alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi

DateWednesday, November 02, 2011   Comment

aku membaca kisah Karna dan aku bersimpati padanya.

ia dilahirkan karena keisengan Kunti, mencoba-coba mantra Adityahredaya saat menatap matahari pagi. Betara Surya datang padanya, memberinya bayi laki-laki berbaju besi menyilaukan dan sepasang anting dan kalung. ia tak bisa menolak anugerah itu, pun tak bisa mempertahankannya. bagian paling tragis dari kelahiran Karna adalah karena tak ada yang mempertahankan kehadirannya. tidak juga Kunti, yang karena rasa malu, gengsi, keinginan menjaga derajat di mata umum, menjadi ibu yang tega melarung anak laki-laki pertamanya di sungai. berharap orang lain memelihara dan menyayanginya.

Karna seumur hidup menyebut diri Radheya. ia yang dipungut pasangan sais kereta Adirata dan Radha selamanya merasa berutang budi pada pasangan yang menyelamatkan hidupnya itu. bahan ketika Kunti mendatanginya bertahun-tahun kemudian, ia menolak cap Kunteya, meski itu adalah kenyataan darah. tapi bakti tetap ia bagi pada sang ibu kandung. Karna berjanji tak akan membunuh para Pandawa, kecuali Arjuna. bagi Karna, Kunti dapat tetap memiliki 5 anak, bukan 6, karenanya anak ke-5 ini adalah salah satu diantara ia atau Arjuna.

hutang budi pula yang membuatnya bergabung dengan Kurawa, dan bukannya Pandawa yang adalah saudara-saudara sedarahnya. kisah Karna yang tragis adalah hasil dari pertemuan maupun persimpangan antara berbagai sifat buruk, kesialan, tipu muslihat, waktu dan tempat yang tak tepat. Karna adalah ksatriya yang hidup sebagai sudra, brahmana, namun tak pernah sepenuhnya menjadi bagian kaum yang ia perankan. seumur hidupnya, Karna adalah sosok yang lain. dan terus dipersalahkan. bahkan ketika menjadi ksatriya, ia tak berada di tempat yang sesuai dengan darah yang mengalir di nadinya. ia menjadi bagian sekaligus bukan bagian mereka. ia adalah ksatriya yang sudra, ksatriya yang brahmana, kakak Pandawa yang Kurawa, ia putra Kunti yang Radheya.

yang juga tragis, Karna mendapatkan tiga kutukan dalam hidupnya, yang ia peroleh pada waktu yang berbeda-beda. namun kutukan itu menjadi kenyataan pada saat yang bersamaan. saat ketika ia berhadapan dengan Arjuna. bahkan alam semesta pun seolah menghukumnya pada saat yang bersamaan, di waktu yang paling genting dalam hidupnya, ketika ia berhadapan dengan lawan yang paling berat.

sebagai yang terlahir dan dibuang, yang ditolak oleh Drona, atas alasan darah, yang mengalami penghinaan demi penghinaan oleh Drupadi, Arjuna serta Bimasena di muka umum, tak heran jika Karna menutupi rasa rendah dirinya dengan kesombongan atas kesaktian, kekuatan dan bakatnya dalam ilmu peperangan. kemarahan yang membara dalam dirinya itu sungguh berlawanan dengan kedermawanannya yang tanpa pamrih. bahkan ketika Batara Indra menyamar menjadi brahmana tua, meminta baju besi yang melekat di badannya, ia pun memberikannya, meskipun tau ini hanya sebuah muslihat.

segala yang tragis dan tak untung itu berpusar dalam kehidupan Karna. pilu dan menyedihkan, ironis dan mudah disesalkan. tapi segala rangkaian kejadian dalam kisah Mahabharata berlangsung begitu cepat dan pasti. peperangan tak terelakkan, karena segala hal, meski tak selamanya hitam-putih, diputuskan dengan cara yang serba penuh kepastian, tanpa dapat ditawar. satu-satunya hal yang sama-sama dimiliki oleh semua tokoh dalam kisah ini, tanpa kompromi.

dikisahkan, Karna bergabung dengan saudara-saudaranya, para Pandawa di Swargaloka setelah Bharatayudha di Kurusetra. aku sangsi ia menikmati itu dan dapat berbahagia di sana.

Shoutbox



Instagram