Sunday, December 14, 2008

Dear Benny dan Mice



aku menulis surat ini hanya dua puluh empat jam setelah pertemuan kita yang mengesankan di peluncuran Lost in Bali. buatku mengesankan, buat kalian sih terserah. soalnya, setelah acara pembacaan dan diskusi buku yang traumatis dengan novelis yang karyanya laris manis itu, aku jadi agak ragu dan segan mau datang ke perbincangan dengan penulis. kuatir pulangnya muntah-muntah.

tapi kalian berdua ternyata biasa-biasa aja. nggak terlalu memalukan, juga nggak terlalu berlebihan. nggak bikin aku shock, tercengang, atau gimana. jadi aku lega. soalnya aku suka banget baca Benny&Mice, udah sejak bertahun-tahun yang lalu. kalo sekiranya di acara kemarin kalian tampil seperti bintang shitnetron stripping atau personil band cheesy menghadapi fans abegeh di mal, kayaknya dengan segera buku-buku Benny&Mice-ku harus dihibahkan. agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

jadi aku menulis surat ini untuk berterima kasih pada kalian berdua, atas beberapa sebab.

pertama, karena kalian berdua jujur dan apa adanya. bukan hanya dalam memilih karakter yang merupakan kombinasi dari curhat colongan, ghibah dan memperolokkan orang lain, tapi tetep mau aman dengan menggunakan identitas diri sendiri, tapi juga karena kalian bicara tentang hal-hal yang nyata dan benar-benar ada. tentang sesuatu yang dekat dan bisa dilihat setiap hari, tentang kenyataan bahwa lebih banyak orang yang nggak punya tapi bergaya punya, merasa keren walaupun norak, dan mencari keuntungan dari kesempatan sesempit apapun. kejujuran yang bikin aku ketawa ngakak, satir dan kadang-kadang agak tertohok.

soalnya, dan ini alasan kedua, ada beberapa kartun kalian yang dengan tepat menceritakan siapa diriku. ini bisa disebut alasan yang narsis nan introspektif. karena aku punya beberapa hape dengan provider yang berbeda-beda. juga karena aku termasuk salah satu yang males menghadapi WISNU asal Jakarta akibat kelakuan sejumlah oknum dari kota bersangkutan yang suka nawar nggak kira-kira, tapi setelah ngotot panjang-lebar ternyata nggak jadi beli. yang paling oke memang turis bule yang homok. mereka cenderung beli barang mahal dan nggak minta diskon. entah kenapa.
selain itu, aku juga sering memberikan info-info yang sama dan pastinya udah basi karena udah ratusan kali kuberikan pada orang-orang yang datang ke Bali, dan yang paling parah, orang tuaku di Malang tinggal di kompleks perumahan yang namanya River Side, karena letaknya di sebelah Kali Mewek. you got me, there.

alasan ketiganya, aku berterima kasih karena di tengah urusan-urusan yang berseliweran di kepalaku, isi dompet yang semakin tipis, dolar yang naik turun, hari depan yang tak pasti, telepon dari bos yang bikin senewen, dan berbagai tetek bengek lainnya yang bikin hidup kadang terasa berat dan rumit, buku-buku kalian selalu berhasil membuatku tertawa terpingkal-pingkal. sampe-sampe Papa melarangku membawa masuk buku 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta ke tempat bikin SIM karena khawatir pak polisi meragukan kewarasanku.

last but not least, aku berterima kasih karena kartun kalian membuatku merasa baik-baik aja. karena masih ada dua pecundang yang nasibnya lebih malang, kelakuannya lebih norak, dan tampangnya lebih menyedihkan daripada aku. hihihi...

3 comments:

Unknown said...

wah, gw jadi penasaran pengen liat juga bukunya neh

dodi said...

gue menunggu karya bennych & jengina, ah!

Anonymous said...

iya buku ini hampir menertawakanku di toko buku...karena aku tertawa yg tertahankan...akhirnya kubelilah bukunya, dah tertawa sepuasnya dirumah...padahal hanya sebuah gambar tangan dan sedikit kata2 yang mengartikan seluruh kejadian disekitar kita...Sangat kreatif

duka yang menyusun sendiri petualangannya

  rasa kehilangan seorang penonton pada aktor yang dia tonton sepanjang yang bisa dia ingat, adalah kehilangan yang senyap. ia tak bisa meng...