebagaimana pada situs-situs militer tua di belahan bumi manapun, kamu bisa mengendus maut. aromanya menyengat. menegakkan bulu kuduk.

saat kami melewati pintu masuknya, hawa dingin menyergap. suhunya bisa mencapai 2 atau 4˚C, kata orang tua itu. aku mengeratkan kancing mantel hitamku yang terasa berat. hawa dingin kurasakan mulai menyusup tulang jemari yang terbuka. lembab, dingin, dengan kegelapan nyaris sempurna yang meliputi kami. sia-sia aku berusaha merasa nyaman di tempat dengan langit-langit serendah ini. segalanya seperti mengurungku. masa lalu, kegelapan, tetes air yang samar, gesekan langkah kaki pada bata yang berusia ratusan tahun, kilatan cahaya samar dari layar hp yang dikibaskan kesana kemari, bunyi yang menggema dari pita suaranya yang renta saat berbicara... claustrophobic.

dalam kepalaku ada suara melengking, jerit kematian yang melolong sesaat lalu lenyap ditelan sunyi dan kegelapan, para prajurit putus asa yang mendekam putus asa selama 4 tahun dalam tawanan Nazi, darah segar membuncah di dinding, cipratannya amis dan mematikan. 

diantara bangunan-bangunan dalam lingkungan benteng ini, ada sebuah lonceng besar di salah satu pelataran. lelaki tua itu bercerita; pada masa pendudukan Nazi, ratusan tentara pembebasan yang berhasil ditawan, diikat dalam baris-baris berjajar di pelataran di hadapan lonceng itu. kesemuanya kemudian ditembak mati dan dikubur serampangan di tempat yang sama. seorang petani yang memiliki rumah di balik gundukan bukit di depan benteng, dikabarkan mencatat setiap tembakan yang didengarnya. usianya kini 85 tahun. dan tetap tinggal di rumah yang sama. ia mendengar lebih dari 700 tembakan telah menewaskan begitu banyak tentara di pelataran maut itu. 

aku bertanya-tanya apakah arwah para tentara bergentayangan di sekitar sini, dan apakah mereka akan bangkit setiap tanggal 4 Mei, ketika lonceng dibunyikan, dan ribuan orang datang berduyun-duyun pada acara peringatan kematian mereka?

benteng ini menurutku sangat canggih dan dirancang dengan baik untuk ukuran bangunan yang dibangun pada abad ke-19. ia memiliki sistem penyulingan air yang baik, sedemikian rupa sehingga air hujan yang disuling melalui dinding bata tebal ini berubah menjadi air yang bisa diminum dan mengalir langsung ke ceruk-ceruk di sepanjang dinding barak tentara, tetesannya bisa kami dengar di setiap ruangan. sampai kini, masih ada bagian dari ceruk-ceruk itu yang mengalirkan air yang aman untuk diminum. 

kami juga sampai di salah satu dinding yang penuh lubang. dikabarkan, dua lubang terbesar pada dinding itu dulunya merupakan gantungan belenggu besi tempat tawanan diborgol dalam keadaan berdiri. itu adalah tempat interogasi. para tentara Nazi yang berusaha mengorek keterangan dari para tawanan akan menakut-nakuti mereka dengan menembakkan peluru ke sekitar mereka. aku merinding membayangkannya. alangkah seramnya!

aku dan sekitar 15 orang lainnya dari Korea, Inggris, Perancis, Belanda, Norwegia, Denmark, Turki, Austria dan lainnya baru keluar dari Fort Rhijnauwen satu setengah jam kemudian, setelah berhasil dibuat tercekam sepanjang perjalanan menyusuri kisah benteng yang muram itu.

tiba-tiba, matahari yang malu-malu di balik mendung kelabu dan suhu 12˚C di luar benteng jadi terasa sangat menyenangkan.

Friday, July 10, 2009

adventure series: pasar kaget di vredenburg

selama keluyuran di Utrecht (dan Den Haag) aku merasa kalo kota-kota ini nggak asing buatku. aku sendiri sempat heran, kenapa aku kok rasanya nyaman dan langsung bisa menyesuaikan dengan kebiasaan-kebiasaannya. setelah aku pikir-pikir lagi, mungkin karena ada banyak istilah dan bahasa yang langsung aku tau arti dan maksudnya, dan karena banyak hal yang mirip-mirip Indonesia bisa aku jumpai di sini.

the super long and painful and good relationship between the two countries can not be ignored. it's obvious everywhere.

kalo aku lewat penjahit, ada tulisan jas dan rok, di hidrant pemadam kebakaran, ada tulisan branwir. waktu bayar di kasir, ada tulisan kontan. bahkan duit itu juga bahasa Belanda tapi gaya lama. bacanya agak-agak kayak 'duth' (kebayang 'kan betapa kayanya Sanjay Duth). sepur, rekening, karcis, oom, tante, lumpia, pastel, sampe poostkantor! hihihi, sebaliknya mereka juga jadi kenal nasi, bakmi goreng, dan di seluruh penjuru kota nggak susah menemukan orang yang bisa berbahasa Indonesia. pelayan asal Ambon di Charlie Chiu's Utrecht Centraal malah sempat ikutan duduk di bangkunya Atta waktu dia makan di sana karena kangen pengen ngobrol pake bahasa Indonesia.

dan seperti di Jawa, Utrecht juga kenal pasar kaget. yang aku datangi kemarin itu ada di Vredenburg plaats (bener gitu ya?) di Utrecht Centrum. di pelataran semen itu puluhan mobil dan tenda menjajakan berbagai macam barang. mulai dari bunga-bunga... yang aku lihat ditenteng orang kesana kemari di kota ini. bunga kayaknya memang benar-benar jadi cara untuk mengekspresikan banyak hal. aku lihat orang bawa bunga dan balon untuk menyambut keluarga dan teman yang baru sampai di bandara. hihihi, sayang waktu itu kedatangan kami gak disambut begitu. aku juga lihat orang bawa bunga dan tanaman ke berbagai acara, waktu nongkrong sama teman, ketemu pacar, sampe ulang tahun. say it with flowers kayaknya emang laku banget.



aku juga lihat kedai-kedai tenda yang menjual berbagai macam keju, dalam berbagai ukuran, bentuk, warna dan bau. katanya makin apek baunya makin enak dan makin mahal ya?



ada pula yang jualan buah-buahan, strawberry, kersen, arbei, lobi-lobi, jeruk, pisang, alpukat, nenas, semangka, melon, kiwi, apel, anggur dan macam-macam lagi.



lalu ada penjual roti dan kue segala jenis, dimsum, lumpia, kacang-kacangan mulai dari pecan, kacang tanah sampai macadamia, buah-buahan kering, kurma, buah zaitun yang diawetkan dengan berbagai macam cara, kismis dan sayuran. ada juga yang jualan kosmetik, peralatan jahit mulai dari kancing baju sampe berbagai macam pita dan renda. lalu selain penjual tas dan baju-baju yang semua labelnya 'Paris', ada juga penjual buku bekas dan piringan hitam tua di pojokan. seru!



di pasar ini juga aku melihat orang-orang makan ikan harring. sama dengan orang Jepang makan sushi yang mentah, harring juga dimakan mentah, dengan semacam saus dan potongan bawang bombay. aku ngeliat bentuknya waktu dibersihkan dan merasa kalau itu agak-agak mirip sama pindang yang biasanya kusajikan untuk kucing di kos dulu. hihihi.

tapi orang Belanda memang suka ikan. di pasar kaget ini ada beberapa kedai tenda yang jualan berbagai jenis ikan. mulai dari ikan-ikan mentah (cuma harring yang dimakan mentah, lainnya dijual mentah), ikan-ikan yang udah dibumbui, sampai ikan goreng yang dimakan dengan mayonnaise berhias potongan acar timun dan bawang bombay cincang. aromanya menguar lezat ke udara. kompak dengan rasanya yang gurih. nyam!



kalau kamu tiba di Utrecht Centraal, keluar dari stasiun, lurus aja, belok kanan langsung masuk ke Hoog Catharijne mal, nanti sekeluarnya kamu udah sampai ke Vredenburg Plaats. kalau kamu sampai di situ pada hari Rabu atau Sabtu siang, kamu bisa keliling sepuasnya di pasar kaget. 

bedanya sama di Jawa cuma nggak ada kambing atau ayam hidup yang diperdagangkan, dan banyak pemandangan untuk cuci mata selain mbakyu-mbakyu dan mbah-mbah berkain-kebaya:D

Thursday, July 09, 2009

adventure series: voting from the hague



ini adalah wajah Grace Wangge yang cemberut berat karena udah bela-belain berkereta dari Utrecht dan ternyata sesampai di Den Haag nggak dapat tinta ungu tanda udah memilih. 


bukan, bukannya Wangge nggak boleh milih, tapi karena dia sebelumnya memang mau memilih lewat pos, lalu memutuskan untuk ikut ke Den Haag bersama kami yang memilih dengan menyontreng di dalam bilik suara. sesampai di KBRI Den Haag yang terletak di jalan belakang Peace Palace dan amatlah rindangnya, dia ternyata dipersilakan memasukkan surat suara ke dalam amplop dan menyerahkannya, tapi nggak pake dikenai tinta ungu. hehehe, aku yang kebagian tinta ungu langsung pamer jariku dengan bangga.


aku senang karena para petugas di KBRI ramah dan sangat kooperatif membantu aku dan Atta yang hanya membawa paspor dan nggak punya surat panggilan. surat panggilanku ada sih, di Malang. sebelum berangkat ke Utrecht mama sempat kasih tau kalau suratnya udah datang, tapi aku udah nggak ada waktu lagi buat ke Malang dan ambil surat.


singkat kata singkat cerita, masing-masing kami memilih. mulai dari Kiki yang jadi idola ibu-ibu di KBRI yang haus ngajakin jumpa fans dan foto-foto serta minta tanda tangan, lalu dilanjutkan Atta yang setelah memilih masih meneruskan kebiasaannya jadi wartawan, ngobrol sama ketua panita pemilihan sampe lama banget dan akhirnya kami tinggal makan siang:D


sebagai catatan, ibu-ibu KBRI di Den Haag itu benar-benar mengagumkan. bisa-bisaan menghidangkan gudeg, oseng daun pepaya, sayur asem, dan cendol yang rasanya autentik!




aku sendiri memilih tanpa upacara apapun. membuka surat suara, menyontreng, memasukkannya dalam kotak dan mencelupkan kelingking di tinta. 




pemilu ini tentu bersejarah karena namaku tercatat di kecamatan Den Haag. tumben 'kan, gadis kampung dari pelosok Ubud masuk dalam arsip di kota besar? di luar negeri pula. tempat impian R.A Kartini, tempat Ki Hajar Dewantara ditangkap. begitulah, dengan ini aku sudah melunasi niatku untuk napak tilas perjalanan moyangku yang dibawa VOC.

Wednesday, July 08, 2009

adventure series: is europe a christian continent?



demikian pertanyaan yang diajukan Hans Renes dalam kuliahnya "Cultural Heritage of Europe." dia kemudian menerangkan bahwa selama berabad-abad kepercayaan di Eropa justru pra-Kristen, karena Eropa baru mulai 'beralih' jadi Kristen setelah abad ke-12. sementara Islam, sebetulnya menjadi bagian yang signifikan dalam peradaban Eropa selama abad ke-8 sampai 15, ketika Kekaisaran Turki Ottoman mengalami kehancuran.



tetapi, kata Renes lagi, sepanjang sejarah panjang Eropa memang ada upaya-upaya untuk menjadikan Eropa satu benua yang homogen secara religi, meskipun itu tidak pernah berhasil. salah satunya adalah ketika terjadi pemindahan besar-besaran populasi Muslim di Yunani ke Turki (yang dianggap jadi bagian Timur Tengah) dan sebaliknya pemindahan populasi Kristen Turki ke Yunani, berdasarkan Treaty of Lausanne tahun 1923, sebuah pertukaran populasi.





dengan caranya sendiri, ratusan gereja dan biara di Eropa dijaga selama ratusan tahun, dan dianggap sebagai bagian dari warisan budaya. pada kurun waktu bersamaan (terutama saat perang di Balkan), ratusan masjid dihancurkan, karena tak satupun dimasukkan dalam upaya perlindungan cagar budaya.



buatku, kenyataan ini bukan menjadi dasar untuk menganggap bahwa satu agama lebih superior daripada yang lainnya. atau jadi alasan untuk memusuhi pemeluk agama lain, yang barangkali sebagai individu, tidak punya kekuasaan dan kewenangan untuk melakukan perubahan politis. ini cuma sebuah penegasan atas sifat manusia, yang juga jadi kesimpulan kuliah hari ini. "heritage is not only related to history, but more importantly, it is related to the history we want to see"



salah satu bentuk pelestarian gereja yang menurutku cukup aneh aku lihat saat berkeliling pusat kota dua hari yang lalu. gereja ini letaknya tersembunyi dan nggak bisa dilihat dari jalan. ia jadi bagian dari satu bangunan yang tampak biasa dari luar. boleh jadi, karena ini adalah salah satu Gereja Reformasi pertama, yang memisahkan diri dari Gereja Katolik.
percaya atau nggak, gambar-gambar dalam tulisan ini aku ambil dari sebuah pub bernama Olivier:D

Tuesday, July 07, 2009

adventure series: day after day and stupidity

"are you happy here?"
udah beberapa orang tanya kayak gitu sama aku, dan aku kesusahan jawabnya. iya, aku senang. berada di sini sangat menyenangkan. tapi itu hanya sebagian aja dari keseluruhan yang aku rasakan. selain senang, aku juga merasa terharu bisa menjejakkan kaki di jalan-jalan berumur ratusan tahun yang terbuat dari batu bata. sebagian dari diriku merasa sedang berada dalam sebuah set film. semua serba sureal dan seolah nggak nyata. berada di sini terasa seperti sebuah keajaiban.



kemarin aku sempat sedikit keliling ke beberapa bagian pusat kota Utrecht sama dua orang mahasiswa Erasmus Mundus Exchange bernama Yalte dan Meena yang jadi pemandunya. selain Atta dan teman sekamarku, Hirim, ada juga satu orang Korea yang lain, satu orang Austria, dua orang Jerman, satu Amerika, satu Estonia serta Maria dari Rusia yang kukagumi karena sanggup keliling jalan kaki dengan memakai hak tinggi. "everybody in my country doing this" katanya.

city tour ini lumayan ngasih orientasi tempat buatku, karena sebelumnya hanya tau rute antara tempat kuliahku di Drift dengan asramaku di Parnassos, Kruisstraat. aku jadi tau di mana kantor pos, di mana tempat jualan patat, bagian gereja dengan taman rahasia, tempat belanja bahan makanan, tempat makan malam yang harganya terjangkau untuk mahasiswa, dan lain sebagainya.

sepanjang perjalanan semua orang saling ngobrol dan sedikit banyak bercerita satu sama lainnya. seru juga dengerin orang-orang berbahasa Inggris dengan logat yang ganjil. beberapa diantaranya malah kemampuan berbahasanya minim. tapi karena kemampuan Bahasa Belanda sangat rendah, atau nyaris gak ada, maka mereka tetap memakai Bahasa Inggris dan nekat.
:D



kamarku di Parnassos lega dan nyaman. yang ada dalam gambarku ini adalah bagianku, yang terdiri dari kursi santai, rak buku, meja kerja, kursi kerja, tempat tidur di atas, lemari dan lampu meja. semua buatan Ikea :D. setiap kamar dilengkapi dengan sambungan internet yang cukup cepat. sisi lain kamarku bentuknya juga sama persis, dihuni oleh Hirim, si gadis Korea. kalo liat dia, nggak akan susah membayangkan gadis Korea dalam komik atau film, yang manis, peragu, dan agak-agak clumsy. bikin kamu ingin selalu mengurus dan menyelamatkannya tiap kali dapat kesulitan.

ada yang mo kirim salam?

oya, berhubung aku gadis kampung yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Eropa, nggak lengkap rasanya petualangan ini kalo gak dibumbui sama kebodohan-kebodohan. yang tentu saja membingungkan, konyol, dan sering ngerepotin orang banyak. *ngakak*

kemarin begitu sampe, karena terlalu repot untuk menyeret (atau menggendong) koper kemana-mana, aku dan Atta menitipkan koper di stasiun. kamu masukin kopermu, lalu bayar biaya sewa lokernya pake kartu, dan keluarlah kertas agak kaku yang menunjukkan harga, jam dan nomor loker yang kamu pakai.

sorenya, setelah pulang kuliah, kami ditemani Kiki pergi ke Utrecht Centraal lagi untuk ambil koper. koper Atta berhasil dikeluarkan dengan selamat, sementara kertas lokerku lenyap. aku ingetnya kertas itu aku masukkan barengan dengan paspor dan dokumen lainnya dalam sebuah clear holder. dan clear holdernya ketinggalan di asrama. jadilah aku pulang lagi naik bis nomer 11, turun di halte Museum Maluku, jalan kaki 5 menit ke asrama, kesusahan buka pintu gerbang karena yakin banget kalo pintunya gede, maka kuncinya juga harus gede. hayah, padahal justru kunci kecil yang bisa dipake buka pintu depan yang berat. aku baru berhasil membukanya setelah bermenit-menit bingung sendiri.

sampe di kamar, semua tas aku bongkar, clear holdernya juga, dompet apalagi, tapi kertas kecil itu nggak ketemu juga. setengah jam lebih aku cari dan tetap gak keliatan kartunya. jadi aku balik lagi ke stasiun, lalu duduk manis di Charlie Chiu's dan makan. aku harap kalo udah gak laper aku jadi lebih pinter bisa inget di mana kertas itu. sekali ini, trik itu gagal.

akhirnya kami lapor ke petugas, yang kemudian memberi kami formulir kehilangan, lalu aku isi dengan nama, alamat sesuai paspor, jam masukin benda ke loker serta barang apa aja yang ada di loker itu. kami serahkan formulirnya, dan 10 menit kemudian datang seorang petugas tinggi besar yang ngasihin kartu baru dan memberi tahu kalau biaya administrasi ngeluarin kartu baru adalah €10! hiks, teledor harganya mahal di sini.

tapi aku udah terlalu capek dan ngantuk dan hilang orientasi buat komentar. aku bayar, dan berterima kasih sama Kiki dan Mbak Deti yang udah bantuin aku ngurusin koperku.

di Belanda (dan katanya di seluruh Eropa) kayaknya hukum karma lebih serius dipatuhi daripada di bagian lain dunia ini (baca: Asia). soalnya, kalo kamu perhatikan, ada banyak sekali celah untuk bisa kabur gitu aja dari kewajiban membayar.

kalo kamu mo naik kereta, ke manapun, kamu beli karcis di loket, lalu turun ke peron dan naik kereta sesuai tujuanmu. tapi sebenernya, tanpa beli karcis pun, kamu bisa langsung pergi ke peron (yang nggak dijaga orang atau mesin yang mengharuskan kamu menunjukkan karcismu) dan langsung naik kereta (yang kondekturnya jarang sekali memeriksa karcis). tapi terus terang, sama sekali nggak kepikir buat gak beli karcis.

atau di toko buku, rak-rak berisi koran, majalah, buku harian, kotak-kotak kado, kartu ucapan dan kartu pos dipasang di luar. sebagian besar tanpa label harga dan bisa diambil gitu aja. tapi secara otomatis aku juga pergi ke dalam dan melaporkan barang yang kubeli. dan aku yakin semua orang melakukan hal yang sama. dan hal semacam ini terjadi dimana-mana. kita bisa menyebut di Eropa, kita bisa percaya pada niat baik orang.

Monday, July 06, 2009

adventure series: the girl has landed

09:00
kami berhasil sampai di Utrecht Centraal, stasiun kereta yang kami datangi setelah mendarat di Schipol. baru sekali ini rasanya aku terharu dan pengen tepuk tangan keras-keras waktu pramugara mengucapkan 'Selamat Datang di The Netherlands'. mungkin juga karena pake dititipin "salam mesra" dari kapten pilot. ahahaha.

kami lalu naik kereta di peron 3 jam 8 pagi. lalu ketemu sama Rizki Permana, mahasiswa PhD asal Indonesia yang rumah kontrakannya deket banget dengan stasiun. karena itu, kami cukup jalan kaki aja.

"dari Indonesia?" tiba-tiba seseorang menyapa. laki-laki berambut pirang dengan mata yang ramah, mengenakan jeans biru dan jas korduroi coklat tua, senada dengan sepatunya.
"iya" jawab kami bertiga
"wah, bisa bahasa Indonesia?" tanya Kiki
"iya, aku dulu 5 tahun tinggal di Indonesia, kerja di Jakarta" jawabnya sambil tersenyum
"di Jakarta di mana?" tanyaku
"di Cilandak. aku dulu pernah menikah sama orang beken di Indonesia" seketika kami bertiga langsung tertarik dan bertanya serempak
"siapa?"
"Ulfa" wah! ahahahahaha! tawa kami langsung pecah dan masing-masing dengan ribut bilang "pantesan! kayak udah pernah liyat"
aku jawab "rasanya aku tau nama kamu. uhm... Klaas..." aku berusaha mengingat nama panjangnya, tapi yang terbersit hanya 'Ulrich'. Klaas mengangguk.
selama 10 menit kemudian, kami ngobrol ala kadarnya. dia bilang dia kerja 3 hari dalam seminggu di salah satu bangunan tak jauh dari stasiun. dia juga bertanya tentang Ulfa.
"setelah bercerai dari aku lalu menikah lagi dan bercerai lagi, lalu sekarang sudah nikah lagi?"
hihihi, tapi jawaban yang kami berikan nggak ada yang pasti.
mungkin Ulfa bisa konfirmasi di sini? hihihi...

11:00
kami berhasil sampai ke kampus, drift no.21 dimana kami diberi tahu kalau harus terus ke gedung sebelah yang nomornya 23, untuk masuk kelas Introduction to Europe. yang memberikan adalah koordinator course-nya: Martin Zbracki yang berambut cokelat, tampan dan matanya hangat.

tapi tampangnya ternyata nggak cukup untuk membuatku tetap nyalang selama dia bercerita tentang Eropa dalam berbagai dimensi. nggak sampai tidur, sih. tapi jelas-jelas ngantuk berat.

kami juga berhasil menemukan Rose, yang memberi kunci tempat tinggal. aku di Kruisstraat 107A. tepatnya di gedung Parnassos. yang cuma beberapa langkah dari Museum Maluku. kami beruntung sekali kebagian tempat di pusat kota, dan sangat dekat dengan kampus. kemana-mana bisa jalan kaki. bahkan ke Utrecht CS sekalipun, nggak sampe 30 menit jalan kaki.

aku dan Atta berhasil menemukan gedung kami setelah tanya sana-sini, tapi nggak pake nyasar. memang Bahasa Inggris sangat membantu untuk bisa survive di Belanda. walopun segala radio dan pengumuman di bis atau kereta disiarkan dalam bahasa Belanda, tapi sebagian besar papan penunjuk punya versi Bahasa Inggris dan hampir setiap orang yang kami tanyai di jalan, bisa berbahasa Inggris dengan baik. kalopun Bahasa Inggris mereka terbatas, dengan senang hati mereka akan berusaha keras memberi petunjuk. kelas-kelas semua diberikan dalam Bahasa Inggris. menyenangkan. aku merasa diurus orang banyak disini.

terutama Kiki, yang menjemput kami di Utrecht Centraal, membawa kami ke rumahnya untuk mandi supaya ngak bertampang kayak gelandangan dan sampai ke kampus dalam keadaan layak. soalnya orang-orang lain udah sampai sejak kemarin, sementara kami benar-benar baru sampai.

nanti aku ceritain lagi. sekarang aku harus belajar tentang perkembangan Eropa sampai jadi persekutuan. aku gak heran deh, kalo nantinya sejarah Eropa dipelajari di Vulcan. live long and prosper!

adventure series: from the airplane



it's 9:55 in Singapore and Bali and we're still flying.
I don't know what the local time is. but I think we've already left Asia. last time I check, the plane was somewhere over Russia. or something like that, according to the names written on the screen in front of me. we've already had one meal, late in the night -I believe we can consider it 'sahur' and snacks and several drinks. after one juice, I constantly asked for water.

aku duduk di gang, di deretan J, jadi mudah buat keluar-masuk mengingat perjalanan ini amatlah panjangnya. kami naik ke pesawat sekitar jam 12 malam waktu Kuala Lumpur, setelah 3 jam terbang dari Jakarta dan transit sekitar 44 menit di KLIA yang megah, cantik dan bersih. aku dan Atta, pemenang dari kategori wartawan, sangat suka naik autotrain di bandara ini, yang membawa kita ke gerbang keberangkatan dari daerah transit, sampe hampir nggak turun. hahaha. sebenernya sih antara terlalu menikmati sekaligus nggak tau kalo jalur keretanya udah habis:D

di sebelahku, duduk seorang doktor yang sekarang mengajar di Inggris. ia memiliki gelar dalam bidang geochemistry. not until I spoke to him that I know such major is exist. ini semacam ilmu untuk meneliti kandungan kimiawi suatu daerah dan mengaitkannya dengan hasil bumi dan produk pertanian dan peternakan yang dihasilkan oleh daerah tertentu. misalnya, kalo menurut cerita dia, kalau ada pertikaian soal darimana asalnya rambutan yang manis, berair, dagingnya tebal dan rasanya sangat enak, lalu ada satu klaim dari Binjai dan klaim lain dari Malaysia, maka kita bisa menentukan asal sebenarnya rambutan itu dengan geochemistry ini. keren ya?

dua puluh tahun yang lalu, dosen berkacamata yang baru dua minggu memakai macintosh ini melakukan satu field trip untuk mengambil sampel dan melakukan penelitian di Indonesia, tepatnya di kepulauan di timur Flores. ia juga sempat sebentar berada di Ijen untuk mengambil sampel, tapi menurutnya masa tinggal di Indonesia bagian timur itulah yang paling berkesan dan menarik. sampai sekarang ia masih bisa sedikit-sedikit berbahasa Indonesia. kami ngobrol tentang Bali, Malang, orang-orang Belanda, tentang kompetiblog yang aku menangkan, Pak Janggut, new macbookpro series, juga tentang kota-kota di Eropa, termasuk Austria, negara tempat istrinya berasal, serta Vienna, tempat kelahiran anaknya yang tahun ini berusia 9 tahun dan sangat menikmati pelajaran piano.

it's amazing how you can talk so much about so many different things after a brief meeting. but yeah, we'll be each other's company for hours. and its counting. I've been flying for 15 hours and 44 minutes in land.

kami terbang dengan Malaysian Air dalam pesawat Boeing 777. kursiku nomor 37, sama dengan gerbang yang kulewati saat menaiki pesawat ini, 37 C. ada satu pramugari berwajah Tionghoa yang cantik, dengan bibir merah tampak seolah selalu basah dan seorang berwajah India yang sudah dua kali membawakanku air putih. seorang pramugara berwajah campuran yang ceroboh sehingga tangannya sempat mengenai kepalaku, membuatnya meminta maaf berkali-kali, dua kali diantaranya sambil bersimpuh. it's okay, I said. I forgive you.

aku tidur hampir terus menerus selama paruh pertama penerbangan, hanya terbangun pada saat makan, dan lalu terlelap lagi meskipun udah ngidupin film, berniat menonton film yang kelihatannya menarik. film-film yang nggak selesai: Monsters vs. Aliens dan I Love You, Man. yang sempat aku selesaikan hanya film He's Just Not That Into You, dan sekarang aku sedang muter salah satu film klasiknya Julia Roberts; Sleeping With The Enemy.

OK, Julia udah berhasil kabur dari suaminya yang abusive. sekarang dia sedang tersenyum dalam keadaan setengah bugil sambil ngeliat cowok berotot yang sedang nyiram halaman sambil bersiul-siul.
aku terusin nonton dulu, yah?!

Sunday, July 05, 2009

adventure series: the beginning



this is it. the day has come.
berbekal koper oranye seberat 16 kg, sekotak mandarin, komputer mengkilap berwarna silver, surat dari Utrecht Summer School, dan satu clear holder berisi dokumen serta paspor yang sudah mengandung visa Schengen, aku siap memulai petualanganku.

hanya dua minggu setelah menerima surat penolakan beasiswa Stuned, aku melonjak-lonjak kegirangan saat mengetahui kalau tulisanku mendapatkan nilai tertinggi dari para juri Kompetisi Blog Studi di Belanda. setelah itu waktu yang tersisa aku pergunakan untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk petualanganku selama 3 minggu menjelajahi Eropa.



ibarat petualangan Pak Janggut, bagian ini adalah awal dari sebuah cerita seru yang menegangkan, yang mengasyikkan, mencekam, dan penuh kejutan. aku memulai petualangan ini dengan hati dan pikiran terbuka, siap menyambut segala hal yang akan aku hadapi pada hari-hari berikutnya, sampai akhirnya aku pulang lagi ke Indonesia, pada hal-hal yang sudah aku akrabi.

minggu ini aku mengelilingi belantara Jakarta, dan untuk pertama kalinya, nyaris selalu sendirian berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, entah itu naik busway, taksi bahkan metromini. selama ini berkali-kali ke Jakarta aku nggak pernah melakukan semua itu. jadi aku belajar banyak seminggu ini. sekaligus juga dioper-oper dari ketemuan sama satu orang ke orang yang lainnya, dengan setiap kali dapat petunjuk soal bagaimana cara menuju tempat berikutnya, dan kadang-kadang dianter sampe halte bis. hihihi, thanks guys!



makanya selain pertemuan di NESO bersama dengan bosnya, juga para pemenang yang lain, aku juga masih sempat dua kali nonton, ngeband dengan beberapa warga kampung gajah dan tentunya makan-makan!
:D

stay tune di blog ini.
aku akan mengupdate-nya setiap hari dengan berbagai tulisan mengenai segala hal yang aku alami selama berada di Eropa. I'm gonna have so much fun.
*grinning*

Wednesday, June 24, 2009

tentang 'x' dan 'nya'

kalau membahas soal bahasa yang dipakai saat ber-sms ria, aku merasa aku sudah tuwa. sebegitu tuwanya sehingga aku nggak sanggup ngikutin gaya abegeh yang nulis sms dengan serba singkatan-serba konsonan yang hanya bisa dijelaskan oleh Tuhan dan tukang bajaj. seperti kita ketahui bersama, tukang bajaj dan Tuhan punya hubungan saling mengerti yang sangat spesial. akhir-akhir ini, para penulis sms serba singkatan-serba konsonan juga kebagian hak istimewa itu.

aku juga nggak bisa kirim sms dengan huruf dan angka dicampur aduk jadi satu. aku harus pinjem agregator bahasa abegeh-nya Heri biar bisa nangkap maksud smsnya apaan. maklum, aku termasuk orang yang lebih rela nulis sms sampe lebih dari 160 karakter kalo emang mau menjelaskan agak panjang dikit supaya yang baca ngerti maksudku. jadi yang aku singkat ya cuma yang biasa aja. yang gini-gini. yang semua orang dari ujung Sabang sampai ujung Merauke paham.

yg
sy
dst.

nggak jarang aku nggak bales sms karena sepanjang 160 karakter itu, 68% isinya cuma singkatan-singkatan aja. males banget harus mengira-ngira apa yang sebenernya mau diomongin. apalagi kalo sms itu sebenarnya untuk minta tolong.

kemarin baru teringat buat tanya ke Kampung Gajah. dari mana logika 'nya' bisa diganti dengan 'x' setahuku, 'x' itu ya dibaca [eks] atau [kali]. tapi kok sekonyong-konyong jadi 'nya'?

seperti:
misalx dibaca misalnya
dirix dibaca dirinya
matax dibaca matanya

doh!

sampai hari ini nggak ada yang bisa menjelaskan dengan jelas. bahkan meskipun Dodi berusaha memaparkannya secara kronologis-etimologi (tentu saja dengan cara yang sama meyakinkannya dengan kasus Cagkarta), aku masih belum menemukan penjelasan, dari mana logikanya. jadi kalo ada yang tahu dengan jelas riwayat etimologi dan semiotiknya, tolong kasih komentar di sini, yah!

sementara itu, di facebook, Puja cerita kalau suatu hari temannya berhari-hari berpikir keras tentang arti sms yang diterimanya. "ri ru lez, ru li sa"
bukan, ini bukan singkatan dalam bahasa Spanyol, jadi nggak ada hubungannya dengan Ruis dan Gonzales. usut punya usut, dan setelah Ferro salah mengartikan dengan "Sori baru bales. Baru lihat, Sa" (dengan asumsi bahwa yang dikirimi sms namanya Lisa)
yang bener ternyata adalah "Sori baru bales. Baru beli pulsa"

*pingsan*

Saturday, June 20, 2009

those long lost and gone



saat melihat gambar di atas, apa yang terbersit dalam pikiranmu?
gambar kuno? Bali di masa lalu? atau barangkali UU APP.

gambar ini aku ambil dari buku Miguel Covarrubias yang judulnya "Island of Bali", yang pertama kali terbit pada tahun 1937. kira-kira 72 tahun yang lalu. dan hebatnya, sampai hari ini, buku tersebut masih jadi rujukan untuk banyak hal yang ingin diketahui orang mengenai Bali. mulai dari cara berpikir orang-orangnya, kebiasaannya, budaya dan kepercayaannya, cara hidupnya, sampai dengan berbagai mitos yang hidup dan berkembang dalam hidup mereka.

terdapat pula sebuah film dengan judul sama, yang pengambilan gambarnya dilakukan pada saat yang bersamaan dengan saat riset penulisan buku ini dimulai. itulah sebabnya, foto-foto yang ada dalam buku ini merupakan fragmen yang diambil dari film tersebut.

beberapa hari yang lalu aku menonton filmnya, dan aku seperti sedang terbius pada keindahan masa lalu, mata penuh rasa ingin tahu, dan gairah yang mendalam akan cara hidup dan kebudayaan yang dimiliki sekelompok orang yang paling berbakat, paling halus pekerjaan tangannya, paling terbuka sikapnya, sekaligus paling sulit untuk diduga. kesemuanya seolah abadi, dan hadir menjelma selama 90 menit itu.

hal pertama yang aku sadari saat melihat film itu adalah cara hidup yang sophisticated. setiap bagian dari cara hidup itu bersinggungan dengan kesenian dan kebudayaan. mulai dari cara berpakaian, memasak, berkumpul, mengadakan upacara, berbagai kegiatan kesenian, bahkan dari gerak-gerik tangan pendeta Shiwa pada saat memimpin upacara. tentu saja di sana-sini bisa ditemui perempuan-perempuan bertelanjang dada. lalu seseorang berbisik di telingaku:

"waktu itu, angka perkosaan tinggi nggak ya?"

hmmm...
aku pikir nggak. justru rasanya pada saat itu, tubuh adalah sebuah cara untuk mengekspresikan diri, dan dipandang biasa. tidak ada yang ditutupi, semua serba biasa. rumah-rumah Bali pada masa itu terdiri dari paviliun-paviliun yang bahkan tak berdinding! tentu hal ini akan menimbulkan kegemparan luar biasa kalau diterapkan sekarang. perempuan bertelanjang dada ke mana-mana, maksudku.

aku juga melihat gairah yang luar biasa dalam melakukan upacara, membuat sesajen, serta utamanya, bermain gamelan dan menari.
tuntutan hidup yang belum segila sekarang, rasio jumlah tanah dan sumberdaya yang tersedia dengan jumlah penduduk pada masa itu tentu menyumbang banyak pada kenyataan ini. pada saat memainkan gamelan dan menari, dari layar hitam putih yang menampilkan gambar hitam putih itu, aku bisa melihat energi luar biasa yang dipancarkan setiap gerak tangan, gelengan kepala, liukan tubuh dan lirikan mata.

lalu, apa yang membuatku tertegun begitu lama?



saat kepalaku mulai membandingkan gambar-gambar hitam putih yang aku lihat di layar, dengan hal-hal yang aku temukan dalam hidup sehari-hari.

benar, aku memang merasa kalau aku telah hidup di masa modern. dengan berbagai hasil teknologi yang setiap harinya aku pergunakan dalam kehidupan. dan dibandingkan dengan orang-orang yang terekam dalam gambar itu, aku merasa hidupku berlipat-lipat lebih nyaman.
aku tinggal dalam sebuah rumah lengkap dengan dinding tembok bata dan atap yang memastikan aku tidak kedinginan atau kepanasan. dengan segala hal yang ada dalam jangkauan. lampu yang tidak membuat mukaku panas menghitam, kendaraan bermotor sehingga aku tidak perlu berjalan kaki kesana-kemari. makanan yang tidak perlu kutanam, kutumbuhkan dan kurawat sebelum dimasak; memasak pun kadang tak perlu. segala kemudahan, segala kecepatan, segala kesempuraan dari apa yang mereka miliki.

tapi dari semua kelebihan itu, aku juga menyadari bahwa nyaris tidak ada yang berubah dalam bentuk. pakaian yang dipakai dalam berbagai upacara tetaplah sama, begitupun pakaian menari. bentuk sesajen juga persis, meskipun jenis buahnya berbeda. lalu hiasan yang dipasang di rumah-rumah saat ada upacara khusus juga sama saja. dalam banyak hal, aku merasa bahwa pulau ini membeku. waktu yang bergerak dengan kepastian dan terus melaju seolah hanya meninggalkan jejak mendalam yang tak kentara dari lapisan luar yang terjaga. hutan beton yang menggantikan rimbun pohon, sunga kotor dan udara yang menyesakkan nafas, serta wajah-wajah kuyu orang-orang miskin yang tampak begitu sengsara tanpa senyum dan tanpa gairah hidup. bahkan energi yang meluap-luap itu pun seolah sirna dari permainan gamelan dan tarian.

jika Covarrubias kembali ke Bali, ia mungkin akan sangat kehilangan karena trenggiling, satu-satunya hewan liar yang muncul beberapa kali dalam filmnya, tidak bisa dengan mudah ia jumpai lagi.

Tuesday, June 16, 2009

55555




Mahén (33) mengaku baru sekali ini dibuatkan pesta kejutan ulang tahun. Ia juga merasa lebih senang karena pesta ini dibuat dengan menyertakan keluarga intinya, serta sejumlah anggota keluarga besarnya, dalam perencanaan dan persiapan acaranya.

"Tanteku bilang 'kok masih ada sih, jaman sekarang, yang temenan sampe kayak gitu?" katanya menceritakan komentar tantenya, yang lahir dan besar di Jakarta, dan tahu pasti bagaimana situasi pergaulan masa kini, yang semakin lama justru semakin individual. Setiap orang sudah terlalu disibukkan dengan kegiatan mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga waktu untuk berkumpul dan bersosialisasi semakin berkurang.

"Aku sendiri lebih senang karena acaranya dibikin di rumah, jadi semua datang ke rumahku, suasananya menyenangkan, dan proper. Ada makanan, ada kue, kejutannya berhasil..." proper buat Mahén yang tergila-gila pada detail adalah sesuatu yang sangat penting. Semua harus pantas dan sesuai pada tempatnya. "Lagian, aku udah ninggalin rumah lebih dari 10 tahun. Acara kemarin bikin keluargaku bisa kenal juga sama teman-temanku. Kalo dulu 'kan mereka kenal karena aku masih tinggal di rumah, sekarang nggak. Dan kesempatan kayak gini aku pikir bagus, supaya mereka juga lebih kenal aku"

"Dan kalian berkomplot dengan orang yang tepat. Yang paling jago kalo disuruh nipu aku itu ya, ibuku" kata Mahén lagi sambil tertawa, mengetahui bahwa kedua orang tuanya telah mengetahui rencana kejutan itu sejak dua minggu sebelumnya.

Dalam acara tersebut, misalnya... ada Lea dan Indra yang menyempatkan diri untuk datang dari Jakarta, lalu kembali lagi ke Jakarta setelah acaranya selesai.
"Aku udah nggak ketemu Friedo sekitar setengah tahun sebelum dia datang ke rumah pas ulang tahunku itu" kata Mahén menambahkan. "Tapi kenapa orang-orang tua pada seneng ngerjain aku ya?" tambahnya mengomentari pesan facebook dari Bundanya Abi yang menyayangkan kenapa dia tidak diajak ikut serta mengagetkan Mahén tengah malam itu, atau ayahnya Ari yang buru-buru mengirim pesan dan menanyakan "Bagaimana, apa kejutannya berhasil?"

Hidup sendiri, individualistis, adalah ciri umum masyarakat perkotaan masa kini. Hampir sudah tidak ada lagi waktu untuk bersosialisasi. Namun kemudian, teknologi bisa menjadi jembatan penghubung antara mereka yang sebelumnya hidup sendiri dan individualistis, sehingga menemukan kembali naluri untuk bergaul, berkumpul, berkelompok, berbincang, bahkan berjodoh dan bereproduksi (dalam pengertian ilmiah).

Teknologi itu, Internet, melalui email dan fasilitas mailing list kemudian menumbuhkan berbagai komunitas yang dipersatukan oleh minat yang sama, tujuan yang sama, kegemaran yang sama, atau bahkan dipersatukan tanpa sebuah kesamaan, seperti ID-GMAIL. Tahun ini, komunitas tanpa bentuk itu berusia 5 tahun. Dan sebuah kesamaan dirumuskan. Sama-sama ingin mencapai jumlah email 55.555 dalam 30 hari.

Absurd? Memang.

Tapi hal-hal absurd semacam inilah yang ternyata mempersatukan ratusan membernya. Seperti halnya keyakinan buta kalau Oom Ganteng adalah admin milis di seluruh dunia, Jim sudah selesai mendownload internet, Hengky senang dandan dan bawa-bawa kecrekan, Naif adalah rocker merangkap pemimpin tertinggi front tertentu di seluruh dunia, Koh Fahmi sudah beredar sejak masa dinosaurus (bahkan bikin manual cara mengendarai dino dengan baik dan benar), Oom Husni menyandang gelar PhD bidang tata boga, serta Abang Emil masih belum lulus... eh, yang ini bukan mitos, sih.

Dan demikianlah, melalui berbagai hal absurd dan ketidaksamaan yang mempersatukan ini, Kampung Gajah melewati lima tahun yang penuh suka, duka, canda, tawa, air mata, dengan dua tahun diantaranya dibayangi skandal komentar sepakbola berujung futsal antara Tonyer dan Eka yang sampai kini belum mencapai kata putus. Iyah, mereka masih nyambung.

Maka Mahén bertemu kekasihnya, juga Deden, Surur, Tukang Kiridit dan ponakannya, Nenda dan Adit (nungging, woy!) yang memberinya kejutan ulang tahun, Tub dan Blub menikah lalu lahirlah Lana, Henny kesulitan menjelaskan kepada murid-muridnya bahwa kedua frasa tembok dicat dan tembok di cat sama-sama valid, Pak Jambul Uwanen mendadak jadi profesor, Rara dan Weslie bersatu padu menghasilkan foto-foto blur dan gelap, Enda disinyalir memiliki dada berbulu dan Anom disadarkan kenyataan bahwa semua fantasinya tentang Andromeda sia-sia belaka. Tenang Nom, masih ada Herman.

Lalu dari Madiun, Bunda Endhoot yang tiap hari menyantap Sego Pecel meledek Pakerte yang sampai sekarang tak juga minum panadol: "Kopdar Akbar adalah Hoax"

Happy Birthday, ID-GMAIL

duka yang menyusun sendiri petualangannya

  rasa kehilangan seorang penonton pada aktor yang dia tonton sepanjang yang bisa dia ingat, adalah kehilangan yang senyap. ia tak bisa meng...