alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi

DateSaturday, July 11, 2009   Comment

laki-laki tua itu memakai jaket kedap air di luar jaket tebalnya yang tampak hangat dan berwarna oranye. celana khaki-nya berujung pada sepatu trekking, kepalanya terbenam dalam topi hijau tua. di tangan kanannya sebuah payung panjang ia perlakukan bagai tongkat memandu langkahnya melintasi rerumputan dan jalanan licin yang tersusun dari bata merah yang tampak berumur. seperti matanya yang memandang ramah dari balik kacamata berbingkai logam kekuningan. tubuhnya gemuk, tapi wajar untuk orang seusianya. kurasa umurnya tak kurang dari 65 tahun. mungkin lebih. dan dalam cuaca sedingin ini, orang harus punya cukup cadangan lemak kalau tidak mau terhuyung-huyung sempoyongan tertiup hembusan angin jahanam. seperti yang setiap hari terjadi padaku.

ia mengawali kisahnya dengan memperkenalkan diri. lalu menceritakan bagaimana benteng tua yang tampak kokoh, anggun sekaligus menyeramkan itu mulai dibangun. bagaimana dinding bata setebal 1,3 sampai 1,6 meter itu sengaja dirancang untuk memperkuat pertahanan Utrecht, setelah Perang Dunia I, melengkapi pertahanan air, serangkaian parit selebar 3-5 m sedalam 40-50 cm yang dibangun mengelilingi beberapa kota di Belanda untuk melumpuhkan kekuatan mobilisasi musuh. Fort of Rhijnauwen di Kromm Rijn adalah satu dari sekian banyak benteng di seluruh Belanda yang termasuk dalam jaringan Nieuwe Hollandse Waterlinie.

bahkan pada jam 11 pagi, tempat ini membuatku merinding.

ia bercerita bahwa benteng ini tidak pernah mengalami masa pertempuran, saat para tentara harus bertahan menghadapi serbuan musuh, meskipun sesungguhnya ia dirancang untuk itu. benteng ini hanya dipergunakan selama 15 tahun, sebelum akhirnay ditinggalkan. tapi tetap saja, di tempat ini... sebagaimana pada situs-situs militer tua di belahan bumi manapun, kamu bisa mengendus maut. aromanya menyengat. menegakkan bulu kuduk.

saat kami melewati pintu masuknya, hawa dingin menyergap. suhunya bisa mencapai 2 atau 4˚C, kata orang tua itu. aku mengeratkan kancing mantel hitamku yang terasa berat. hawa dingin kurasakan mulai menyusup tulang jemari yang terbuka. lembab, dingin, dengan kegelapan nyaris sempurna yang meliputi kami. sia-sia aku berusaha merasa nyaman di tempat dengan langit-langit serendah ini. segalanya seperti mengurungku. masa lalu, kegelapan, tetes air yang samar, gesekan langkah kaki pada bata yang berusia ratusan tahun, kilatan cahaya samar dari layar hp yang dikibaskan kesana kemari, bunyi yang menggema dari pita suaranya yang renta saat berbicara... claustrophobic.

dalam kepalaku ada suara melengking, jerit kematian yang melolong sesaat lalu lenyap ditelan sunyi dan kegelapan, para prajurit putus asa yang mendekam putus asa selama 4 tahun dalam tawanan Nazi, darah segar membuncah di dinding, cipratannya amis dan mematikan. 

diantara bangunan-bangunan dalam lingkungan benteng ini, ada sebuah lonceng besar di salah satu pelataran. lelaki tua itu bercerita; pada masa pendudukan Nazi, ratusan tentara pembebasan yang berhasil ditawan, diikat dalam baris-baris berjajar di pelataran di hadapan lonceng itu. kesemuanya kemudian ditembak mati dan dikubur serampangan di tempat yang sama. seorang petani yang memiliki rumah di balik gundukan bukit di depan benteng, dikabarkan mencatat setiap tembakan yang didengarnya. usianya kini 85 tahun. dan tetap tinggal di rumah yang sama. ia mendengar lebih dari 700 tembakan telah menewaskan begitu banyak tentara di pelataran maut itu. 

aku bertanya-tanya apakah arwah para tentara bergentayangan di sekitar sini, dan apakah mereka akan bangkit setiap tanggal 4 Mei, ketika lonceng dibunyikan, dan ribuan orang datang berduyun-duyun pada acara peringatan kematian mereka?

benteng ini menurutku sangat canggih dan dirancang dengan baik untuk ukuran bangunan yang dibangun pada abad ke-19. ia memiliki sistem penyulingan air yang baik, sedemikian rupa sehingga air hujan yang disuling melalui dinding bata tebal ini berubah menjadi air yang bisa diminum dan mengalir langsung ke ceruk-ceruk di sepanjang dinding barak tentara, tetesannya bisa kami dengar di setiap ruangan. sampai kini, masih ada bagian dari ceruk-ceruk itu yang mengalirkan air yang aman untuk diminum. 

kami juga sampai di salah satu dinding yang penuh lubang. dikabarkan, dua lubang terbesar pada dinding itu dulunya merupakan gantungan belenggu besi tempat tawanan diborgol dalam keadaan berdiri. itu adalah tempat interogasi. para tentara Nazi yang berusaha mengorek keterangan dari para tawanan akan menakut-nakuti mereka dengan menembakkan peluru ke sekitar mereka. aku merinding membayangkannya. alangkah seramnya!

aku dan sekitar 15 orang lainnya dari Korea, Inggris, Perancis, Belanda, Norwegia, Denmark, Turki, Austria dan lainnya baru keluar dari Fort Rhijnauwen satu setengah jam kemudian, setelah berhasil dibuat tercekam sepanjang perjalanan menyusuri kisah benteng yang muram itu.

tiba-tiba, matahari yang malu-malu di balik mendung kelabu dan suhu 12˚C di luar benteng jadi terasa sangat menyenangkan.

Comment

Shoutbox



Instagram