alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi
a force more powerful
Wednesday, July 26, 2006
Even so tyrants... the more is given them, the more they are obeyed, so much the more do they fortify themselves, become stronger and more able to annihilate and destroy. If nothing be given them, if they be not obeyed, without fighting, without striking a blow, they remain naked, disarmed and are nothing--like as the root of a tree, receiving no moisture or nourishment, becomes dry and dead.
--Etienne de la Boetie, 1577
sekumpulan ibu-ibu di Swedia memutuskan untuk mengambil tindakan pada sebuah perusahaan besar, yang memproduksi mainan-mainan yang berbau kekerasan untuk anak-anak berusia 3-12 tahun. instead of making something for children education, mainan yang diproduksi perusahaan itu mengajarkan pada anak-anak untuk saling memukul, berkelahi dan menghancurkan. demonstrasi, surat pembaca, artikel di media... semua jalan menyuarakan pendapat mereka sudah dilakukan, tapi perusahaan itu bergeming. satu-satunya jalan adalah memberi perusahaan ini sebuah pelajaran.
tanpa banyak penjelasan, mereka berhasil memasuki kantor perusahaan itu di malam hari dan menuangkan beberapa ember air berisi kepala ikan busuk dan isi perut ikan di lantai kantor.
tak lupa mereka tinggalkan tulisan berisi tuntutan untuk menghentikan produksi mainan berbau kekerasan tersebut. mereka berhasil.
ilustrasi semacam ini diceritakan Pak Rizal di salah satu kelasnya untuk mengawali pokok bahasan tentang aksi nirkekerasan. tanpa darah, tanpa korban jiwa, kelompok ibu-ibu dalam cerita diatas bisa mengalahkan arogansi perusahaan besar yang tidak mau mendengarkan suara mereka. cerita yang menggugah dan mempengaruhiku, sampai sekarang.
sejak saat itu, aku selalu percaya bahwa aksi di tingkatan akar rumput, yang dilakukan orang biasa, yang (meskipun) tidak dikenal dan tidak berpengaruh, asal dilakukan secara solid dan sporadis, dengan kesabaran terus menerus dan cara-cara yang kreatif, bisa membuat perubahan. kekuatan rakyat yang menumbangkan rejim Marcos, solidaritas di Polandia yang menumbangkan komunisme dan aksi damai untuk menurunkan Milosevic dari kekuasaan sekaligus mengirimnya ke pengadilan sebagai penjahat perang adalah contoh dari keberhasilan aksi nirkekerasan.
aku sendiri percaya bahwa kesenian dan kebudayaan bisa dijadikan alat yang ampuh untuk menegakkan keberaran dan menciptakan perdamaian. seni dan budaya, dalam bentuk apapun adalah dua hal yang bisa menyentuh hati banyak orang. dan pengaruhnya bisa menimbulkan perubahan yang besarnya bahkan mungkin tidak bisa dibayangkan oleh para seniman.
aku menonton film itu; A Force More Powerful; A Century of Nonviolent Conflict, yang salah satu ceritanya adalah tentang kampanye untuk menumbangkan diktator Chile, Augusto Pinochet. sebelum Pinochet jadi presiden (lagi) untuk kesekian kalinya, ada waktu untuk berkampanye SI (Iya) dan NO (Tidak) di masa 'Electoral Space'. waktu itu di Chile berlaku undang-undang aneh yang memungkinkan pemilihan presiden dengan calon tunggal. hmmm... I think this part reminds me of someone.
nah, kampanye ini ditayangkan di seluruh televisi nasional, saat prime time, dengan durasi yang sama. buat rakyat biasa, yang kesadaran politiknya rendah dan otaknya udah terisi propaganda dan intimidasi bertahun-tahun, sangat sulit untuk mengatakan tidak. entah karena takut, atau karena merasa tidak ada pilihan selain pasrah, nrimo dan sumarah.
Ricardo Lagos, penanggung jawab kampanye NO, membuat video kampanye yang sangat kreatif dan sarat humor. video ini menampilkan banyak orang dari berbagai usia, menyatakan NO! dengan berbagai cara. mulai dari anak-anak kecil yang bermain di air mancur taman kota (walopun anak-anak jelas belum punya hak pilih), abegeh yang lagi pacaran, ibu-ibu yang doyan gosip, sampai seorang nenek tua dengan tangan gemetar yang membuka dompet kecilnya (kalo liat dompetnya pasti kuatir dia gak punya duit) untuk membayar baguette yang dia beli. zoom in ke tangan gemetar... dan terlihat tangan itu memegang koin bertuliskan NO!
hihihihihihi....mereka yang memilih NO menang! oleh karena itu Pinochet nggak bisa terus bekerja jadi diktator di Chile.
sooooooo... Bli Ebo, Bli Balawan dan Bli Budjana (yayaya, saya sok kenal sama gitarisnya Gigi -Dewa Budjana)... jangan diem aja. lakukan sesuatu. sebelum lebih banyak yang jadi korban pemerasan. aku mendukung!
--Etienne de la Boetie, 1577
sekumpulan ibu-ibu di Swedia memutuskan untuk mengambil tindakan pada sebuah perusahaan besar, yang memproduksi mainan-mainan yang berbau kekerasan untuk anak-anak berusia 3-12 tahun. instead of making something for children education, mainan yang diproduksi perusahaan itu mengajarkan pada anak-anak untuk saling memukul, berkelahi dan menghancurkan. demonstrasi, surat pembaca, artikel di media... semua jalan menyuarakan pendapat mereka sudah dilakukan, tapi perusahaan itu bergeming. satu-satunya jalan adalah memberi perusahaan ini sebuah pelajaran.
tanpa banyak penjelasan, mereka berhasil memasuki kantor perusahaan itu di malam hari dan menuangkan beberapa ember air berisi kepala ikan busuk dan isi perut ikan di lantai kantor.
tak lupa mereka tinggalkan tulisan berisi tuntutan untuk menghentikan produksi mainan berbau kekerasan tersebut. mereka berhasil.
ilustrasi semacam ini diceritakan Pak Rizal di salah satu kelasnya untuk mengawali pokok bahasan tentang aksi nirkekerasan. tanpa darah, tanpa korban jiwa, kelompok ibu-ibu dalam cerita diatas bisa mengalahkan arogansi perusahaan besar yang tidak mau mendengarkan suara mereka. cerita yang menggugah dan mempengaruhiku, sampai sekarang.
sejak saat itu, aku selalu percaya bahwa aksi di tingkatan akar rumput, yang dilakukan orang biasa, yang (meskipun) tidak dikenal dan tidak berpengaruh, asal dilakukan secara solid dan sporadis, dengan kesabaran terus menerus dan cara-cara yang kreatif, bisa membuat perubahan. kekuatan rakyat yang menumbangkan rejim Marcos, solidaritas di Polandia yang menumbangkan komunisme dan aksi damai untuk menurunkan Milosevic dari kekuasaan sekaligus mengirimnya ke pengadilan sebagai penjahat perang adalah contoh dari keberhasilan aksi nirkekerasan.
aku sendiri percaya bahwa kesenian dan kebudayaan bisa dijadikan alat yang ampuh untuk menegakkan keberaran dan menciptakan perdamaian. seni dan budaya, dalam bentuk apapun adalah dua hal yang bisa menyentuh hati banyak orang. dan pengaruhnya bisa menimbulkan perubahan yang besarnya bahkan mungkin tidak bisa dibayangkan oleh para seniman.
aku menonton film itu; A Force More Powerful; A Century of Nonviolent Conflict, yang salah satu ceritanya adalah tentang kampanye untuk menumbangkan diktator Chile, Augusto Pinochet. sebelum Pinochet jadi presiden (lagi) untuk kesekian kalinya, ada waktu untuk berkampanye SI (Iya) dan NO (Tidak) di masa 'Electoral Space'. waktu itu di Chile berlaku undang-undang aneh yang memungkinkan pemilihan presiden dengan calon tunggal. hmmm... I think this part reminds me of someone.
nah, kampanye ini ditayangkan di seluruh televisi nasional, saat prime time, dengan durasi yang sama. buat rakyat biasa, yang kesadaran politiknya rendah dan otaknya udah terisi propaganda dan intimidasi bertahun-tahun, sangat sulit untuk mengatakan tidak. entah karena takut, atau karena merasa tidak ada pilihan selain pasrah, nrimo dan sumarah.
Ricardo Lagos, penanggung jawab kampanye NO, membuat video kampanye yang sangat kreatif dan sarat humor. video ini menampilkan banyak orang dari berbagai usia, menyatakan NO! dengan berbagai cara. mulai dari anak-anak kecil yang bermain di air mancur taman kota (walopun anak-anak jelas belum punya hak pilih), abegeh yang lagi pacaran, ibu-ibu yang doyan gosip, sampai seorang nenek tua dengan tangan gemetar yang membuka dompet kecilnya (kalo liat dompetnya pasti kuatir dia gak punya duit) untuk membayar baguette yang dia beli. zoom in ke tangan gemetar... dan terlihat tangan itu memegang koin bertuliskan NO!
hihihihihihi....mereka yang memilih NO menang! oleh karena itu Pinochet nggak bisa terus bekerja jadi diktator di Chile.
sooooooo... Bli Ebo, Bli Balawan dan Bli Budjana (yayaya, saya sok kenal sama gitarisnya Gigi -Dewa Budjana)... jangan diem aja. lakukan sesuatu. sebelum lebih banyak yang jadi korban pemerasan. aku mendukung!
Being Jane
Sunday, July 16, 2006
awalnya tentu saja terlihat mudah. apalagi waktu pertama kali mencoba di jalur pelatihan, setelah mendapat bimbingan dari mas-mas yang rambutnya dicat pirang sebagian, yang bekerja di tempat itu. pada dasarnya ada 5 hal yang dilakukan. memanjat (baik memanjat dinding, tangga maupun jaring), berjalan diatas kawat ala pemain trapeze, berjalan lewat jembatan gantung, bergelantungan pada seutas kawat seperti meluncur dan berayun dengan tali seperti Tarzan, dari pohon ke pohon.

tapi melihat dan mencoba memang sama sekali berbeda.
lepas dari jalur pelatihan, kami berpencar memilih sendiri jenis-jenis tantangan yang akan dilalui. mulai dari hijau yang mudah, biru yang lumayan, merah yang mendebarkan, sampai jalur hitam yang kelihatannya pendek tapi paling tinggi dari permukaan tanah. di Bedugul, tempat dimana aku berperan jadi Jane selama hampir 2,5 jam, mencoba menyelami kehidupan Tarzan, pohon-pohon tinggi membentuk kanopi, hamparan rumput hijau lembut sejauh mata memandang dan kabut turun pada jam 4 sore, serupa lapisan kapas yang menghalangi pandangan. matahari jarang menyusup celah langit daun yang tebal ini. hutan yang cantik di pinggir danau. orang menyebutnya Bali Botanical Garden. dan tempatku bergelantungan ini disebut Bali Tree-top Adventure Park
aku suka sekali berada jauh diatas tanah diantara pohon-pohon itu, memandang mereka yang mengecil di bawah sana. menyenangkan juga berjalan-jalan diatas kawat, berpegangan pada pulley yang diapit dua karabiner...lalu mengayunkan tubuh dan meluncur jauh... berteriak bebas, dihembus angin semilir. mungkin ini rasanya terbang dan jadi burung.
yang paling menegangkan adalah waktu harus melintasi dua pohon yang dihubungkan oleh tali-tali berujung logam seperti ladam. aku harus berakrobat... berusaha memahami apa yang diteriakkan oleh pemandu dari bawah. pegang tali berikutnya dengan tangan kiri! langkahkan kaki kanan ke belakang, ke arah tali berikutnya! satukan tangan di dua tali!... beringsut-ingsut aku bisa melewatinya, lalu terasa legaaaa... waktu bisa memeluk pohon lagi.

setiap kali harus meluncur dengan pulley pada kawat, aku selalu teringat potongan adegan pembuka George of the Jungle. aku nggak mau nabrak pohon kayak Brendan Fraser!
syukurlah, pengelola tempat itu juga tidak menginginkannya. somehow, kalo udah deket batang pohon yang lain, ada penghambat yang menahan. all I have to do is grab the cable, or the net, lalu memanjat.
yang paling seru tentu saja bergelantungan pada seutas tali dari satu pohon ke pohon yang lain. memang bukan menangkap seutas tali setelah lolos dari satu pohon, tapi cukuplah untuk merasakan berayun... dan menjadi apprentice di hutannya Tarzan. me, Jane. learning how to swing.
now I understand why Tarzan lives in the jungle. swinging is fun!

tapi melihat dan mencoba memang sama sekali berbeda.
lepas dari jalur pelatihan, kami berpencar memilih sendiri jenis-jenis tantangan yang akan dilalui. mulai dari hijau yang mudah, biru yang lumayan, merah yang mendebarkan, sampai jalur hitam yang kelihatannya pendek tapi paling tinggi dari permukaan tanah. di Bedugul, tempat dimana aku berperan jadi Jane selama hampir 2,5 jam, mencoba menyelami kehidupan Tarzan, pohon-pohon tinggi membentuk kanopi, hamparan rumput hijau lembut sejauh mata memandang dan kabut turun pada jam 4 sore, serupa lapisan kapas yang menghalangi pandangan. matahari jarang menyusup celah langit daun yang tebal ini. hutan yang cantik di pinggir danau. orang menyebutnya Bali Botanical Garden. dan tempatku bergelantungan ini disebut Bali Tree-top Adventure Park
aku suka sekali berada jauh diatas tanah diantara pohon-pohon itu, memandang mereka yang mengecil di bawah sana. menyenangkan juga berjalan-jalan diatas kawat, berpegangan pada pulley yang diapit dua karabiner...lalu mengayunkan tubuh dan meluncur jauh... berteriak bebas, dihembus angin semilir. mungkin ini rasanya terbang dan jadi burung.
yang paling menegangkan adalah waktu harus melintasi dua pohon yang dihubungkan oleh tali-tali berujung logam seperti ladam. aku harus berakrobat... berusaha memahami apa yang diteriakkan oleh pemandu dari bawah. pegang tali berikutnya dengan tangan kiri! langkahkan kaki kanan ke belakang, ke arah tali berikutnya! satukan tangan di dua tali!... beringsut-ingsut aku bisa melewatinya, lalu terasa legaaaa... waktu bisa memeluk pohon lagi.

setiap kali harus meluncur dengan pulley pada kawat, aku selalu teringat potongan adegan pembuka George of the Jungle. aku nggak mau nabrak pohon kayak Brendan Fraser!
syukurlah, pengelola tempat itu juga tidak menginginkannya. somehow, kalo udah deket batang pohon yang lain, ada penghambat yang menahan. all I have to do is grab the cable, or the net, lalu memanjat.
yang paling seru tentu saja bergelantungan pada seutas tali dari satu pohon ke pohon yang lain. memang bukan menangkap seutas tali setelah lolos dari satu pohon, tapi cukuplah untuk merasakan berayun... dan menjadi apprentice di hutannya Tarzan. me, Jane. learning how to swing.
now I understand why Tarzan lives in the jungle. swinging is fun!
my homework
Tuesday, July 11, 2006

*sambil melonjak-lonjak bahagia*
terima kasih buat yang membelikanku The Unbearable Lightness of Being. ini buku yang paling banyak dipuji-puji dari karya Milan Kundera, penulis Ceko yang sangat mengagumkan. senang sekali rasanya menemukan buku itu ada didalam kantong plastik yang kuterima tadi siang. hore! hore! bikin aku senang nggak susah kok. beliin buku aja. hihihi...

nah! ini berarti aku harus lebih rajin meluangkan waktu senggang untuk baca buku supaya The Blind Assassin-nya Margaret Atwood bisa cepat selesai. karena ceritanya yang lambat dan bukunya yang tuebelll... rasanya udah berminggu-minggu masih belum beres juga baca buku itu.

eits! tapi masih ada Haruki Murakami dengan Kafka on The Shore yang menunggu juga untuk dibaca. pe-er yang paling menyenangkan di seluruh dunia adalah pe-er membaca buku.
yippie!
A Letter to Cristiano Ronaldo
Thursday, July 06, 2006
dear Cristiano Ronaldo,
I'm so sorry to know that you and your team will not be playing in the World Cup 2006 final match. I know how hard you work for the Cup and how long Portugal has been waiting. You must be very disappointed. I can see that in your face early this morning. Are you still crying?
Some may say that heroes shed no tears, but it's alright to crying now, you can wipe the tears tomorrow, and start a new beginning. Another chapter for a four year away final match.
And if you want to a find a peace of mind and rest your body for several days, you can always come to me. Come to Ubud. I'll lend my shoulder for you to cry on. I can arrange for you to stay in a beautiful villa with stunning view overlooking a river valley, in my office. Pamper yourself with an aromatic massage treatment with natural herbs and spices of your choice.
But if you don't want to stay in my office, I can always offer you my house. I'll be more than happy to host you.
We can talk all-sleepless-night-long. Or have a long walk under the blinking stars after a romantic candle-lit dinner. Do you want me to cook Bacalhau a Braz?
Just let me know, Cristiano.
And I'll see you soon.
with love,
Dian Ina
I'm so sorry to know that you and your team will not be playing in the World Cup 2006 final match. I know how hard you work for the Cup and how long Portugal has been waiting. You must be very disappointed. I can see that in your face early this morning. Are you still crying?
Some may say that heroes shed no tears, but it's alright to crying now, you can wipe the tears tomorrow, and start a new beginning. Another chapter for a four year away final match.
And if you want to a find a peace of mind and rest your body for several days, you can always come to me. Come to Ubud. I'll lend my shoulder for you to cry on. I can arrange for you to stay in a beautiful villa with stunning view overlooking a river valley, in my office. Pamper yourself with an aromatic massage treatment with natural herbs and spices of your choice.
But if you don't want to stay in my office, I can always offer you my house. I'll be more than happy to host you.
We can talk all-sleepless-night-long. Or have a long walk under the blinking stars after a romantic candle-lit dinner. Do you want me to cook Bacalhau a Braz?
Just let me know, Cristiano.
And I'll see you soon.
with love,
Dian Ina
keracunan makanan itu tidak enak
Sunday, July 02, 2006
sejak aku masih kecil, mama selalu menasihati supaya jangan makan berlebihan. nggak sehat! gitu kata mama. lagipula, kalo kekenyangan, perut jadi sakit dan buncit, napas terasa sesak, badan terasa berat, malas bergerak... bayanganku jadi seperti ikan paus yang terdampar di pantai. cuma bisa ngulet-ngulet dikit.
udah gitu, masih kata mama lagi nih... kebanyakan makan itu ora ilok! kelihatannya rakus, kayak nggak pernah makan aja. langsung deh yang kebayang babi. kayak ayah dan ibu yang menjelma jadi induk babi tambun di film Spirited Away.
makanya seumur hidup aku nggak pernah ngalamin yang namanya mendem alias mabuk gara-gara kebanyakan makan sesuatu. dan suka heran juga kenapa ada orang bisa mendem mangga, duren, jengkol ato bahkan sambal goreng hati. belum pernah tau?!
I've known someone.
lalu ceritanya, hari Rabu lalu aku pergi ke Jimbaran. ada undangan welcome dinner sama beberapa agen dan jurnalis yang datang dari Malaysia. makan seafood di kafe pinggir pantai nih, ceritanya. aku belum pernah ke kafe itu, pun belum pernah dengar nama kafe itu disebut sebelumnya. namun tetap pergilah aku kesana, bertemu orang-orang dan bersosialisasi... eh bergaul, sampai akhirnya hidangan tersaji dan kami santap bersama. masakannya cukup enak. entah karena udara dingin, atau karena memang udah lapar banget... soalnya makan malam baru dimulai jam 21.00 yang berarti udah telat banget... semua makan dengan lahap. sambil ngobrol, ketawa-ketawa, cerita-cerita...
dan keesokan harinya...
setelah makan siang badanku terasa aneh. sepertinya perut dan seterusnya sampai pangkal paha kehilangan koordinasi dengan bagian tubuh yang lain. seperti bergerak sendiri. bagian dalam perutku berpusar dan melilit, ada puting beliung kecil sedang berkuasa disana, membuatku kalang kabut seperti induk ayam yang mau bertelur. naik turun tangga, berjalan keliling area untuk mengurangi tekanan, keluar masuk kamar mandi, tanpa hasil. sampai akhirnya rasa mual itu datang dan tak tertahankan. mendorong makan siangku keluar. tapi itu baru awal.
waktu aku ke toilet lagi... sejuta topan badai! semuanya keluar, membanjir dari atas dan dari bawah. aku sampai sempoyongan. apalagi setelah terjadinya dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali... sampai akhirnya aku pergi ke klinik untuk disuntik jam 8 malam itu.
pada hari Jumat barulah aku tahu kalo yang aku alami, yang aku kira masuk angin karena terlambat makan dan keanginan itu sebenarnya adalah keracunan makanan. setelah mereka yang semeja dan tidak semeja denganku mengkonfirm hal yang sama. beberapa orang bahkan lebih parah, karena mulainya tepat malam setelah selesai makan, sampai jadi sangat lemas karena nyaris dehidrasi. untung nggak ada yang lebih parah daripada itu.
masih bisa bilang untung! dasar Jawa!
sampai hari ini, aku masih belum beres juga ke toiletnya. walopun udah makan sangat hati-hati... nggak pedes, nggak es, nggak berempah tajam... tapi tetep aja belum sembuh. padahal lagi banyak orang yang harus ditemui tiap hari. uh!
buat yang mau tau nama kafe tempat aku makan, silakan japri
udah gitu, masih kata mama lagi nih... kebanyakan makan itu ora ilok! kelihatannya rakus, kayak nggak pernah makan aja. langsung deh yang kebayang babi. kayak ayah dan ibu yang menjelma jadi induk babi tambun di film Spirited Away.
makanya seumur hidup aku nggak pernah ngalamin yang namanya mendem alias mabuk gara-gara kebanyakan makan sesuatu. dan suka heran juga kenapa ada orang bisa mendem mangga, duren, jengkol ato bahkan sambal goreng hati. belum pernah tau?!
I've known someone.
lalu ceritanya, hari Rabu lalu aku pergi ke Jimbaran. ada undangan welcome dinner sama beberapa agen dan jurnalis yang datang dari Malaysia. makan seafood di kafe pinggir pantai nih, ceritanya. aku belum pernah ke kafe itu, pun belum pernah dengar nama kafe itu disebut sebelumnya. namun tetap pergilah aku kesana, bertemu orang-orang dan bersosialisasi... eh bergaul, sampai akhirnya hidangan tersaji dan kami santap bersama. masakannya cukup enak. entah karena udara dingin, atau karena memang udah lapar banget... soalnya makan malam baru dimulai jam 21.00 yang berarti udah telat banget... semua makan dengan lahap. sambil ngobrol, ketawa-ketawa, cerita-cerita...
dan keesokan harinya...
setelah makan siang badanku terasa aneh. sepertinya perut dan seterusnya sampai pangkal paha kehilangan koordinasi dengan bagian tubuh yang lain. seperti bergerak sendiri. bagian dalam perutku berpusar dan melilit, ada puting beliung kecil sedang berkuasa disana, membuatku kalang kabut seperti induk ayam yang mau bertelur. naik turun tangga, berjalan keliling area untuk mengurangi tekanan, keluar masuk kamar mandi, tanpa hasil. sampai akhirnya rasa mual itu datang dan tak tertahankan. mendorong makan siangku keluar. tapi itu baru awal.
waktu aku ke toilet lagi... sejuta topan badai! semuanya keluar, membanjir dari atas dan dari bawah. aku sampai sempoyongan. apalagi setelah terjadinya dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali... sampai akhirnya aku pergi ke klinik untuk disuntik jam 8 malam itu.
pada hari Jumat barulah aku tahu kalo yang aku alami, yang aku kira masuk angin karena terlambat makan dan keanginan itu sebenarnya adalah keracunan makanan. setelah mereka yang semeja dan tidak semeja denganku mengkonfirm hal yang sama. beberapa orang bahkan lebih parah, karena mulainya tepat malam setelah selesai makan, sampai jadi sangat lemas karena nyaris dehidrasi. untung nggak ada yang lebih parah daripada itu.
masih bisa bilang untung! dasar Jawa!
sampai hari ini, aku masih belum beres juga ke toiletnya. walopun udah makan sangat hati-hati... nggak pedes, nggak es, nggak berempah tajam... tapi tetep aja belum sembuh. padahal lagi banyak orang yang harus ditemui tiap hari. uh!
buat yang mau tau nama kafe tempat aku makan, silakan japri
Last posts
Archives
- December 2004
- January 2005
- February 2005
- March 2005
- April 2005
- May 2005
- June 2005
- July 2005
- August 2005
- September 2005
- October 2005
- November 2005
- December 2005
- January 2006
- February 2006
- March 2006
- April 2006
- May 2006
- June 2006
- July 2006
- August 2006
- September 2006
- October 2006
- November 2006
- December 2006
- January 2007
- February 2007
- March 2007
- April 2007
- May 2007
- June 2007
- July 2007
- August 2007
- September 2007
- October 2007
- November 2007
- December 2007
- January 2008
- February 2008
- March 2008
- April 2008
- May 2008
- June 2008
- July 2008
- August 2008
- September 2008
- October 2008
- November 2008
- December 2008
- January 2009
- February 2009
- March 2009
- April 2009
- May 2009
- June 2009
- July 2009
- August 2009
- September 2009
- October 2009
- November 2009
- December 2009
- January 2010
- February 2010
- March 2010
- May 2010
- January 2011
- April 2011
- May 2011
- June 2011
- October 2011
- November 2011
- May 2012
- October 2012
- March 2013
- April 2013

