Sunday, May 06, 2007

Papua Untamed



paket itu sudah tergeletak di atas mejaku saat aku sampai di kantor. amplop plastik putih dengan logo Destinasian. pada bagian alamat tertulis namaku. dengan penuh semangat kurobek bungkusnya. dalam pikiranku terbersit satu nama.

dan benarlah, itu majalah yang sudah kutunggu-tunggu selama beberapa minggu. setelah meletakkannya di pangkuan, sambil membuka-buka majalah dengan tangan kiriku, kuambil gagang telepon dengan tangan kanan, menyelipkannya diantara telinga dan bahu kanan, lalu memencet nomor cepat-cepat. ceritanya ini multitasking gitu...

A: "hello! this is Ina! I have the latest edition of Destinasian in my hands now"
K: "hey, Ina! really?"
A: "yeah! and I see the article. it's awesome! and the pictures are great! they make Papua looks like a chic place to go"
K: "yeah, right. (chuckle)"
A: (nggak peduli) "it's cool, you know! it's like 12 pages, all about Papua!" (semangat banget)
K: "oh, that's great!"
A: "it is! I see your name written in it here and there. Woolford this, Woolford that. I haven't read it though. I just received and opened it before I call you. and there's a section called File Fact, on how people can go to Papua. they just put you and your website as contact person. only you"
K: "sweet!"

sebetulnya Kelly pasti mau bicara banyak. tapi karena aku nggak bertanya, hanya ngomong terus menerus dan dengan bawel bercerita tentang majalah itu, akhirnya dia nggak dapat kesempatan untuk bicara apa-apa kecuali ngasih komentar pendek-pendek dan bilang terima kasih.

aku betul-betul senang dengan artikel dalam majalah ini. karena ini pertama kalinya kulihat ada majalah travel dari Indonesia yang melakukan lebih dari sekedar menulis tempat-tempat wisata yang sudah biasa, hotel dan restoran baru yang glamor (tentu saja mahal) atau pengalaman yang nggak banyak bedanya dengan apa yang tertulis dalam travel guide. alasan keduanya jelas karena Kelly Woolford, si tokoh pemandu dalam artikel yang ditulis Lawrence Osborne ini adalah temanku! terserah deh kalo mau bilang KKN. hihihi...

alasan ketiganya, karena foto-foto yang dibuat oleh Frédéric Lagrange bagus banget! nggak membuat majalah travelnya jadi seperti National Geographic, tapi juga nggak menghilangkan kesan liar, mentah dan kasar dari sebuah peradaban yang masih memakai kapak dari batu. Kelly bilang kalau Frédéric ini superniceguy. pujian yang jarang-jarang dia berikan. dan kalo dari wajahnya (ada foto Frédéric di majalah ini) dan juga kesan-kesannya mengenai Papua...
My time with the Kombai was humbling. I think about them all from time to time, about the harsh conditions in which they live. Papua was a succession of utterly beautiful moments, but it also helped me appreciate my everyday life more fully
menarik ya? semenarik yang mengucapkannya. hwalah, ini kok jadi flirting Frédéric.

meskipun demikian, setelah aku selesai baca artikelnya, aku ngerasa agak sedih juga. kok aku nggak pernah pergi ke Papua, padahal itu bagian dari negaraku sendiri. kok aku baru tau dari majalah dan webnya Kelly kalau ada suku Kombai yang tinggal di rumah pohon, dan terkagum-kagum sama lilin. sampai aku sempatkan bertanya ke Kelly, apa benar dia akan bawa lilin kalau ke Papua lagi? mereka terasa begitu berjarak, padahal orang-orang yang datang dari negara lain yang jauh, sudah sampai disana. BBC pun sudah bikin dokumenter tentang mereka. sementara aku selalu berkhayal akan tempat-tempat yang jauh, belahan dunia yang lain. sok tau banget.

dan Kelly, yang Bahasa Indonesianya berlogat Papua dan gemar mengutip kata-kata dari bahasa gaul dalam sms, sudah bolak-balik pergi kesana sejak tahun 1990. emang sih dia lebih tua daripada aku, tapi kok kayaknya nggak seru yah... aku yang orang Indonesia malah nggak pernah jalan kaki menembus hutan di sekitar Danau Sentani?
tapi mungkin orang-orang seperti Kelly akan lebih menghargai apa yang dia lihat dan dapatkan. lebih bisa mengemas pengalaman yang didapatkannya. makanya dia bisa kenal dan berhubungan baik dengan berbagai suku yang ada disana. hebat ya?

buat yang belum pernah tau majalah Destinasian, aku fotoin disini covernya, sekalian sama foto artikelnya juga. searah jarum jam, ada bagian awal artikel (yang ternyata 15 halaman) itu, terlihat ada orang yang mengangkat kepala Kasuari hasil buruannya. lalu ada gambar yang menunjukkan bagian dalam rumah pohon dengan seorang Kombai sedang tidur, juga orang lain yang hidungnya ditindik keren banget. yang terakhir adalah seri foto dua halaman tentang kehidupan orang-orang Kombai dan siapa yang mereka temui. foto favoritku ada di bagian pojok kanan atas, seorang Kombai sedang tidur diatas pelepah palem kering. foto yang bagus banget!

kalau mau pergi ke Papua sama Kelly Woolford, bisa lihat-lihat dulu di website ini.
kalau mau lihat karya Frédéric Lagrange yang lain, ada di website ini.

3 comments:

Anonymous said...

mau dong ke Papua!
aku juga pengen keliling Indonesia dulu sebelum menjelajah ke negara lain.... hiks... kapan yah?

Anonymous said...

sebelum berkunjung bisa liat liat dulu
*bimoseptyop*

Anonymous said...

ah papua!

*teringat masa kecil..

duka yang menyusun sendiri petualangannya

  rasa kehilangan seorang penonton pada aktor yang dia tonton sepanjang yang bisa dia ingat, adalah kehilangan yang senyap. ia tak bisa meng...