alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi
ode untuk kadek
Wednesday, October 07, 2009
laki-laki muda yang tampan dan bertubuh jangkung itu jelas sedang terluka hatinya. pundaknya rebah, tatapnya sayu tersaput sisa-sisa air mata yang menggantung gelap pada kantung di bawah kelopak matanya. geraknya serba salah tak menentu. tanpa senyum. membisu.
ia mengenakan kemeja hitam bergaris tipis merah jambu, berkain senada, dengan ikat kepala batik membebat dahinya. tanpa wajah yang mencerminkan hati remuk redam itu, orang tentu dapat diyakinkan bahwa ia sesungguhnya hanya berniat menemui gadisnya. kunjungan tanda kasih yang biasanya menimbulkan debar menyenangkan. namun saat ini kedatangannya berselimut kepedihan. saat ini adalah kali terakhirnya bisa menatap wajah gadisnya.
laki-laki muda itu seolah tak hendak beranjak dari sisi sang gadis yang terbujur kaku. keduanya saling membisu dan tak akan pernah bisa bertukar kata lagi, tak mungkin bisa bertukar senyum kembali. dalam ketenangannya yang mengiris hati, gadis yang terbaring dengan mata terpejam itu tampak tenteram. seluruh kesakitan dan nyeri yang sempat bersemayam di tubuhnya pupus sudah. ia seolah sedang tidur amat lelap dan tanpa mimpi.
laki-laki tampan yang patah hatinya itu menyadari pandang yang beredar dari sekeliling ke arahnya. pandang prihatin dan trenyuh atas kepahitan yang ia rasakan hari ini, dan tak akan terlupa seumur hidupnya. belum genap seperempat abad ia menghirup hawa dunia, tapi kebahagiaannya telah terenggut pergi bersama gadisnya yang juga masih sangat muda. duapuluh dua.
teriring alunan angklung yang menusuk kalbu dengan haru, semilir angin pekuburan di bawah langit biru dan awan berserak, bersama semerbak dupa dan taburan kelopak-kelopak bunga, dan linangan air mata tanpa isak laki-laki tampan yang bergeming di samping lubang makam, wajah dan tubuh gadis yang telah membisu lenyap ditelan bumi.
bertahun-tahun ia telah menahan kesakitannya. kini ia melepaskan semua. selamat jalan, gadis manis. kamu telah berjuang dengan gagah berani. pergilah dengan tenang. doa kami menyertaimu...
ia mengenakan kemeja hitam bergaris tipis merah jambu, berkain senada, dengan ikat kepala batik membebat dahinya. tanpa wajah yang mencerminkan hati remuk redam itu, orang tentu dapat diyakinkan bahwa ia sesungguhnya hanya berniat menemui gadisnya. kunjungan tanda kasih yang biasanya menimbulkan debar menyenangkan. namun saat ini kedatangannya berselimut kepedihan. saat ini adalah kali terakhirnya bisa menatap wajah gadisnya.
laki-laki muda itu seolah tak hendak beranjak dari sisi sang gadis yang terbujur kaku. keduanya saling membisu dan tak akan pernah bisa bertukar kata lagi, tak mungkin bisa bertukar senyum kembali. dalam ketenangannya yang mengiris hati, gadis yang terbaring dengan mata terpejam itu tampak tenteram. seluruh kesakitan dan nyeri yang sempat bersemayam di tubuhnya pupus sudah. ia seolah sedang tidur amat lelap dan tanpa mimpi.
laki-laki tampan yang patah hatinya itu menyadari pandang yang beredar dari sekeliling ke arahnya. pandang prihatin dan trenyuh atas kepahitan yang ia rasakan hari ini, dan tak akan terlupa seumur hidupnya. belum genap seperempat abad ia menghirup hawa dunia, tapi kebahagiaannya telah terenggut pergi bersama gadisnya yang juga masih sangat muda. duapuluh dua.
teriring alunan angklung yang menusuk kalbu dengan haru, semilir angin pekuburan di bawah langit biru dan awan berserak, bersama semerbak dupa dan taburan kelopak-kelopak bunga, dan linangan air mata tanpa isak laki-laki tampan yang bergeming di samping lubang makam, wajah dan tubuh gadis yang telah membisu lenyap ditelan bumi.
bertahun-tahun ia telah menahan kesakitannya. kini ia melepaskan semua. selamat jalan, gadis manis. kamu telah berjuang dengan gagah berani. pergilah dengan tenang. doa kami menyertaimu...
Previous posts
- yang tumpul tanpa hati
- adventure series: mengenang Langnau am Albis
- adventure series: Beyeler Fondation
- adventure series: little slice of heaven
- adventure series: study, culture and identity
- adventure series: tale from musée d'orsay
- adventure series: mourning day
- adventure series: the day I saw her
- adventure series: I was there!
- adventure series: canoing at rijn
Archives
- December 2004
- January 2005
- February 2005
- March 2005
- April 2005
- May 2005
- June 2005
- July 2005
- August 2005
- September 2005
- October 2005
- November 2005
- December 2005
- January 2006
- February 2006
- March 2006
- April 2006
- May 2006
- June 2006
- July 2006
- August 2006
- September 2006
- October 2006
- November 2006
- December 2006
- January 2007
- February 2007
- March 2007
- April 2007
- May 2007
- June 2007
- July 2007
- August 2007
- September 2007
- October 2007
- November 2007
- December 2007
- January 2008
- February 2008
- March 2008
- April 2008
- May 2008
- June 2008
- July 2008
- August 2008
- September 2008
- October 2008
- November 2008
- December 2008
- January 2009
- February 2009
- March 2009
- April 2009
- May 2009
- June 2009
- July 2009
- August 2009
- September 2009
- October 2009
- November 2009
- December 2009


iki kadek sopo seh? kok sedih banget ceritane. :((
pertanyaanku sama dengan mas Anton....
Siapa nih mbak yang meninggal dan ditinggalkan?
sepasang kekasih yang dipisahkan oleh maut. apakah harus tau nama mereka untuk bisa merasakan kesedihannya? aku rasa tidak.