Thursday, July 24, 2008

rasa jogja

buat orang-orang yang punya ingatan fotografis seperti Karl Lagerfeld, sangatlah mudah untuk merekam segala hal yang terjadi di sekitar mereka melalui mata. maka tak heran, Lagerfeld menghabiskan hari-harinya di usia dua puluhan dengan duduk manis dalam penampilan yang selalu overdressed di salah satu meja di Café de Flore, membalik-balik majalah fashion sambil terus menerus membuat sketsa, merekam setiap orang yang lalu-lalang, matanya mencatat pakaian yang dikenakan setiap orang yang ditemuinya, mengamati setiap perubahan, setiap nuansa.

aku penasaran apakah dia pernah mengalami keadaan otak yang berkelimpahan gambar seperti yang kualami beberapa hari yang lalu saat berada di Jogja?

selama tiga hari itu, aku melihat terlalu banyak karya, membaca terlalu banyak ulasan tentang seni, bertemu terlalu banyak orang (baca seniman) baru, dan akhirnya, prosesor otak ini seperti kehilangan kecepatan bergerak.

dan saat perekam gambarku agak malas bekerja, justru perekam rasa yang jadi lebih aktif.

di pagi saat kedatanganku, aku disambut oleh nasi putih hangat yang ditemani tumis pare bercampur tempe, ikan nila goreng kering dan tempe goreng. siangnya, di dekat ISI Jogja aku makan gado-gado yang enak banget. katanya sih, gado-gado ini adalah cabang dari penjual yang sama, yang sudah lebih dulu beroperasi di Colombo. daerah Colombo, maksudnya, bukan di Sri Lanka.
malemnya, berpedas-pedas makan bawal dan tempe penyet. sambelnya itu loh, tak terlupakan. pedas yang menendang dan sangat mengena di lidah, apalagi ditambah dengan sariawan yang waktu itu lagi nempel di sisi kanan lidah. lengkaplah sudah.

eh, setelah itu terima sms kalo ada yang badannya solider sama aku. dan ikutan sariawan juga. *terharu*

hari berikutnya, sarapan paginya nggak kalah seru.
tau daun pepaya 'kan? mungkin banyak yang nggak suka karena rasanya yang pahit luar biasa. tapi pagi itu, aku makan buntil daun pepaya, bersama dengan sate sapi yang manis gurih, dan telur mata sapi. sapi yang kedua nggak ada hubungannya sama sapi yang pertama. tapi kenapa telur ceplok namanya mata sapi yah? kenapa bukan mata hewan lain? macan atau jerapah, misalnya.

lalu siangnya, aku ada meeting marathon di Jalan Kaliurang. ditemani oleh Thai beef salad, jus semangka dan iga bakar bumbu kecap, sambel ijo dan sup sayuran. obrolan yang berat-ringan dengan berganti-ganti orang nggak mengurangi kenikmatan makan siang itu. yang jadi masalah hanya satu. pisau yang diberikan padaku lebih tepat disebut pisau roti.

malamnya aku makan soto ayam kampung yang katanya bikinan surabaya, sambil nungguin waktu masuk ke dalam bioskop untuk nonton Kung Fu Panda.

di hari terakhir, aktivitas pagi dimulai dengan gudeg lengkap. suwiran ayam opor, sambel goreng krecek, cabe utuh yang memudar jadi oranye karena panas selama terjerang di atas api... semua yang mengingatkan kita pada gudeg, dan kelezatannya.
siangnya, aku menemukan soto ayam kampung lagi. kalo yang ini sih gaya Jogja, dengan berbagai tambahannya seperti sate telur puyuh, tempe goreng, dan juga potongan paha serta dada ayam yang digoreng. enak juga!

*ngelirik ke atas*
akibat lapar yang menyerang setiap dua jam sekali ini, segala makanan terasa enak, enak juga dan enak banget. uhm, apa sebaiknya makan cookies dan minum susu hangat sebelum tidur malam ini yah?

Wednesday, June 18, 2008

kecelakaan

pernah nggak sih, mengalami saat-saat seperti gerakan lambat? waktu semuanya seperti jelas akan jadi apa, dan selama beberapa saat, kamu berusaha meraih dan menyelamatkan segalanya, meskipun di kesadaran bagian bawah kepalamu, kamu tau kalau sesuatu yang buruk akan terjadi? dan nggak bisa dihindari?

tadi pagi, aku pergi sama adikku ke supermarket. jam 8 pagi. kami sepertinya adalah salah satu konsumen pertama yang seperti biasanya, akan mendapatkan senyum ekstra dari wajah-wajah bertata rias segar milik para pelayan supermarket yang baru masuk kerja.

ini belain pagi-pagi buta udah kesini karena nggak punya air minum sama sekali. jadilah beli aqua galon. yang diangkat dengan agak sempoyongan menuju motor, dan sebaliknya dari motor ke rumah.

adikku bilang, dia nggak bisa masang galon itu di dispenser sendirian.
aku bilang, aku biasa melakukannya, jadi biar aku aja. jangan dibantu, karena malah bikin aku bingung, kebanyakan tangan.

tapi pagi ini, gerakanku jadi kurang mantap gara-gara tangan ini abis pegang-pegang olive oil. masih rada licin gimana, tampaknya. lalu si galon juga terasa kurang stabil. sampai aku hampir menggulingkan dispensernya. dan terhenyak oleh beban aqua galon, yang tiba-tiba meleset di tanganku.

lalu seperti adegan lambat, aku bisa melihat galon itu terlepas, airnya membuncah seperti ombak memecah di permukaan papan selancar. sayang nggak ada Pamela Anderson lari-lari dalam bikini merah.

dan ketika pantatnya membentur lantai dengan sempurna, galon itu nyaris terbelah. gelombang air, yang tadinya bisa diminum itu, melanda lantai. keluar dari pintu kamar, memercik pada berbagai benda yang ada di kamar kosku yang berukuran sekitar 12 meter persegi itu.

versi adegan lambatnya masih bisa kuputar di kepalaku sampai sekarang.

Tuesday, June 17, 2008

tragis dan romantis

teriakan NO! yang melolong dan panjang dan paling terkenal barangkali adalah milik the Darth Vader di akhir cerita Star Wars.

dua hari yang lalu, aku menyaksikan versi lain teriakan itu, dalam suasana yang sama tragis dan menyedihkannya. teriakan Angelina Jolie yang berperan sebagai Mariane Pearl dalam film A Mighty Heart. ketika mendapat kabar bahwa suaminya meninggal setelah dipenggal oleh para penculiknya. akting Jolie dalam film itu memang bagus banget. walaupun masih tetap sensual dan cantik, tapi dia sama sekali tidak membuat tokoh Mariane Pearl jadi seseorang yang glamor, atau standing out melebihi tokoh-tokoh yang lainnya.

kesan yang ditimbulkan dari caranya memerankan Mariane adalah, tokoh ini cerdas dan tegar. sangat bisa menguasai dirinya sendiri, dan nggak jadi drama queen walopun situasi sangat memungkinkan dia jadi begitu. bayangkan... hamil, suaminya diculik, dan hidup tanpa kepastian mengusahakan kembalinya sang suami dalam keadaan hidup. tapi toh semuanya nggak membuat Mariane jadi uring-uringan, nggak rasional, atau bahkan nangis-nangis nggak jelas. dia mengikuti semua proses pencarian suaminya dengan tenang.

aku seneng banget sama caranya memarahi pewawancara yang menanyakan tentang apakah dia sudah melihat video pemenggalan kepala suaminya.
"don't you have decency?"
"how can you asked me a question like that?"

waktu aku sampai di adegan yang menyatakan suami Mariane meninggal, aku teringat pada artikel tentang mesatya yang baru saja selesai aku terjemahkan.

sampai awal abad ke-20, ada satu ritual yang biasanya dilakukan oleh istri raja yang suaminya meninggal. saat suaminya akan diperabukan, sang istri menunjukkan tanda kesetiaannya dengan cara mengorbankan diri. biasanya dengan terjun ke dalam api atau ditusuk dengan keris sampai meninggal. atau gabungan dari keduanya. setelah ditusuk kemudian terjun ke dalam api.

sampai paragraf ke-5 dari essay sepanjang 23 halaman itu, aku masih merasa sangat sebal dan menganggap ide self-sacrifice itu bodoh sekali. lalu memasuki halaman 5, waktu satu demi satu dituliskan penjelasan secara filosofis apa yang dimaksud dengan mesatya, bagaimana kedudukan satya itu dan seterusnya, aku jadi mulai bisa mengerti, kenapa ada orang-orang yang menganggap ini sebagai an ultimate action in life. the highest achievement you can get.

memang tidak dijelaskan apa yang terjadi pada perempuan yang tidak melakukan pengorbanan diri waktu suaminya meninggal. apakah mereka akan kehilangan status sebagai istri raja? apakah mereka dibuang dan diasingkan? hal-hal ini memang bukan tidak mungkin akan terjadi mengingat situasi pada masa itu. tidak diterangkan juga apakah suami akan melakukan hal yang sama seandainya istrinya yang meninggal duluan.

kalo yang ini sih kayaknya cenderung si suami segera menikah lagi. gimana ya, punya istri lebih dari satu aja dianggap umum, kok. kata Mahén "yang mau meneruskan memerintah kerajaan siapa kalau rajanya mati juga ngikutin istrinya?"

dan waktu aku udah sampai di halaman 20, setelah membaca kisah-kisah pengorbanan diri dan ilustrasi peristiwa mesatya yang dilakukan oleh tiga (TIGA!) istri Raja Gianyar, aku agak-agak bisa melihat sisi romantisnya tradisi ini. sang istri tidak sanggup meneruskan hidup karena sangat mencintai suami yang semasa hidupnya sangat mencintai tiga istrinya. bahwa ini adalah keinginan untuk bersama sehidup dan semati. di dunia fana maupun di alam baka.

tapi yang lebih bikin aku tercengang, tradisi ini datangnya bukan dari kitab suci, atau ajaran para pendeta. tapi justru dari karya sastra. para pendeta malah bertugas memberi penjelasan filosofi dan mempersiapkan para istri sebelum mengorbankan diri. nah, kan! seniman itu memang ditakdirkan menguasai dunia.

dari kakawin (kitab) Bharatayudha dan Sutasoma serta Bomantaka-lah tradisi ini berasal. para raja kemudian menghidupkannya, sebagai bagian dari kultus kekuasaan. menambahkan kharisma pada masa kepemimpinan raja itu, agar jadi buah bibir dan kenangan sepanjang zaman.

aku lega Mariane Pearl memilih menulis memoar. dan kemudian membuat film.

Sunday, June 08, 2008

Hari Nasi Kuning


sehari setelah Sarasawati, hari yang dipersembahkan untuk Dewi Ilmu Pengetahuan, seluruh Bali punya satu hari yang namanya Banyu Pinaruh. aku sebenernya nggak begitu ngerti hari ini gunanya buat apa. satu-satunya hal yang membuat aku ingat adalah karena pada hari itu, semua orang bikin nasi kuning. jadi pastilah ini hari yang istimewa!

percaya atau nggak, nasi kuning ini masakan yang dikenal di banyak negara. kalau boleh dibilang, selain gorengan dan bakar-bakaran, nasi kuning juga merupakan menu yang lazim di berbagai benua. soalnya selain di Asia Tenggara (Malaysia dan Singapore kan menunya memang mirip-mirip kita, tapi di Thailand nasi kuning juga ada), ada juga nasi kuning dari India (yang pastinya dimakan sama kari kental berbumbu menyesakkan tenggorokan), Spanyol dan Afrika Selatan. di negara yang terakhir ini, barangkali nasi kuningnya dimakan bareng sama sate daging jerapah, empal zebra, atau rendang cheetah.
jadi laper nggak?

aku inget dulu, jauh sebelum ada option cake ato taart, setiap kali ada hari yang spesial, Mama selalu bikin nasi kuning. jadi memang nasi kuning itu identik dengan hari-hari khusus. mulai dari ulang tahun, trus hari lahir...yang ini hari lahir menurut versi penanggalan Jawa, bukan hari berdasarkan kalender Gregorian. jadi hari lahirku tuh Minggu Kliwon, misalnya gitu. nasi kuning juga dibuat waktu naik kelas dan nilainya bagus, waktu Lebaran dan waktu hari 17 Agustus, karena biasanya ada lomba tumpeng di komplek rumahku.

berdasarkan hafalan masa kecil, lauk-pauk yang menyertai nasi kuning adalah sebagai berikut:
pertama, harus selalu ada telur dadar, yang diiris tipis-tipis menyerupai fetuccini. berikutnya adalah abon! lalu ada pula empal goreng, lapis, atau ungkep daging sapi yang dikasih serundeng. perkedel kentang yang bulat agak pipih, potongan timun dan tomat, sambal terasi atau sambal bajak, sambel goreng kentang dan hati, bisa hati sapi bisa juga hati ayam, biasanya dikasih petai. setelah itu ada kering tempe dan kacang. belakangan, ada juga ayam goreng atau ayam bakar yang menyertai nasi kuning.
*nah, kalo ini asli mendadak ngiler*

nah, kalau di Bali, rasa nasi kuningnya sama. yang agak beda lauk pauknya. telur dadar itu tadi tetep ada. mungkin emang kesepakatan di seluruh Nusantara nasi kuning harus ada telur dadar tipis itu ya? selain itu ada Ayam Mesisit yaitu masakan suwiran ayam yang terus digoreng kering dengan dicampur bumbu-bumbu. potongan timun dan atau tomatnya tetap. sambelnya sih sambel terasi. tapi yang khas, ada kacang kedelai goreng, dengan serundeng yang jauh lebih kering daripada yang ada di Jawa. penyebabnya, kalau di Jawa kelapa yang dipakai adalah kelapa yang cenderung muda, yang masih agak berair dan berdaging empuk, sementara kalau di Bali, yang dipakai adalah kelapa tua yang mulai kering dan berumur.

dan hari ini, semua orang di kantorku boleh makan nasi kuning sepuas-puasnya. nyam!

Wednesday, May 14, 2008

ironis

"Ironis adalah kata yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut" katanya sambil menatapku dari balik bingkai kaca matanya yang berwarna hitam. kami sedang berbincang seru tentang hal-hal yang aku dan dia pikirkan sore itu.

dia mengawali percakapan dengan analisa menarik mengenai global warming dan bagaimana kita, manusia, yang paling besar terkena dampaknya justru yang paling tidak hirau mengenai kemungkinan kehancuran luar biasa yang akan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi. dia menceritakan kegelisahannya tentang hidup di sekitarnya yang semakin lama semakin berubah jadi tidak nyaman karena lingkungan yang rusak. ia bicara tentang kebohongan-kebohongan yang semakin lama semakin terungkap. tentang bagaimana mereka yang berkuasa melenakan ratusan juta orang dengan impian semu tentang kesejahteraan, dengan cara menyembunyikan kenyataan.

"kita ditipu dengan tidak dihadapkan pada kebenaran. cepat atau lambat, kita harus menghadapi kenyataan hidup, dan kalau waktunya tiba, kita nggak punya waktu untuk menyiapkan diri. siap atau tidak, kenyataan itu akan dibenturkan pada kita"

aku bercerita padanya tentang harimau yang punah di berbagai tempat di Asia, dan Siberia. tentang bagaimana predator yang cantik itu meregang nyawa satu demi satu saat manusia yang menghuni wilayahnya melakukan perusakan yang disamarkan sebagai pembangunan. Harimau Bali melenyap bersamaan dengan gencarnya pariwisata. Harimau Jawa menghilang setelah puluhan juta orang yang berusaha mencari kehidupan mendesaknya tanpa ampun. Harimau Sumatera tergerus perkebunan kelapa sawit dan penebangan hutan. dan kini, Harimau Bengal harus berjuang mempertahankan nyawa, seperti halnya kerabat mereka yang berbulu tebal di Siberia, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat. hal yang dipaparkan dalam tabel dan grafik dalam warna cerah dengan wajah ceria oleh para ahli ekonomi.

kami bicara tentang bagaimana manusia, yang merasa dirinya yang paling berkuasa telah dengan semena-mena mempertukarkan sesuatu, tanpa menyadari bahwa hal yang hilang dari pertukaran itu jauh lebih besar daripada hal yang berhasil didapatkannya. sebuah anggapan yang menyesatkan telah membuat kita percaya bahwa udara segar, air bersih, kicau burung, hijau pepohonan dan warna-warni bunga dan buah yang berserakan di alam adalah hal yang wajar dan senantiasa akan ada, tak peduli berapa banyak kita memakai dan membuangnya.

"we are the superior species on earth but also the biggest troublemakers" kata Dalai Lama pada Deepak Chopra.

jika suatu hari kita memilih dua celana panjang dengan ukuran yang sama dari rak di department store, mencoba salah satunya dan memutuskan membeli keduanya. kita merasa telah menentukan pilihan yang tepat karena celana hitam dan beige itu berukuran sama dan apabila celana hitam terasa nyaman dipakai, tentu celana beige juga akan sama saja. meski ternyata tidak. ketika staff kasir menyarankan kita untuk mencoba juga celana beige itu, lalu kita menemukan bahwa yang satu ini tidak terasa nyaman, celana beige itu lalu batal untuk dibeli. dan meskipun masih ada 5 celana lain yang berukuran sama ada di tumpukan, tapi kita tidak mencobanya, tanpa menyadari bahwa celana di tumpukan nomor dua sebetulnya akan terasa sangat nyaman dipakai.

tapi pengetahuan itu tidak pernah kita miliki. dan celana beige nomor dua di tumpukan akan tetap ada disana. tak tersentuh. kita, yang merasa pilihan yang kita ambil sudah sempurna, keputusan yang kita jalankan sudah tepat, seringkali, ironisnya, tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan.

tidakkah ini waktu yang tepat untuk mencoba cara yang lain dan mencari alternatif? ataukah sekali lagi kita memilih untuk tetap jadi ironis. karena itulah satu-satunya cara yang kita ketahui.

Saturday, May 10, 2008

routine

pulang kantor seperti biasanya nggak pernah kurang dari jam 6 sore. kalau aku sudah nggak ada di mejaku sebelum jam 6, pasti ada alasan khusus. bukan, bukan karena aku rajin. tapi karena terlalu banyak hal lain yang bisa dengan mudah mengalihkan perhatianku dari pekerjaan yang seharusnya diselesaikan.

misalnya gini, aku menunggu komputer loading dengan membaca TIME edisi 100 Most Influential People In The World, lalu aku menemukan tulisan tentang Miley Cyrus yang katanya baru berusia 15 tahun dan jadi bintang tenar karena main di serial Hannah Montana. tapi artikel itu sebenernya mau ngebahas bagaimana pose-nya di Vanity Fair, yang difoto oleh Annie Leibovitz. disitu dia tampak topless, hanya ditutup semacam seprai, dan dipotret dari samping kanan dengan punggung, lengan dan bahu yang terbuka. fotonya sangat artistik. tapi tentu menimbulkan kehebohan.

nah, gara-gara artikel itu, aku jadi baca-baca mengenai Cyrus, karirnya, Hannah Montana, kontroversi itu, review fotonya, komentar orang tentang foto dan posenya, dan jawaban-jawaban baik dari orangtua Cyrus, dia sendiri, maupun Leibovitz. dan tau-tau udah jam 12 siang. maka demikianlah jam kerjaku bisa memanjang sampai lebih dari jam 6.

sesampai di rumah, nggak banyak juga yang aku kerjakan. menelepon (yang ini harus digarisbawahi dan dicetak tebal sebagai hobi baru), mendengarkan musik, nonton TV, dan mengerjakan file yang sedang perlu perhatianku. biasanya file-file pribadi. semua kegiatan ini, diselingi dengan makan malam atau ketemu dengan teman (misalnya untuk pesta ulang tahun Mbak Niken malam ini) akan berakhir pada jam 1 atau 1.30 dini hari. aku akan tidur sesudahnya, atau sekitar jam 2 pagi.

dan jam 5.30 atau jam 5.45 aku udah bangun lagi.
jadi sebenernya waktu tidurku nggak lama. aku punya hari yang panjang, kerja yang bisa kuatur sedemikian rupa waktunya, dan ritme yang tidak terlalu padat.
tapi kenapa folder draft tulisan panjangku itu tetap nggak tersentuh selama berbulan-bulan setelah kumulai entah kapan tepatnya?

Friday, May 09, 2008

dan lagi...

yang kamu lakukan sederhana. waktu aku bilang aku rada kecewa karena hasil tesnya nggak sesuai dengan yang aku perlukan, kamu mengirimkan emoticon sedih dan kalimat yang membuat aku merasa kamu ikut merasakan kesedihan dan kekecewaanku.

satu-satunya harapan yang kupunya adalah karena aku belum menerima hasilnya di tangan, dan baru denger beritanya dari orang rumah. berita yang juga masih rada simpang siur karena yang dibaca cuma bagian nilainya aja.

lalu surat itu datang.
dan aku bisa membacanya dengan seksama. bisa dengan hati-hati memahami analisa yang tertulis di sebelah tiap skor. lalu memutuskan bahwa ada yang salah dengan asumsiku yang sebelumnya. hasil tes ini sama sekali nggak buruk. tapi justru sangat baik.

dan tabel pembanding nilai yang membenarkan dugaanku. kali ini nggak salah.

lalu di YM, kamu tampak berseri-seri.
"aku berkali-kali meminta supaya kamu mendapatkan yang terbaik. tadinya aku pikir aku minta terlalu banyak. ternyata nggak"
aku terharu. lagi-lagi kamu membuatku merasa begitu.

Thursday, May 08, 2008

tentang membaca buku




kalo ada yang tanya, atau ada form yang mengharuskan aku menjelaskan hobiku, dengan ringan dan pasti aku akan menjawab: membaca. jawaban yang selalu keluar dari mulutku, sebelum aku menyebutkan hobi-hobi yang lain.

tapi beberapa hari terakhir ini aku jadi ragu sama jawabanku sendiri. soalnya kalo dilihat-lihat, beberapa minggu terakhir hobi itu sedikit-demi-sedikit bergeser menuju hobi baru. ngobrol di telepon dan nge-charge batere handphone. kayaknya aku harus mulai merevisi jawabanku kalo ditanya.

bukti lainnya adalah tumpukan buku yang belum dibaca, yang baru separuh dibaca, atau yang baru diusap-usap aja -karena covernya bagus, yang makin membesar jumlahnya di kamarku. kadang-kadang penyebabnya sepele, aku sedang membaca satu judul ketika datang buku yang lain. entah karena membeli atau pemberian orang, lalu aku jadi lebih pengen baca buku yang baru. lalu aku berusaha membaca dua atau tiga buku dalam satu waktu, yang biasanya jadi bikin aku bingung, dan akhirnya semua distop.

setelah membaca keluhan Indie di blognya , aku sempatkan memeriksa berapa judul buku yang belum (selesai atau sempat) aku baca. ini nggak termasuk majalah yang juga makin tinggi tumpukannya.

1. John Steinbeck, The Moon is Down
2. Francis Wheen, How Mumbo Jumbo Conquered the World
3. Orhan Pamuk, Snow
4. Anita Shreve, The Last Time They Met
5. Barack Obama, Dreams for My Father
6. Rhonda Byrne, The Secret
7. Charles R. Cross, Heavier Than Heaven; The Biography of Kurt Cobain
8. Tom Clancy, Shadow Watch
9. Elfriede Jelinek, The Piano Teacher
10. James Joyce, Dubliners
11. John J. Kao, Managing Creativity
12. Bono -Larry Mullen -The Edge -Adam, U2 by U2
13. John Steinbeck, The Grapes of Wrath
14. Robert Ludlum, The Bourne Identity
15. Paul Theroux, Blinding Light
16. Joseph Tate (editor), The Music and Art of Radiohead
17. Truman Capote, In Cold Blood
18. John Dickie, Cosa Nostra; A History of the Sicilian Mafia
19. David Quantick, Beck
20. Kompilasi Terra; Bilingual Anthology

buku Beck, misalnya... sempat kubaca sampai dua bab sebelum aku mulai membaca biografi R.E.M. nah! itu buku juga belum aku masukkan daftar. R.E.M Fiction: An Alternative Biography dari David Buckley ini masih aku coba untuk selesaikan, sambil membaca beberapa buku cerita dongeng karangan Enid Blyton, 100 Tokoh Yang Mewarnai Jakarta bikinan Benny&Mice, A Spot of Bother-nya Mark Haddon, Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata dan lanjutan kisah kenangan Nh. Dini yang berjudul Dari Fontenay ke Magallianes. dan semuanya selesai tiga minggu yang lalu, tapi biografi R.E.M-nya nggak maju-maju dari bab 5! hihihi...

aduh, payah! aku sampe jadi malu waktu Indie bilang "jadi hobinya sebenernya membaca ato mengumpulkan buku?" ahahaha. parah banget deh, aku.

Friday, May 02, 2008

lagi serius

udah lama banget aku berhenti nonton berita di TV. soalnya sudah sejak bertahun-tahun yang lalu, setiap kali selesai nonton berita, aku pasti jadi marah-marah, ngomelin keadaan dan terutama, tindakan bodoh orang-orang picik yang entah kenapa banyak banget stoknya di dunia ini.

beberapa hari yang lalu waktu makan siang, iseng ngidupin TV, yang tentu saja isinya sinetron semuah. kecuali Metro TV, dimana ada Tommy Tjokro sedang baca berita. wajah gantengnya jelas membuat berita-berita yang dia bacakan jadi lebih menyenangkan untuk didengar. atau kira-kira begitulah.

tapi ternyata Tommy Tjokro (harus lengkap nulisnya) sedang baca berita tentang pembakaran masjid Ahmadiyah di Sukabumi. wah, aku langsung nggak berselera makan lagi. mau marah rasanya ngeliat puing-puing yang hangus menghitam. sisa-sisa kayu yang bertonjolan diantara reruntuhan dinding yang sudah nggak bisa dikenali lagi bentuknya.

katanya para pengikut Ahmadiyah disebut beraliran sesat, makanya masjidnya pantas dibakar. aku nggak tau apakah sebelum membakar masjid itu mereka sempat mengeluarkan Al Qur'an yang pasti ada di dalam masjid. nah, kalau Al Qur'an yang dipakai adalah kitab yang sama persis dengan apa yang dibaca para pembakar (itu pun kalo mereka membacanya), menurutku tindakan pembakaran dan perusakan itu sangat nggak pada tempatnya. sangat keterlaluan.

dalam hukum manapun, pembakaran tempat ibadah bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan.

aku sedih banget denger berita itu. kemarahan dan kesedihanku bercampur aduk jadi satu. dan aku menyesali kepicikan, pikiran yang sempit dan kebodohan, yang terus-menerus membuat umat Islam terpecah-pecah, sampai saling menyerang satu sama lain.
kalau perusakan dan pembakaran bahkan dilakukan pada sesama Muslim, lalu bagaimana kita bisa menyebut agama ini agama yang menyejukkan, cinta damai dan nirkekerasan?

Sunday, April 27, 2008

Balada Subani


Meet Subani, alias Sabine, alias Subénes (yang ini harus diucapkan dengan intonasi manja menggoda), alias Hiawata. Buat nama panggilan yang terakhir, silakan melihat foto supaya tau sebabnya apa dia dipanggil dengan nama anak Kepala Suku Perut Buncit itu. Hihihi...

Selama shooting resort movie tanggal 16-22 April kemarin, di pundak Subani terletak tanggung jawab akan pencahayaan dan penyinaran. Sebagai lighting man, dia harus memastikan kalo setiap gambar yang direkam oleh kamera tampil dengan pencahayaan alami dan enak dipandang.

Sejak hari pertama, namanya langsung terkenal, lebih ngetop dibandingkan kru yang lain. Dan juga bukan karena tampang, soalnya Ali yang lebih disebut-sebut sama Dewanto. *nyumput di balik meja*

Awalnya, seperti biasa, karena Yoyok the stylist selalu salah menyebut namanya. Aku sebut biasa, karena aku aja dia panggil Didi atau Diandra, dan nggak pernah bisa menyebut namaku yang asli. Hari itu, kami denger dia menyebut-nyebut Sabine, yang bikin jadi penasaran... ini nyeritain gadis Perancis yang mana sih?
Dan waktu tau kalo yang disebut Sabine itu adalah Subani, semua yang denger langsung ngakak. Bayangan gadis Perancis yang manis, bertungkai panjang dan berambut pirang menggelombang lenyaplah sudah. Tinggallah Subani yang menerima panggilan baru -dan dia emang noleh juga waktu dipanggil, Sabine.

Waktu shooting dimulai di Tanggayuda, kami melihat langsung kalo diem-diem dia ini galak. Hihihi... Donny yang pertama kali cerita tentang ini waktu ngeliat dia memimpin anak buahnya di lapangan. Kegalakannya nggak ada yang berani membantah. Entah disaat dia memerlukan lampu 600 watt, atau saat dia menegur kru yang bergelimpangan tidak pada tempatnya. Semua seketika patuh, dan pekerjaan jadi beres.

Di hari kedua, bakat terpendam Sabine (yang mulai jadi Subénes gara-gara Iman) mulai tampak. Disela-sela shooting, dia suka melontarkan berbagai tebakan yang menggaring dan peribahasa yang sama nggak pentingnya dengan tebakannya. Dia akan tanya "Apa persamaan jemuran kering dan telepon yang bunyi?" Jawabannya sih obvious. Tapi buat yang belum tau, dia akan dengan senang hati menjelaskan. "Dua-duanya sama-sama harus diangkat"
Sementara itu peribahasanya seringkali berhubungan dengan burung gelatik. Misalnya "Burung gelatik, jaka sembung. Ayo take, jangan bingung." Sumpah garing banget. Nah, bagusnya... dia nggak hanya punya satu line aja untuk burung gelatik. Dan setiap kali si burung keluar, kalimatnya selalu beda karena Sabine memang kreatif.

Shooting hari ketiga di Bisma menghasilkan julukan 'Hiawata'. Jadi hiasan kepala itu adalah hasil dari kegiatan merangkai janur, yang diajarkan Wayan Parwati pada anak-anak kecil, sebagai bagian dari children in-house activities di Komaneka. Setelah semua anak belajar merangkai dan membuat hiasan kepala dari janur, lalu para kru jadi ikutan latah. Bedanya, mereka dengan manja minta dibuatkan dan bukannya bikin sendiri, lalu dipasangin sekalian di kepala masing-masing. Alhasil, sampai malam Subénes masih jadi Hiawata dan Nova jadi Sutradara Kancil.

Selama shooting lima hari itu, wajah Subani selalu jadi merengut setiap kali jimmy-jib mulai dipasang. Dan hanya dia satu-satunya orang yang merasa sangat terganggu dengan benda itu. Sebabnya nggak lain karena jimmy-jib sepanjang 12m itu memberinya kesulitan yang serius untuk menata cahaya.

"Saya mau taruh lampu dimana Mbak, kalo ada benda itu. Seluruh dunia di-shooting. Bingung saya ngatur lampunya gimana" katanya padaku dengan wajah masam. Aku cuma tersenyum. Hehehe, kebayang susahnya. Karena jimmy-jib ini memang memungkinkan kamera bergerak liar namun terkendali ke segala arah, merekam tiap sudut, dan memberi kesan menyeluruh pada rekaman yang dihasilkan.

Sampai hari ini, aku nggak tau siapa nama Pak Operator Jimmy-jib. Dan sampe hari ini juga aku belum pernah denger suaranya. Abis, orangnya pendiem banget. Dia mengendalikan benda sepanjang itu dengan sangat cool. Kalo kata Agus Pande, jadi operator jimmy-jib itu susah banget. Karena dua tangan, kanan dan kiri bekerja dalam ritme yang berbeda. Yang satu tangan untuk panning dan tilting, tangan yang lain untuk memutar arah kamera sampai 360˚ dan kedua tangan bergabung untuk menghasilkan gambar dengan high angle dan low angle. Oyah, sekalian sama zooming in dan zooming out juga. Tampaknya, nggak banyak orang di dunia ini yang bisa mengoperasikannya dengan handal. Karena disini, ada daftar pemilik/operator jimmy-jib di berbagai lokasi di dunia.

Bahkan setelah shooting nyaris berakhir, Subani masih punya cerita. Aku menemukan dia sedang bertanya-tanya sama Chef Bagiana mengenai masak memasak Bebel Betutu. Setelah diselidiki lebih lanjut, Subani ternyata hobi masak! Chef lalu memberinya sejumlah tips untuk menaklukkan bebek, ayam dan ikan dengan panci presto.

Siangnya, waktu semua sudah selesai makan, the last lunch nih, ceritanya... Iman maju ke depan dan kasih farewell speech, mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang baik antara kru, gank tanjidor pimpinan Donny-Yana dan Komaneka. Menimpali Iman, Nova juga membalas dengan speech yang nggak kalah manisnya. Lalu dengan penuh percaya diri, Subani memberikan testimonialnya "Saya senang karena kru diperlakukan dengan baik. Makan nggak pernah telat. Belum bangun aja makanan udah datang". Hihihi, kayaknya ini setengah menyindir jam kerja yang dimulai pukul 05.00 atau 05.30 setiap hari, sehingga wake up call pada pukul 04.00 atau 04.30 dilakukan bertepatan dengan datangnya kopi dan sarapan pagi.
Setelah itu, Subani meneruskan..."Oyah, saya juga merasa sangat terbantu karena kami nggak dibiarkan bekerja sendiri. Selalu ada staff Komaneka yang mau memberi bantuan. Dan itu, mobil koki juga sangat membantu"

Mendengar istilah 'mobil koki', semua yang ada di ruangan ketawa ngakak tak terkendali. Tinggallah Subani terdiam dengan wajah merah padam bersemu ungu karena malu, setelah sadar kalau seharusnya yang dia sebut adalah 'mobil buggy'. Hihihi...

Monday, April 07, 2008

Fedi Nuril, Kacamatanya, dan Ayat-ayat Cinta

akhirnya aku nonton Ayat-ayat Cinta. nggak kalah sama para menteri, Jusuf Kalla, dan SBY.

tindakan yang impulsif sebenarnya, karena keputusan menontonnya hanya setengah jam sebelum berangkat, dan tentulah dorongan itu datangnya dari godaan acara infotainment yang dengan gigih setiap hari menyinggung-nyinggung tentang film ini.

kesimpulanku adalah:
Ayat-ayat Cinta bercerita mengenai seorang laki-laki alim yang tampan dan digilai oleh banyak perempuan, yang seluruhnya penuh inisiatif. terbukti, ketika para perempuan itu menyadari perasaannya, mereka segera menulis surat cinta. dan ada diantara surat-surat itu yang diberikan langsung padanya. namun demikian, meskipun menerima surat dari berbagai jenis perempuan, dan namanya ditulis di dalam diary, lengkap dengan foto-foto, tapi tidak pernah sekalipun Fahri membalas surat, atau mengirim surat pada salah seorang diantara perempuan-perempuan yang jatuh cinta padanya itu. walopun tampak dia menaruh hati pada salah satu diantara mereka.

aku setuju bahwa nilai-nilai Islam yang digambarkan dalam film itu adalah hal-hal yang luput dari perhatian publik saat ada pemberitaan mengenai terorisme, Islam radikal-fundamentalis, dan film Fitna. dan ini adalah cara penyampaian yang sejuk. bukan seperti sweeping nggak penting yang mengatasnamakan agama, dalam suasana panas, di hari yang terik, dan membuat hati seperti terbakar. ia terasa sejuk karena dibalut wajah yang cantik dan tampan, kalimat yang lemah lembut, fotografi yang indah dan AC yang dingin menghembus penonton yang duduk di kursi empuk.

tapi cara penyampaian yang sejuk ini tidak dibarengi dengan editing yang smooth dan mata sutradara yang jeli. Hanung, masa kamu nggak lihat mic yang menggantung di samping Surya Saputra pada adegan dia duduk di kursi-sofa warna merah itu?
lalu apakah Ayat-ayat Cinta juga disensor? rasanya nggak mungkin ada adegan ranjang yang hot dan bikin badan panas dingin jantung berdebar dalam film itu. ah, well... kecuali kalo Fedi Nuril sedang di-close up, atau dia duduk tertegun memakai kaca matanya yang oke itu. aduh... kok keliatan ganteng dan menggiurkan ya?

eh, sampe mana aku tadi?
ah, ya! sensor. aku cuma heran, kalo bukan karena disensor, apa ini editingnya yang parah sehingga perpindahan dari satu adegan ke adegan lain terasa sangat nggak enak. rasanya seperti waktu selimut direnggut paksa ketika kita masih pengen tidur. jika Ayat-ayat Cinta adalah satu set yang dimainkan seorang DJ, perpindahan antar adegannya setara dengan kalo si DJ mainin lagunya pake dua tape deck. jadi kalo mo ganti lagu, dia matiin dulu tape yang satu, trus menyusul ada tape berikutnya yang dipencet tombolnya, langsung masuk ke refrain.
sangat mengganggu.

memang sejak awal aku nggak mengharapkan film ini akan groundbreaking seperti Atonement atau kuat seperti La Vie En Rose. tapi setelah nonton, aku semakin nggak ngerti. apanya sih yang membuat film ini segitu hebohnya?
uhm, tentu saja selain Fedi Nuril dan kacamatanya.

duka yang menyusun sendiri petualangannya

  rasa kehilangan seorang penonton pada aktor yang dia tonton sepanjang yang bisa dia ingat, adalah kehilangan yang senyap. ia tak bisa meng...