alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi
perlu pencerahan
Saturday, December 27, 2008
kalau diperhatikan, ada beberapa hal kecil yang kelihatan kurang penting tapi mengganggu. gangguannya kadang terasa signifikan, kadang juga cuma seperti tai mata. wajar, tapi nggak pada tempatnya dilihat sama orang lain.
sekarang ini sambil mengernyit-ngernyit karena mengingat hal-hal itu, aku menuliskannya. anggaplah ini salah satu entry blog yang paling nggak penting yang aku bikin tahun ini. hihihi.
kenapa orang bisa ngajak kamu chatting, meng-add jadi teman di facebook, mengirim sms, atau menelepon orang yang nggak dikenal tanpa alasan?
sampai hari ini, aku masih nggak ngerti harus menjawab apa pada permintaan seperti "boleh kenalan nggak?" yang rasanya terlalu absurd untuk dijawab "boleh" dan terlalu arogan kalo harus menjawab "nggak boleh". oke, aku cenderung menjawab yang terakhir, karena alasan sederhana. aku nggak tertarik untuk ngobrol lebih lanjut sama ybs dan merasa terlalu aneh diinterogasi dan ditanya-tanya sama orang yang aku nggak tau siapa, dan nggak ada apapun urusannya. anyway, aku juga bukan artis. and I don't have superstar mentality to be one .
yang kedua, kenapa banyak yang nggak merasa terganggu kalau mereka salah tulis nama orang?
kadang-kadang udah tinggal copy-paste aja, bisa salah. dan kayaknya budaya meminta ejaan nama orang masih belum terlalu umum disini. aku beruntung namaku nggak terlalu untuk ditulis. makanya kalau ada yang menamai anaknya dengan gabungan huruf-huruf yang agak panjang, suka ada teman yang komentar "ini nanti pasti jadi repot karena bakalan sering salah tulis". seumur-umur, kalau terima surat atau undangan buat papaku, yang namanya 'Abdul Hanan', 75% yang terbaca adalah Abdul Manan atau Afnan. padahal nama sesimpel itu. nggak terhitung juga berapa banyak nama anak yang di rapornya beda dengan nama di akta kelahiran, karena yang menulis terlalu nggak peduli sama penulisan nama yang benar.
kenapa banyak orang yang tetap menyingkat tulisan waktu chatting atau kirim email?
aku paling males baca dan balas sms yang terlalu banyak singkatannya. kelamaan mikirin apa arti ketikannya. jadi jangan heran kalau aku jarang membalas sms yang membacanya aja bikin aku sebal. apalagi kalo kasusnya di YM. perasaan internet nggak membatasi jumlah huruf dan karakter. jadi kenapa masih disingkat aja?
oya, kalo belum fasih mengetik cepat dengan blackberry, jangan chatting pake hp, deh.
lain-lainnya masih banyak.
tapi kategorinya udah beda karena setingkat lebih mengganggu. mungkin lain kali aku bikin lagi daftarnya.
sekarang ini sambil mengernyit-ngernyit karena mengingat hal-hal itu, aku menuliskannya. anggaplah ini salah satu entry blog yang paling nggak penting yang aku bikin tahun ini. hihihi.
kenapa orang bisa ngajak kamu chatting, meng-add jadi teman di facebook, mengirim sms, atau menelepon orang yang nggak dikenal tanpa alasan?
sampai hari ini, aku masih nggak ngerti harus menjawab apa pada permintaan seperti "boleh kenalan nggak?" yang rasanya terlalu absurd untuk dijawab "boleh" dan terlalu arogan kalo harus menjawab "nggak boleh". oke, aku cenderung menjawab yang terakhir, karena alasan sederhana. aku nggak tertarik untuk ngobrol lebih lanjut sama ybs dan merasa terlalu aneh diinterogasi dan ditanya-tanya sama orang yang aku nggak tau siapa, dan nggak ada apapun urusannya. anyway, aku juga bukan artis. and I don't have superstar mentality to be one .
yang kedua, kenapa banyak yang nggak merasa terganggu kalau mereka salah tulis nama orang?
kadang-kadang udah tinggal copy-paste aja, bisa salah. dan kayaknya budaya meminta ejaan nama orang masih belum terlalu umum disini. aku beruntung namaku nggak terlalu untuk ditulis. makanya kalau ada yang menamai anaknya dengan gabungan huruf-huruf yang agak panjang, suka ada teman yang komentar "ini nanti pasti jadi repot karena bakalan sering salah tulis". seumur-umur, kalau terima surat atau undangan buat papaku, yang namanya 'Abdul Hanan', 75% yang terbaca adalah Abdul Manan atau Afnan. padahal nama sesimpel itu. nggak terhitung juga berapa banyak nama anak yang di rapornya beda dengan nama di akta kelahiran, karena yang menulis terlalu nggak peduli sama penulisan nama yang benar.
kenapa banyak orang yang tetap menyingkat tulisan waktu chatting atau kirim email?
aku paling males baca dan balas sms yang terlalu banyak singkatannya. kelamaan mikirin apa arti ketikannya. jadi jangan heran kalau aku jarang membalas sms yang membacanya aja bikin aku sebal. apalagi kalo kasusnya di YM. perasaan internet nggak membatasi jumlah huruf dan karakter. jadi kenapa masih disingkat aja?
oya, kalo belum fasih mengetik cepat dengan blackberry, jangan chatting pake hp, deh.
lain-lainnya masih banyak.
tapi kategorinya udah beda karena setingkat lebih mengganggu. mungkin lain kali aku bikin lagi daftarnya.
Dear Benny dan Mice
Sunday, December 14, 2008
aku menulis surat ini hanya dua puluh empat jam setelah pertemuan kita yang mengesankan di peluncuran Lost in Bali. buatku mengesankan, buat kalian sih terserah. soalnya, setelah acara pembacaan dan diskusi buku yang traumatis dengan novelis yang karyanya laris manis itu, aku jadi agak ragu dan segan mau datang ke perbincangan dengan penulis. kuatir pulangnya muntah-muntah.
tapi kalian berdua ternyata biasa-biasa aja. nggak terlalu memalukan, juga nggak terlalu berlebihan. nggak bikin aku shock, tercengang, atau gimana. jadi aku lega. soalnya aku suka banget baca Benny&Mice, udah sejak bertahun-tahun yang lalu. kalo sekiranya di acara kemarin kalian tampil seperti bintang shitnetron stripping atau personil band cheesy menghadapi fans abegeh di mal, kayaknya dengan segera buku-buku Benny&Mice-ku harus dihibahkan. agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
jadi aku menulis surat ini untuk berterima kasih pada kalian berdua, atas beberapa sebab.
pertama, karena kalian berdua jujur dan apa adanya. bukan hanya dalam memilih karakter yang merupakan kombinasi dari curhat colongan, ghibah dan memperolokkan orang lain, tapi tetep mau aman dengan menggunakan identitas diri sendiri, tapi juga karena kalian bicara tentang hal-hal yang nyata dan benar-benar ada. tentang sesuatu yang dekat dan bisa dilihat setiap hari, tentang kenyataan bahwa lebih banyak orang yang nggak punya tapi bergaya punya, merasa keren walaupun norak, dan mencari keuntungan dari kesempatan sesempit apapun. kejujuran yang bikin aku ketawa ngakak, satir dan kadang-kadang agak tertohok.
soalnya, dan ini alasan kedua, ada beberapa kartun kalian yang dengan tepat menceritakan siapa diriku. ini bisa disebut alasan yang narsis nan introspektif. karena aku punya beberapa hape dengan provider yang berbeda-beda. juga karena aku termasuk salah satu yang males menghadapi WISNU asal Jakarta akibat kelakuan sejumlah oknum dari kota bersangkutan yang suka nawar nggak kira-kira, tapi setelah ngotot panjang-lebar ternyata nggak jadi beli. yang paling oke memang turis bule yang homok. mereka cenderung beli barang mahal dan nggak minta diskon. entah kenapa.
selain itu, aku juga sering memberikan info-info yang sama dan pastinya udah basi karena udah ratusan kali kuberikan pada orang-orang yang datang ke Bali, dan yang paling parah, orang tuaku di Malang tinggal di kompleks perumahan yang namanya River Side, karena letaknya di sebelah Kali Mewek. you got me, there.
alasan ketiganya, aku berterima kasih karena di tengah urusan-urusan yang berseliweran di kepalaku, isi dompet yang semakin tipis, dolar yang naik turun, hari depan yang tak pasti, telepon dari bos yang bikin senewen, dan berbagai tetek bengek lainnya yang bikin hidup kadang terasa berat dan rumit, buku-buku kalian selalu berhasil membuatku tertawa terpingkal-pingkal. sampe-sampe Papa melarangku membawa masuk buku 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta ke tempat bikin SIM karena khawatir pak polisi meragukan kewarasanku.
last but not least, aku berterima kasih karena kartun kalian membuatku merasa baik-baik aja. karena masih ada dua pecundang yang nasibnya lebih malang, kelakuannya lebih norak, dan tampangnya lebih menyedihkan daripada aku. hihihi...
Last posts
- Wake up, Mr. President!
- Bersama Thomas Heatherwick untuk Indonesia
- puisi-puisi cinta
- ode untuk kadek
- yang tumpul tanpa hati
- adventure series: mengenang Langnau am Albis
- adventure series: Beyeler Fondation
- adventure series: little slice of heaven
- adventure series: study, culture and identity
- adventure series: tale from musée d'orsay
Archives
- December 2004
- January 2005
- February 2005
- March 2005
- April 2005
- May 2005
- June 2005
- July 2005
- August 2005
- September 2005
- October 2005
- November 2005
- December 2005
- January 2006
- February 2006
- March 2006
- April 2006
- May 2006
- June 2006
- July 2006
- August 2006
- September 2006
- October 2006
- November 2006
- December 2006
- January 2007
- February 2007
- March 2007
- April 2007
- May 2007
- June 2007
- July 2007
- August 2007
- September 2007
- October 2007
- November 2007
- December 2007
- January 2008
- February 2008
- March 2008
- April 2008
- May 2008
- June 2008
- July 2008
- August 2008
- September 2008
- October 2008
- November 2008
- December 2008
- January 2009
- February 2009
- March 2009
- April 2009
- May 2009
- June 2009
- July 2009
- August 2009
- September 2009
- October 2009
- November 2009


