alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi

DateSunday, April 27, 2008   Comment


Meet Subani, alias Sabine, alias Subénes (yang ini harus diucapkan dengan intonasi manja menggoda), alias Hiawata. Buat nama panggilan yang terakhir, silakan melihat foto supaya tau sebabnya apa dia dipanggil dengan nama anak Kepala Suku Perut Buncit itu. Hihihi...

Selama shooting resort movie tanggal 16-22 April kemarin, di pundak Subani terletak tanggung jawab akan pencahayaan dan penyinaran. Sebagai lighting man, dia harus memastikan kalo setiap gambar yang direkam oleh kamera tampil dengan pencahayaan alami dan enak dipandang.

Sejak hari pertama, namanya langsung terkenal, lebih ngetop dibandingkan kru yang lain. Dan juga bukan karena tampang, soalnya Ali yang lebih disebut-sebut sama Dewanto. *nyumput di balik meja*

Awalnya, seperti biasa, karena Yoyok the stylist selalu salah menyebut namanya. Aku sebut biasa, karena aku aja dia panggil Didi atau Diandra, dan nggak pernah bisa menyebut namaku yang asli. Hari itu, kami denger dia menyebut-nyebut Sabine, yang bikin jadi penasaran... ini nyeritain gadis Perancis yang mana sih?
Dan waktu tau kalo yang disebut Sabine itu adalah Subani, semua yang denger langsung ngakak. Bayangan gadis Perancis yang manis, bertungkai panjang dan berambut pirang menggelombang lenyaplah sudah. Tinggallah Subani yang menerima panggilan baru -dan dia emang noleh juga waktu dipanggil, Sabine.

Waktu shooting dimulai di Tanggayuda, kami melihat langsung kalo diem-diem dia ini galak. Hihihi... Donny yang pertama kali cerita tentang ini waktu ngeliat dia memimpin anak buahnya di lapangan. Kegalakannya nggak ada yang berani membantah. Entah disaat dia memerlukan lampu 600 watt, atau saat dia menegur kru yang bergelimpangan tidak pada tempatnya. Semua seketika patuh, dan pekerjaan jadi beres.

Di hari kedua, bakat terpendam Sabine (yang mulai jadi Subénes gara-gara Iman) mulai tampak. Disela-sela shooting, dia suka melontarkan berbagai tebakan yang menggaring dan peribahasa yang sama nggak pentingnya dengan tebakannya. Dia akan tanya "Apa persamaan jemuran kering dan telepon yang bunyi?" Jawabannya sih obvious. Tapi buat yang belum tau, dia akan dengan senang hati menjelaskan. "Dua-duanya sama-sama harus diangkat"
Sementara itu peribahasanya seringkali berhubungan dengan burung gelatik. Misalnya "Burung gelatik, jaka sembung. Ayo take, jangan bingung." Sumpah garing banget. Nah, bagusnya... dia nggak hanya punya satu line aja untuk burung gelatik. Dan setiap kali si burung keluar, kalimatnya selalu beda karena Sabine memang kreatif.

Shooting hari ketiga di Bisma menghasilkan julukan 'Hiawata'. Jadi hiasan kepala itu adalah hasil dari kegiatan merangkai janur, yang diajarkan Wayan Parwati pada anak-anak kecil, sebagai bagian dari children in-house activities di Komaneka. Setelah semua anak belajar merangkai dan membuat hiasan kepala dari janur, lalu para kru jadi ikutan latah. Bedanya, mereka dengan manja minta dibuatkan dan bukannya bikin sendiri, lalu dipasangin sekalian di kepala masing-masing. Alhasil, sampai malam Subénes masih jadi Hiawata dan Nova jadi Sutradara Kancil.

Selama shooting lima hari itu, wajah Subani selalu jadi merengut setiap kali jimmy-jib mulai dipasang. Dan hanya dia satu-satunya orang yang merasa sangat terganggu dengan benda itu. Sebabnya nggak lain karena jimmy-jib sepanjang 12m itu memberinya kesulitan yang serius untuk menata cahaya.

"Saya mau taruh lampu dimana Mbak, kalo ada benda itu. Seluruh dunia di-shooting. Bingung saya ngatur lampunya gimana" katanya padaku dengan wajah masam. Aku cuma tersenyum. Hehehe, kebayang susahnya. Karena jimmy-jib ini memang memungkinkan kamera bergerak liar namun terkendali ke segala arah, merekam tiap sudut, dan memberi kesan menyeluruh pada rekaman yang dihasilkan.

Sampai hari ini, aku nggak tau siapa nama Pak Operator Jimmy-jib. Dan sampe hari ini juga aku belum pernah denger suaranya. Abis, orangnya pendiem banget. Dia mengendalikan benda sepanjang itu dengan sangat cool. Kalo kata Agus Pande, jadi operator jimmy-jib itu susah banget. Karena dua tangan, kanan dan kiri bekerja dalam ritme yang berbeda. Yang satu tangan untuk panning dan tilting, tangan yang lain untuk memutar arah kamera sampai 360˚ dan kedua tangan bergabung untuk menghasilkan gambar dengan high angle dan low angle. Oyah, sekalian sama zooming in dan zooming out juga. Tampaknya, nggak banyak orang di dunia ini yang bisa mengoperasikannya dengan handal. Karena disini, ada daftar pemilik/operator jimmy-jib di berbagai lokasi di dunia.

Bahkan setelah shooting nyaris berakhir, Subani masih punya cerita. Aku menemukan dia sedang bertanya-tanya sama Chef Bagiana mengenai masak memasak Bebel Betutu. Setelah diselidiki lebih lanjut, Subani ternyata hobi masak! Chef lalu memberinya sejumlah tips untuk menaklukkan bebek, ayam dan ikan dengan panci presto.

Siangnya, waktu semua sudah selesai makan, the last lunch nih, ceritanya... Iman maju ke depan dan kasih farewell speech, mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang baik antara kru, gank tanjidor pimpinan Donny-Yana dan Komaneka. Menimpali Iman, Nova juga membalas dengan speech yang nggak kalah manisnya. Lalu dengan penuh percaya diri, Subani memberikan testimonialnya "Saya senang karena kru diperlakukan dengan baik. Makan nggak pernah telat. Belum bangun aja makanan udah datang". Hihihi, kayaknya ini setengah menyindir jam kerja yang dimulai pukul 05.00 atau 05.30 setiap hari, sehingga wake up call pada pukul 04.00 atau 04.30 dilakukan bertepatan dengan datangnya kopi dan sarapan pagi.
Setelah itu, Subani meneruskan..."Oyah, saya juga merasa sangat terbantu karena kami nggak dibiarkan bekerja sendiri. Selalu ada staff Komaneka yang mau memberi bantuan. Dan itu, mobil koki juga sangat membantu"

Mendengar istilah 'mobil koki', semua yang ada di ruangan ketawa ngakak tak terkendali. Tinggallah Subani terdiam dengan wajah merah padam bersemu ungu karena malu, setelah sadar kalau seharusnya yang dia sebut adalah 'mobil buggy'. Hihihi...

DateMonday, April 07, 2008   Comment

akhirnya aku nonton Ayat-ayat Cinta. nggak kalah sama para menteri, Jusuf Kalla, dan SBY.

tindakan yang impulsif sebenarnya, karena keputusan menontonnya hanya setengah jam sebelum berangkat, dan tentulah dorongan itu datangnya dari godaan acara infotainment yang dengan gigih setiap hari menyinggung-nyinggung tentang film ini.

kesimpulanku adalah:
Ayat-ayat Cinta bercerita mengenai seorang laki-laki alim yang tampan dan digilai oleh banyak perempuan, yang seluruhnya penuh inisiatif. terbukti, ketika para perempuan itu menyadari perasaannya, mereka segera menulis surat cinta. dan ada diantara surat-surat itu yang diberikan langsung padanya. namun demikian, meskipun menerima surat dari berbagai jenis perempuan, dan namanya ditulis di dalam diary, lengkap dengan foto-foto, tapi tidak pernah sekalipun Fahri membalas surat, atau mengirim surat pada salah seorang diantara perempuan-perempuan yang jatuh cinta padanya itu. walopun tampak dia menaruh hati pada salah satu diantara mereka.

aku setuju bahwa nilai-nilai Islam yang digambarkan dalam film itu adalah hal-hal yang luput dari perhatian publik saat ada pemberitaan mengenai terorisme, Islam radikal-fundamentalis, dan film Fitna. dan ini adalah cara penyampaian yang sejuk. bukan seperti sweeping nggak penting yang mengatasnamakan agama, dalam suasana panas, di hari yang terik, dan membuat hati seperti terbakar. ia terasa sejuk karena dibalut wajah yang cantik dan tampan, kalimat yang lemah lembut, fotografi yang indah dan AC yang dingin menghembus penonton yang duduk di kursi empuk.

tapi cara penyampaian yang sejuk ini tidak dibarengi dengan editing yang smooth dan mata sutradara yang jeli. Hanung, masa kamu nggak lihat mic yang menggantung di samping Surya Saputra pada adegan dia duduk di kursi-sofa warna merah itu?
lalu apakah Ayat-ayat Cinta juga disensor? rasanya nggak mungkin ada adegan ranjang yang hot dan bikin badan panas dingin jantung berdebar dalam film itu. ah, well... kecuali kalo Fedi Nuril sedang di-close up, atau dia duduk tertegun memakai kaca matanya yang oke itu. aduh... kok keliatan ganteng dan menggiurkan ya?

eh, sampe mana aku tadi?
ah, ya! sensor. aku cuma heran, kalo bukan karena disensor, apa ini editingnya yang parah sehingga perpindahan dari satu adegan ke adegan lain terasa sangat nggak enak. rasanya seperti waktu selimut direnggut paksa ketika kita masih pengen tidur. jika Ayat-ayat Cinta adalah satu set yang dimainkan seorang DJ, perpindahan antar adegannya setara dengan kalo si DJ mainin lagunya pake dua tape deck. jadi kalo mo ganti lagu, dia matiin dulu tape yang satu, trus menyusul ada tape berikutnya yang dipencet tombolnya, langsung masuk ke refrain.
sangat mengganggu.

memang sejak awal aku nggak mengharapkan film ini akan groundbreaking seperti Atonement atau kuat seperti La Vie En Rose. tapi setelah nonton, aku semakin nggak ngerti. apanya sih yang membuat film ini segitu hebohnya?
uhm, tentu saja selain Fedi Nuril dan kacamatanya.

DateSunday, April 06, 2008   Comment

nenekku di Pacitan mungkin sekarang ini agak khawatir sama pergaulanku. beliau tahu aku pernah ikutan acara Pesta Blogger di Jakarta, yang kuceritakan dengan bangga karena dua hal. pertama, karena aku adalah manajer fans club-nya Enda Nasution, ketua panitia acara itu. kedua, karena di acara itu aku seruangan sama Pak Mentri Muhammad Nuh.

tapi akhir-akhir ini, Simbah mungkin mendengar kalo blogger itu ternyata ada yang negatip dan ada yang positip. dan karena yang disebut negatip itu salah satunya adalah Enda, aku yakin Simbah sekarang sedang was-was dan berharap-harap cemas, kuatir cucunya yang paling cantik ini terjerumus pergaulan yang salah.

Simbahku, dan juga orang-orang awam lainnya, boleh jadi mengira kalau blogger ini semacam aliran ideologi baru yang berbahaya, setara dengan Marxis atau Anarkis. karena ada blogger negatip yang kerjaannya melawan pemerintah dan menentang undang-undang. buat simbahku, ini mungkin sama gawatnya dengan kalau aku jadi anggota Gerwani yang underbow PKI. dan karenanya, blogger mungkin bisa juga jadi istilah untuk gerakan separatis, seperti Zapatista, atau Macan Tamil.

lalu, ada juga yang dengan semena-mena menuduh blogger telah mengubah tampilan halaman depan situs Depkominfo dan Golkar. sesuatu yang pada masa sebelum keganjilan ini dimulai biasanya dilakukan oleh hacker. aku yakin hacker yang asli pada bete deh, dengerin sebutan yang menghina ini. soalnya, aku yakin ada sejumlah besar blogger di seluruh dunia yang nggak punya kemampuan teknis yang cukup untuk jadi hacker. mereka hanya punya dua modal, yaitu kadar narsis yang berlebihan dan urat malu yang udah hampir putus. makanya bisa curhat panjang lebar di dunia maya, membuat orang bisa membaca semua rahasia dan jati dirinya yang asli. salah satu contohnya ya, aku ini. yang blognya berisi cerita remeh dalam hari-hariku yang tentunya sama sekali nggak penting buat orang lain. yang isinya curhat dan komentar-komentarku tentang hal-hal yang buat orang lain nggak ada artinya. sementara yang namanya hacker itu kan seperti dukun yang bisa melakukan hal-hal ajaib di internet. jadi tuduhan bahwa blogger bisa nge-hack itu emang penghinaan besar-besaran buat hacker. lebih menghina lagi karena yang dituduh itu Enda. yang blogger tapi blognya jarang diupdate.

gile bener, masalah ini sebegitu gawat sampai aku merasa perlu ikut berkomentar, nggak kalah sama pakar IT, pakar Telematika, pakar Teleconference dan pakar Telemarketing.

mereka yang berusaha meluruskan masalah ini akan membawa-bawa istilah cracker untuk menyebut orang yang masuk ke jaringan Internet dan melakukan perusakan. padahal setahuku, cracker itu adalah biskuit asin (atau kadang-kadang ditaburi gula pasir) yang sangat cocok jadi teman minum teh. selain Khong Guan, merek cracker lain yang juga oke adalah Roma.

dan aku menggaring.
*keluh*

DateThursday, April 03, 2008   Comment


mulanya, Dini datang mengetuk pintuku tiga puluh menit menjelang tengah malam. aku yang udah ngantuk, membuka pintu dengan mata setengah terpejam. sejak sehari sebelumnya, dia memang sudah bilang kalau mau datang untuk menginap. tapi aku nggak nyangka kalau dia akan datang selarut ini.

sambil cengengesan, dengan senyum yang mencurigakan karena terlalu lebar dan terlalu nggak beralasan, dia meletakkan barang-barang yang dibawanya, termasuk sebuah kotak putih besar yang mengingatkanku pada kotak sanggul dan segala jenis jepit rambut buat memasangnya, milik mama di rumah.

tapi ternyata isi kotak itu adalah empat potong strawberry shortcake yang terlihat enak dan menggiurkan. dan sebatang lilin berwarna merah. "kamu tiup lilin yaa" katanya masih dengan senyum yang terlalu lebar itu tadi.

Dini, Fabio, Giovanni dan istrinya (yang aku belum pernah ketemu), masing-masing membeli satu potong kue untukku. oh... aku jadi terharu.

tepat tengah malam, aku meniup lilin, sambil ikutan senyum-senyum juga. lima detik kemudian, telepon berdering dan Mahén mengucapkan selamat, lalu bikin speech yang begitu manis aku pikir aku nggak akan pernah bisa menandinginya kalo dia yang ulang tahun. makasih ya, sayang...

ulang tahun ato enggak, kalo udah lewat tengah malam, aku harus tidur karena begadang adalah salah satu pantangan yang harus betul-betul kuhindari sekarang ini. selain dua halaman daftar lainnya. jadi nggak sampai sejam setelah itu, aku langsung tidur.

bagian yang paling mengherankan adalah, Mahén jadi satu-satunya orang yang berhasil menelepon pada tengah malam. entah kenapa, mereka yang berniat melakukannya nggak ada satu pun yang berhasil. makanya tidurku nggak terganggu sampe pagi, dan telepon pertama di pagi hari tanggal 30 itu pun darinya.

lalu berturut-turut ada Mama (yang sebelumnya sudah mengirim sekotak hadiah), Ayin yang sudah menghidupkan alarm karena pergi tidur jam 10 tapi nggak denger waktu alarmnya bunyi, Adis yang juga ngidupin alarm tapi cepat-cepat mematikannya waktu berbunyi dan baru paginya sadar alarm apa yang berdering tadi malam, Bessy, Wesly-Lea-Indra-Jay yang katanya juga pada tepar malam sebelumnya, sampai Bunjems. dan semua telepon serta sms-sms itu membuatku tetap ada di tempat tidur sampai jam 1 siang. menyusul ada juga Ari dan Henny yang menelepon belakangan.

hari berikutnya aku ketemu Azlina, akhirnya, dan pergi makan malam ke Nomad. sejak awal, udah terasa aneh, karena kami mendapatkan meja di tengah-tengah ruangan, seperti sedang bersiap untuk mencuri perhatian dari semua pengunjung restoran. kami makan dengan penuh semangat, penuh semangatnya harus kugarisbawahi karena kami makan banyak sekali, tampaknya itu porsi yang cukup untuk 4 orang. hihihi, mungkin juga karena banyak cerita, update dan gosip yang kami pertukarkan sepanjang makan malam.

menjelang dessert, entah kenapa Azlina bilang sama waitress kalau ini birthday dinner-ku. nggak lama kemudian, musik restoran yang mula-mula diambil dari Lighthouse Family-Greatest Hits tiba-tiba berubah jadi lagu ulang tahun. innocently, aku dan Azlina menoleh kesana kemari melihat siapa yaaa... yang ulang tahun juga malam ini. tapi lalu jadi berpandangan waktu kami melihat staff restoran semuanya mendekati meja kami, dan pandangan semua orang tertuju pada mejaku, dan wajahku yang merah padam dan tersipu-sipu melihat piring dessert yang dihiasi whipped cream yang membentuk huruf 'Happy Birthday' dan ada satu batang lilin hijau menyala diatasnya. aku mendengar orang-orang menyanyi sampai selesai, dan masih dengan wajah nggak karuan aku meniup lilin. restoran yang penuh membahana oleh tepuk tangan. aku terlalu malu sampai nggak berani noleh liat orang-orang. tapi Azlina bilang, mereka semua bertepuk tangan. hihihi... thanks yaa...

anyway, the highlight of my birthday is this book. Heavier than Heaven; the Biography of Kurt Cobain. ah... kalo begini, aku mau deh ulang tahun tiap hari;)

Shoutbox



Instagram