alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi
dreams
Monday, February 23, 2009
So yeah, dreams are important. And I think there are more dreamers today than ever before in the history of anything... but... they're so afraid, so many of them. Afraid to lose all their 'manageable misery.' It's all just so... so... pathetic. Pathetic... and selfish. Are you seriously telling me... that you would deny the world an exquisite painting just because the cardboard firm from down the street is hiring? That you'd stay out of politics because your mates would think you a twat? That the greatest secrets of quantum physics would go forever unearthed... because Dad thinks girls are fit only for babymaking? Does that really sound good enough for you? Really? Maddening! And don't you dare tell me I'm unrealistic. I know a body's chance of sinking their claws into a dream are fairly grim. But... not to try? To settle into the gray doldrums with nary a peep?quote ini adalah quote lengkap dari potongan yang aku tulis di bagian atas blogku. aku tertegun cukup lama waktu membacanya. kayaknya harus buru-buru nyari komiknya, deh.
(Serenity Rose)
365 days
Wednesday, February 11, 2009
sepasang mata kedua
Tuesday, February 10, 2009
cerita film penerangan jaman dulu ternyata sangat mengena dan merasuk ke jiwa. saat mulai merasa kalau pandanganku kabur pada pergantian hari, yang pertama kali terpikir adalah rabun senja yang banyak diidap oleh anak-anak yang kurang gizi dalam film-film buatan Departemen Penerangan. tapi masak ya aku kurang gizi? lha wong daftar makanannya tiap hari aja panjang lebar dan bermacam-macam jenis.
lalu waktu rasanya mulai kabur kalau nonton film dengan subtitle sambil tiduran, aku pikir yang harus diganti adalah TV-nya. maklum TV jadul inventaris kos-kosan. ada TV aja udah bagus. tapi setelah dua gejala ini berlangsung beberapa minggu, dan rasanya semakin nggak nyaman, aku putuskan untuk pergi ke dokter mata.
dan pada pemeriksaan pertama, disebut kalau mataku ada silindrisnya. tapi dasar dokter spesialis, tampaknya dari awal pertemuan udah diukur, berapa kalimat yang bisa dia ucapkan, sesuai dengan tarif yang ingin dia pungut. aku cuma dapat kesimpulan kalau mataku bermasalah, terlalu lelah, kurang istirahat, dan harus diobati selama satu minggu, sambil dicek ulang ukuran silindrisnya minggu depan.
nah, dalam resep yang aku terima seminggu kemudian, tertera keterangan kalau kedua mataku masing-masing ber-silinder 0.25, lalu mata kanan minusnya 0.50, sementara mata kiri 0.25. kalo harus nyeritain ini dalam bahasa Inggris aku agak kerepotan. minus itu far sighted atau near sighted sih?
yang jelas, concern-ku yang paling pertama dan utama adalah bingkai kacamata. tetep. hihihi, sebelum resepnya keluar, aku udah memutuskan kalau yang akan aku pakai adalah kacamata dengan model yang mirip atau sama dengan yang dipakai Rachel Weisz dalam Absolutely, Maybe. film yang bikin semua cowok kalah romantis daripada Ryan Reynolds (yang di kehidupan nyata mencampakkan Alanis Morissette untuk Scarlett Johansson.
mencarinya ternyata gampang-gampang susah. aku memang suka kesan klasik dan serius yang ditunjukkan bingkai kacamata itu. dan karena klasik, aku nggak mau kalo ada corak norak, dekorasi nggak penting, tulisan logo yang gede dan berkilauan menusuk mata, dst, dsb. berkeliling di optik mahal cuma bikin aku sakit hati karena yang masuk kriteriaku harganya bisa 2 juta lewat, jumlah yang mendingan dipake buat beli hdd eksternal plus tambahan memori. sementara kalau yang harganya nanggung, terlalu banyak pernak-perniknya. aku nggak ngerti deh kenapa uang satu juta seperti nggak ada harganya di Optik Seis.
sementara itu, berkeliling di optik-optik yang nggak punya nama besar berarti pilihan yang sangat sedikit, bingkai yang tampak murahan, rapuh dan kalau dipakai rasanya serba nggak pas dan serba nggak enak. hayah.
sampai kemudian aku masuk ke Optik Sahabat di Jalan Diponegoro, Denpasar. di situlah aku menemukan bingkai kacamata yang kucari-cari. pelayannya ramah dan bisa 'membaca' keinginan pelanggan. entah bagaimana dia bisa tahu, bingkai pertama yang dia tunjukkan adalah bingkai yang sama persis dengan bingkai yang kulihat di optik lain, dan yang aku suka, tapi harganya kemahalan. di optik ini, bingkai itu harganya jadi 30% lebih murah. dan kebetulan, waktu aku datang mereka sedang punya program diskon dan pembagian angpau buat pelanggan yang membeli bingkai sekaligus lensanya. maka dari harga yang sudah kuanggap murah itu, aku masih mendapat diskon 30% dan bisa mengambil satu angpau undian. yang memberiku uang US$4. hihihi... seneng deh.
kayaknya lain kali harus bawa-bawa Mimi lagi kalau mau keliling cari barang. dua hari beli ini itu sama dia dapet diskon terus dimana-mana. :D
Made in China
Sunday, February 08, 2009
waktu nonton Dragon: The Bruce Lee Story, aku tertarik sama adegan saat Bruce Lee bersama dengan seorang sutradara digambarkan merancang sebuah film seri televisi mengenai seorang pendeta Shaolin bernama Kwai Chang Caine yang melakukan perjalanan melintasi daerah barat Amerika hanya dengan bermodalkan kemampuan beladiri (mengutip Mira: artial mart), untuk mencari saudara kandungnya. masih dalam film yang sama, digambarkan kalau ide film itu akhirnya dicuri oleh Warner Bros. yang kemudian menyerahkan peran utama dalam Kung Fu pada David Carradine.
disebutkan bahwa alasan tidak dipakainya Lee adalah karena publik Amerika saat itu diyakini tidak akan menyukai aktor Asia atau non-kulit putih. dasar rasis.
etapi, aku juga lantas bingung sendiri, jadi Carradine itu orang apa?
aktor yang sejak tahun 70-an nyaris selalu berperan jadi pendekar Cina yang kung fu-nya canggih itu ternyata mendapatkan mata sipitnya dari leluhurnya yang berdarah Cherokee. sementara unsur lain dalam darahnya diketahui mengandung gen dari Irlandia, Inggris, Skotlandia, Wales, Jerman, Spanyol, Italia dan Ukraina. nggak ada cipratan atau bau-bau Cina-nya! tapi ternyata sebanyak apapun campurannya, jadinya tetap seperti orang Cina.
kalau kata Henny sih, fakta tentang David Carradine itu menunjukkan kebenaran pepatah lama yang sangat terkenal. "its all the same. all made in Taiwan" sementara Taiwan adalah Republic of China.
disebutkan bahwa alasan tidak dipakainya Lee adalah karena publik Amerika saat itu diyakini tidak akan menyukai aktor Asia atau non-kulit putih. dasar rasis.
etapi, aku juga lantas bingung sendiri, jadi Carradine itu orang apa?
aktor yang sejak tahun 70-an nyaris selalu berperan jadi pendekar Cina yang kung fu-nya canggih itu ternyata mendapatkan mata sipitnya dari leluhurnya yang berdarah Cherokee. sementara unsur lain dalam darahnya diketahui mengandung gen dari Irlandia, Inggris, Skotlandia, Wales, Jerman, Spanyol, Italia dan Ukraina. nggak ada cipratan atau bau-bau Cina-nya! tapi ternyata sebanyak apapun campurannya, jadinya tetap seperti orang Cina.
kalau kata Henny sih, fakta tentang David Carradine itu menunjukkan kebenaran pepatah lama yang sangat terkenal. "its all the same. all made in Taiwan" sementara Taiwan adalah Republic of China.
Last posts
Archives
- December 2004
- January 2005
- February 2005
- March 2005
- April 2005
- May 2005
- June 2005
- July 2005
- August 2005
- September 2005
- October 2005
- November 2005
- December 2005
- January 2006
- February 2006
- March 2006
- April 2006
- May 2006
- June 2006
- July 2006
- August 2006
- September 2006
- October 2006
- November 2006
- December 2006
- January 2007
- February 2007
- March 2007
- April 2007
- May 2007
- June 2007
- July 2007
- August 2007
- September 2007
- October 2007
- November 2007
- December 2007
- January 2008
- February 2008
- March 2008
- April 2008
- May 2008
- June 2008
- July 2008
- August 2008
- September 2008
- October 2008
- November 2008
- December 2008
- January 2009
- February 2009
- March 2009
- April 2009
- May 2009
- June 2009
- July 2009
- August 2009
- September 2009
- October 2009
- November 2009
- December 2009
- January 2010
- February 2010
- March 2010
- May 2010
- January 2011
- April 2011
- May 2011
- June 2011
- October 2011
- November 2011
- May 2012
- October 2012
- March 2013
- April 2013


