alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi

DateSaturday, June 20, 2009   Comment



saat melihat gambar di atas, apa yang terbersit dalam pikiranmu?
gambar kuno? Bali di masa lalu? atau barangkali UU APP.

gambar ini aku ambil dari buku Miguel Covarrubias yang judulnya "Island of Bali", yang pertama kali terbit pada tahun 1937. kira-kira 72 tahun yang lalu. dan hebatnya, sampai hari ini, buku tersebut masih jadi rujukan untuk banyak hal yang ingin diketahui orang mengenai Bali. mulai dari cara berpikir orang-orangnya, kebiasaannya, budaya dan kepercayaannya, cara hidupnya, sampai dengan berbagai mitos yang hidup dan berkembang dalam hidup mereka.

terdapat pula sebuah film dengan judul sama, yang pengambilan gambarnya dilakukan pada saat yang bersamaan dengan saat riset penulisan buku ini dimulai. itulah sebabnya, foto-foto yang ada dalam buku ini merupakan fragmen yang diambil dari film tersebut.

beberapa hari yang lalu aku menonton filmnya, dan aku seperti sedang terbius pada keindahan masa lalu, mata penuh rasa ingin tahu, dan gairah yang mendalam akan cara hidup dan kebudayaan yang dimiliki sekelompok orang yang paling berbakat, paling halus pekerjaan tangannya, paling terbuka sikapnya, sekaligus paling sulit untuk diduga. kesemuanya seolah abadi, dan hadir menjelma selama 90 menit itu.

hal pertama yang aku sadari saat melihat film itu adalah cara hidup yang sophisticated. setiap bagian dari cara hidup itu bersinggungan dengan kesenian dan kebudayaan. mulai dari cara berpakaian, memasak, berkumpul, mengadakan upacara, berbagai kegiatan kesenian, bahkan dari gerak-gerik tangan pendeta Shiwa pada saat memimpin upacara. tentu saja di sana-sini bisa ditemui perempuan-perempuan bertelanjang dada. lalu seseorang berbisik di telingaku:

"waktu itu, angka perkosaan tinggi nggak ya?"

hmmm...
aku pikir nggak. justru rasanya pada saat itu, tubuh adalah sebuah cara untuk mengekspresikan diri, dan dipandang biasa. tidak ada yang ditutupi, semua serba biasa. rumah-rumah Bali pada masa itu terdiri dari paviliun-paviliun yang bahkan tak berdinding! tentu hal ini akan menimbulkan kegemparan luar biasa kalau diterapkan sekarang. perempuan bertelanjang dada ke mana-mana, maksudku.

aku juga melihat gairah yang luar biasa dalam melakukan upacara, membuat sesajen, serta utamanya, bermain gamelan dan menari.
tuntutan hidup yang belum segila sekarang, rasio jumlah tanah dan sumberdaya yang tersedia dengan jumlah penduduk pada masa itu tentu menyumbang banyak pada kenyataan ini. pada saat memainkan gamelan dan menari, dari layar hitam putih yang menampilkan gambar hitam putih itu, aku bisa melihat energi luar biasa yang dipancarkan setiap gerak tangan, gelengan kepala, liukan tubuh dan lirikan mata.

lalu, apa yang membuatku tertegun begitu lama?



saat kepalaku mulai membandingkan gambar-gambar hitam putih yang aku lihat di layar, dengan hal-hal yang aku temukan dalam hidup sehari-hari.

benar, aku memang merasa kalau aku telah hidup di masa modern. dengan berbagai hasil teknologi yang setiap harinya aku pergunakan dalam kehidupan. dan dibandingkan dengan orang-orang yang terekam dalam gambar itu, aku merasa hidupku berlipat-lipat lebih nyaman.
aku tinggal dalam sebuah rumah lengkap dengan dinding tembok bata dan atap yang memastikan aku tidak kedinginan atau kepanasan. dengan segala hal yang ada dalam jangkauan. lampu yang tidak membuat mukaku panas menghitam, kendaraan bermotor sehingga aku tidak perlu berjalan kaki kesana-kemari. makanan yang tidak perlu kutanam, kutumbuhkan dan kurawat sebelum dimasak; memasak pun kadang tak perlu. segala kemudahan, segala kecepatan, segala kesempuraan dari apa yang mereka miliki.

tapi dari semua kelebihan itu, aku juga menyadari bahwa nyaris tidak ada yang berubah dalam bentuk. pakaian yang dipakai dalam berbagai upacara tetaplah sama, begitupun pakaian menari. bentuk sesajen juga persis, meskipun jenis buahnya berbeda. lalu hiasan yang dipasang di rumah-rumah saat ada upacara khusus juga sama saja. dalam banyak hal, aku merasa bahwa pulau ini membeku. waktu yang bergerak dengan kepastian dan terus melaju seolah hanya meninggalkan jejak mendalam yang tak kentara dari lapisan luar yang terjaga. hutan beton yang menggantikan rimbun pohon, sunga kotor dan udara yang menyesakkan nafas, serta wajah-wajah kuyu orang-orang miskin yang tampak begitu sengsara tanpa senyum dan tanpa gairah hidup. bahkan energi yang meluap-luap itu pun seolah sirna dari permainan gamelan dan tarian.

jika Covarrubias kembali ke Bali, ia mungkin akan sangat kehilangan karena trenggiling, satu-satunya hewan liar yang muncul beberapa kali dalam filmnya, tidak bisa dengan mudah ia jumpai lagi.

Comment

Anonymous cinker at 11:47 AM, June 21, 2009 said:

mbak ada filnya ngak.....share donk....jadi penasaran juga

Blogger Dian Ina at 9:06 AM, June 22, 2009 said:

filmnya nggak ada. kemarin nonton juga kebetulan aja karena ada salah satu muridnya Covarrubias yang bawa film itu ke Bali dan memutarnya.

Blogger Haridivanandha at 11:00 AM, June 26, 2009 said:

Terkadang suasana lama begitu menenangkan, namun setidaknya belum keseluruhan hilang, aku masih bisa menemukan sedikit walau bagai sebutir debu di hamparan padang perubahan, suasana hangat yang tergaung dari masa lalu, di pinggiran daerah yang belum tersentuh banyak oleh peradaban yang terus melaju berganti rupa.

OpenID sgharjono at 2:38 PM, June 26, 2009 said:

Aku juga pernah melihat flim nya tapi sayang setelah aku simpen cukup lama di hardisk ku sekarang sudah aku delete. Disana sangat jelas di gambarkan suasana Bali tempo dulu dari kesenian tari-tarian sampai dengan sambung ayam. Btw tentang kasus pemerkosaan, mungkin ada tapi belum sempat terekspos karena memang belum ada Miguel Covarrubias lain yang meneliti fenomena tersebut. :D

Anonymous putri at 2:48 PM, June 27, 2009 said:

Saya pernah liat potongan filmnya yang dipresentasikan dosen waktu pelajaran "etika dan norma".

Kesannya : "Wih ternyata bali 73 tahun lalu primitif banget ya :D

Post a Comment

Shoutbox



Instagram