Thursday, September 25, 2008

House and I




Dr. Gregory House adalah pahlawan baruku. dia yang berjalan terseok-seok dengan tongkat, yang bermata biru, berusia setengah baya, jarang bercukur dan menolak memakai jas putih serta bersikeras memakai sneakers, jeans dan kaos oblong adalah sosok yang sekarang kupuja dan mengisi relung hatiku. *duduk manis di pojokan buat fans Hugh Laurie bareng sama Henny*

aku nggak papa deh, biar dibilang aneh juga. tapi cowok yang sarkastik, nggak peka apakah jawabannya bikin orang lain sakit hati ato nggak, yang dengan segala cara berusaha menguras emosi lawan bicaranya -memojokkannya tanpa ampun sekaligus seenaknya ini... buatku tampak sexy. dalam banyak hal, aku pikir House ini sangat menarik. mungkin Allison Cameron adalah jenis perempuan yang sama dengan aku, makanya dia nekat tetap mencintai House, sementara yang ditaksir, walopun tau, tampak acuh tak acuh dan nggak memberi ruang buat Cameron untuk mendekat.

"...you look for excuses to be alone" gitu kata Boyd, salah satu pasien yang diselamatkan House tentang dokter yang nyentrik ini.

selain sexy, aku pikir House ini juga cerdas (jelas aja, dia memecahkan kasus-kasus penyakit yang udah bikin dokter-dokter lain nyerah), witty (ini aku nggak nemu padanan bahasa Indonesia-nya), sekaligus lucu! aku sering banget ketawa sendiri di depan TV gara-gara ngeliat caranya dia menjawab Lisa Cuddy, bos yang seringkali kehilangan sabar dan angkat tangan ngeliat kebandelan House plus kedewasaannya yang berhenti di umur 17 tahun.
joke-joke rasis yang dia lontarkan pada Eric Foreman juga harus diakui kocak-bandel sekaligus. yang bikin scriptwriter emang hebat, sih. misalnya di satu episode yang House merebut spidol yang dipakai Foreman menulis di papan (peran yang biasanya diambil oleh House) sambil bilang sama Foreman:
"Sorry, there's a reason they call it the Whiteboard. It's not my rule."
dan waktu Chase maupun Cameron nggak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan House, sementara Foreman punya jawaban, dengan lantang Foreman bilang sama House:
"OK, we can all stare at each other or we can investigate what caused the heart failure. Just the heart failure. You wanna give me that Black marker?"
kocak, kan?!

tapi, dibalik semua keserampangannya dan pemberontakannya yang sering bikin kepala geleng-geleng (seriously, kalo aku harus jadi pasiennya, aku mendingan nggak banyak ngelawan, tapi langsung menjawab semua pertanyaannya dengan jujur), Gregory House sebenarnya sangat perhatian, sensitif, sekaligus teman yang sangat menjaga perasaan. dia hanya jadi manipulatif untuk hal-hal yang berhubungan dengan usaha memecahkan misteri penyakit pasien, menyelamatkan nyawa dan mendapatkan tambahan Vicodin. dia seperti sanggup melakukan apa saja asal tujuan itu tercapai.

tentang Vicodin ini, sebabnya nggak lain adalah nyeri menahun yang dia alami, yang kalau tidak segera diatasi dengan painkiller akan bikin dia nggak bisa berfungsi dengan baik.

hanya sedikit orang yang bisa melihat sisi lain dirinya ini, maka tak heran masih ada James Wilson, kepala departemen Oncology, satu-satunya sahabat House. terlepas dari kebiasaan House meminjam uang, bikin Wilson repot untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang dibikin House dan mengambil makanan Wilson tanpa ijin, House yang paling paham kesusahan Wilson saat menghadapi perpisahan dengan istrinya. etapi jangan bayangin mereka curhat-curhatan berdua, tangis-tangisan nonton film drama sambil makan es krim loh, yaaa...
ini dua cowok yang seperti nggak ngaku kalo mereka sering curhat-curhatan satu sama lain. padahal tiap episode mereka curhat dan gosip terus!

House juga satu-satunya yang tahu usaha Cuddy untuk punya anak. dia nggak membocorkannya pada orang lain, dan nggak mengejek Cuddy tentang itu, sampai insiden ketika seorang inspektur polisi menekan Wilson dan tiga orang anggota tim departemen Diagnostic.
Cuddy bilang ke Wilson "I've seen House be rude a thousand times, usually to achieve something. I have never seen him be mean just because he can."
dan waktu Wilson nanya apa yang sebenarnya terjadi, karena dia nggak pernah liat Cuddy sampai nangis-nangis darah begitu, Cuddy bilang...
"People think House has no— inner censor. The fact is he holds himself back, because when he wants to hurt. He knows just where to poke a sharp stick."

House juga yang tau tentang penyakit ayah Robert Chase yang sudah sangat parah. dia juga yang mengetahui kekalutan hati Chase waktu ayahnya meninggal, sampai waktu Chase harus bekerja di waktu liburan karena kekurangan uang dan dia dicoret dari daftar warisan ayahnya.

House yang berusaha membuat Cameron lebih 'dingin', supaya dia tidak mudah disakiti orang-orang yang cenderung kejam dan mau menang sendiri. House juga yang menyadarkan Foreman akan kekurangan yang harus dia tutupi setelah ia bangun dari koma akibat tertular penyakit yang diderita seorang polisi yang menanam ganja di rumahnya.

tak heran, Foreman bilang
"he's the best doctor I've ever worked with"

Saturday, August 30, 2008

mutantmonkey

alkisah, setelah sekian tahun baru berlalu, dua sejoli ini akhirnya datang juga ke Bali, dalam sebuah acara wisata berdua yang katanya 'secon honeymoon'. karena sebelum datangnya udah heboh dulu, jadilah aku setuju mengantar mereka jalan-jalan keliling Ubud. untung aku masih boleh ikut foto-foto. makanya nggak terlalu terasa jadi obat nyamuk.



keliatan nggak kalo sebenarnya aku sama Tub kayak janjian pake baju yang warnanya sama, supaya Blub bisa jadi 'wanita lain' ditengah-tengah kami berdua?

berhubung hari itu adalah sehari sebelum Galungan, maka nasi ayam kedewatan tutup, dan aku nggak jadi bisa ngajakin mereka makan disana. we ended up eating at Nuri's. lalu setelah itu foto-foto di sekitar Pura Gunung Lebah, terus sempat juga nyari lulur Sekar Jagat, dan ke Kakiang makan mango tart.

yang ini, foto di area dekat Pura Gunung Lebah. tentu, aku sebenarnya lebih tertarik sama sungai dan rimbunan tanamannya, daripada sama dua orang yang jadi foreground ini. herannya, kameraku lebih suka kalo fokusnya jatuh di hidung Blub. jadi ya, apa boleh buat.



nah, waktu aku nganterin mereka ke Monkey Forest, suasana mendadak jadi seru. beberapa monyet mendekati kami. dua diantaranya jalan ke arahku. yang satu memeluk kaki kananku... berusaha memanjat kakiku. sementara yang satunya lagi, yang agak lebih gede, peluk-peluk betis kanan.

"hmmm... kenapa sayang? cari mama? itu tuh... mama yang pake baju kuning dan berkacamata"
bad joke. karena si monyet di kaki kanan tiba-tiba menggigitku. terasa perih dan sakitnya kayak abis teriris pisau.

aku lantas mendatangi penjaga dan mengatakan kalau aku digigit monyet asuhannya. dengan ketenangan yang luar biasa, si penjaga memintaku menunjukkan bekas gigitan monyet itu, dan lantas berkomentar "oh... itu nggak papa. kalo berdarah, baru dikasih antiseptik"

karena dia kalem-kalem aja, aku juga jadi ikutan tenang kan, ya. biar bagaimanapun, kan si penjaga itu lebih berpengalaman. termasuk dalam soal gigitan monyet.

tapi dokter yang memeriksaku keesokan harinya, sama sekali nggak setuju. dia menjelaskan panjang lebar bagaimana gigi binatang itu seperti kebun binatang, tempat segala kuman dan bakteri merajalela. dia juga menjelaskan kemungkinan tetanus dan rabies. aku langsung diem. dan tetep diem lama sampe disuruh pulang setelah luka gigitan itu dibersihkan. di Monkey Forest nggak pernah ada kasus rabies, katanya.

sudah 11 hari berlalu sejak gigitan itu terjadi. bekasnya di betisku sudah hilang. awalnya, aku pikir aku akan jadi mutan, supermonkey atau wonder primata. ternyata sampai hari ini aku masih belum mengalami pertambahan populasi bulu yang terlebihan. aku cuma sering ngerasa pengen memanjat pohon kelapa.
tapi aku masih harus bersabar dan melihat apa yang akan terjadi 17 hari dari sekarang.

we wouldn't know before 28 days after.

Monday, August 11, 2008

pelacakan mustahil


pagi-pagi, sesampai di kantor terima pesan yang isinya permintaan untuk mencarikan alamat seorang seniman bernama Alit Sembodo lalu mengirimnya ke klien melalui email.

merasa nggak punya data tentang seniman ini di database, aku lantas menghubungi Mikke Susanto, kamus berjalan pertama yang bisa ditanya-tanyai tentang seniman. karena sebagian besar seniman Indonesia kan sekolahnya di ISI Jogja. lalu Mas Mikke ini tinggal di Jogja, dulu kuliah di ISI dan sekarang ngajar di sekolah seni itu juga.

begitu mendengar pertanyaanku, Mas Mikke langsung bertanya balik
"kamu mau telepon dia?"
"iyah. aku mau telepon terus mau minta alamat studionya"
"kalo gitu, kamu harus menelepon alam baka" gubrak!
"eh, udah meninggal gitu, Mas?" aku bertanya balik dengan nada kaget
"iya, tahun berapa ya, aku udah (ngajar) di ISI kok. kalo nggak salah tahun 2003. udah berapa tahun itu?"
"uhm, 5 tahun ya...sekarang kan 2008." lalu diam sesaat. dan terus aku bicara lagi.

"Mas, kalo aku bisa telepon dia, berarti aku canggih ya?" kataku sambil cekikikan
"oh, iya! kamu kalo bisa telepon dia, bisa telepon Affandi juga"
"iyah, nanti aku bisa tanya ke Affandi 'apa kabar, Oom!' gitu ya?" aku pun makin ngawur.

setelah menutup telepon, aku masih kepikiran sama seniman ini. dan ternyata aku menemukan salah satu karyanya yang akan dilelang di Singapura tanggal 16 besok, tepat sehari sebelum ulang tahun Republik Indonesia. karyanya bagus, dan aku pasang bersama tulisan ini. sayang, seniman dengan karya sebagus ini harus pergi di usia yang masih sangat muda.

uhm, beneran belum ada provider telepon genggam yang punya BTS di daerah kekuasaan Hades, ya?

Friday, August 08, 2008

tentang tidur

wajah pucat. mata melebar. sedikit garis hitam dibawah mata yang terasa pedas sepanjang hari. kadang-kadang terasa kalau wajah ini memanas. panas seperti kalau baru saja bertemu dengan kekasih yang lama tak dijumpai. sayangnya ini bukan karena pipi merona.
juga bukan karena debar-debar tak karuan di dada.

jadual tidurku benar-benar kacau minggu ini.

tidur jam 4.30, jam 3, jam 01.30 itu kayaknya yang paling awal dan paling cepat.
tapi bangunnya paling siang tetap jam 7 lewat.
jadi selama seminggu ini, saran yang paling sering aku dengar adalah "tidur, jeng"

dan yang paling ekstrem adalah "kamu harus tidur 72 jam terus menerus"

ternyata sleep deprivation alias kurang tidur yang bisa jadi berkepanjangan ini banyak sekali akibatnya. wikipedia mencatat nggak kurang dari 33 dampak buruk kekurangan tidur. belum termasuk akibatnya pada otak, pada pertumbuhan, gangguan kemampuan, pengaruh pada proses penyembuhan dan kegemukan.

aku menemukan nystagmus sebagai salah satu tanda kurang tidur. dan barangkali ini bisa jadi sebuah sinyal palsu yang keluarnya nggak sengaja, seolah main mata pada cowok ganteng di sekitar kita. ahaha, kita... padahal yang kurang tidur aku.

herannya, kurang tidur juga dianggap sebagai salah satu penyebab peningkatan hasrat untuk melakukan aktivitas seksual. uhm... kayaknya setiap pagi begitu bangun yang terpikir adalah kopi. kopi. kopi. tapi aku mungkin harus meneliti akibat ini lebih lanjut. hihihi...

dan emang serem juga sih. karena kurang tidur ini bisa juga menyebabkan buta warna! entah dimana kaitan antar keduanya. barangkali kemudian bagian-bagian dalam mata jadi terlalu lelah, sehingga kerjanya jadi asal-asalan. lantas warna yang mirip dianggap sama gitu aja.

OK, aku nggak ngeyel lagi. aku akan tidur lebih cepat malam ini.

Tuesday, July 29, 2008

lagu lintah

Minggu malam:
aku pergi ke supermarket cuma sebentar. tapi pengalaman selama 5 menit terakhirnya sangat mengguncangkan jiwa. aku sedang mengambil satu-satunya barang yang mau kubeli waktu lagu itu tiba-tiba terdengar...
"coba kau pikirkan... coba kau renungkan..."

sontak aku kabur ke depan kasir. berusaha membayar secepatnya. oh! tapi laki-laki di depanku ini kok ya malah ngambil barang yang lain lagi setelah di depan kasir. rokok-lah, batere-lah, permen dan cokelat dari rak di sebelah kasir. haduh! apa nggak tau aku sedang gawat darurat? duh! duh!

and I end up being tortured by that damn song. whole of it.
padahal lagu itu kan seperti lintah. sekali terdengar nggak akan begitu saja lepas dari kepalamu. baru mau lupa, udah ada yang muter lagi dan bakalan jadi inget lagi. haduuuuuhh!!!

waktu aku mengadu berkeluh kesah ke Abi karena "kenapa sih mereka harus muter lagu itu sekarang? waktu aku disini?", jawabannya begini:
:) mungkin mereka emang ingin kamu menikmati lagu itu:)

ouch! aku langsung bales lagi
ada nggak sih, supermarket yang muternya lagu klasik? lagu kematian Chopin waktu lagi sepi dan muter Vivaldi di hari Sabtu dan Minggu...

dan Abi lantas menceritakan kisahnya, naik taksi yang sopirnya memutar Mozart, sambil bercerita tentang Mozart sepanjang jalan, dan juga tentang komposisi-komposisi yang diputarnya. kata Abi, dia justru berpikir kalo si sopir taksi ini adalah seorang psikopat. yang barangkali... kalau dia salah ngasih jawaban, di satu bagian jalan yang sepi, akan menghentikan taksinya, terus... horor! yang aku bayangkan malah adegan film thriller dengan tokoh serial killer.

errr...

Senin malam:
aku terima sms Abi yang bunyinya begini:
Ok. Sekarang aku yang denger lagu ini... udah 3 jam... "coba kau pikirkan... coba kau renungkan... apa yang kau inginkan" ...It's painful

sms yang baru dua-tiga jam kemudian aku balas, yang disusul dengan sms berikutnya:
Dari tadi pagi aku udah nggak enak badan. Sekarang aku gak berdaya di tempat tidur, demam. Aku yakin lagu tadi punya andil sangat besar bikin badanku jadi gak stabil

Thursday, July 24, 2008

rasa jogja

buat orang-orang yang punya ingatan fotografis seperti Karl Lagerfeld, sangatlah mudah untuk merekam segala hal yang terjadi di sekitar mereka melalui mata. maka tak heran, Lagerfeld menghabiskan hari-harinya di usia dua puluhan dengan duduk manis dalam penampilan yang selalu overdressed di salah satu meja di Café de Flore, membalik-balik majalah fashion sambil terus menerus membuat sketsa, merekam setiap orang yang lalu-lalang, matanya mencatat pakaian yang dikenakan setiap orang yang ditemuinya, mengamati setiap perubahan, setiap nuansa.

aku penasaran apakah dia pernah mengalami keadaan otak yang berkelimpahan gambar seperti yang kualami beberapa hari yang lalu saat berada di Jogja?

selama tiga hari itu, aku melihat terlalu banyak karya, membaca terlalu banyak ulasan tentang seni, bertemu terlalu banyak orang (baca seniman) baru, dan akhirnya, prosesor otak ini seperti kehilangan kecepatan bergerak.

dan saat perekam gambarku agak malas bekerja, justru perekam rasa yang jadi lebih aktif.

di pagi saat kedatanganku, aku disambut oleh nasi putih hangat yang ditemani tumis pare bercampur tempe, ikan nila goreng kering dan tempe goreng. siangnya, di dekat ISI Jogja aku makan gado-gado yang enak banget. katanya sih, gado-gado ini adalah cabang dari penjual yang sama, yang sudah lebih dulu beroperasi di Colombo. daerah Colombo, maksudnya, bukan di Sri Lanka.
malemnya, berpedas-pedas makan bawal dan tempe penyet. sambelnya itu loh, tak terlupakan. pedas yang menendang dan sangat mengena di lidah, apalagi ditambah dengan sariawan yang waktu itu lagi nempel di sisi kanan lidah. lengkaplah sudah.

eh, setelah itu terima sms kalo ada yang badannya solider sama aku. dan ikutan sariawan juga. *terharu*

hari berikutnya, sarapan paginya nggak kalah seru.
tau daun pepaya 'kan? mungkin banyak yang nggak suka karena rasanya yang pahit luar biasa. tapi pagi itu, aku makan buntil daun pepaya, bersama dengan sate sapi yang manis gurih, dan telur mata sapi. sapi yang kedua nggak ada hubungannya sama sapi yang pertama. tapi kenapa telur ceplok namanya mata sapi yah? kenapa bukan mata hewan lain? macan atau jerapah, misalnya.

lalu siangnya, aku ada meeting marathon di Jalan Kaliurang. ditemani oleh Thai beef salad, jus semangka dan iga bakar bumbu kecap, sambel ijo dan sup sayuran. obrolan yang berat-ringan dengan berganti-ganti orang nggak mengurangi kenikmatan makan siang itu. yang jadi masalah hanya satu. pisau yang diberikan padaku lebih tepat disebut pisau roti.

malamnya aku makan soto ayam kampung yang katanya bikinan surabaya, sambil nungguin waktu masuk ke dalam bioskop untuk nonton Kung Fu Panda.

di hari terakhir, aktivitas pagi dimulai dengan gudeg lengkap. suwiran ayam opor, sambel goreng krecek, cabe utuh yang memudar jadi oranye karena panas selama terjerang di atas api... semua yang mengingatkan kita pada gudeg, dan kelezatannya.
siangnya, aku menemukan soto ayam kampung lagi. kalo yang ini sih gaya Jogja, dengan berbagai tambahannya seperti sate telur puyuh, tempe goreng, dan juga potongan paha serta dada ayam yang digoreng. enak juga!

*ngelirik ke atas*
akibat lapar yang menyerang setiap dua jam sekali ini, segala makanan terasa enak, enak juga dan enak banget. uhm, apa sebaiknya makan cookies dan minum susu hangat sebelum tidur malam ini yah?

Wednesday, June 18, 2008

kecelakaan

pernah nggak sih, mengalami saat-saat seperti gerakan lambat? waktu semuanya seperti jelas akan jadi apa, dan selama beberapa saat, kamu berusaha meraih dan menyelamatkan segalanya, meskipun di kesadaran bagian bawah kepalamu, kamu tau kalau sesuatu yang buruk akan terjadi? dan nggak bisa dihindari?

tadi pagi, aku pergi sama adikku ke supermarket. jam 8 pagi. kami sepertinya adalah salah satu konsumen pertama yang seperti biasanya, akan mendapatkan senyum ekstra dari wajah-wajah bertata rias segar milik para pelayan supermarket yang baru masuk kerja.

ini belain pagi-pagi buta udah kesini karena nggak punya air minum sama sekali. jadilah beli aqua galon. yang diangkat dengan agak sempoyongan menuju motor, dan sebaliknya dari motor ke rumah.

adikku bilang, dia nggak bisa masang galon itu di dispenser sendirian.
aku bilang, aku biasa melakukannya, jadi biar aku aja. jangan dibantu, karena malah bikin aku bingung, kebanyakan tangan.

tapi pagi ini, gerakanku jadi kurang mantap gara-gara tangan ini abis pegang-pegang olive oil. masih rada licin gimana, tampaknya. lalu si galon juga terasa kurang stabil. sampai aku hampir menggulingkan dispensernya. dan terhenyak oleh beban aqua galon, yang tiba-tiba meleset di tanganku.

lalu seperti adegan lambat, aku bisa melihat galon itu terlepas, airnya membuncah seperti ombak memecah di permukaan papan selancar. sayang nggak ada Pamela Anderson lari-lari dalam bikini merah.

dan ketika pantatnya membentur lantai dengan sempurna, galon itu nyaris terbelah. gelombang air, yang tadinya bisa diminum itu, melanda lantai. keluar dari pintu kamar, memercik pada berbagai benda yang ada di kamar kosku yang berukuran sekitar 12 meter persegi itu.

versi adegan lambatnya masih bisa kuputar di kepalaku sampai sekarang.

Tuesday, June 17, 2008

tragis dan romantis

teriakan NO! yang melolong dan panjang dan paling terkenal barangkali adalah milik the Darth Vader di akhir cerita Star Wars.

dua hari yang lalu, aku menyaksikan versi lain teriakan itu, dalam suasana yang sama tragis dan menyedihkannya. teriakan Angelina Jolie yang berperan sebagai Mariane Pearl dalam film A Mighty Heart. ketika mendapat kabar bahwa suaminya meninggal setelah dipenggal oleh para penculiknya. akting Jolie dalam film itu memang bagus banget. walaupun masih tetap sensual dan cantik, tapi dia sama sekali tidak membuat tokoh Mariane Pearl jadi seseorang yang glamor, atau standing out melebihi tokoh-tokoh yang lainnya.

kesan yang ditimbulkan dari caranya memerankan Mariane adalah, tokoh ini cerdas dan tegar. sangat bisa menguasai dirinya sendiri, dan nggak jadi drama queen walopun situasi sangat memungkinkan dia jadi begitu. bayangkan... hamil, suaminya diculik, dan hidup tanpa kepastian mengusahakan kembalinya sang suami dalam keadaan hidup. tapi toh semuanya nggak membuat Mariane jadi uring-uringan, nggak rasional, atau bahkan nangis-nangis nggak jelas. dia mengikuti semua proses pencarian suaminya dengan tenang.

aku seneng banget sama caranya memarahi pewawancara yang menanyakan tentang apakah dia sudah melihat video pemenggalan kepala suaminya.
"don't you have decency?"
"how can you asked me a question like that?"

waktu aku sampai di adegan yang menyatakan suami Mariane meninggal, aku teringat pada artikel tentang mesatya yang baru saja selesai aku terjemahkan.

sampai awal abad ke-20, ada satu ritual yang biasanya dilakukan oleh istri raja yang suaminya meninggal. saat suaminya akan diperabukan, sang istri menunjukkan tanda kesetiaannya dengan cara mengorbankan diri. biasanya dengan terjun ke dalam api atau ditusuk dengan keris sampai meninggal. atau gabungan dari keduanya. setelah ditusuk kemudian terjun ke dalam api.

sampai paragraf ke-5 dari essay sepanjang 23 halaman itu, aku masih merasa sangat sebal dan menganggap ide self-sacrifice itu bodoh sekali. lalu memasuki halaman 5, waktu satu demi satu dituliskan penjelasan secara filosofis apa yang dimaksud dengan mesatya, bagaimana kedudukan satya itu dan seterusnya, aku jadi mulai bisa mengerti, kenapa ada orang-orang yang menganggap ini sebagai an ultimate action in life. the highest achievement you can get.

memang tidak dijelaskan apa yang terjadi pada perempuan yang tidak melakukan pengorbanan diri waktu suaminya meninggal. apakah mereka akan kehilangan status sebagai istri raja? apakah mereka dibuang dan diasingkan? hal-hal ini memang bukan tidak mungkin akan terjadi mengingat situasi pada masa itu. tidak diterangkan juga apakah suami akan melakukan hal yang sama seandainya istrinya yang meninggal duluan.

kalo yang ini sih kayaknya cenderung si suami segera menikah lagi. gimana ya, punya istri lebih dari satu aja dianggap umum, kok. kata Mahén "yang mau meneruskan memerintah kerajaan siapa kalau rajanya mati juga ngikutin istrinya?"

dan waktu aku udah sampai di halaman 20, setelah membaca kisah-kisah pengorbanan diri dan ilustrasi peristiwa mesatya yang dilakukan oleh tiga (TIGA!) istri Raja Gianyar, aku agak-agak bisa melihat sisi romantisnya tradisi ini. sang istri tidak sanggup meneruskan hidup karena sangat mencintai suami yang semasa hidupnya sangat mencintai tiga istrinya. bahwa ini adalah keinginan untuk bersama sehidup dan semati. di dunia fana maupun di alam baka.

tapi yang lebih bikin aku tercengang, tradisi ini datangnya bukan dari kitab suci, atau ajaran para pendeta. tapi justru dari karya sastra. para pendeta malah bertugas memberi penjelasan filosofi dan mempersiapkan para istri sebelum mengorbankan diri. nah, kan! seniman itu memang ditakdirkan menguasai dunia.

dari kakawin (kitab) Bharatayudha dan Sutasoma serta Bomantaka-lah tradisi ini berasal. para raja kemudian menghidupkannya, sebagai bagian dari kultus kekuasaan. menambahkan kharisma pada masa kepemimpinan raja itu, agar jadi buah bibir dan kenangan sepanjang zaman.

aku lega Mariane Pearl memilih menulis memoar. dan kemudian membuat film.

Sunday, June 08, 2008

Hari Nasi Kuning


sehari setelah Sarasawati, hari yang dipersembahkan untuk Dewi Ilmu Pengetahuan, seluruh Bali punya satu hari yang namanya Banyu Pinaruh. aku sebenernya nggak begitu ngerti hari ini gunanya buat apa. satu-satunya hal yang membuat aku ingat adalah karena pada hari itu, semua orang bikin nasi kuning. jadi pastilah ini hari yang istimewa!

percaya atau nggak, nasi kuning ini masakan yang dikenal di banyak negara. kalau boleh dibilang, selain gorengan dan bakar-bakaran, nasi kuning juga merupakan menu yang lazim di berbagai benua. soalnya selain di Asia Tenggara (Malaysia dan Singapore kan menunya memang mirip-mirip kita, tapi di Thailand nasi kuning juga ada), ada juga nasi kuning dari India (yang pastinya dimakan sama kari kental berbumbu menyesakkan tenggorokan), Spanyol dan Afrika Selatan. di negara yang terakhir ini, barangkali nasi kuningnya dimakan bareng sama sate daging jerapah, empal zebra, atau rendang cheetah.
jadi laper nggak?

aku inget dulu, jauh sebelum ada option cake ato taart, setiap kali ada hari yang spesial, Mama selalu bikin nasi kuning. jadi memang nasi kuning itu identik dengan hari-hari khusus. mulai dari ulang tahun, trus hari lahir...yang ini hari lahir menurut versi penanggalan Jawa, bukan hari berdasarkan kalender Gregorian. jadi hari lahirku tuh Minggu Kliwon, misalnya gitu. nasi kuning juga dibuat waktu naik kelas dan nilainya bagus, waktu Lebaran dan waktu hari 17 Agustus, karena biasanya ada lomba tumpeng di komplek rumahku.

berdasarkan hafalan masa kecil, lauk-pauk yang menyertai nasi kuning adalah sebagai berikut:
pertama, harus selalu ada telur dadar, yang diiris tipis-tipis menyerupai fetuccini. berikutnya adalah abon! lalu ada pula empal goreng, lapis, atau ungkep daging sapi yang dikasih serundeng. perkedel kentang yang bulat agak pipih, potongan timun dan tomat, sambal terasi atau sambal bajak, sambel goreng kentang dan hati, bisa hati sapi bisa juga hati ayam, biasanya dikasih petai. setelah itu ada kering tempe dan kacang. belakangan, ada juga ayam goreng atau ayam bakar yang menyertai nasi kuning.
*nah, kalo ini asli mendadak ngiler*

nah, kalau di Bali, rasa nasi kuningnya sama. yang agak beda lauk pauknya. telur dadar itu tadi tetep ada. mungkin emang kesepakatan di seluruh Nusantara nasi kuning harus ada telur dadar tipis itu ya? selain itu ada Ayam Mesisit yaitu masakan suwiran ayam yang terus digoreng kering dengan dicampur bumbu-bumbu. potongan timun dan atau tomatnya tetap. sambelnya sih sambel terasi. tapi yang khas, ada kacang kedelai goreng, dengan serundeng yang jauh lebih kering daripada yang ada di Jawa. penyebabnya, kalau di Jawa kelapa yang dipakai adalah kelapa yang cenderung muda, yang masih agak berair dan berdaging empuk, sementara kalau di Bali, yang dipakai adalah kelapa tua yang mulai kering dan berumur.

dan hari ini, semua orang di kantorku boleh makan nasi kuning sepuas-puasnya. nyam!

Wednesday, May 14, 2008

ironis

"Ironis adalah kata yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut" katanya sambil menatapku dari balik bingkai kaca matanya yang berwarna hitam. kami sedang berbincang seru tentang hal-hal yang aku dan dia pikirkan sore itu.

dia mengawali percakapan dengan analisa menarik mengenai global warming dan bagaimana kita, manusia, yang paling besar terkena dampaknya justru yang paling tidak hirau mengenai kemungkinan kehancuran luar biasa yang akan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi. dia menceritakan kegelisahannya tentang hidup di sekitarnya yang semakin lama semakin berubah jadi tidak nyaman karena lingkungan yang rusak. ia bicara tentang kebohongan-kebohongan yang semakin lama semakin terungkap. tentang bagaimana mereka yang berkuasa melenakan ratusan juta orang dengan impian semu tentang kesejahteraan, dengan cara menyembunyikan kenyataan.

"kita ditipu dengan tidak dihadapkan pada kebenaran. cepat atau lambat, kita harus menghadapi kenyataan hidup, dan kalau waktunya tiba, kita nggak punya waktu untuk menyiapkan diri. siap atau tidak, kenyataan itu akan dibenturkan pada kita"

aku bercerita padanya tentang harimau yang punah di berbagai tempat di Asia, dan Siberia. tentang bagaimana predator yang cantik itu meregang nyawa satu demi satu saat manusia yang menghuni wilayahnya melakukan perusakan yang disamarkan sebagai pembangunan. Harimau Bali melenyap bersamaan dengan gencarnya pariwisata. Harimau Jawa menghilang setelah puluhan juta orang yang berusaha mencari kehidupan mendesaknya tanpa ampun. Harimau Sumatera tergerus perkebunan kelapa sawit dan penebangan hutan. dan kini, Harimau Bengal harus berjuang mempertahankan nyawa, seperti halnya kerabat mereka yang berbulu tebal di Siberia, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat. hal yang dipaparkan dalam tabel dan grafik dalam warna cerah dengan wajah ceria oleh para ahli ekonomi.

kami bicara tentang bagaimana manusia, yang merasa dirinya yang paling berkuasa telah dengan semena-mena mempertukarkan sesuatu, tanpa menyadari bahwa hal yang hilang dari pertukaran itu jauh lebih besar daripada hal yang berhasil didapatkannya. sebuah anggapan yang menyesatkan telah membuat kita percaya bahwa udara segar, air bersih, kicau burung, hijau pepohonan dan warna-warni bunga dan buah yang berserakan di alam adalah hal yang wajar dan senantiasa akan ada, tak peduli berapa banyak kita memakai dan membuangnya.

"we are the superior species on earth but also the biggest troublemakers" kata Dalai Lama pada Deepak Chopra.

jika suatu hari kita memilih dua celana panjang dengan ukuran yang sama dari rak di department store, mencoba salah satunya dan memutuskan membeli keduanya. kita merasa telah menentukan pilihan yang tepat karena celana hitam dan beige itu berukuran sama dan apabila celana hitam terasa nyaman dipakai, tentu celana beige juga akan sama saja. meski ternyata tidak. ketika staff kasir menyarankan kita untuk mencoba juga celana beige itu, lalu kita menemukan bahwa yang satu ini tidak terasa nyaman, celana beige itu lalu batal untuk dibeli. dan meskipun masih ada 5 celana lain yang berukuran sama ada di tumpukan, tapi kita tidak mencobanya, tanpa menyadari bahwa celana di tumpukan nomor dua sebetulnya akan terasa sangat nyaman dipakai.

tapi pengetahuan itu tidak pernah kita miliki. dan celana beige nomor dua di tumpukan akan tetap ada disana. tak tersentuh. kita, yang merasa pilihan yang kita ambil sudah sempurna, keputusan yang kita jalankan sudah tepat, seringkali, ironisnya, tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan.

tidakkah ini waktu yang tepat untuk mencoba cara yang lain dan mencari alternatif? ataukah sekali lagi kita memilih untuk tetap jadi ironis. karena itulah satu-satunya cara yang kita ketahui.

duka yang menyusun sendiri petualangannya

  rasa kehilangan seorang penonton pada aktor yang dia tonton sepanjang yang bisa dia ingat, adalah kehilangan yang senyap. ia tak bisa meng...