alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi

DateTuesday, January 01, 2019   Comment

meskipun cita-citaku tinggi dan niatku baik, aku harus menerima kenyataan kalau terlalu banyak hal yang bisa menghalangi maksudku membaca buku sebanyak-banyaknya di sepanjang tahun. tampaknya, aku masih lebih banyak tunduk pada godaan bantal dan ponsel, terutama karena yang belakangan menyajikan keributan-keributan yang nggak penting-penting amat tapi seru antara grup kampret dan grup cebong (sesuai urutan nomor calon ya, ini). dan tampaknya ini masih akan terus berlangsung, karena sekarang juga ada kontestan tambahan bernama dildo.

di luar itu semua, aku berhasil menamatkan 18 buku di tahun 2018. masih belum sebanyak Obama yang rata-rata membaca 30-an buku dalam setahun (padahal dia lebih sibuk ya, daripada aku!) atau Stephen King yang katanya membaca antara 50-70 buku dalam setahun (tergantung berapa banyak buku yang dia terbitkan.

semua buku kubaca dalam format cetakan. aku masih terlalu cinta pada aroma kertas dan tinta dari buku baru (oh, sungguh bikin kecanduan) untuk menggantikannya dengan buku digital macam kindle. tapi pendirian ini bukan nggak mungkin berubah, kalau ada aromaterapi beraroma buku baru yang bisa kuteteskan ke layar kindle. kalau ada yang tau di mana yang jual, kabarin ya!

daftar tahun 2018 aku bagi jadi dua, fiksi dan nonfiksi. masing-masing aku kasih sedikit catatan, siapa tau ada diantara teman-teman yang tertarik membacanya juga. here goes:


FIKSI 2018

Americanah - Chimamanda Ngozi Adichie
novel yang berangkat dari kisah nyata penulisnya, seorang imigran nigeria di amerika serikat. kisahnya berjalin antara kehidupan migran di negara lain, ketidakstabilan politik akibat pergantian rejim, masyarakat urban nigeria dan perkembangan industri perfilman di nigeria.

The Green Road - Anne Enright
novel berisi kehidupan sebuah keluarga irlandia sepanjang tahun 1980-2005. hubungan antara 4 orang anak keluarga madigan dengan ibu mereka, rosaleen, diceritakan secara rinci, melintasi berbagai gejala zaman, antara lain epidemi HIV/AIDS.

Pachinko - Min Jin Lee
novel tentang perjalanan 4 generasi sebuah keluarga korea yang terseret penjajahan jepang hingga menetap di osaka, dan kemudian yokohama. riwayat panjang keluarga ini berawal dari masa perang, pecahnya korea, sampai kehidupan generasi berikutnya sebagai liyan di negara tempat mereka lahir, yang sekaligus tak pernah menerima keberadaan mereka.

Makramé - Dias Novita Wuri
kumpulan cerpen dengan tokoh-tokoh yang nyata maupun fantastik. dengan imajinasi yang kaya, tiap-tiap cerita berkisah tentang masa-masa panjang, atau pendek, antara tokoh-tokoh dengan latar dan tempat kejadian yang berbeda. kota-kota yang bisa jauh atau dekat, dengan cerita yang sangat mungkin bisa terjadi kapan saja, kalau kita mau melihat lebih jeli.

Call Me by Your Name - Andre Aciman
novel ini, lebih liris daripada filmnya, dengan seorang narator yang menceritakan jalinan kisah yang sangat lembut dan menyentuh, yang terjadi antara dua orang, pada suatu musim panas, di sebuah kota kecil di italia. kejadian-kejadian dalam novel ini, berpusat pada elio, yang jatuh cinta untuk pertama kalinya dan pada saat yang sama berusaha menemukan jati dirinya.  

Muslihat Musang Emas - Yusi Avianto Pareanom
kumpulan cerpen yang berisi kisah-kisah tragis dan getir, yang terjadi pada orang-orang yang berusaha menjalani nasibnya dengan sedikit pertanyaan dan lebih banyak tindakan. tragedi-tragedi di dalamnya banyak berasal dari kemunafikan dan kekerasan yang ditutupi, tapi tak bisa dimungkiri keberadaannya.


NONFIKSI 2018

Chanel: An Intimate Life - Lisa Chaney
salah satu biografi Coco Chanel yang paling lengkap. disertai latar sosial politik dan kebudayaan pada masa yang bersangkutan, biografi ini memberi gambaran nyaris utuh dan meletakkan Chanel dalam konteks dan karyanya yang lintas geografi dan lini masa

Kitchen Confidential - Anthony Bourdain
memoar sang chef ternama tentang bagaimana karirnya bermula, dari mana ia berasal, hal-hal yang terjadi di dapur restoran, sekaligus panduan bagi mereka yang ingin menikmati makanan sebagai seni, bukan hanya pemuas rasa lapar.

Clothes, Clothes, Clothes. Music, Music, Music. Boys, Boys, Boys - Viv Albertine
memoar Viv Albertine, gitaris dan motor kelompok punk cewek legendaris The Slits. bukan hanya judulnya yang catchy, tapi gaya penceritaan dan pergaulannya sangat menjelaskan skena musik punk di inggris pada masa kejayaannya.

Whisful Drinking - Carrie Fisher
memoar Carrie Fisher, bintang film yang tumbuh dari keluarga Hollywood, dengan yang juga bintang film dan ayah penyanyi terkenal. dengan keyakinan dan kemampuan menertawakan diri sendiri, Fisher menulis buku ini sarat dengan humor dan satir. berbagai tragedi pribadi dan keluarga, sampai kisahnya sebagai pecandu diceritakan dengan tawa, dan apa adanya.

Kenangan Tak Terucap Saya, Ayah, dan Tragedi 1965 - Nani Nurrachman Sutojo
kehilangan ayah secara tiba-tiba dalam sebuah kejadian tragis yang selama bertahun-tahun tidak ada kejelasannya, adalah peristiwa pahit yang memukul untuk siapa pun.

Getcha Rocks Off. Sex & Excess. Bust-Ups & Binges. Life & Death on the Rock ‘n’ Roll Road - Mick Wall
memoar penulis, kolumnis dan wartawan musik yang juga pernah kerja di perusahaan rekaman di masa kejayaan musik rock. cerita-cerita di dalamnya dipicu gaya hidup yang berlebihan, ketika ketenaran dan pemujaan menjadikan sedikit orang di dalam buku ini diharapkan menjadi dewa, berbahan bakar adrenalin, alkohol, tubuh dan drugs

The Subtle Art of Not Giving a F*ck - Mark Manson
buku yang semua orang kayaknya udah baca. kumpulan tulisan blogger terkenal yang membantu pembaca mengenali diri sendiri dan memilah hal-hal penting dari sekian banyak hal kurang penting dalam hidup.

Mistisisme Jawa Sebuah Ideologi di Indonesia - Niels Mulder
membaca buku ini jadi lebih paham bagaimana orde baru dikonstruksi, dan kenapa bisa bertahan sampai lebih dari tiga puluh tahun tanpa perlawanan berarti. karena pola dan ideologinya cocok dengan lahan yang tersedia. telaah bagus tentang sebuah pondasi politik dan sosial yang mengakar di Indonesia.

Why Your 5 Year Old Could Not Have Done That - Susie Hodge
karena aku perlu bisa menjawab dengan cara sesederhana mungkin, pertanyaan seperti “ini seninya di mana?” atau komentar “kalo cuma corat-coret gitu doang anak saya juga bisa!”

How Art Can Make You Happy - Bridget Watson Payne
membantu menerjemahkan yang bisa dirasakan tapi nggak selalu gampang untuk dijelaskan

Astrophysics for People in a Hurry - Neil deGrasse Tyson
menjelaskan konsep-konsep dasar astrofisika secara runut dan sederhana. topik yang begitu besar dan rumit, dirangkum dan diterangkan lewat metafora dan contoh kasus yang mencerahkan. buku ini menurutku harus diwajibkan dibaca dan didiskusikan oleh semua siswa SMU/SMK/MA dan yang sederajat di Indonesia. selain buku ini, wajib juga membaca dan mendiskusikan: dasar-dasar filsafat dan dasar-dasar logika.

Xenoglosofilia Kenapa Harus Nginggris? - Ivan Lanin
kumpulan tulisan Ivan Lanin tentang berbagai kata, istilah, ejaan, struktur dan penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. karena bisa berbahasa Indonesia dengan baik sama pentingnya dengan berbahasa asing dengan baik.

DateMonday, July 31, 2017   Comment

buat kamu yang vegetarian, maaf aku membawa kabar kurang sedap.

dari hasil  ngobrol-ngobrol sama orang-orang di grup sejarah yang rajin baca babad, kakawin, kropak dan kitab-kitab, memang rupanya nenek moyang kita enggak vegetarian. justru lebih banyak makan daging daripada sayur-sayuran

ada yang bilang kalau makan sayuran itu lebih karena terpaksa. misalnya pas jaman berburu dan meramu, mereka yang makan sayuran saja, biasanya karena badannya lemah, nggak bisa lari cepat mengejar kijang atau kurang sigap menangkap ikan:p

nah, dari abad ke-8 dan 9, pertanian sawah udah jadi salah satu mata pencaharian penting di Jawa. setidaknya dari catatan raja Kamboja yang ngekos sama keluarga dinasti Syailendra (yang bikin Borobudur) sebelum dia balik ke negaranya dan bikin Angkor Wat. dari Borobudur juga, ketahuan kalau orang-orang di Jawa pada masa itu banyak yang sehari-hari minum olahan susu dan makan sagu. nggak heran sih ya mereka bisa bikin candi segede itu juga, makanannya penuh protein dan negaranya kaya raya. 

prasasti yang bahas makanan memang ada cukup banyak, terutama yang dari masa awal kerajaan di Jawa Timur (Kediri) dan di Jawa Barat (Sunda) di abad 9-10M. kayaknya pesta di jaman itu memang seru dan gila-gilaan, sehingga para sekretaris kerajaan perlu memastikan kalau anak cucu mereka tau, nenek moyangnya makan dendeng, pindang, empal atau ikan gabus goreng telur yang disajikan dalam pesta-pesta. nyam!

dari obrolan kemarin itu, aku juga jadi tahu kalau variasi makanan dan teknik memasak sudah sangat beragam sejak ratusan tahun yang lalu. di abad 12 udah ada Rawon, dan namanya jelas-jelas rawon, lengkap dengan penjelasan kuahnya yang hitam karena biji Keluwak. abad 13 sudah ada terasi, yang kemungkinan besar sejaman dengan petis. sejak abad 5 kelapa sudah banyak disebut. mungkin sejak 1000 tahun lalu, olahan kelapa juga udah macam-macam. mulai dari makan kelapa muda, air kelapa, santan, air bunga kelapa yang manis, sampai bikin minuman keras pun, dalam bentuk legen dan tuak. di bali, arak dibuat dari beras. abad 13/14 sudah ada kerupuk, nenek moyang kita nggak bisa makan tanpa sound effect. 

tulisan paling rinci soal teknik memasak orang sunda ditulis dalam buku tahun 1518, bikin ayam tulang lunak aja udah bisa lho! canggih parah! belum lagi masakan pesmol yang warna kuningnya diambil dari bunga labu, sampai bikin fillet ikan yang digoreng sampai renyah. bikin pindang, pepes, pecel dan empal udah bisa dari hampir 500 tahun yang lalu!

di bawah ini, adalah rangkuman dari riset kecil yang aku bikin tentang timeline makanan Indonesia, dengan bantuan dari teman-teman di grup Telegram Sejarah. cus! 


Shoutbox



Instagram