alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi

DateFriday, February 29, 2008   Comment

guruku yang pertama di sekolah dasar adalah Bu Kristi. aku nggak ingat lagi siapa nama lengkapnya. yang jelas, selama satu tahun pertama di SD, beliau yang mengajarku. aku inget dulu kayaknya sepulang sekolah aku suka tinggal di dalam kelas dan ngajakin beliau ngobrol. abisnya di rumah orangtuaku jelas nggak ada, dan yang ada cuma pembantuku. dan oh, alangkah membosankan ngobrol dengan pembantu di rumah. lagian kerjaan dia banyak. palingan aku ditinggal main sendiri.

Bu Kristi memulai tahun pelajaran dengan bercerita. selama dua hari berturut-turut, ia menceritakah dua kisah. kisah yang pertama adalah kisah yang dikarangnya sendiri. tentang dua anak dari satu keluarga yang sangat bertolak belakang sifatnya. si kakak adalah anak manja yang mementingkan diri sendiri, mata duitan dan terjebak pergaulan yang tidak baik. akhirnya jadi penjahat. hari itu aku kenal yang namanya sampah masyarakat.

sementara si adik adalah anak yang terpuji, baik hati, sopan, selalu menuruti nasihat orang tua, pintar, rajin belajar dan hidupnya mulus tanpa cacat sampai dia menjadi orang yang berhasil dan kaya raya karena gemar menabung juga. yoih, deh!

pada hari kedua, ia menceritakan kisah Ramayana. aku ingat di bagian akhir cerita aku sempat merasa 'aneh' karena Sinta harus terlebih dahulu dibakar untuk menunjukkan kesetiaannya pada Rama. padahal menurutku, kesakitan Sinta tak kalah parahnya dengan kesusahan Rama. ditawan raksasa gitu loh, bok! bentuknya aja udah bikin takut. dan ngedrop.

sepanjang yang kuingat, aku selalu suka dongeng dan cerita. seperti dongeng yang setiap malam diceritakan Mama atau Papa sebelum aku tidur, atau kisah-kisah Nabi yang dibacakan untukku, sampai aku bisa membacanya sendiri. dan juga ratusan, atau mungkin ribuan kisah yang sudah pernah kubaca seumur hidupku.

waktu blog ini dipublikasikan pada bulan Desember 2004, aku mulai berbagi kisah yang kutulis sendiri. dan ceritaku hari ini adalah cerita bernomor 300.

DateThursday, February 28, 2008   Comment



adalah Chuck Norris. dan waktu menelusuri hotlinks dalam tulisan di blognya Nenda tentang selebriti kesayangan kita semua, aku mendapatkan keterangan menarik mengenai si oom yang satu ini. bintang film laga yang dikenal dalam perannya di serial Walker, Texas Ranger. kalo di Indonesia sih, film-filmnya adalah salah satu sajian wajib di berbagai televisi swasta, sehingga hampir setiap bulan, ada aja filmnya yang diputer.

of course. he's a very important person because he determines the earth's population. in fact, There is no theory of evolution. Just a list of creatures Chuck Norris has allowed to live.

kalo ngeliat wajahnya, kita akan mendapatkan kesan garang, gagah dan tangguh. dengan jenggot yang mooi (seperti jenggotnya Enda tapi lebih banyak dan lebih pudar warnanya), sorot mata tajam, tampang serius, dan kemampuan yang mematikan, Chuck Norris (yang katanya masih keturunan Surabaya ini) menyikat siapapun yang menghadang, dengan tendangan berputarnya. bahasa kerennya roundhouse kick.

tentang sorot mata yang tajam itu, beberapa orang bilang kalau Chuck Norris doesn't actually write books, the words assemble themselves out of fear. dan kalopun bukunya udah ada, Chuck Norris doesn't read books. He stares them down until he gets the information he wants.

aku inget dulu RCTI sempat muter serial Walker, Texas Ranger sore-sore, walopun sekarang udah nggak lagi. yang waktu itu aku nggak tau adalah, Chuck Norris's show is called Walker: Texas Ranger, because Chuck Norris doesn't run. dan kalo dia marah, bisa jadi sangat berbahaya. soalnya... Someone once videotaped Chuck Norris getting pissed off. It was called Walker: Texas Chain Saw Massacre.

yang aku tulis ini, hanyalah beberapa fakta yang beredar tentang Chuck Norris, loh. dan buat kamu-kamu-kamu yang suka film action, kamu mesti tahu betapa hebatnya bintang yang satu ini, karena dengan kesibukannya membantai musuh, dia masih ingat untuk beramal dan mendukung riset kedokteran semampunya. kabarnya, dia menyumbangkan sekurangnya 6000 mayat musuh-musuhnya untuk riset kedokteran! selain itu, dikabarkan kalau Chuck Norris' tears cure cancer. Too bad he has never cried. Ever.

hmmm... aku juga tau sih kalo Chuck Norris cool aja dengan semua hal yang diributkan orang sejak tahun 2005 ini, bahkan dia merasa tersanjung! betapa rendah hati dan lapang pemikirannya. tapi ya itu tadi... persoalannya adalah aku agak khawatir dengan keselamatan jiwaku setelah menulis postingan ini. abis, gimana yaa... If you can see Chuck Norris, he can see you. If you can't see Chuck Norris you may be only seconds away from death. dan sekarang aku lagi nggak bisa ngeliat dia!
*was-was*

mungkin sebaiknya aku kabur sekarang dan minta bantuan sama Raymond. bagaimanapun juga, dia disayang semua orang. tapi kok barusan aku dapet sms ini ya?
Everybody loves Raymond. Except Chuck Norris.
*lari tunggang langgang*

DateWednesday, February 27, 2008   Comment



film karya Coen Brothers pertama yang aku tonton adalah O' Brother Where Are Thou?

waktu itu aku menontonnya tanpa tahu siapa yang bikin naskah, atau sutradaranya, atau produsernya. sekedar nonton dan menertawakan George Clooney, John Turturro dan Tim Blake Nelson yang berperan sebagai pelarian dari penjara. ceritanya memang kocak banget. nggak habis-habis aku ketawa. dan terutama geleng-geleng kepala sama ke-kekeuh-an Everett untuk tetap menjaga rambutnya rapi dan klimis dengan Dapper Dan dan hairnet. scene yang tak terlupakan tentu waktu puluhan kaleng berisi pomade pelicin rambut itu mengapung dilanda air yang dialirkan menjadi bendungan...

setelah nonton filmnya, aku mengumpulkan mp3 lagu-lagu soundtracknya, dan masih menjadikan The Soggy Bottom Boys salah satu band kesukaanku sampai sekarang.

aku baru kenal kakak beradik yang selalu kompak dan sering saling menyelesaikan kalimat satu sama lain itu waktu dikenalkan pada The Man Who Wasn't There. "film ini dari genre film noir, dan cukup berat. judulnya aja aneh. kalo he wasn't there, why bother? mestinya gitu 'kan?"betul-betul cara pengenalan yang nggak menarik. tapi kok ya aku ikutan nonton film yang sepanjang ceritanya diiringi denting piano yang syahdu ini. walopun bener, nggak selesai. aku udah keburu ngantuk. hihihi...

ide yang paling menarik buatku sebenarnya adalah bagaimana dua saudara ini seperti lebur jadi satu dalam setiap film yang mereka hasilkan. sepertinya, Ethan dan Noel yang tidak kembar ini, terdiri dari satu jiwa dan pikiran, yang dibelah dalam dua tubuh.

lalu suatu hari aku menemukan satu box berjudul The Coen Brothers DVD Collection di Bee House. aku diijinkan meminjam ("tapi jangan sampe rusak!") film-film yang berharga itu. selama berhari-hari, aku menonton semua film mereka, berturut-turut dari Blood Simple, Raising Arizona, Miller's Crossing (yang penuh darah dan sangat depressing), Barton Fink, The Hudsucker Proxy, Fargo (tentang kasus yang nyusahin ibu-ibu hamil), The Big Lebowski (yang bikin aku sibuk dengerin The Rolling Stones lagi), Intolerable Cruelty (yang menjelaskan betapa rese'nya lawyer itu...hihihi), The Ladykillers dan Bad Santa. oh, yang jadi tokoh perempuan di Bad Santa adalah Lauren Graham, ibunya Rory di Gilmore Girls, serial yang selalu nemenin aku nungguin giliran siaran di hari Minggu.

semakin banyak yang aku tonton, semakin kagum aku sama Coen Brothers. film-filmnya keren! tokoh-tokoh yang ada dalam filmnya selalu menarik. bahkan warna filmnya yang cenderung sepia (ya, sebagian besar kan film noir) juga jadi suatu hal yang menambah keunikan karya mereka.

waktu aku baca obrolan antara Cormac McCarthy, Ethan dan Noel Coen di Newsweek, aku langsung tertarik sama No Country for Old Men. dan setelah menonton film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama itu, aku bisa bilang kalau jelas-jelas film ini memakai pendekatan yang nggak biasa. caranya menghadirkan kesan seram, deg-degan dan thriller juga sangat menarik. oh... para pembuat film horor di Indonesia mestinya dididik dengan nonton film ini. dan yang lebih hebatnya lagi, masih ada sisi satire dan lucu yang bisa didapatkan dari film ini. yang bisa bikin cekikikan dan ngakak juga, disela-sela kengerian dan kesan dingin-beku-mematikan yang didapatkan dari tokoh Anton Chigurh yang dimainkan dengan sangat baik oleh Javier Bardem.

adegan yang paling kocak tentu adegan pengejaran oleh anjing. dengan penuh keyakinan Llewelyn Moss terjun ke sungai lalu jadi panik setelah mendapati kalau tidak hanya buas, anjing itu juga terlatih berenang dengan baik, dan bisa mengejarnya lebih cepat di air.
*wink*

aku ikut bertepuk tangan dengan gembira waktu tahu film yang oke banget ini dapat 4 Oscar untuk film terbaik, sutradara terbaik, naskah adaptasi terbaik dan pemeran pembantu pria terbaik. well done, Coen Brothers!
*grin*

PS. lalu pertanyaannya... siapa yang mau beliin aku The Coen Brothers DVD Collection?

DateTuesday, February 26, 2008   Comment



Onet sayang,
empat tahun sudah nyaris berlalu sejak pertama kali kita ketemu. pertemuan itu juga menandai awal sebuah hubungan yang sangat penting dalam hidup kamu. dan Phillipe.

lalu pertemanan kita membentang melewati batas kota, dan batas pulau. kamu yang mula-mula di Bandung dan aku yang di Malang bertemu lagi di Ubud dan saling menemani. lalu terasa, kamu seperti menjadi saudara perempuan yang lain lagi untukku. ada saat senang dan sedihku. ada saat gembira dan susahku.



dan aku menyaksikan hidupmu. seperti kamu jadi bagian hidupku.
ada saat-saat ketika percakapan kita terhenti oleh tangis haru yang mencekat di tenggorokan. ketika hal-hal yang sulit terjadi dalam hidup kita masing-masing. lalu bersama air mata yang mengalir itu, kita berpelukan. saling berbagi dan menguatkan.

waktu kamu meminta restuku setelah akad nikah kemarin, aku merasa seperti sedang melepaskan saudara, bagian dari jiwaku, untuk menempuh perjalanan baru. tapi seperti yang kukatakan saat memelukmu, aku sangat bahagia untuk kamu. aku telah menyaksikan hidupmu selama empat tahun yang berat dan panjang. dan aku berharap kamu selalu berbahagia menjalani hidupmu selanjutnya. kamu menerima seluruh doa dan restu yang aku punya.

dan seperti selalu. aku akan terus mendukungmu.

DateMonday, February 25, 2008   Comment


Michael Stipe does not feel comfortable writing about the upside of life. For him, the words that express love are often clich├ęs, the ability to capture thrill and joy, without sounding maudlin, trite or overly sentimental, is a skill even some of the best songwriters don't possess. The language of the lover and the lovelorn in pop is worn out, stale.
basi. gitu kata Stipe, yang kemudian dikutip sama David Buckley dalam buku R.E.M Fiction; An Alternative Biography.

aku setuju sama Stipe. semua kata cinta yang tampaknya begitu mudah diucapkan dan diulang-ulang-ulang dalam lagu-lagu pop itu membuat maknanya semakin lama semakin dangkal. dan jadinya sudah nggak berarti lagi, karena sudah terlalu sering dipakai, bahkan untuk hal-hal yang nggak perlu. lalu kalo orang bilang masih belum menemukan cinta, atau masih mencari cinta, rasanya jadi overrated. nyari apa sih? cinta?... banyak tuh, disebar-sebar di lagu-lagu cheesy. hihihi...

itulah sebabnya sepanjang perjalanan karir mereka, R.E.M nyaris nggak pernah bikin lagu yang temanya tentang cinta-cintaan. aku bilang nyaris, karena ada dua lagu yang memang bercerita tentang tema ini, diluar tema-tema lain dalam lagu-lagu R.E.M yang emang dari sananya udah nggak biasa. thanks to Stipe yang artistik dan selalu sibuk menenggelamkan diri dalam berbagai hal, entah itu kebudayaan, kesenian, politik, agama, sejarah, aktivisme dan bahkan dongeng serta legenda dari masa lalu, lirik lagu-lagu R.E.M jadi punya rentang bahasan yang sangat luas.

misalnya "What's The Frequency, Kenneth?" diilhami oleh peristiwa penyerangan yang dilakukan terhadap seorang anchor CBS. yang lalu jadi lagu beraroma surreal, diawali dengan sebuah pertanyaan dan diteruskan dengan...

I was brain-dead, locked out, numb, not up to speed
I thought I'd pegged you an idiot's dream


atau lagu "Drive" yang salah satu liriknya adalah homage untuk Pyton, band yang juga berasal dari Athens-Georgia ...hey kids, rock and roll....sebetulnya berasal dari lirik lagu mereka. sementara lagunya sendiri kata Stipe menunjukkan dukungan R.E.M buat Motor Voter Bill, salah satu undang-undang populer yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Bill Clinton.

balik lagi ke pada soal lagu cinta, lagu pertama yang bisa dengan mudah disebut lagu cinta-nya R.E.M adalah "The One I Love" dari album Document, yang dirilis tahun 1987. lagunya cerah ceria, suara gitarnya Peter Buck juga enak banget didengerinnya. liriknya manis dan sederhana.

This one goes out to the one I love
This one goes out to the one I've left behind

A simple prop to occupy my time

This one goes out to the one I love

tapi kalau diperhatikan baik-baik, apa iya sih ini lagu cinta? karena kalo emang iya... masa sih kekasih bisa direduksi jadi 'a simple prop to occupy my time'? hihihi...
bukannya fungsi pacar semestinya bisa lebih banyak dari sekedar alternatif untuk membunuh waktu (dan kebosanan)?
*ngakak*

lagu kedua yang (akhirnya) memang benar lagu cinta adalah "At My Most Beautiful". dan seperti sudah bisa diduga, kalau band-band yang cool seperti ini bikin lagu cinta, liriknya pasti dahsyat dan selalu sukses bikin orang jadi terdiam seribu bahasa, kehabisan kata-kata. speechless.

I read bad poetry Into your machine
I save your messages

Just to hear your voice

You always listen carefully

To awkward rhymes
You always say your name,

Like I wouldn't know it's you,

At your most beautiful


At my most beautiful
I count your eyelashes, secretly
With every one, whisper I love you


I let you sleep.
I know you're closed eye watching me

Listening, I thought I saw a smile

ini adalah lagu cinta favoritku selama tiga minggu terakhir. setiap kali mendengar dan ikut menyanyikannya, pikiranku selalu melayang padamu. sayang sekali aku belum bisa menulis lagu cintaku sendiri. jadi untuk sementara, lagu ini yang kupinjam dan kuberikan untukmu.

DateSunday, February 24, 2008   Comment

kantorku bekerjasama dengan satu travel agent paling besar di Jepang untuk bikin semacam booth, tempat turis-turis Jepang yang sedang berkeliling Ubud bisa menunggu shuttle bus atau sekedar melepas lelah. idenya sederhana. tiap hari bus mereka akan datang dua kali, menurunkan penumpang dan kemudian menaikkan penumpang lagi. biasanya ini terjadi antara jam 11 sampai paling sore jam 14.

tentu saja selama masa-masa itu dua toilet yang ada di depan jadi sangat sibuk. tak henti-hentinya dipakai. kalau aku sendiri mau memakainya dan keliatan yang ngantri banyak, aku lebih memilih kabur ke dekat lobby, atau lebih jauh lagi sekalian ke spa.

satu hal yang kuherankan, orang-orang Jepang ini gemar sekali membanting pintu. padahal pintu toiletnya baik-baik aja. engselnya sering diminyaki, nggak berkarat, nggak berat dan nggak bermasalah. tapi setiap hari, aku bisa dengar minimal 5 kali pintu dibanting.
bam! bikin sakit telinga.

kalo udah nggak tahan biasanya aku mengeluarkan keluhan panjang-pendek dari ruanganku. dalam bahasa Indonesia ato bahasa Jawa.
"harus dibanting ya, bok... pintunya?"

hal kedua yang juga bikin aku terheran-heran... sekali lagi, ini hanya terjadi sama orang Jepang dan nggak terjadi sama orang-orang dari negara lain, entah itu orang Eropa, Korea atau Amerika. yeah, aku jadi pengamat perilaku pengguna toilet dari berbagai negara secara nggak sengaja.

aku ulangi.
hal kedua yang bikin aku heran adalah, sering sekali mereka mengalami kesulitan keluar dari kamar mandi. seolah-olah terkunci. bener, deh! setiap hari adaaaaaa aja yang mengalami ini. tadinya, aku pikir karena ada masalah dengan kunci pintu kamar mandi. aku minta orang untuk memeriksanya, dan mencobanya berkali-kali. dan ternyata baik-baik aja. trus aku inget kalo kejadian ini hanya dialami orang-orang dari negara tertentu.

setelah dua minggu berlalu, kami jadi tau kalau mereka punya kebiasaan lucu. kalo ngunci pintu, muter kuncinya dua kali. tapi waktu membukanya, cuma muter kunci sekali, terus langsung diguncang-guncang dengan nggak sabaran. hmmm... selalu begitu sebabnya. ya jelas aja, pintunya ngotot nggak mau dibuka. jadilah setiap kali salah satu staff harus buru-buru ke depan toilet dan meminta supaya yang bersangkutan memutar kuncinya sekali lagi. itu pun seringkali nggak langsung dikerjain. hehe...
dan nanti, nggak berapa lama kemudian, kejadian itu akan berulang.

semua ini udah berlangsung beberapa bulan, dan hanya mereka yang begitu, memang. orang-orang Jepang yang aneh.

DateWednesday, February 20, 2008   Comment

waktu posting lirik-lirik ini ke Kampung Gajah, aku cuma berniat membagi Soundtrack of The Day. iyah... aku masih dengerin The Cardigans terus, dan lagu Hold Me ini diambil dari album Long Gone Before Daylight.

kemarin aku nge-loop lagu ini seharian.

Hold me, don't ever leave me
Know me, never believe me
Stay here but don't get too near me
Leave me, leave me alone
But don't ever let me go

Show me, but don't ever teach me
Touch me, don't try to reach me
Hold me but don't ever keep me
Baby, don't ever let me in

And don't let me win

'Cause I leave myself to you
Yes, I release myself with you
I believe in me and you
So don't ever say you do

.... dan serusnya. lirik lengkapnya cari sendiri, yah!

balasan-balasan awal sebetulnya bikin aku seneng, karena terus ada yang ikutan posting lirik lagu lainnya, yang judulnya mirip-mirip. misalnya Hold Me, Thrill Me, Kiss Me, Kill Me-nya U2, atau Hold Me, Thrill Me, Kiss Me-nya Gloria Estefan, yang ternyata lagu kebangsaannya Joan.

tapi tentu bukan Kampung Gajah namanya kalo satu thread nggak belok ke arah lain.

dan yang menyimpang dari jalurnya kali ini Mbak DheeYan alias Bunda Endhoot. aku tau lah dia melakukan ini karena dukungannya yang nggak abis-abis padaku. sekalian juga aku tau dia emang kesenengan karena kemarin sempat jadi juru bicara waktu bikin press lilis. hihihi.

dengan demikian, url yang Bunda bikin, valid.

Date   Comment

Ari sakit dan sampai dirawat di Rumah Sakit Bintaro.
ini berita besar, soalnya selama empat belas tahun aku kenal dia, nggak pernah sekali pun sahabatku ini masuk rumah sakit. sekalinya sakit parah adalah sakit tipes, dan itu pun cuma pindah dari kamarnya di lantai 2 ke kamar Ochie yang letaknya dibawah. jadi nggak harus naik turun tangga kalo mau ke kamar mandi, ato mo ambil makanan di dapur.

makanya pas malem-malem dia telepon dan bilang "tebak deh, gue ada dimana?" aku nggak bisa nebak dan balik nanya "dimana?"
*dasar akunya males*

dari badannya yang berbintik-bintik merah, serta kadar trombosit yang turun, dokter memvonis kalo Ari kena Demam Berdarah. dan karena dia keliatan tenang-tenang dan sehat-sehat aja, aku malah jadi makin khawatir. setahuku, kalo kayaknya baik-baik saja, itu malah demam berdarah dari jenis yang berbahaya.

dia bilang, rencananya akan dirawat di rumah sakit selama 3 hari.
"kalo lebih dari tiga hari, ntar gue dateng kesana"
I mean it.

di hari kedua, ketahuan kalau ternyata yang menyerangnya bukan DBD, tapi dicurigai keracunan obat atau terserang satu virus yang belum ketahuan apa pastinya. waktu itu, dokternya bilang kalo Ari kemungkinan harus di-isolasi.
hihihi, ini kayak penjahat kambuhan yang berbahaya kalo dijadikan satu dengan narapidana yang lainnya di penjara. hihihi. seberbahaya itu ternyata si Ari.

hari ketiga, ketahuan nama virusnya Exanthem. keren ya?
ini masih segolongan sama penyakit-penyakit semacam campak dan cacar air. sama-sama disebabkan virus, dan sama-sama bikin bintik-bintik di kulit. apa mungkin Lindsay Lohan juga punya virus ini ya?
*masih terganggu sama hasil foto-fotonya pura-pura jadi Marilyn Monroe*

cuma, penjelasannya di wiki kok malah begini;
An exanthem is a widespread rash, usually of viral origin, and usually occurring in children. children? Ari? padahal dia lebih tuwa daripada aku.

penjelasan tambahannya, emang ada jenis virus yang menyerang trombosit, hal itu menjelaskan kenapa kadarnya sempat turun, sehingga dicurigai DBD. tapi mungkin juga ini karena reaksi yang berlebihan terhadap obat, terutama antibiotik.
makanya, Ri... jangan suka beli obat di wharung. it's not good buat kesehatan kamyu.

welcome home, yaaa...

DateMonday, February 18, 2008   Comment



udah berhari-hari niat untuk nulis tentang lagu ini sejak Wesly ngasih 46 lagu dari album The Best of Cardigans. aku suka band ini. musiknya menyejukkan hati, enak dipake buat goyang-goyang kaki sembari beresin kerjaan yang nggak ada habisnya. gimana mo abis, lha wong kerjaan semuanya ditumpuk terus ditunda. nggak dikerjain. emang siapa yang mo disuruh beresin? hihihi...

suatu siang aku loop lagu For What It's Worth berkali-kali. pertamanya cuma didengerin, lalu ikutan nyanyi, lama-lama hapal liriknya juga. menikmati melodinya yang riang, tampak menarik dinyanyikan pada saat pool party sore-sore, dengan minuman segar dan air yang bercipratan dimana-mana. bagaimanapun juga, ini lagu cinta. dan ini lagu cinta yang bahagia.

tapi kalo didengerin lagi baik-baik, ada yang berbeda dari caranya The Cardigans menyatakan cintanya. normalnya kalo ngomongin cinta kan ya pake kata-kata indah... yang dengan mengucapkannya tanpa nada aja udah terasa indahnya. kadang terlalu manis, sampai dari kata-kata itu bisa mengalir air perasan tebu, atau nira. bisa langsung dijadikan gula kelapa, atau dijadikan tuak dan bikin yang meminumnya mabuk. mabuk cinta.

kata The Cardigans, l.o.v.e adalah the four letter word-the dirtiest word that you could ever said. dan untuk bilang cinta, yang benar-benar cinta, itu kayaknya nggak banget deh.

The four letter word got stuck in my head
The dirtiest word that I've ever said
It's making me feel alright.

For what it's worth I love you
And what is worse I really do
Oh what is worse I'm gonna run run run
'Till the sweetness gets to you
And what is worse I love you!

cara mikirnya mungkin rada mirip dengan lirik lagu Something Stupid.
And then I go and spoil it all
By saying something stupid
Like I love you

para pecinta boys band yang alirannya memang menye-menye, silakan aja protes dan punya pendapat lain. tapi menyatakan cinta dan bilang I love you itu kayaknya sesuatu yang mestinya sangat dihindari, karena bikin suasana jadi nggak seru lagi. yang fun, yang lucu, yang bikin hepi, semuanya hilang karena pernyataan ini.

hmm...
apakah menyatakan cinta berarti kelemahan? semacam penyerahan diri dalam suatu ikatan yang suffocating, yang bikin nggak bisa bernapas dan membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri? kehilangan kebebasan dan kuasa atas ke-aku-an, yang lalu harus dibagi bersama dengan orang lain?
apakah berkomitmen terdengar begitu menyeramkan?

DateThursday, February 14, 2008   Comment

Gerbang Kedatangan - Sukarno Hatta
sejak turun dari pesawat, udah senyum-senyum. waaa... udah sampai Jakarta. angin berhembus sejuk sepanjang jalan melintasi tarmac. perjalanan lancar dan nggak ada delay. membaca "Radiohead - Welcome to The Machine" selama duduk di pesawat, dengan hanya sekali terganggu. waktu melirik ke bangku sebelah kiri, aku menemukan ibu-ibu berusia 40-an yang sedang sibuk mengecat kuku jarinya dengan warna merah darah. jrit! nggak belepotan pula. aku menatapnya beberapa detik dengan sorot mata penuh kekaguman.
pesawatnya kena turbulence 4 kali, lho! sampe harus matiin lampu dua kali selain pas take off dan landing. aku sibuk membaca dan berdoa, ibu ini sibuk mengecat kuku.

masuk ke bangunan bandara, semua lancar. nyaris lengang. senyumku semakin lebar, membayangkan waktu pertemuan yang sudah dekat. aku nggak perlu antri di luggage claim karena bawaanku semua masuk kabin. belok ke kiri, makin dekat dengan pintu keluar. uhm, mulai deh... bayangin adegan pertemuan di bandara seperti di film-film. inget pertemuan di gerbang kedatangan, jadi inget Love Actually... trus jadi inget The Terminal. contoh yang kedua kayaknya salah, deh.

aku teringat kata-katanya di telepon sebelum aku berangkat, yang bikin aku tersipu bersemu merah jambu. dan berima.
"nggak akan susah mengenali kamu di bandara. aku tinggal cari yang paling cantik"

tapi begitulah, masih dengan senyum dan adegan film berputar di otakku yang sok romantis, aku keluar dari gerbang kedatangan terminal 1A Bandara Sukarno-Hatta yang malam itu panas luar biasa.

dan aku disambut oleh... supir taksi serta calo angkutan.

"taksi, mbak?"
"mau ke bandung, neng?"
aku celingak-celinguk ngeliat ke kanan-kiri. orang-orang yang aku liatin pada ngeliatin balik. tapi semuanya nggak ada yang kukenal. ups, ada yang nggak bener, nih.

kukeluarkan hp dari dalam tas dan bergerak ke arah kursi kosong terdekat. masih tetep sambil noleh ke kanan dan ke kiri. masih dengan hp di tangan, aku liat ada sosok yang tampak familiar, kelihatan mencari-cari dari balik pagar hitam pemisah di luar gerbang kedatangan.

kudekati, kayaknya kenal, deh. jangkung, kurus, berjaket hitam, pake topi hitam juga.
*colek-colek*
"kamu nggak ngeliat aku keluar tadi?"
ekspresi wajahnya yang kaget dan agak malu dan terlihat senang nggak akan kulupakan.


Gerbang Kedatangan - Ngurah Rai
aku adalah salah satu dari lima orang terakhir yang turun dari pesawat malam itu. kalo nggak karena duduk kursi yang paling dekat dengan gang, aku males banget desak-desakan menunggu pintu pesawat dibuka. aku nggak suka orang asing memasuki 'ruang pribadi'ku. harusnya mereka berada minimal 30 cm dariku.

sekali ini barangku masuk bagasi. aku santai, kok.
keluar dari luggage claim, cari-cari ATM dan dikasih tau kalo ATM Permata adanya di Keberangkatan Internasional. ugh, males banget. jauh!

untung ada ATM Bersama. yayaya, ini aku sedang promosi terselubung karena udah sering diselamatkan ATM Bersama. I love you, ATM Bersama.

beres dengan urusan ATM, aku pergi ke loket taksi bandara. janjiannya malam ini akan ketemu Iman di Nusa Dua. tapi dia nggak bisa jemput, jadi aku kesana sendiri ajah. sebenernya rada males sih naik taksi bandara, mahalnya minta ampun. tarifnya bisa 40% lebih mahal daripada kalo pake taksi biasa yang ber-argo. tapi ya, sudahlah. apa boleh buat. aku berjalan keluar dari loket diiringi tukang taksi yang sudah membawakan tasku.

"Dian Ina! aku menjemputmu!" tau-tau ada sebuah suara memanggilku.
"he! Pippi!" aku cuma bisa menyerukan namanya karena kaget.
uhm, kayaknya aku udah bilang kalo aku pulangnya akan bareng sama Iman, jadi emang nggak nyangka banget Pippi akan datang menjemput. aku memandang tukang taksi dengan wajah bingung. aku noleh lagi ke Pippi sambil bilang
"aku udah bayar taksi"
"nggak papa, mbak. bisa dibatalkan kok" kata si tukang taksi dengan baiknya.

aku balik lagi ke loket taksi bandara, menerima kembali uangku, mengucapkan terima kasih dan permintaan maafku, sambil senyum manis. jangan ngambek ya, paaak... kataku dalam hati.

aku lalu mengikuti Pippi ke arah parkiran motor. sambil mendengarkan ceritanya yang berapi-api dan bersemangat, tapi hanya bisa kutangkap sepotong-sepotong, karena aku masih sibuk dengan hpku yang berdering-dering tanpa ampun.

aku masih bicara di telepon waktu aku lihat Pippi jongkok, 3 meter dari deretan motor yang diparkir, dan dengan frustrasi mengeluh...
"aku lupa bawa helm buatmu...."

aku cuma bisa ngakak.

DateSunday, February 03, 2008   Comment


waktu blogwalking, aku menemukan blog-post ini, yang membuatku teringat pada percakapanku dengan Papa, tentang adik bungsuku, satu-satunya anak laki-laki di rumah, yang tahun ini mulai masuk kuliah. umur tujuh belas itu kan sedang lucu-lucunya. lagi heboh nongkrong tiap hari sama temen-temen di kampus, yang bilangnya kuliah dan pulangnya tengah malem, hihihi... dan lagi sibuk pendekatan sama sekian banyak gadis sekaligus. pendekatan aja mulu, yang diteleponin tiap hari ganti, tapi nggak ada yang jadi. ahaha...

Papa memang cuma bicara sekilas, tapi aku ngerti lah kalau beliau khawatir dan rada-rada cemas sama adikku ini. terutama sama pergaulannya di luar. yah, gimana lagi. jadi orangtua emang penuh dilema, 'kan. kalau terlalu ketat mengawasi, nanti anaknya tertekan dan nggak bisa berkembang dan berontak. kalau memberi kebebasan, takutnya si anak akan memanfaatkan kesempatan dan jadi lepas kendali. makanya waktu aku bilang "Papa jangan terlalu khawatir sama Memet". dengan nada sedih Papa bilang "abis gimana, namanya juga anak"

aku langsung diem. bener juga, ya.

hal lain yang bisa menjelaskan sikap Papa, adalah karena aku dan adik perempuanku, sama-sama keluar rumah sejak umur belasan. aku pergi umur 18 untuk kuliah di Jogja, adikku masuk asrama sekolah perawat umur 15. itu terjadi di tahun yang sama karena usia kami terpaut tiga tahun. aku kembali ke rumah waktu berumur 23 tahun. dan umur 24 aku pergi lagi. hihihi...

jadi Papa nggak benar-benar mengikuti perkembangan kami (aku dan adikku) pas lagi lucu-lucunya, karena kami tinggal jauh dari rumah. nggak tau kalo aku juga melakukan hal yang lebih kurang sama dengan adik bungsuku. bedanya mungkin cuma aku nggak mendekati cowok-cowok, tapi memilih-milih... mana yang paling ganteng dan paling cool. ahahaha...
menghadapi adik bungsuku adalah pengalaman pertama untuk Papa. pada aku dan adikku, Papa nggak terlalu bisa ikut campur karena tau-tau kami udah jadi aja. aku memilih gaya hidup yang Papa anggap alternatif dan sangat keras kepala sama pilihan-pilihanku. dan aku bersikeras nggak mau tinggal serumah dengan orang tua lagi.

Papa jelas ingin sesuatu yang lain untuk adik bungsuku.

kemarin sore waktu baca buku Ayah vs Anak Lelakinya ini, aku malah jadi senyum-senyum sendiri teringat Papa, dan adik bungsuku. aku pikir buku ini bagus buat dibaca orang awam, karena penulisnya, seorang psikolog dan ibu dari dua anak, bisa memaparkan analisanya dengan bahasa yang sangat mudah dicerna, nggak pake istilah yang aneh-aneh, dan nggak mengutip kesana kemari. yang terakhir ini menurutku kecenderungan penulis baru, yang merasa perlu memakai nama-nama besar untuk menunjukkan bahwa dia pintar dan sudah pernah membaca buku atau teori tertentu. please, deh. kalo mau baca teori orang, nanti aku beli sendiri bukunya.

selain itu, dari analisanya, jelas bahwa Ieda Poernomo Sigit Sidi adalah seorang feminis. seluruh analisanya tidak bias dan sensitif gender. terlihat bahwa ia sangat memahami berbagai persoalan yang disebabkan oleh kontruksi budaya (dan agama), terutama dalam hubungannya dengan peran laki-laki dan perempuan, serta bagaimana dinamika hubungan antara dua gender. hal ini menjadikan kasus-kasus yang ditulis dalam buku ini sangat relevan dengan konteks masyarakat Indonesia. nggak sulit buatku untuk mengingat cerita hidupku, saudara atau temanku, yang disana-sini bersesuaian dengan hal-hal yang ditulisnya.

kalaupun ada hal-hal yang tidak ditulisnya, misalnya hubungan antara ayah dan anak laki-laki yang secara terbuka mengakui kalau ia seorang penyuka sesama jenis, aku rasa itu hanyalah sebuah pilihan, dan bukan kekurangan buku ini.

sayang editornya kurang jeli dan teliti, sehingga ada beberapa alur cerita yang agak membingungkan, atau kurang tepat logikanya. kalo yang ngedit Joan, editor yang dalam darahnya mengalir EYD, mungkin ceritanya akan jadi lain.
uhm, apa Bu Ieda mau saya kenalkan?

Shoutbox



Instagram