alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi

DateSunday, September 13, 2015   Comment

aku menulis ini sambil menonton Ally McBeal episode "Blowin in the Wind" karena masih belum bisa beranjak dari konser dua hari yang lalu. sebagian dariku masih berharap konsernya lebih spektakuler dan lebih mengesankan. sebagian lagi berusaha menerima kenyataan bahwa sudah dua puluh tahun berlalu dari laki-laki ganteng di dalam kepalaku yang berseru-seru
"all I got is my guitar, 
these chords and the truth. 
all I got is my guitar, 
and all I want, baby… you!"

dia masih ganteng. Jon Bon Jovi masih punya pesona saat menyanyi di panggung, membuatmu merasa mau memberikan segala-galanya. dengan senyum maut sama, yang mematikan; caranya mengerucutkan bibir yang bikin dia keliatan paling keren diantara 40,000 orang isi GBK Jumat lalu.

ada satu adegan dari Ally McBeal yang masih selalu aku ingat, waktu Victor Morrison menunduk dan Ally mendekatinya dari belakang, lalu mengendus bokongnya yang bagus, ketat-padat dan tampak menggemaskan saat diremas. aku masih ingat adegan itu seperti terjadi beberapa hari yang lalu, meskipun tiga belas tahun sudah lewat. banyak hal terjadi tahun itu, termasuk dirilisnya album Crush, yang menjembatani Bon Jovi dengan fans-nya yang lebih muda, yang mengenal mereka dengan lagu "It's My Life"

tampaknya aku yang lebih banyak berubah daripada Jon Bon Jovi. dia masih punya rumah di pinggir sungai di New Jersey, dengan keluarga yang sama, band yang sama. sementara aku sudah kehilangan sebagian besar perasaan mabuk kepayang dan terbuai itu. setiap kali mendengar lagunya, aku nggak lagi merasa dia sedang berbagi perasaan denganku. meskipun aku masih ingin memeluknya waktu dia bilang
"You know I need you like a poet needs the pain. 
And I would give anything, 
my blood my love, my life, 
if you were in these arms tonight"

dan membalas "you don't have to beg".

tapi di dalam hatiku, aku tahu setelah jejeritan di lapangan GBK sambil jingkrak-jingkrak, aku akan pulang ke pelukan Mahen sambil sibuk bercerita "baru sekali ini aku liat orang yang makin keringetan keliatan tambah ganteng, sayang. he's aging gracefully!"

memang sebagian lagunya nggak kukenal dengan baik lagi, karena aku berhenti beli album Bon Jovi setelah Lost Highway. meskipun kebetulan aku masih sepintas ngerti "Who Says You Can't Go Home" dan "Because We Can" tapi keduanya terasa lebih sebagai kenalan daripada teman akrab.
level hubungan yang jauh dengan "I'll Be There For You", "Never Say Goodbye" atau "Dry County"
bahkan wajah Jon yang mulai berkerut dan rambutnya yang kelabu juga tak kukenali. yang bikin dadaku tetap berdesir dengan cara yang sama adalah saat kamera menyorot bokongnya. saat dia membelakangi kami dan menandak-nandak, lalu bergoyang seirama gebukan drum Tico Torres, gitar Phil X, bass Hugh McDonald dan permainan keyboard David Bryan.

sepertinya aku harus menerima kenyataan bahwa sebuah era sudah berakhir, seiring perubahan musik dan jenis lagu yang terjadi. aku bukan lagi fans dengan cara dan kadar yang sama. meski posisi Bon Jovi, dan terutama posisi Jon Bon Jovi tetap tak tergantikan.
ia adalah laki-laki yang penting dalam hidupku, karena telah membantuku belajar bahasa Inggris di SMP. aku masih ingat keningku berkerut, membuka-buka kamus tebal sambil berusaha menerjemahkan frase seperti wayward son, atau memahami penggunaan ain't, kosakata yang nggak dikenal di kelas.

dan sesungguhnya, di satu sudut hatiku, aku merasa sedikit sendu, karena sepertinya, aku tak akan pernah bisa menonton konser Bon Jovi bersama Richie Sambora. pengalaman yang jika mungkin terjadi, rasanya akan luar biasa.

apa kamu masih menyukai band kesayanganmu saat remaja dengan cara yang sama?

Comment

Shoutbox



Instagram