alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi

DateTuesday, November 10, 2009   Comment


sejak akhir tahun lalu, aku makin sering melihat gaun-gaun semacam ini berseliweran di jalan-jalan. sebetulnya kalau diingat baik-baik, tahun 2007-an juga udah ada sih yang pakai maxi-dress macam ini, tapi tentu saja saat itu, hanya segelintir ultra-ultra chic aja yang memakainya. seiring berjalannya waktu, wabah yang penyebarannya disulut oleh, diantaranya, Diane von Furstenberg ini, semakin menyebar.

tapi memang, saat satu model baju sudah mulai keliatan menyebar luas dan semakin banyak yang pakai, tiba-tiba bentuknya jadi makin aneh, dan makin nggak pantas pakai. sepertinya memang ada semacam konspirasi, bahwa bentuk pakaian yang bagus, enak dilihat dan bikin semua yang lihat mengiri menganan, hanya disediakan buat the certain beautiful people who sway and steer the world under their gaze.

lalu tiba-tiba, muncul maxi dress berwarna ungu tua dengan motif belang macan warna hitam. atau warna merah ngejreng dengan motif belah ketupat besar-besar dalam berbagai warna, kuning, hijau, biru, ungu, oranye, kombinasi yang begitu mencengangkan dan tak terbayangkan bisa tercipta.

dan kalau gaun-gaun yang menyilaukan mata semacam ini aku temui di acara resital piano anak-anak, aku hanya bisa mengasihani anak itu, bukan salahnya sehingga ia harus berada di tengah-tengah kecelakaan mode semacam ini.


sebetulnya, pilihan maxidress yang sangat beragam baik bahan maupun motif membuatnya bisa dipakai oleh nyaris semua bentuk tubuh. bisa menutupi bagian bawah badan yang terlalu besar, menyamarkan perut yang tidak rata, dan memberi volume pada tubuh yang terlalu kurus. tapi jenis gaun ini memang sebaiknya tidak dipakai oleh mereka yang bertubuh pendek, karena bisa membuat pemakainya jadi seperti tenggelam.

dan karena ini gaun musim panas, paling cocok dipadukan dengan sendal yang tipis dan terbuka tanpa hak, atau sepatu wedges untuk acara malam yang lebih formal.

Comment

Shoutbox



Instagram