alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi

DateTuesday, July 28, 2009   Comment

siapakah ibu yang paling terkenal di dunia?

waktu pertanyaan ini aku ketikkan di papan pencari google, keluarlah daftar yang kira-kira berisi Bunda Teresa (yang meskipun nggak punya anak kandung tapi jadi ibu untuk ribuan anak di Kolkatta, India), Daphna Edwards Ziman yang menginisiasi program PBB untuk anak-anak, Chilren United Nations, atau mereka yang jadi korban kekejaman Nazi di Eropa pada Perang Dunia II, seperti misalnya Gerda Klein dan Raja Weksler. nama-nama lain dalam daftar ini adalah para selebritis yang juga jadi ibu, baik ibu kandung maupun ibu adopsi, seperti Angelina Jolie dan Cindy Crawford. entah kenapa Madonna nggak disebut. padahal kalau menurut Bruno, Angelina Jolie dan Madonna ada di tingkatan yang sama:

"Angelina's got one, Madonna's got one, now Bruno's got one"

tapi di Musée d'Orsay, ibu yang paling terkenal adalah 'Ibunya Whistler' atau judul resminya 'Arrangement in Grey and Black No.1'. setelah lihat gambarnya, mungkin udah pada nggak asing lagi sama ibu yang satu ini, karena selain wajah dan posturnya pernah menghiasi permukaan perangko, dia juga pernah main film bareng dengan Rowan Atkinson dalam karakternya sepanjang masa Mr.Bean dan filmnya; Bean: The Ultimate Disaster Movie.



lukisan ini adalah karya James McNeill Whistler seorang seniman kelahiran Amerika Serikat, dan lukisan ini disebut-sebut sebagai ikon seni rupa Amerika. tapi meskipun begitu, lukisan ini hampir nggak pernah dipajang di Amerika, karena dibuat di Inggris dan setelahnya dipajang di Paris, mulai dari dinding Musée du Luxembourg lalu kemudian ke seberang sungai Seine, Musée d'Orsay.

selain lukisan ini, dalam museum yang mula-mula merupakan stasiun kereta Gare d'Orsay ini utamanya menyimpan berbagai koleksi seni rupa Perancis, mulai dari lukisan, patung, foto sampai furniture. tapi yang paling menarik perhatianku adalah koleksi karya-karya seniman aliran impressionis-nya yang cukup lengkap dan sangat menarik. terutama karya-karya Edgar Degas, Pierre Renoir, Claude Monet, Édouard Manet dan Paul Cézanne.

aku beruntung karena waktu datang ke sana, sebagian besar karya-karya terkenal itu sedang berada di tempat, nggak jalan-jalan atau dipinjem institusi lain yang mengadakan pameran. aku melihat satu seri studi dan karya Degas yang diinspirasi oleh kelembutan dan kehalusan gerak para penari balet. yang paling menarik, sudut pandang yang dipakai oleh Degas lebih ke sudut pandang fotografi dengan pendekatan yang sama sekali lain dengan angle yang dipergunakan oleh rata-rata para pelukis yang semasa dengannya. selain lukisan, Degas juga membuat sejumlah patung, diantaranya patung ini: 'Small Dancer Aged 14'.



karya lain yang masih terus aku inget sampai sekarang adalah 'Luncheon on the Grass'-nya Manet. dari sejak pertama kali ngeliat lukisannya, aku udah merasa aneh karena mbak cantik yang agak montok dan telanjang ini justru melihat ke arah depan, pada yang melihat lukisannya, dan bukannya pada dua orang laki-laki yang ada di sebelahnya, yang jelas-jelas tampak sedang ngobrol. lagipula, posenya telanjang itu tempatnya kok ya nggak tepat banget, duduk di rumput gitu 'kan banyak sekali semut dan serangganya. nah, antara si seniman memang mau menunjukkan kalau perempuan ini bersikap 'berani' menghadapi dunia. atau memang dia ingin mengacuhkan kedua lelaki di sebelahnya, yang juga tampaknya terlalu sibuk sama dunia mereka sendiri, tanpa mempedulikan ketelanjangan perempuan cantik ini. yea, beginilah akibatnya kalau masuk museum tanpa panduan audio. lebih sibuk menduga-duga dengan pikiran sendiri:D



karya terakhir yang mau aku ceritakan, dibuat oleh Renoir, dewanya impressionisme, menurutku. wah, lukisan-lukisannya begitu manis dan romantis, dengan pencahayaan lembut dan warna-warna yang berpadu cantik, bikin aku mabuk kepayang. yang paling manis tentu lukisan ini: 'Dance at The Moulin de la Galette', yang menunjukkan kecerdasannya dalam menangkap warna, bayangan dan jatuhnya cahaya matahari di berbagai permukaan bidang, lalu melukisnya dengan tepat. cantik yah?!



akhirnya setelah mati-matian antri karcis di depan museum (karena entah kenapa, sepanjang musim panas, ribuan orang tiap harinya berpikir museum adalah tempat yang chic untuk menghabiskan hari), berkeliaran selama beberapa jam di dalamnya, dan susah payah menuju jalan keluar, pada jam 15: 30 aku yang sempoyongan karena lapar cepat-cepat mencari restoran yang masih buka. menyantap makan siang yang terlambat, enak banget dan mahal! sebelum kembali berkelana di belantara Paris.

DateMonday, July 27, 2009   Comment

seperti hari-hari sedih lainnya, hari itu sangat kelabu. mendung memenuhi angkasa, hujan tak henti mengguyur bumi sejak subuh. Langnau yang kecil dan permai seolah sedang berduka, duka yang diseret-seretnya sampai ke jalan raya antar kota yang menghubungkan Zurich dan Basel.

hujan membasahi pucuk-pucuk hutan cemara, menjadikan puncak gunung diselimuti kabut. laporan cuaca menyebut angka 12˚C dengan perkiraan terjadinya hujan badai di sejumlah kawasan Swiss. aku bayangkan binatang-binatang di Langenberg, wild park yang kami lewati saat keluar kompleks perumahan tadi, para beruang bulu cokelat, rusa bertanduk panjang, kucing hutan dan serigala, semua meringkuk kedinginan dan agak kebingungan. kemarin cuaca begitu cerahnya. ada apa gerangan?

rupanya hari ini hari sedih. 
dua bom meledak di Jakarta. di hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Mega Kuningan. kabar yang membuatku terpekur saat pertama kali mendengarnya di radio. penyiarnya berbahasa Jerman, jadi aku hanya bisa mendengar kata Jakarta-Indonesia-Marriott-hotel-Ritz-Carlton-bom yang diulang-ulang beberapa kali. Markus yang menerjemahkan isi beritanya padaku.

aku berduka. 
semoga mereka yang tak berdosa dan terenggut nyawanya mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. mereka pantas mendapat tempat yang terbaik dan keadilan di dunia, agar kematian mereka tidak sia-sia.

DateFriday, July 24, 2009   Comment

aku bergegas turun dari kereta, lalu naik eskalator ke stationshal untuk mencari jalan keluar, ke arah Centrum. naik, kiri, kiri, aku mengingat-ingat petunjuk yang diberikan Kiki sesaat sebelum berpisah di restoran Paradise, rumah makan Cina yang masakannya paling oke se-Utrecht. masih kebayang rasanya babat bumbu kecap yang gurih... nyam.

keluar dari stasiun, lurus terus sampai ketemu deretan kafe dengan pemandangan khas musim panas, meja-meja dipasang di teras, diteduhi bayangan parasol, orang-orang berbusana ringan dan berwarna-warni, sebagian berkemeja dan dasi, khas pekerja dari kantor-kantor di sekitar pelataran itu. hari ini agak dingin, sebagian dari mereka memakai kaus hangat lengan panjang dan sepatu boot setinggi lutut. duh, boot itu... kalo Bali gak segitu panasnya, aku pasti udah beli deh. beneran deh.

di tengah plasa ada orang-orang sedang berdemo, berjalan kaki mengelilingi plasa, meneriakkan yel-yel, membawa poster, foto-foto... ah, aku dengar Sebrenica disebut-sebut. mungkin ini acara peringatan pembantaian etnis di Bosnia-Herzegivina. seorang wanita langsing jangkung dalam balutan gaun pendek warna cokelat menyusut airmatanya saat berpapasan denganku, laki-laki di sampingnya langsung merangkul bahunya dengan erat.

aku membelok ke kanan, lurus sampai melihat gerbang Buitenhof, menyeberang jalan, membelok tajam ke kanan, Mauritshuis tegak di kiriku. turun tangga dikit, lalu sampai di pintu masuk museum ini, gedung tiga lantai yang dulu merupakan kediaman Gubernur Jenderal Nassau, Maurits.



aku membeli tiket di loket. penjaganya cekatan dan ramah. ia memberiku juga selembar flier yang berisi info singkat mengenai koleksi di rumah besar ini. aku memandangnya sambil tersenyum

"where can I see her?" tanyaku sambil menunjuk poster di dinding. ia balas tersenyum.
" second floor, room 15" jawabnya sambil tersenyum lebih lebar. aku rasa dia sudah menjawab pertanyaan yang sama ratusan kali.

aku naik tangga setengah berlari. suara langkahku teredam oleh karpet tebal yang terpasang di tangga, sebagian orang tampak berdiri di depan lukisan sambil mendengarkan penjelasan dari headphone yang terpasang di kepala. sesampai di lantai dua, aku masuk ke ruangan di pojok kanan, tapi yang aku temukan adalah lukisan besar Rembrandt.

aku keluar lagi, pindah ke ruangan di pojok kiri.
dan di sanalah ia.

dalam kemudaannya yang abadi, usianya pasti masih belasan waktu wajahnya dipulaskan pada lukisan itu. ia seperti sedang berjalan di suatu lorong gelap, saat seseorang memanggil namanya. ia menoleh, semburat terkejut tampak di wajahnya. mulutnya setengah terbuka, dengan bayang basah di ujung bibirnya. ekspresi kaget yang mestinya hanya bertahan selama beberapa detik, kilau mutiara yang membiaskan cahaya, semua terekam dengan sempurna. dengan warna biru yang dihasilkan oleh gerusan halus lapiz lazuli dari Afghanistan. ratusan tahun yang lalu.



aku berdiri di hadapannya. akhirnya aku berjumpa dengannya. kamu, yang cantik sempurna.
aku merasakan getaran haru menyebar ke seluruh tubuhku, dan tiba-tiba air mataku berlinang tak dapat kutahan.

DateTuesday, July 21, 2009   Comment



Gelsenkirchen | Nice | Paris | Milan | Gothenburg | Chorzow | Toronto | Dublin | Amsterdam
All these places feel like home



Snow Patrol [loves] Amsterdam

dengan simpatik Snow Patrol membuka penampilannya dalam rangkaian konser tur 360˚ di Amsterdam ArenA, tadi malam, 20 Juli 2009, jadi salah satu hari paling bersejarah dalam hidupku, karena aku ada di sana!

aku di sana waktu para penonton berulang-ulang bikin stadium wave sebelum konser dimulai. aku ada di sana waktu Gary Lightbody dengan gitar yang strapnya hitam-putih itu menyanyi dan jingkrak-jingkrak keliling panggung, sebelum stadion tenggelam dalam koor lantang 'Chasing Cars'

if I lay here
if I just lay here
would you lie with me and just forget the world...


tiketnya mahal gak? jelas. bikin miskin.
tapi semua rasanya terbayar lunas waktu puluhan ribu orang (katanya ada 60 ribu yang nonton tadi malam) berdiri serempak dan ikut menyanyi bergemuruh waktu 'Space Oddity' berkumandang. rasanya seperti sedang menyanyikan lagu kebangsaan dalam sebuah majelis akbar U2.

lalu tak lama, lampu sorot menerangi sesosok pria berkaus putih, yang melambaikan tangan membalas puluhan ribu lengan yang terangkat ke atas. Larry Mullen, Jr. menempati posisinya di panggung dan mulai menabuh drum. suaranya mengundang tepuk tangan membahana.

menyusul Adam Clayton dan The Edge yang muncul hampir berbarengan. lalu Bono dalam balutan jaket kulit hitam lari dari belakang panggung... seketika itu pula, sorak sorai panjang seolah memecahkan Amsterdam ArenA, tangan-tangan teracung ke arahnya. sambutan yang pantas untuk Hitler. dan Bono. ia menggoyangkan stand mic dengan gaya yang khas, lalu intro  'Breathe' mengalun.

sesudahnya, gak ada yang mau duduk lagi. semua berdiri sampai selesai, walaupun tiketnya untuk duduk.



dan saat 'Mysterious Way' dimulai, seluruh stadion seperti jadi sebuah lantai dansa raksasa, puluhan ribu orang menggoyangkan badan, menyanyi, mengacungkan tangan, melompat-lompat. senada, seirama. ketika Bono memimpin tepuk tangan, semua serempak bertepuk tangan bersamanya. ketika Bono menggerakkan tangan ke kiri dan kanan, dengan mencondongkan badan, seluruh stadion memiringkan badan 50˚ ke kanan.

saat Bono membungkukkan badan hormat, puluhan ribu pasang tangan bertepuk tangan, saat Bono bersimpuh, puluhan ribu tangan terangkat seolah menyentuhnya...

seisi kabupaten ArenA tadi malam bagai tersihir oleh penampilan empat sahabat yang begitu mencintai karir mereka, dan menghargai lagu-lagu yang mereka ciptakan. seluruh lagu diaransemen ulang, dimainkan dengan cara berbeda dari albumnya, dan Bono, sang bupati, terus memimpin koor panjang lagu-lagu, tetap menyanyikan seluruh lirik, meskipun para penonton hafal mati setiap lagu yang ditampilkan tadi malam.



saat 'City of Blinding Lights', layar yang tadinya tampak pendek itu merenggang, memanjang turun dari lengkungan raksasa. lalu permainan lampu yang dahsyat dimulai bersamaan dengan seruan membahana 

oh, you look so beauuuuuutiful, tonight!
in the city... of blinding lights...

dan karena tanggal 20 Juli 2009 adalah peringatan 40 tahun Neil Amstrong menjejakkan kaki di bulan, para astronot di International Space Station ikut berpartisipasi dan tampil selama beberapa menit, mengirimkan pesan siaran langsung dari luar angkasa!

It's the fortieth anniversary of Neil Amstrong's walk on the face of the moon, a moment that impressed itself on a 9 year old future rock star--demikian tertulis dalam website U2 yang diupdate tadi malam.
"I remember it so well, an image of making the impossible possible and I've held on to that with more earthly problems..." kata Bono dari atas panggung.

tak lama kemudian... sebuah wajah keibuan terpampang di layar. Bono mengajak semua yang hadir di stadion melayangkan pikiran sejenak padanya, yang selama lebih dari 20 tahun menjadi tahanan rumah karena ingin menyuarakan kebebasan.

"Amsterdam, tonight we Walk On for Aung San Suu Kyi"


aku merinding. 
lagu itu diawali dengan 'Irish Lullaby' yang membuat suasana stadion jadi begitu syahdu. intro 'Walk On' dimainkan The Edge, lalu bersama lagu itu wajah Suu Kyi ditampilkan di layar, dan beberapa puluh orang naik ke lingkaran tambahan di luar panggung utama, memasang topeng wajah Suu Kyi di depan wajah mereka. berjalan menuju bagian depan titik pusat panggung, berdiri menghadapi puluhan ribu penonton. 

you could have flown away
a singing bird in an open cage 
who will only fly, only fly, for freedom!

panggung menjelma pesawat ruang angkasa saat 'One' dilantunkan. Bono meminta kami menghidupkan apa aja yang kami punya, lampu dari kamera, hp, korek, atau apapun yang menyala. puluhan ribu kerlip kecil berpendaran dari segala penjuru. larut dalam hymne yang khusuk. bagaikan sebuah ibadah yang intens dengan Bono sebagai imamnya. 



para penonton baru beranjak pergi setelah U2 benar-benar meninggalkan stadion, dan seluruh lampu dinyalakan. kakak-adik di sebelah kiriku yang sudah jadi penggemar U2 sejak album Joshua Tree (dan memakai t-shirt dari konser musim panas album itu di tahun 1987), serta rombongan asal Irlandia yang mengibarkan benderanya di belakangku pergi dengan senyum lebar terpasang di wajah.

"bye! it was great, isn't it? they're still amazing"
"yeah, tonight's the night. my best night in Europe"
aku kehabisan kata-kata.

maka 60 ribu orang dari berbagai usia itu berangsur pergi dalam gelombang demi gelombang kerumunan. banyak diantara mereka yang tampaknya paruh baya. 40 atau 50 tahun-an. para remaja datang bersama orang tuanya. para orang tua datang bersama anak gadis dan pacarnya. sisanya adalah mereka yang berasal dari generasiku. duniaku.

lunas, sudah.
aku telah menunaikan rukun U2 yang ke-5. nonton konsernya bila mampu:) 

see the world in green and blue
see China right in front of you
see the canyons broken by clouds
see the tuna fleets clearing the sea out
see the Bedouin clears at night
see the oil fields at first light
and see the bird with the leaf in her mouth
after the floods all the colors came out

it was a beautiful day
don't let it get away
beautiful day

DateMonday, July 13, 2009   Comment



kenalkan. ini Fabien dari Perancis. ia adalah satu dari beberapa belas mahasiswa peserta Summer School lainnya yang ikut serta dalam kegiatan wisata ke Kromm Rijn ini. dari asramaku, kami berlima berangkat bersama. aku dan Atta, lalu Hee Rim teman sekamarku dan Sue Yen, serta Idda, gadis Norwegia yang kini bermukim di Denmark, yang menjadi penunjuk jalan kami. 

Idda memang pecinta kegiatan luar ruangan yang kemampuan membaca petanya canggih. pagi itu ia dengan yakin melarangku berangat terlalu awal ke Kromm Rijn, seperti rencanaku semula, jam 9 pagi, naik bis.
"the trip wouldn't start until 10.30. you don't have to go so early. I know the way, only 25 minutes walking. let's just walk"

ia membimbing kami menelusuri jalan tanpa ragu-ragu, tanpa sekalipun melihat ulang petanya. ajaib, kami sampai ke tempat berkumpul dengan selamat tanpa nyasar sekalipun. padahal aku biasanya masih tetap nyasar walaupun udah sambil bawa-bawa dan baca petanya berkali-kali.

sesampainya di tempat berkumpul,  orang-orang lainnya mulai bermunculan. mahasiswa yang mengambil berbagai macam subject dalam Summer School ini, datang dari berbagai negara. siang itu ada yang dari UK dan merupakan keturunan India, generasi ketiga yang tinggal di negara itu. ada pula beberapa orang dari Norwegia, Amerika Serikat, Jerman, Austria dan Turki. tapi ini belum seberapa kalau dibandingkan dengan peserta Summer School-nya sendiri. di kelasku ada beberapa siswa dari Hong Kong, juga dari Yunani, Austria, Rumania, Estonia, Rusia, Spanyol dan entah negara mana lagi, karena sekelas besar hampir 100 orang jumlahnya. tapi aku kenal hampir semua orang dalam kelas kecilku yang biasa ngumpul untuk seminar. dan emang berasa banget, kita cuma perlu Bahasa Inggris untuk bisa ngobrol. kalo nggak karena di mana-mana petunjuk dan tulisan bahasanya Belanda, mungkin nggak sulit untuk menganggap kita sedang berada di Inggris cabang Ambon. banyak banget orang Ambon di sini!:D

dan berkano sepanjang kanal selama 1.5 jam ternyata sangat menyenangkan! walopun tangan lumayan pegel dipake mendayung. Fabien ngajarin aku cara mendayungnya. kapan ke kiri, kapan ke kanan, kapan maju, kapan mundur. sebenernya tugasku udah nggak berat karena dia yang sibuk mengarahkan kano supaya arahnya nggak melenceng, zig-zag, berbalik arah, ato malah nabrak kano lain.

sepanjang jalan aku bisa melihat alam yang sangat Belanda. hutan gerumbul semak yang gak ada apa-apanya dibandingkan dengan hutan Kalimantan, kanopi pohon yang sedang hijau karena musim panas, udara sejuk, sapi-sapi item-putih kayak di kaleng susu merumput dengan tenang, belibis berenang-renang, bebek berenang cuek, burung-burung lewat seenaknya, dan gadis-gadis pirang dengan rambut berkibar bersepeda, membunyikan bel dengan riang. sementara mas-mas bule juga berseliweran, dan entah kenapa kalo naik sepeda terlihat lebih tampan. uhm, mungkin karena kalo pake motor, mukanya malah gak keliatan, tertutup helm. 

dan bunga-bunga musim semi yang beraneka warna... luar biasa!

acara kano ditutup dengan gelak tawa, gara-gara Hee Rim dan sepasang gadis Turki dalam kano yang berbeda, sama-sama salah arah, lalu terus nyasar gak sampe-sampe garis finish. panitia Erasmus sampe harus bersepeda mencari mereka, lalu menyuruh mereka balik arah lagi. sampai di tempat mengembalikan perahu, wajah mereka merah padam kelelahan. dan malu. hihihi.

DateSaturday, July 11, 2009   Comment

laki-laki tua itu memakai jaket kedap air di luar jaket tebalnya yang tampak hangat dan berwarna oranye. celana khaki-nya berujung pada sepatu trekking, kepalanya terbenam dalam topi hijau tua. di tangan kanannya sebuah payung panjang ia perlakukan bagai tongkat memandu langkahnya melintasi rerumputan dan jalanan licin yang tersusun dari bata merah yang tampak berumur. seperti matanya yang memandang ramah dari balik kacamata berbingkai logam kekuningan. tubuhnya gemuk, tapi wajar untuk orang seusianya. kurasa umurnya tak kurang dari 65 tahun. mungkin lebih. dan dalam cuaca sedingin ini, orang harus punya cukup cadangan lemak kalau tidak mau terhuyung-huyung sempoyongan tertiup hembusan angin jahanam. seperti yang setiap hari terjadi padaku.

ia mengawali kisahnya dengan memperkenalkan diri. lalu menceritakan bagaimana benteng tua yang tampak kokoh, anggun sekaligus menyeramkan itu mulai dibangun. bagaimana dinding bata setebal 1,3 sampai 1,6 meter itu sengaja dirancang untuk memperkuat pertahanan Utrecht, setelah Perang Dunia I, melengkapi pertahanan air, serangkaian parit selebar 3-5 m sedalam 40-50 cm yang dibangun mengelilingi beberapa kota di Belanda untuk melumpuhkan kekuatan mobilisasi musuh. Fort of Rhijnauwen di Kromm Rijn adalah satu dari sekian banyak benteng di seluruh Belanda yang termasuk dalam jaringan Nieuwe Hollandse Waterlinie.

bahkan pada jam 11 pagi, tempat ini membuatku merinding.

ia bercerita bahwa benteng ini tidak pernah mengalami masa pertempuran, saat para tentara harus bertahan menghadapi serbuan musuh, meskipun sesungguhnya ia dirancang untuk itu. benteng ini hanya dipergunakan selama 15 tahun, sebelum akhirnay ditinggalkan. tapi tetap saja, di tempat ini... sebagaimana pada situs-situs militer tua di belahan bumi manapun, kamu bisa mengendus maut. aromanya menyengat. menegakkan bulu kuduk.

saat kami melewati pintu masuknya, hawa dingin menyergap. suhunya bisa mencapai 2 atau 4˚C, kata orang tua itu. aku mengeratkan kancing mantel hitamku yang terasa berat. hawa dingin kurasakan mulai menyusup tulang jemari yang terbuka. lembab, dingin, dengan kegelapan nyaris sempurna yang meliputi kami. sia-sia aku berusaha merasa nyaman di tempat dengan langit-langit serendah ini. segalanya seperti mengurungku. masa lalu, kegelapan, tetes air yang samar, gesekan langkah kaki pada bata yang berusia ratusan tahun, kilatan cahaya samar dari layar hp yang dikibaskan kesana kemari, bunyi yang menggema dari pita suaranya yang renta saat berbicara... claustrophobic.

dalam kepalaku ada suara melengking, jerit kematian yang melolong sesaat lalu lenyap ditelan sunyi dan kegelapan, para prajurit putus asa yang mendekam putus asa selama 4 tahun dalam tawanan Nazi, darah segar membuncah di dinding, cipratannya amis dan mematikan. 

diantara bangunan-bangunan dalam lingkungan benteng ini, ada sebuah lonceng besar di salah satu pelataran. lelaki tua itu bercerita; pada masa pendudukan Nazi, ratusan tentara pembebasan yang berhasil ditawan, diikat dalam baris-baris berjajar di pelataran di hadapan lonceng itu. kesemuanya kemudian ditembak mati dan dikubur serampangan di tempat yang sama. seorang petani yang memiliki rumah di balik gundukan bukit di depan benteng, dikabarkan mencatat setiap tembakan yang didengarnya. usianya kini 85 tahun. dan tetap tinggal di rumah yang sama. ia mendengar lebih dari 700 tembakan telah menewaskan begitu banyak tentara di pelataran maut itu. 

aku bertanya-tanya apakah arwah para tentara bergentayangan di sekitar sini, dan apakah mereka akan bangkit setiap tanggal 4 Mei, ketika lonceng dibunyikan, dan ribuan orang datang berduyun-duyun pada acara peringatan kematian mereka?

benteng ini menurutku sangat canggih dan dirancang dengan baik untuk ukuran bangunan yang dibangun pada abad ke-19. ia memiliki sistem penyulingan air yang baik, sedemikian rupa sehingga air hujan yang disuling melalui dinding bata tebal ini berubah menjadi air yang bisa diminum dan mengalir langsung ke ceruk-ceruk di sepanjang dinding barak tentara, tetesannya bisa kami dengar di setiap ruangan. sampai kini, masih ada bagian dari ceruk-ceruk itu yang mengalirkan air yang aman untuk diminum. 

kami juga sampai di salah satu dinding yang penuh lubang. dikabarkan, dua lubang terbesar pada dinding itu dulunya merupakan gantungan belenggu besi tempat tawanan diborgol dalam keadaan berdiri. itu adalah tempat interogasi. para tentara Nazi yang berusaha mengorek keterangan dari para tawanan akan menakut-nakuti mereka dengan menembakkan peluru ke sekitar mereka. aku merinding membayangkannya. alangkah seramnya!

aku dan sekitar 15 orang lainnya dari Korea, Inggris, Perancis, Belanda, Norwegia, Denmark, Turki, Austria dan lainnya baru keluar dari Fort Rhijnauwen satu setengah jam kemudian, setelah berhasil dibuat tercekam sepanjang perjalanan menyusuri kisah benteng yang muram itu.

tiba-tiba, matahari yang malu-malu di balik mendung kelabu dan suhu 12˚C di luar benteng jadi terasa sangat menyenangkan.

DateFriday, July 10, 2009   Comment

selama keluyuran di Utrecht (dan Den Haag) aku merasa kalo kota-kota ini nggak asing buatku. aku sendiri sempat heran, kenapa aku kok rasanya nyaman dan langsung bisa menyesuaikan dengan kebiasaan-kebiasaannya. setelah aku pikir-pikir lagi, mungkin karena ada banyak istilah dan bahasa yang langsung aku tau arti dan maksudnya, dan karena banyak hal yang mirip-mirip Indonesia bisa aku jumpai di sini.

the super long and painful and good relationship between the two countries can not be ignored. it's obvious everywhere.

kalo aku lewat penjahit, ada tulisan jas dan rok, di hidrant pemadam kebakaran, ada tulisan branwir. waktu bayar di kasir, ada tulisan kontan. bahkan duit itu juga bahasa Belanda tapi gaya lama. bacanya agak-agak kayak 'duth' (kebayang 'kan betapa kayanya Sanjay Duth). sepur, rekening, karcis, oom, tante, lumpia, pastel, sampe poostkantor! hihihi, sebaliknya mereka juga jadi kenal nasi, bakmi goreng, dan di seluruh penjuru kota nggak susah menemukan orang yang bisa berbahasa Indonesia. pelayan asal Ambon di Charlie Chiu's Utrecht Centraal malah sempat ikutan duduk di bangkunya Atta waktu dia makan di sana karena kangen pengen ngobrol pake bahasa Indonesia.

dan seperti di Jawa, Utrecht juga kenal pasar kaget. yang aku datangi kemarin itu ada di Vredenburg plaats (bener gitu ya?) di Utrecht Centrum. di pelataran semen itu puluhan mobil dan tenda menjajakan berbagai macam barang. mulai dari bunga-bunga... yang aku lihat ditenteng orang kesana kemari di kota ini. bunga kayaknya memang benar-benar jadi cara untuk mengekspresikan banyak hal. aku lihat orang bawa bunga dan balon untuk menyambut keluarga dan teman yang baru sampai di bandara. hihihi, sayang waktu itu kedatangan kami gak disambut begitu. aku juga lihat orang bawa bunga dan tanaman ke berbagai acara, waktu nongkrong sama teman, ketemu pacar, sampe ulang tahun. say it with flowers kayaknya emang laku banget.



aku juga lihat kedai-kedai tenda yang menjual berbagai macam keju, dalam berbagai ukuran, bentuk, warna dan bau. katanya makin apek baunya makin enak dan makin mahal ya?



ada pula yang jualan buah-buahan, strawberry, kersen, arbei, lobi-lobi, jeruk, pisang, alpukat, nenas, semangka, melon, kiwi, apel, anggur dan macam-macam lagi.



lalu ada penjual roti dan kue segala jenis, dimsum, lumpia, kacang-kacangan mulai dari pecan, kacang tanah sampai macadamia, buah-buahan kering, kurma, buah zaitun yang diawetkan dengan berbagai macam cara, kismis dan sayuran. ada juga yang jualan kosmetik, peralatan jahit mulai dari kancing baju sampe berbagai macam pita dan renda. lalu selain penjual tas dan baju-baju yang semua labelnya 'Paris', ada juga penjual buku bekas dan piringan hitam tua di pojokan. seru!



di pasar ini juga aku melihat orang-orang makan ikan harring. sama dengan orang Jepang makan sushi yang mentah, harring juga dimakan mentah, dengan semacam saus dan potongan bawang bombay. aku ngeliat bentuknya waktu dibersihkan dan merasa kalau itu agak-agak mirip sama pindang yang biasanya kusajikan untuk kucing di kos dulu. hihihi.

tapi orang Belanda memang suka ikan. di pasar kaget ini ada beberapa kedai tenda yang jualan berbagai jenis ikan. mulai dari ikan-ikan mentah (cuma harring yang dimakan mentah, lainnya dijual mentah), ikan-ikan yang udah dibumbui, sampai ikan goreng yang dimakan dengan mayonnaise berhias potongan acar timun dan bawang bombay cincang. aromanya menguar lezat ke udara. kompak dengan rasanya yang gurih. nyam!



kalau kamu tiba di Utrecht Centraal, keluar dari stasiun, lurus aja, belok kanan langsung masuk ke Hoog Catharijne mal, nanti sekeluarnya kamu udah sampai ke Vredenburg Plaats. kalau kamu sampai di situ pada hari Rabu atau Sabtu siang, kamu bisa keliling sepuasnya di pasar kaget. 

bedanya sama di Jawa cuma nggak ada kambing atau ayam hidup yang diperdagangkan, dan banyak pemandangan untuk cuci mata selain mbakyu-mbakyu dan mbah-mbah berkain-kebaya:D

DateThursday, July 09, 2009   Comment



ini adalah wajah Grace Wangge yang cemberut berat karena udah bela-belain berkereta dari Utrecht dan ternyata sesampai di Den Haag nggak dapat tinta ungu tanda udah memilih. 


bukan, bukannya Wangge nggak boleh milih, tapi karena dia sebelumnya memang mau memilih lewat pos, lalu memutuskan untuk ikut ke Den Haag bersama kami yang memilih dengan menyontreng di dalam bilik suara. sesampai di KBRI Den Haag yang terletak di jalan belakang Peace Palace dan amatlah rindangnya, dia ternyata dipersilakan memasukkan surat suara ke dalam amplop dan menyerahkannya, tapi nggak pake dikenai tinta ungu. hehehe, aku yang kebagian tinta ungu langsung pamer jariku dengan bangga.


aku senang karena para petugas di KBRI ramah dan sangat kooperatif membantu aku dan Atta yang hanya membawa paspor dan nggak punya surat panggilan. surat panggilanku ada sih, di Malang. sebelum berangkat ke Utrecht mama sempat kasih tau kalau suratnya udah datang, tapi aku udah nggak ada waktu lagi buat ke Malang dan ambil surat.


singkat kata singkat cerita, masing-masing kami memilih. mulai dari Kiki yang jadi idola ibu-ibu di KBRI yang haus ngajakin jumpa fans dan foto-foto serta minta tanda tangan, lalu dilanjutkan Atta yang setelah memilih masih meneruskan kebiasaannya jadi wartawan, ngobrol sama ketua panita pemilihan sampe lama banget dan akhirnya kami tinggal makan siang:D


sebagai catatan, ibu-ibu KBRI di Den Haag itu benar-benar mengagumkan. bisa-bisaan menghidangkan gudeg, oseng daun pepaya, sayur asem, dan cendol yang rasanya autentik!




aku sendiri memilih tanpa upacara apapun. membuka surat suara, menyontreng, memasukkannya dalam kotak dan mencelupkan kelingking di tinta. 




pemilu ini tentu bersejarah karena namaku tercatat di kecamatan Den Haag. tumben 'kan, gadis kampung dari pelosok Ubud masuk dalam arsip di kota besar? di luar negeri pula. tempat impian R.A Kartini, tempat Ki Hajar Dewantara ditangkap. begitulah, dengan ini aku sudah melunasi niatku untuk napak tilas perjalanan moyangku yang dibawa VOC.

DateWednesday, July 08, 2009   Comment



demikian pertanyaan yang diajukan Hans Renes dalam kuliahnya "Cultural Heritage of Europe." dia kemudian menerangkan bahwa selama berabad-abad kepercayaan di Eropa justru pra-Kristen, karena Eropa baru mulai 'beralih' jadi Kristen setelah abad ke-12. sementara Islam, sebetulnya menjadi bagian yang signifikan dalam peradaban Eropa selama abad ke-8 sampai 15, ketika Kekaisaran Turki Ottoman mengalami kehancuran.



tetapi, kata Renes lagi, sepanjang sejarah panjang Eropa memang ada upaya-upaya untuk menjadikan Eropa satu benua yang homogen secara religi, meskipun itu tidak pernah berhasil. salah satunya adalah ketika terjadi pemindahan besar-besaran populasi Muslim di Yunani ke Turki (yang dianggap jadi bagian Timur Tengah) dan sebaliknya pemindahan populasi Kristen Turki ke Yunani, berdasarkan Treaty of Lausanne tahun 1923, sebuah pertukaran populasi.





dengan caranya sendiri, ratusan gereja dan biara di Eropa dijaga selama ratusan tahun, dan dianggap sebagai bagian dari warisan budaya. pada kurun waktu bersamaan (terutama saat perang di Balkan), ratusan masjid dihancurkan, karena tak satupun dimasukkan dalam upaya perlindungan cagar budaya.



buatku, kenyataan ini bukan menjadi dasar untuk menganggap bahwa satu agama lebih superior daripada yang lainnya. atau jadi alasan untuk memusuhi pemeluk agama lain, yang barangkali sebagai individu, tidak punya kekuasaan dan kewenangan untuk melakukan perubahan politis. ini cuma sebuah penegasan atas sifat manusia, yang juga jadi kesimpulan kuliah hari ini. "heritage is not only related to history, but more importantly, it is related to the history we want to see"



salah satu bentuk pelestarian gereja yang menurutku cukup aneh aku lihat saat berkeliling pusat kota dua hari yang lalu. gereja ini letaknya tersembunyi dan nggak bisa dilihat dari jalan. ia jadi bagian dari satu bangunan yang tampak biasa dari luar. boleh jadi, karena ini adalah salah satu Gereja Reformasi pertama, yang memisahkan diri dari Gereja Katolik.
percaya atau nggak, gambar-gambar dalam tulisan ini aku ambil dari sebuah pub bernama Olivier:D

DateTuesday, July 07, 2009   Comment

"are you happy here?"
udah beberapa orang tanya kayak gitu sama aku, dan aku kesusahan jawabnya. iya, aku senang. berada di sini sangat menyenangkan. tapi itu hanya sebagian aja dari keseluruhan yang aku rasakan. selain senang, aku juga merasa terharu bisa menjejakkan kaki di jalan-jalan berumur ratusan tahun yang terbuat dari batu bata. sebagian dari diriku merasa sedang berada dalam sebuah set film. semua serba sureal dan seolah nggak nyata. berada di sini terasa seperti sebuah keajaiban.



kemarin aku sempat sedikit keliling ke beberapa bagian pusat kota Utrecht sama dua orang mahasiswa Erasmus Mundus Exchange bernama Yalte dan Meena yang jadi pemandunya. selain Atta dan teman sekamarku, Hirim, ada juga satu orang Korea yang lain, satu orang Austria, dua orang Jerman, satu Amerika, satu Estonia serta Maria dari Rusia yang kukagumi karena sanggup keliling jalan kaki dengan memakai hak tinggi. "everybody in my country doing this" katanya.

city tour ini lumayan ngasih orientasi tempat buatku, karena sebelumnya hanya tau rute antara tempat kuliahku di Drift dengan asramaku di Parnassos, Kruisstraat. aku jadi tau di mana kantor pos, di mana tempat jualan patat, bagian gereja dengan taman rahasia, tempat belanja bahan makanan, tempat makan malam yang harganya terjangkau untuk mahasiswa, dan lain sebagainya.

sepanjang perjalanan semua orang saling ngobrol dan sedikit banyak bercerita satu sama lainnya. seru juga dengerin orang-orang berbahasa Inggris dengan logat yang ganjil. beberapa diantaranya malah kemampuan berbahasanya minim. tapi karena kemampuan Bahasa Belanda sangat rendah, atau nyaris gak ada, maka mereka tetap memakai Bahasa Inggris dan nekat.
:D



kamarku di Parnassos lega dan nyaman. yang ada dalam gambarku ini adalah bagianku, yang terdiri dari kursi santai, rak buku, meja kerja, kursi kerja, tempat tidur di atas, lemari dan lampu meja. semua buatan Ikea :D. setiap kamar dilengkapi dengan sambungan internet yang cukup cepat. sisi lain kamarku bentuknya juga sama persis, dihuni oleh Hirim, si gadis Korea. kalo liat dia, nggak akan susah membayangkan gadis Korea dalam komik atau film, yang manis, peragu, dan agak-agak clumsy. bikin kamu ingin selalu mengurus dan menyelamatkannya tiap kali dapat kesulitan.

ada yang mo kirim salam?

oya, berhubung aku gadis kampung yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Eropa, nggak lengkap rasanya petualangan ini kalo gak dibumbui sama kebodohan-kebodohan. yang tentu saja membingungkan, konyol, dan sering ngerepotin orang banyak. *ngakak*

kemarin begitu sampe, karena terlalu repot untuk menyeret (atau menggendong) koper kemana-mana, aku dan Atta menitipkan koper di stasiun. kamu masukin kopermu, lalu bayar biaya sewa lokernya pake kartu, dan keluarlah kertas agak kaku yang menunjukkan harga, jam dan nomor loker yang kamu pakai.

sorenya, setelah pulang kuliah, kami ditemani Kiki pergi ke Utrecht Centraal lagi untuk ambil koper. koper Atta berhasil dikeluarkan dengan selamat, sementara kertas lokerku lenyap. aku ingetnya kertas itu aku masukkan barengan dengan paspor dan dokumen lainnya dalam sebuah clear holder. dan clear holdernya ketinggalan di asrama. jadilah aku pulang lagi naik bis nomer 11, turun di halte Museum Maluku, jalan kaki 5 menit ke asrama, kesusahan buka pintu gerbang karena yakin banget kalo pintunya gede, maka kuncinya juga harus gede. hayah, padahal justru kunci kecil yang bisa dipake buka pintu depan yang berat. aku baru berhasil membukanya setelah bermenit-menit bingung sendiri.

sampe di kamar, semua tas aku bongkar, clear holdernya juga, dompet apalagi, tapi kertas kecil itu nggak ketemu juga. setengah jam lebih aku cari dan tetap gak keliatan kartunya. jadi aku balik lagi ke stasiun, lalu duduk manis di Charlie Chiu's dan makan. aku harap kalo udah gak laper aku jadi lebih pinter bisa inget di mana kertas itu. sekali ini, trik itu gagal.

akhirnya kami lapor ke petugas, yang kemudian memberi kami formulir kehilangan, lalu aku isi dengan nama, alamat sesuai paspor, jam masukin benda ke loker serta barang apa aja yang ada di loker itu. kami serahkan formulirnya, dan 10 menit kemudian datang seorang petugas tinggi besar yang ngasihin kartu baru dan memberi tahu kalau biaya administrasi ngeluarin kartu baru adalah €10! hiks, teledor harganya mahal di sini.

tapi aku udah terlalu capek dan ngantuk dan hilang orientasi buat komentar. aku bayar, dan berterima kasih sama Kiki dan Mbak Deti yang udah bantuin aku ngurusin koperku.

di Belanda (dan katanya di seluruh Eropa) kayaknya hukum karma lebih serius dipatuhi daripada di bagian lain dunia ini (baca: Asia). soalnya, kalo kamu perhatikan, ada banyak sekali celah untuk bisa kabur gitu aja dari kewajiban membayar.

kalo kamu mo naik kereta, ke manapun, kamu beli karcis di loket, lalu turun ke peron dan naik kereta sesuai tujuanmu. tapi sebenernya, tanpa beli karcis pun, kamu bisa langsung pergi ke peron (yang nggak dijaga orang atau mesin yang mengharuskan kamu menunjukkan karcismu) dan langsung naik kereta (yang kondekturnya jarang sekali memeriksa karcis). tapi terus terang, sama sekali nggak kepikir buat gak beli karcis.

atau di toko buku, rak-rak berisi koran, majalah, buku harian, kotak-kotak kado, kartu ucapan dan kartu pos dipasang di luar. sebagian besar tanpa label harga dan bisa diambil gitu aja. tapi secara otomatis aku juga pergi ke dalam dan melaporkan barang yang kubeli. dan aku yakin semua orang melakukan hal yang sama. dan hal semacam ini terjadi dimana-mana. kita bisa menyebut di Eropa, kita bisa percaya pada niat baik orang.

DateMonday, July 06, 2009   Comment

09:00
kami berhasil sampai di Utrecht Centraal, stasiun kereta yang kami datangi setelah mendarat di Schipol. baru sekali ini rasanya aku terharu dan pengen tepuk tangan keras-keras waktu pramugara mengucapkan 'Selamat Datang di The Netherlands'. mungkin juga karena pake dititipin "salam mesra" dari kapten pilot. ahahaha.

kami lalu naik kereta di peron 3 jam 8 pagi. lalu ketemu sama Rizki Permana, mahasiswa PhD asal Indonesia yang rumah kontrakannya deket banget dengan stasiun. karena itu, kami cukup jalan kaki aja.

"dari Indonesia?" tiba-tiba seseorang menyapa. laki-laki berambut pirang dengan mata yang ramah, mengenakan jeans biru dan jas korduroi coklat tua, senada dengan sepatunya.
"iya" jawab kami bertiga
"wah, bisa bahasa Indonesia?" tanya Kiki
"iya, aku dulu 5 tahun tinggal di Indonesia, kerja di Jakarta" jawabnya sambil tersenyum
"di Jakarta di mana?" tanyaku
"di Cilandak. aku dulu pernah menikah sama orang beken di Indonesia" seketika kami bertiga langsung tertarik dan bertanya serempak
"siapa?"
"Ulfa" wah! ahahahahaha! tawa kami langsung pecah dan masing-masing dengan ribut bilang "pantesan! kayak udah pernah liyat"
aku jawab "rasanya aku tau nama kamu. uhm... Klaas..." aku berusaha mengingat nama panjangnya, tapi yang terbersit hanya 'Ulrich'. Klaas mengangguk.
selama 10 menit kemudian, kami ngobrol ala kadarnya. dia bilang dia kerja 3 hari dalam seminggu di salah satu bangunan tak jauh dari stasiun. dia juga bertanya tentang Ulfa.
"setelah bercerai dari aku lalu menikah lagi dan bercerai lagi, lalu sekarang sudah nikah lagi?"
hihihi, tapi jawaban yang kami berikan nggak ada yang pasti.
mungkin Ulfa bisa konfirmasi di sini? hihihi...

11:00
kami berhasil sampai ke kampus, drift no.21 dimana kami diberi tahu kalau harus terus ke gedung sebelah yang nomornya 23, untuk masuk kelas Introduction to Europe. yang memberikan adalah koordinator course-nya: Martin Zbracki yang berambut cokelat, tampan dan matanya hangat.

tapi tampangnya ternyata nggak cukup untuk membuatku tetap nyalang selama dia bercerita tentang Eropa dalam berbagai dimensi. nggak sampai tidur, sih. tapi jelas-jelas ngantuk berat.

kami juga berhasil menemukan Rose, yang memberi kunci tempat tinggal. aku di Kruisstraat 107A. tepatnya di gedung Parnassos. yang cuma beberapa langkah dari Museum Maluku. kami beruntung sekali kebagian tempat di pusat kota, dan sangat dekat dengan kampus. kemana-mana bisa jalan kaki. bahkan ke Utrecht CS sekalipun, nggak sampe 30 menit jalan kaki.

aku dan Atta berhasil menemukan gedung kami setelah tanya sana-sini, tapi nggak pake nyasar. memang Bahasa Inggris sangat membantu untuk bisa survive di Belanda. walopun segala radio dan pengumuman di bis atau kereta disiarkan dalam bahasa Belanda, tapi sebagian besar papan penunjuk punya versi Bahasa Inggris dan hampir setiap orang yang kami tanyai di jalan, bisa berbahasa Inggris dengan baik. kalopun Bahasa Inggris mereka terbatas, dengan senang hati mereka akan berusaha keras memberi petunjuk. kelas-kelas semua diberikan dalam Bahasa Inggris. menyenangkan. aku merasa diurus orang banyak disini.

terutama Kiki, yang menjemput kami di Utrecht Centraal, membawa kami ke rumahnya untuk mandi supaya ngak bertampang kayak gelandangan dan sampai ke kampus dalam keadaan layak. soalnya orang-orang lain udah sampai sejak kemarin, sementara kami benar-benar baru sampai.

nanti aku ceritain lagi. sekarang aku harus belajar tentang perkembangan Eropa sampai jadi persekutuan. aku gak heran deh, kalo nantinya sejarah Eropa dipelajari di Vulcan. live long and prosper!

Date   Comment



it's 9:55 in Singapore and Bali and we're still flying.
I don't know what the local time is. but I think we've already left Asia. last time I check, the plane was somewhere over Russia. or something like that, according to the names written on the screen in front of me. we've already had one meal, late in the night -I believe we can consider it 'sahur' and snacks and several drinks. after one juice, I constantly asked for water.

aku duduk di gang, di deretan J, jadi mudah buat keluar-masuk mengingat perjalanan ini amatlah panjangnya. kami naik ke pesawat sekitar jam 12 malam waktu Kuala Lumpur, setelah 3 jam terbang dari Jakarta dan transit sekitar 44 menit di KLIA yang megah, cantik dan bersih. aku dan Atta, pemenang dari kategori wartawan, sangat suka naik autotrain di bandara ini, yang membawa kita ke gerbang keberangkatan dari daerah transit, sampe hampir nggak turun. hahaha. sebenernya sih antara terlalu menikmati sekaligus nggak tau kalo jalur keretanya udah habis:D

di sebelahku, duduk seorang doktor yang sekarang mengajar di Inggris. ia memiliki gelar dalam bidang geochemistry. not until I spoke to him that I know such major is exist. ini semacam ilmu untuk meneliti kandungan kimiawi suatu daerah dan mengaitkannya dengan hasil bumi dan produk pertanian dan peternakan yang dihasilkan oleh daerah tertentu. misalnya, kalo menurut cerita dia, kalau ada pertikaian soal darimana asalnya rambutan yang manis, berair, dagingnya tebal dan rasanya sangat enak, lalu ada satu klaim dari Binjai dan klaim lain dari Malaysia, maka kita bisa menentukan asal sebenarnya rambutan itu dengan geochemistry ini. keren ya?

dua puluh tahun yang lalu, dosen berkacamata yang baru dua minggu memakai macintosh ini melakukan satu field trip untuk mengambil sampel dan melakukan penelitian di Indonesia, tepatnya di kepulauan di timur Flores. ia juga sempat sebentar berada di Ijen untuk mengambil sampel, tapi menurutnya masa tinggal di Indonesia bagian timur itulah yang paling berkesan dan menarik. sampai sekarang ia masih bisa sedikit-sedikit berbahasa Indonesia. kami ngobrol tentang Bali, Malang, orang-orang Belanda, tentang kompetiblog yang aku menangkan, Pak Janggut, new macbookpro series, juga tentang kota-kota di Eropa, termasuk Austria, negara tempat istrinya berasal, serta Vienna, tempat kelahiran anaknya yang tahun ini berusia 9 tahun dan sangat menikmati pelajaran piano.

it's amazing how you can talk so much about so many different things after a brief meeting. but yeah, we'll be each other's company for hours. and its counting. I've been flying for 15 hours and 44 minutes in land.

kami terbang dengan Malaysian Air dalam pesawat Boeing 777. kursiku nomor 37, sama dengan gerbang yang kulewati saat menaiki pesawat ini, 37 C. ada satu pramugari berwajah Tionghoa yang cantik, dengan bibir merah tampak seolah selalu basah dan seorang berwajah India yang sudah dua kali membawakanku air putih. seorang pramugara berwajah campuran yang ceroboh sehingga tangannya sempat mengenai kepalaku, membuatnya meminta maaf berkali-kali, dua kali diantaranya sambil bersimpuh. it's okay, I said. I forgive you.

aku tidur hampir terus menerus selama paruh pertama penerbangan, hanya terbangun pada saat makan, dan lalu terlelap lagi meskipun udah ngidupin film, berniat menonton film yang kelihatannya menarik. film-film yang nggak selesai: Monsters vs. Aliens dan I Love You, Man. yang sempat aku selesaikan hanya film He's Just Not That Into You, dan sekarang aku sedang muter salah satu film klasiknya Julia Roberts; Sleeping With The Enemy.

OK, Julia udah berhasil kabur dari suaminya yang abusive. sekarang dia sedang tersenyum dalam keadaan setengah bugil sambil ngeliat cowok berotot yang sedang nyiram halaman sambil bersiul-siul.
aku terusin nonton dulu, yah?!

DateSunday, July 05, 2009   Comment



this is it. the day has come.
berbekal koper oranye seberat 16 kg, sekotak mandarin, komputer mengkilap berwarna silver, surat dari Utrecht Summer School, dan satu clear holder berisi dokumen serta paspor yang sudah mengandung visa Schengen, aku siap memulai petualanganku.

hanya dua minggu setelah menerima surat penolakan beasiswa Stuned, aku melonjak-lonjak kegirangan saat mengetahui kalau tulisanku mendapatkan nilai tertinggi dari para juri Kompetisi Blog Studi di Belanda. setelah itu waktu yang tersisa aku pergunakan untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk petualanganku selama 3 minggu menjelajahi Eropa.



ibarat petualangan Pak Janggut, bagian ini adalah awal dari sebuah cerita seru yang menegangkan, yang mengasyikkan, mencekam, dan penuh kejutan. aku memulai petualangan ini dengan hati dan pikiran terbuka, siap menyambut segala hal yang akan aku hadapi pada hari-hari berikutnya, sampai akhirnya aku pulang lagi ke Indonesia, pada hal-hal yang sudah aku akrabi.

minggu ini aku mengelilingi belantara Jakarta, dan untuk pertama kalinya, nyaris selalu sendirian berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, entah itu naik busway, taksi bahkan metromini. selama ini berkali-kali ke Jakarta aku nggak pernah melakukan semua itu. jadi aku belajar banyak seminggu ini. sekaligus juga dioper-oper dari ketemuan sama satu orang ke orang yang lainnya, dengan setiap kali dapat petunjuk soal bagaimana cara menuju tempat berikutnya, dan kadang-kadang dianter sampe halte bis. hihihi, thanks guys!



makanya selain pertemuan di NESO bersama dengan bosnya, juga para pemenang yang lain, aku juga masih sempat dua kali nonton, ngeband dengan beberapa warga kampung gajah dan tentunya makan-makan!
:D

stay tune di blog ini.
aku akan mengupdate-nya setiap hari dengan berbagai tulisan mengenai segala hal yang aku alami selama berada di Eropa. I'm gonna have so much fun.
*grinning*