alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi
House and I
Thursday, September 25, 2008
Dr. Gregory House adalah pahlawan baruku. dia yang berjalan terseok-seok dengan tongkat, yang bermata biru, berusia setengah baya, jarang bercukur dan menolak memakai jas putih serta bersikeras memakai sneakers, jeans dan kaos oblong adalah sosok yang sekarang kupuja dan mengisi relung hatiku. *duduk manis di pojokan buat fans Hugh Laurie bareng sama Henny*
aku nggak papa deh, biar dibilang aneh juga. tapi cowok yang sarkastik, nggak peka apakah jawabannya bikin orang lain sakit hati ato nggak, yang dengan segala cara berusaha menguras emosi lawan bicaranya -memojokkannya tanpa ampun sekaligus seenaknya ini... buatku tampak sexy. dalam banyak hal, aku pikir House ini sangat menarik. mungkin Allison Cameron adalah jenis perempuan yang sama dengan aku, makanya dia nekat tetap mencintai House, sementara yang ditaksir, walopun tau, tampak acuh tak acuh dan nggak memberi ruang buat Cameron untuk mendekat.
"...you look for excuses to be alone" gitu kata Boyd, salah satu pasien yang diselamatkan House tentang dokter yang nyentrik ini.
selain sexy, aku pikir House ini juga cerdas (jelas aja, dia memecahkan kasus-kasus penyakit yang udah bikin dokter-dokter lain nyerah), witty (ini aku nggak nemu padanan bahasa Indonesia-nya), sekaligus lucu! aku sering banget ketawa sendiri di depan TV gara-gara ngeliat caranya dia menjawab Lisa Cuddy, bos yang seringkali kehilangan sabar dan angkat tangan ngeliat kebandelan House plus kedewasaannya yang berhenti di umur 17 tahun.
joke-joke rasis yang dia lontarkan pada Eric Foreman juga harus diakui kocak-bandel sekaligus. yang bikin scriptwriter emang hebat, sih. misalnya di satu episode yang House merebut spidol yang dipakai Foreman menulis di papan (peran yang biasanya diambil oleh House) sambil bilang sama Foreman:
"Sorry, there's a reason they call it the Whiteboard. It's not my rule."
dan waktu Chase maupun Cameron nggak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan House, sementara Foreman punya jawaban, dengan lantang Foreman bilang sama House:
"OK, we can all stare at each other or we can investigate what caused the heart failure. Just the heart failure. You wanna give me that Black marker?"
kocak, kan?!
tapi, dibalik semua keserampangannya dan pemberontakannya yang sering bikin kepala geleng-geleng (seriously, kalo aku harus jadi pasiennya, aku mendingan nggak banyak ngelawan, tapi langsung menjawab semua pertanyaannya dengan jujur), Gregory House sebenarnya sangat perhatian, sensitif, sekaligus teman yang sangat menjaga perasaan. dia hanya jadi manipulatif untuk hal-hal yang berhubungan dengan usaha memecahkan misteri penyakit pasien, menyelamatkan nyawa dan mendapatkan tambahan Vicodin. dia seperti sanggup melakukan apa saja asal tujuan itu tercapai.
tentang Vicodin ini, sebabnya nggak lain adalah nyeri menahun yang dia alami, yang kalau tidak segera diatasi dengan painkiller akan bikin dia nggak bisa berfungsi dengan baik.
hanya sedikit orang yang bisa melihat sisi lain dirinya ini, maka tak heran masih ada James Wilson, kepala departemen Oncology, satu-satunya sahabat House. terlepas dari kebiasaan House meminjam uang, bikin Wilson repot untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang dibikin House dan mengambil makanan Wilson tanpa ijin, House yang paling paham kesusahan Wilson saat menghadapi perpisahan dengan istrinya. etapi jangan bayangin mereka curhat-curhatan berdua, tangis-tangisan nonton film drama sambil makan es krim loh, yaaa...
ini dua cowok yang seperti nggak ngaku kalo mereka sering curhat-curhatan satu sama lain. padahal tiap episode mereka curhat dan gosip terus!
House juga satu-satunya yang tahu usaha Cuddy untuk punya anak. dia nggak membocorkannya pada orang lain, dan nggak mengejek Cuddy tentang itu, sampai insiden ketika seorang inspektur polisi menekan Wilson dan tiga orang anggota tim departemen Diagnostic.
Cuddy bilang ke Wilson "I've seen House be rude a thousand times, usually to achieve something. I have never seen him be mean just because he can."
dan waktu Wilson nanya apa yang sebenarnya terjadi, karena dia nggak pernah liat Cuddy sampai nangis-nangis darah begitu, Cuddy bilang...
"People think House has no— inner censor. The fact is he holds himself back, because when he wants to hurt. He knows just where to poke a sharp stick."
House juga yang tau tentang penyakit ayah Robert Chase yang sudah sangat parah. dia juga yang mengetahui kekalutan hati Chase waktu ayahnya meninggal, sampai waktu Chase harus bekerja di waktu liburan karena kekurangan uang dan dia dicoret dari daftar warisan ayahnya.
House yang berusaha membuat Cameron lebih 'dingin', supaya dia tidak mudah disakiti orang-orang yang cenderung kejam dan mau menang sendiri. House juga yang menyadarkan Foreman akan kekurangan yang harus dia tutupi setelah ia bangun dari koma akibat tertular penyakit yang diderita seorang polisi yang menanam ganja di rumahnya.
tak heran, Foreman bilang
"he's the best doctor I've ever worked with"
Last posts
Archives
- December 2004
- January 2005
- February 2005
- March 2005
- April 2005
- May 2005
- June 2005
- July 2005
- August 2005
- September 2005
- October 2005
- November 2005
- December 2005
- January 2006
- February 2006
- March 2006
- April 2006
- May 2006
- June 2006
- July 2006
- August 2006
- September 2006
- October 2006
- November 2006
- December 2006
- January 2007
- February 2007
- March 2007
- April 2007
- May 2007
- June 2007
- July 2007
- August 2007
- September 2007
- October 2007
- November 2007
- December 2007
- January 2008
- February 2008
- March 2008
- April 2008
- May 2008
- June 2008
- July 2008
- August 2008
- September 2008
- October 2008
- November 2008
- December 2008
- January 2009
- February 2009
- March 2009
- April 2009
- May 2009
- June 2009
- July 2009
- August 2009
- September 2009
- October 2009
- November 2009
- December 2009
- January 2010
- February 2010
- March 2010
- May 2010
- January 2011
- April 2011
- May 2011
- June 2011
- October 2011
- November 2011
- May 2012
- October 2012
- March 2013
- April 2013


