alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi
seri gadis metropolitan #3: keluarga baru
Monday, May 03, 2010

aku suka banget gambar ini.
gambar keluarga digital dari beberapa film kartun untuk majalah Vanity Fair inibetul-betul menggambarkan kumpulan orang-orang yang bergabung jadi keluarga di Nebu 2.0.
masing-masing mungkin di kampung halamannya punya keluarga besar sendiri, dengan tatanan dan aturan yang lain-lain juga. tapi di rumah ini, semua bergabung dan tiba-tiba lahirlah keluarga baru.
di kamar depan, ada Indra dan Lea yang jadi orangtua kos. kebetulan belum lama ini Bima, anak mereka yang pertama lahir. lucu, deh. baru ini aku lihat ada bayi yang anteng dan selalu gembira. senyum-senyum terus, ketawa-ketawa melulu. dari pagi sampe malem jarang nangis. sangat menyenangkan.
di kamarku aku sendiri.
sebetulnya ini bukan kamarku beneran. secara resmi, penghuninya adalah Weslie -paduka yang mulia. tapi karena dia sibuk menjadi pelatih cheerleader di sejumlah penangkaran gorilla di Afrika, maka kamarnya tak berpenghuni. masuklah aku bersama kasur baru, lemari baru, meja kayu yang diimpor dari kantor Mahén, gorden dari rumah Regency, plang gorden baru, dan kursi kerja yang kubeli sore-sore di Manggarai.
di depan kamar mandi yang berarti seberang kamarku ada kamar Deden.
sangat minimalis dan bau cowok banget. kalo kamar Lea kan bau bayi. aku suka mengendus-endus Bima karena ini.
di atas ada kamar Kang Deni.
waktu yang ada baru kasur dan tempat tidur, dia masih kalem aja liat kamarku. tapi begitu meja datang, Kang Deni mulai terpancing karena katanya "kok kamar ini jadi yang paling lengkap barangnya ya?"
sampai akhirnya waktu aku punya kursi, kang Deni yang mengingatkan kalau di Nebu tidak ada kursi sebelumnya. hihihi. bener juga, ya. kursi putih yang dipake setrika aja aku ikutan belinya.
nah, di sebelah ruang makan ada kamar buat Aa Dodi, Teteh dan Hendra. mereka keluarga kecil yang tinggal bersama kami dan membantu menyelenggarakan urusan kerumahtanggaan di rumah besar yang tiap hari sepi karena penghuninya pada sibuk sendiri-sendiri ini.
bersama mereka, aku mulai mengarungi hari-hari di Jakarta.
Post a Comment
Previous posts
Archives
- December 2004
- January 2005
- February 2005
- March 2005
- April 2005
- May 2005
- June 2005
- July 2005
- August 2005
- September 2005
- October 2005
- November 2005
- December 2005
- January 2006
- February 2006
- March 2006
- April 2006
- May 2006
- June 2006
- July 2006
- August 2006
- September 2006
- October 2006
- November 2006
- December 2006
- January 2007
- February 2007
- March 2007
- April 2007
- May 2007
- June 2007
- July 2007
- August 2007
- September 2007
- October 2007
- November 2007
- December 2007
- January 2008
- February 2008
- March 2008
- April 2008
- May 2008
- June 2008
- July 2008
- August 2008
- September 2008
- October 2008
- November 2008
- December 2008
- January 2009
- February 2009
- March 2009
- April 2009
- May 2009
- June 2009
- July 2009
- August 2009
- September 2009
- October 2009
- November 2009
- December 2009
- January 2010
- February 2010
- March 2010
- May 2010
- January 2011
- April 2011
- May 2011
- June 2011
- October 2011
- November 2011

