alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi

DateTuesday, June 17, 2008   Comment

teriakan NO! yang melolong dan panjang dan paling terkenal barangkali adalah milik the Darth Vader di akhir cerita Star Wars.

dua hari yang lalu, aku menyaksikan versi lain teriakan itu, dalam suasana yang sama tragis dan menyedihkannya. teriakan Angelina Jolie yang berperan sebagai Mariane Pearl dalam film A Mighty Heart. ketika mendapat kabar bahwa suaminya meninggal setelah dipenggal oleh para penculiknya. akting Jolie dalam film itu memang bagus banget. walaupun masih tetap sensual dan cantik, tapi dia sama sekali tidak membuat tokoh Mariane Pearl jadi seseorang yang glamor, atau standing out melebihi tokoh-tokoh yang lainnya.

kesan yang ditimbulkan dari caranya memerankan Mariane adalah, tokoh ini cerdas dan tegar. sangat bisa menguasai dirinya sendiri, dan nggak jadi drama queen walopun situasi sangat memungkinkan dia jadi begitu. bayangkan... hamil, suaminya diculik, dan hidup tanpa kepastian mengusahakan kembalinya sang suami dalam keadaan hidup. tapi toh semuanya nggak membuat Mariane jadi uring-uringan, nggak rasional, atau bahkan nangis-nangis nggak jelas. dia mengikuti semua proses pencarian suaminya dengan tenang.

aku seneng banget sama caranya memarahi pewawancara yang menanyakan tentang apakah dia sudah melihat video pemenggalan kepala suaminya.
"don't you have decency?"
"how can you asked me a question like that?"

waktu aku sampai di adegan yang menyatakan suami Mariane meninggal, aku teringat pada artikel tentang mesatya yang baru saja selesai aku terjemahkan.

sampai awal abad ke-20, ada satu ritual yang biasanya dilakukan oleh istri raja yang suaminya meninggal. saat suaminya akan diperabukan, sang istri menunjukkan tanda kesetiaannya dengan cara mengorbankan diri. biasanya dengan terjun ke dalam api atau ditusuk dengan keris sampai meninggal. atau gabungan dari keduanya. setelah ditusuk kemudian terjun ke dalam api.

sampai paragraf ke-5 dari essay sepanjang 23 halaman itu, aku masih merasa sangat sebal dan menganggap ide self-sacrifice itu bodoh sekali. lalu memasuki halaman 5, waktu satu demi satu dituliskan penjelasan secara filosofis apa yang dimaksud dengan mesatya, bagaimana kedudukan satya itu dan seterusnya, aku jadi mulai bisa mengerti, kenapa ada orang-orang yang menganggap ini sebagai an ultimate action in life. the highest achievement you can get.

memang tidak dijelaskan apa yang terjadi pada perempuan yang tidak melakukan pengorbanan diri waktu suaminya meninggal. apakah mereka akan kehilangan status sebagai istri raja? apakah mereka dibuang dan diasingkan? hal-hal ini memang bukan tidak mungkin akan terjadi mengingat situasi pada masa itu. tidak diterangkan juga apakah suami akan melakukan hal yang sama seandainya istrinya yang meninggal duluan.

kalo yang ini sih kayaknya cenderung si suami segera menikah lagi. gimana ya, punya istri lebih dari satu aja dianggap umum, kok. kata Mahén "yang mau meneruskan memerintah kerajaan siapa kalau rajanya mati juga ngikutin istrinya?"

dan waktu aku udah sampai di halaman 20, setelah membaca kisah-kisah pengorbanan diri dan ilustrasi peristiwa mesatya yang dilakukan oleh tiga (TIGA!) istri Raja Gianyar, aku agak-agak bisa melihat sisi romantisnya tradisi ini. sang istri tidak sanggup meneruskan hidup karena sangat mencintai suami yang semasa hidupnya sangat mencintai tiga istrinya. bahwa ini adalah keinginan untuk bersama sehidup dan semati. di dunia fana maupun di alam baka.

tapi yang lebih bikin aku tercengang, tradisi ini datangnya bukan dari kitab suci, atau ajaran para pendeta. tapi justru dari karya sastra. para pendeta malah bertugas memberi penjelasan filosofi dan mempersiapkan para istri sebelum mengorbankan diri. nah, kan! seniman itu memang ditakdirkan menguasai dunia.

dari kakawin (kitab) Bharatayudha dan Sutasoma serta Bomantaka-lah tradisi ini berasal. para raja kemudian menghidupkannya, sebagai bagian dari kultus kekuasaan. menambahkan kharisma pada masa kepemimpinan raja itu, agar jadi buah bibir dan kenangan sepanjang zaman.

aku lega Mariane Pearl memilih menulis memoar. dan kemudian membuat film.

Comment

Blogger Edwison at 9:48 AM, June 27, 2008 said:

Hm... Pasti ada alasan kenapa Permaisuri bunuh diri. Apa mungkin karena kerajaan saat itu melemah bila dipimpin oleh permaisuri, sehingga sebaiknya langsung saja diturunkan kepada pangeran selanjutnya? Hm...
Bila aku mati, kau juga mati. Walau tak ada cinta sehidup semati. (Naif)
Salam...

Anonymous Anonymous at 1:06 PM, October 29, 2011 said:

minta petunjuk dimana kisah pengorbanan diri dan ilustrasi peristiwa mesatya yang dilakukan Raja Gianyar...

Blogger Dian Ina at 3:46 PM, November 03, 2011 said:

aku baca artikel yang dituis Anak Agung Gde Agung

Post a Comment

Shoutbox



Instagram