Saturday, October 16, 2021

duka yang menyusun sendiri petualangannya

 

rasa kehilangan seorang penonton pada aktor yang dia tonton sepanjang yang bisa dia ingat, adalah kehilangan yang senyap. ia tak bisa mengaku jadi orang yang paling dekat, paling paham, paling kenal, paling mengerti. mungkin bahkan tak pantas menyebut diri teman baik. meski setelah sekian lama, dia tak bisa ingat lagi kapan perkenalan terjadi, lalu jalinan cerita panjang itu bermula dan selalu ada di tempat semestinya. 

dia tak bisa mengaku terlibat atau punya keterlibatan dalam setiap proyek yang pernah disajikan di hadapannya, meski semua, semua aktor, aktris, musisi, dan mereka yang sejenis, akan bilang bahwa penontonlah yang paling penting. karena tanpa penonton mereka bukan siapa-siapa, bukan apa-apa.

 lalu bagaimana dia membuktikan bahwa mereka punya percakapan-percakapan? punya kedekatan dan jalinan dari tahun demi tahun yang berkelindan? dan apakah semua ini perlu pembuktian, jika yang bisa bersaksi atas ikatan yang terjalin dari lakon demi lakon, panggung yang berganti, nyala lampu yang tak sama, adalah yang menyebabkan kehilangan itu? yang kini sudah tak bisa berteriak lantang, atau menulis kata-kata lagi?

bagaimana dia menjelaskan bahwa tahun demi tahun merayap perlahan saat dia menyaksikan penajaman dan pematangan, kemampuan yang diasah hingga tiba-tiba khalayak menjulukinya bintang? ketika orang memandang dengan cara yang tak lagi sama. dia merasakan kehilangan itu, kehilangan kepastian untuk menyaksikannya dalam jadwal terberi, di atas panggung, sekali lagi. menautkan simpul dari ikatan yang sudah menahun, tak berkira panjangnya. kehilangan janji untuk bisa mengalami segala yang dia cerna dengan indera dan perasaannya dari bangku dalam ruangan dengan AC yang kadang-kadang terlalu dingin, dan jika sial, di sebelah orang lain yang menyebalkan. yang adalah juga bagian dari pengalaman itu. dan yang kini tak akan kembali lagi. 

sampai kapan perih bersemayam di sini?


Thursday, September 23, 2021

on cruella

di ujung pekan MetGala ini, aku nonton Cruella, yang seperti prequel untuk adaptasi sebelumnya dari novel yang sama The One Hundred and One Dalmatians. kalau sebelumnya tokoh Cruella de Vil udah dewasa, di film yang dibintangi duo Emma (Stone dan Thompson) ini, kita lihat riwayat hidup tokoh yang belakangan dikenal sebagai musuh para dalmatian.

ceritanya menarik, dialognya bagus, dan aku selalu suka tokoh jahat yang manis.

plotnya mengandung twist, meskipun ada beberapa hal yang kayaknya ya udah jelaslah, udah pasti. some obvious choices including Feeling Good by Nina Simone played as Estella's starting her new job and Mark Strong being a trusted man (can we please give him a main role somewhere? please?)

film ini, seperti The Devil Wears Prada, sepertinya akan lama dikenal karena fashionnya yang timeless dan sangat memanjakan mata. periode yang dipilih, London di tahun 1970-an, dengan revolusi fashion bersenjatakan sketchpad dan mesin jahit. status quo diwakili Baroness (Emma Thompson) dengan tampilan dan koleksi--ingat, ini persaingan dua fashion designer, yang diinspirasi rancangan (Christian) Dior. sementara di ujung lain pendulum, ada Cruella (Emma Stone) yang penampilan dan rancangannya kental dengan unsur-unsur yang dipinjam dari Vivienne Westwood, Alexander McQueen dan John Galliano. mereka adalah tiga diantara perancang busana Inggris paling berpengaruh.

Fun fact, John Galliano pernah jadi creative director Dior selama 13 tahun, sebelum berkasus dan digantikan oleh Alexander McQueen.

sejak hari pertama bekerja, rasa stylish punk menguar dari pilihan kostum serba hitam dan patent boots tinggi, sementara pegawai lain di kantor pakai celana bell bottom, kemeja berkerah tinggi dan tajam. lalu dilanjut dengan jaket gaya militer penuh grafitti saat ketemu dengan Artie, pemilik butik kecil yang memancarkan pengaruh David Bowie.

sepanjang cerita berlangsung, baju-baju paling menarik muncul saat serangan-serangan guerilla fashion dilancarkan ke Baroness. dari biker jacket yang screaming McQueen saat Cruella muncul naik motor balap --Wishnutama sama Jokowi nggak kepikir pakai baju sebagus ini pas Asian Games, mungkin kalau Lady Gaga bisa. dilanjut jaket militer dengan banyak paraphernalia dipadu feathery full ball gown skirt merah hitam yang menakjubkan. puncaknya, waktu muncul gaun 'kertas koran' dengan ekor yang panjangnya ekstrem. it has Galliano written all over it.

penata busana film ini, Jenny Beavan, udah pernah dua kali dapat piala Oscar untuk A Room with A View (1986) dan Mad Max: Fury Road (2015) --apakah dia akan dapat piala Oscar ketiga untuk Cruella?

Sunday, November 03, 2019

finding the best rawon



my family lives in Malang, about an hour flight from Jakarta to the east of Java, Indonesia. it is a provincial city famous for its colder climate, apple plantations, and good food. as I planned to visit it this weekend, I have planned of having some culinary tour while I was there, contacting some friends to do so.

other than bakso, a meatball soup with clear broth, Malang was known for its fine selection of East Java delicacy: rawon -dark beef stew, cwimie -a type of dry noodle dish with chopped chicken and fried wontons, kripik tempe-basically soybean cake chips and tahu campur -a dish of tofu, beansprouts, beef and shrimp paste (petis) broth. I am seriously drooling now

while planning what and where to eat, we jumped into a heated discussion on where is the best rawon in malang now. you see, it is very important to make sure that you make the best use of the time, meaning not wasting time eating in a place that is not worth your while.

rawon is a simple but complicated dish altogether. it is a beef-based dish; therefore, you have to make sure that the brisket used in it has enough tender meat as well as delicious fatty part. the dark broth comes from keluwek, fruit of a species of tall trees native to Indonesia and Papua New Guinea. these fruit need to be specially prepared as it produces poisonous hydrogen cyanide, so it has to be fermented to change its flesh from creamy white to dark brown or black. however, you must be careful to no use rotten keluwek as well. it takes a sharp eye to know which keluwek will help to produce rich, thick broth with yellowish oil surface, as a combination of delicious beef brisket and fresh keluwek.

there are of course hundreds of rawon sellers in Malang, some are more famous than another. some have a very limited opening hours, some others have longer queues as tourists flocking to it to get the best rawon they can find. our conversation today leaving us with at least three candidates, and the discussion is still ongoing. I think if no consensus reached, I will settle with the best rawon I have known: the one made by my mum.

Saturday, November 02, 2019

today's conversation: hotel marketing


the most interesting conversation happened today when a question popped about my old office. how to market it better as a rival established and taking a lot of businesses?

I am thinking about marketing quite a lot this week, and somehow this question intriguing me, knowing that my old boss is frustrated to see other establishment knows how to promote and market themselves better, whereas his crews are pretty much clueless on what to do. he dislikes fake people and of course a digital-based marketing with influencers, without having an organic campaign crafted with sophistication and taste will infuriate him. his last marketing person stayed for only 3 months after several setback and clashes.

do I know a PR company to contact?
my first reaction is whether a PR company is what they need, or whether what they need is a general checkup on positioning, purposes and priorities?
my old office is no longer a startup it used to. it is now transforming from a small-medium enterprise into a bigger enterprise, an established brand and a settle household in its region. it's been around for 22 years.

I said maybe what they need is someone who can help them understand who they are now, so that they can determine the nest steps. I think it will be useless to try different things at this point, without really understanding what is going on. I mean, is it true that the decline in customers really about better marketing outreach to get new markets? what if the new markets are actually the type of cheap customers who will not pay in the level of their service? what if they are launching something in the wrong market, at the wrong time, so that it was not working well? what if they have not choose their battle carefully all these time?

other things to discuss is excitements. a more established brand needs a different strategy to play. maybe what they need is showing that there is always a constant improvements albeit small? new menu, new chef, new CEO, new artist to promote, new acquisition, heck even new plants that happens to be on the brink of extinction!
maybe they need to show more that their places offer a home to return to, an authentic place that will not change, a dependable feelings that you can look forward to every now and then. remember that campaign where mandarin hotel campaigned as if they have an embroidered pillowcase for every guest they ever had? that kind of lips service is what people sometimes need to believe.

it was a nice way to spend 25 minutes, thinking and talking about this. hope that conversation helps.

Tuesday, January 01, 2019

buku-buku di 2018


meskipun cita-citaku tinggi dan niatku baik, aku harus menerima kenyataan kalau terlalu banyak hal yang bisa menghalangi maksudku membaca buku sebanyak-banyaknya di sepanjang tahun. tampaknya, aku masih lebih banyak tunduk pada godaan bantal dan ponsel, terutama karena yang belakangan menyajikan keributan-keributan yang nggak penting-penting amat tapi seru antara grup kampret dan grup cebong (sesuai urutan nomor calon ya, ini). dan tampaknya ini masih akan terus berlangsung, karena sekarang juga ada kontestan tambahan bernama dildo.

di luar itu semua, aku berhasil menamatkan 18 buku di tahun 2018. masih belum sebanyak Obama yang rata-rata membaca 30-an buku dalam setahun (padahal dia lebih sibuk ya, daripada aku!) atau Stephen King yang katanya membaca antara 50-70 buku dalam setahun (tergantung berapa banyak buku yang dia terbitkan.

semua buku kubaca dalam format cetakan. aku masih terlalu cinta pada aroma kertas dan tinta dari buku baru (oh, sungguh bikin kecanduan) untuk menggantikannya dengan buku digital macam kindle. tapi pendirian ini bukan nggak mungkin berubah, kalau ada aromaterapi beraroma buku baru yang bisa kuteteskan ke layar kindle. kalau ada yang tau di mana yang jual, kabarin ya!

daftar tahun 2018 aku bagi jadi dua, fiksi dan nonfiksi. masing-masing aku kasih sedikit catatan, siapa tau ada diantara teman-teman yang tertarik membacanya juga. here goes:


FIKSI 2018

Americanah - Chimamanda Ngozi Adichie
novel yang berangkat dari kisah nyata penulisnya, seorang imigran nigeria di amerika serikat. kisahnya berjalin antara kehidupan migran di negara lain, ketidakstabilan politik akibat pergantian rejim, masyarakat urban nigeria dan perkembangan industri perfilman di nigeria.

The Green Road - Anne Enright
novel berisi kehidupan sebuah keluarga irlandia sepanjang tahun 1980-2005. hubungan antara 4 orang anak keluarga madigan dengan ibu mereka, rosaleen, diceritakan secara rinci, melintasi berbagai gejala zaman, antara lain epidemi HIV/AIDS.

Pachinko - Min Jin Lee
novel tentang perjalanan 4 generasi sebuah keluarga korea yang terseret penjajahan jepang hingga menetap di osaka, dan kemudian yokohama. riwayat panjang keluarga ini berawal dari masa perang, pecahnya korea, sampai kehidupan generasi berikutnya sebagai liyan di negara tempat mereka lahir, yang sekaligus tak pernah menerima keberadaan mereka.

Makramé - Dias Novita Wuri
kumpulan cerpen dengan tokoh-tokoh yang nyata maupun fantastik. dengan imajinasi yang kaya, tiap-tiap cerita berkisah tentang masa-masa panjang, atau pendek, antara tokoh-tokoh dengan latar dan tempat kejadian yang berbeda. kota-kota yang bisa jauh atau dekat, dengan cerita yang sangat mungkin bisa terjadi kapan saja, kalau kita mau melihat lebih jeli.

Call Me by Your Name - Andre Aciman
novel ini, lebih liris daripada filmnya, dengan seorang narator yang menceritakan jalinan kisah yang sangat lembut dan menyentuh, yang terjadi antara dua orang, pada suatu musim panas, di sebuah kota kecil di italia. kejadian-kejadian dalam novel ini, berpusat pada elio, yang jatuh cinta untuk pertama kalinya dan pada saat yang sama berusaha menemukan jati dirinya.  

Muslihat Musang Emas - Yusi Avianto Pareanom
kumpulan cerpen yang berisi kisah-kisah tragis dan getir, yang terjadi pada orang-orang yang berusaha menjalani nasibnya dengan sedikit pertanyaan dan lebih banyak tindakan. tragedi-tragedi di dalamnya banyak berasal dari kemunafikan dan kekerasan yang ditutupi, tapi tak bisa dimungkiri keberadaannya.


NONFIKSI 2018

Chanel: An Intimate Life - Lisa Chaney
salah satu biografi Coco Chanel yang paling lengkap. disertai latar sosial politik dan kebudayaan pada masa yang bersangkutan, biografi ini memberi gambaran nyaris utuh dan meletakkan Chanel dalam konteks dan karyanya yang lintas geografi dan lini masa

Kitchen Confidential - Anthony Bourdain
memoar sang chef ternama tentang bagaimana karirnya bermula, dari mana ia berasal, hal-hal yang terjadi di dapur restoran, sekaligus panduan bagi mereka yang ingin menikmati makanan sebagai seni, bukan hanya pemuas rasa lapar.

Clothes, Clothes, Clothes. Music, Music, Music. Boys, Boys, Boys - Viv Albertine
memoar Viv Albertine, gitaris dan motor kelompok punk cewek legendaris The Slits. bukan hanya judulnya yang catchy, tapi gaya penceritaan dan pergaulannya sangat menjelaskan skena musik punk di inggris pada masa kejayaannya.

Whisful Drinking - Carrie Fisher
memoar Carrie Fisher, bintang film yang tumbuh dari keluarga Hollywood, dengan yang juga bintang film dan ayah penyanyi terkenal. dengan keyakinan dan kemampuan menertawakan diri sendiri, Fisher menulis buku ini sarat dengan humor dan satir. berbagai tragedi pribadi dan keluarga, sampai kisahnya sebagai pecandu diceritakan dengan tawa, dan apa adanya.

Kenangan Tak Terucap Saya, Ayah, dan Tragedi 1965 - Nani Nurrachman Sutojo
kehilangan ayah secara tiba-tiba dalam sebuah kejadian tragis yang selama bertahun-tahun tidak ada kejelasannya, adalah peristiwa pahit yang memukul untuk siapa pun.

Getcha Rocks Off. Sex & Excess. Bust-Ups & Binges. Life & Death on the Rock ‘n’ Roll Road - Mick Wall
memoar penulis, kolumnis dan wartawan musik yang juga pernah kerja di perusahaan rekaman di masa kejayaan musik rock. cerita-cerita di dalamnya dipicu gaya hidup yang berlebihan, ketika ketenaran dan pemujaan menjadikan sedikit orang di dalam buku ini diharapkan menjadi dewa, berbahan bakar adrenalin, alkohol, tubuh dan drugs

The Subtle Art of Not Giving a F*ck - Mark Manson
buku yang semua orang kayaknya udah baca. kumpulan tulisan blogger terkenal yang membantu pembaca mengenali diri sendiri dan memilah hal-hal penting dari sekian banyak hal kurang penting dalam hidup.

Mistisisme Jawa Sebuah Ideologi di Indonesia - Niels Mulder
membaca buku ini jadi lebih paham bagaimana orde baru dikonstruksi, dan kenapa bisa bertahan sampai lebih dari tiga puluh tahun tanpa perlawanan berarti. karena pola dan ideologinya cocok dengan lahan yang tersedia. telaah bagus tentang sebuah pondasi politik dan sosial yang mengakar di Indonesia.

Why Your 5 Year Old Could Not Have Done That - Susie Hodge
karena aku perlu bisa menjawab dengan cara sesederhana mungkin, pertanyaan seperti “ini seninya di mana?” atau komentar “kalo cuma corat-coret gitu doang anak saya juga bisa!”

How Art Can Make You Happy - Bridget Watson Payne
membantu menerjemahkan yang bisa dirasakan tapi nggak selalu gampang untuk dijelaskan

Astrophysics for People in a Hurry - Neil deGrasse Tyson
menjelaskan konsep-konsep dasar astrofisika secara runut dan sederhana. topik yang begitu besar dan rumit, dirangkum dan diterangkan lewat metafora dan contoh kasus yang mencerahkan. buku ini menurutku harus diwajibkan dibaca dan didiskusikan oleh semua siswa SMU/SMK/MA dan yang sederajat di Indonesia. selain buku ini, wajib juga membaca dan mendiskusikan: dasar-dasar filsafat dan dasar-dasar logika.

Xenoglosofilia Kenapa Harus Nginggris? - Ivan Lanin
kumpulan tulisan Ivan Lanin tentang berbagai kata, istilah, ejaan, struktur dan penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. karena bisa berbahasa Indonesia dengan baik sama pentingnya dengan berbahasa asing dengan baik.

Monday, July 31, 2017

maaf, bangsa kita enggak pernah jadi vegetarian

buat kamu yang vegetarian, maaf aku membawa kabar kurang sedap.

dari hasil  ngobrol-ngobrol sama orang-orang di grup sejarah yang rajin baca babad, kakawin, kropak dan kitab-kitab, memang rupanya nenek moyang kita enggak vegetarian. justru lebih banyak makan daging daripada sayur-sayuran

ada yang bilang kalau makan sayuran itu lebih karena terpaksa. misalnya pas jaman berburu dan meramu, mereka yang makan sayuran saja, biasanya karena badannya lemah, nggak bisa lari cepat mengejar kijang atau kurang sigap menangkap ikan:p

nah, dari abad ke-8 dan 9, pertanian sawah udah jadi salah satu mata pencaharian penting di Jawa. setidaknya dari catatan raja Kamboja yang ngekos sama keluarga dinasti Syailendra (yang bikin Borobudur) sebelum dia balik ke negaranya dan bikin Angkor Wat. dari Borobudur juga, ketahuan kalau orang-orang di Jawa pada masa itu banyak yang sehari-hari minum olahan susu dan makan sagu. nggak heran sih ya mereka bisa bikin candi segede itu juga, makanannya penuh protein dan negaranya kaya raya. 

prasasti yang bahas makanan memang ada cukup banyak, terutama yang dari masa awal kerajaan di Jawa Timur (Kediri) dan di Jawa Barat (Sunda) di abad 9-10M. kayaknya pesta di jaman itu memang seru dan gila-gilaan, sehingga para sekretaris kerajaan perlu memastikan kalau anak cucu mereka tau, nenek moyangnya makan dendeng, pindang, empal atau ikan gabus goreng telur yang disajikan dalam pesta-pesta. nyam!

dari obrolan kemarin itu, aku juga jadi tahu kalau variasi makanan dan teknik memasak sudah sangat beragam sejak ratusan tahun yang lalu. di abad 12 udah ada Rawon, dan namanya jelas-jelas rawon, lengkap dengan penjelasan kuahnya yang hitam karena biji Keluwak. abad 13 sudah ada terasi, yang kemungkinan besar sejaman dengan petis. sejak abad 5 kelapa sudah banyak disebut. mungkin sejak 1000 tahun lalu, olahan kelapa juga udah macam-macam. mulai dari makan kelapa muda, air kelapa, santan, air bunga kelapa yang manis, sampai bikin minuman keras pun, dalam bentuk legen dan tuak. di bali, arak dibuat dari beras. abad 13/14 sudah ada kerupuk, nenek moyang kita nggak bisa makan tanpa sound effect. 

tulisan paling rinci soal teknik memasak orang sunda ditulis dalam buku tahun 1518, bikin ayam tulang lunak aja udah bisa lho! canggih parah! belum lagi masakan pesmol yang warna kuningnya diambil dari bunga labu, sampai bikin fillet ikan yang digoreng sampai renyah. bikin pindang, pepes, pecel dan empal udah bisa dari hampir 500 tahun yang lalu!

di bawah ini, adalah rangkuman dari riset kecil yang aku bikin tentang timeline makanan Indonesia, dengan bantuan dari teman-teman di grup Telegram Sejarah. cus! 


Monday, March 07, 2016

obsesi: pisang goreng


hubunganku dengan pisang bisa dibilang sangat baik, tapi rumit. soalnya aku nggak terlalu tertarik sama pisang yang dimakan sebagai buah. artinya, pisang yang tidak melewati proses pemasakan sebelum disantap. terutama karena alasan rasa yang ditinggalkan. jadi antara rasa pisang yang enak yang pernah ada di dalam mulut dan rasa yang ditinggalkannya setelah masuk ke dalam perut, saling nggak cocok. yang menyebabkan aku nggak suka pisang sebagai buah. ini berarti aku juga nggak suka sama pisang yang dijadikan jus, atau smoothie, atau banana split.
 
tapi aku tergila-gila pada pisang goreng. betapapun nggak sehatnya. hahah.
dalam cuaca apapun, pisang goreng selalu enak. aku bisa membayangkan enaknya sekarang.
dan meskipun pada umumnya aku menghindari makan gorengan, tapi aku nggak pernah bisa menolaknya. pisang-pisang goreng terbaik menurutku dibuat dari pisang kepok, terutama yang warnanya kuning. pisang kepok putih sebetulnya lumayan juga, meskipun lebih sering jadi makanan burung. tapi pisang kepok kuning atau yang kemerahan rasanya lebih mantap! lebih manis dan daging buahnya punya rasa gurih, sementara yang putih agak lebih 'kosong' rasanya. sepa, gitu kata mbahku yang berbahasa jawa.

kalau dalam bahasa inggris, pisang-pisang yang harus dimasak dulu, apakah itu digoreng, direbus, atau dijadikan kolak, biasa disebut plantain sementara yang dimakan langsung ya banana. pada umumnya, aku suka pisang yang sudah dimasak. dalam berbagai bentuk. selain pisang goreng ada pisang kukus, kolak pisang, carang gesing --pisang yang dipotong-potong dan dimasak dengan gula merah dan santan lalu dikukus dalam bungkusan daun pisang, nagasari, pisang sira, pisang bakar dan macam-macam lagi.

untunglah aku dilahirkan di negara yang kaya jenis pisang. atau apakah kesukaan pada pisang ini adalah hasil dari caraku dibesarkan di negara ini? mungkin dua-duanya benar.
tapi bayangkan betapa membosankan kalau di setiap pasar dan swalayan hanya ada satu jenis pisang. pisang ambon yang tak bisa digoreng, dikukus, dikolak, apalagi dibakar. bagaimana nasib mereka yang lebih suka pisang mas atau pisang susu? dan kalau tak ada lagi pisang batu, kita tak mungkin lagi menyantap rujak cingur dengan rasa lengkap.

aku juga pasti akan sangat kehilangan kalau tak ada lagi pisang tanduk, pisang raja, pisang kepok kuning atau pisang nangka. jenis-jenis plantain kesukaanku itu. sayangnya ini sekarang makin banyak terjadi. entah karena kota besar ini kurang kreatif atau bagaimana, di mana-mana orang lebih suka menjual (dan membeli!) pisang chavendis yang membosankan itu.

bisa dibilang, pisang goreng adalah 'makanan berdosa' buatku. guilty pleasure yang sulit ditolak, karena kenikmatannya tak bisa diingkari. dan godaan itu datang setiap hari karena di gedungku ada kedai yang menjual pisang goreng enak. pisangnya selalu pisang raja, atau pisang tanduk yang matangnya pas sehingga sejak gigitan pertama, kita sudah bisa merasakan manisnya pisang yang alami, tanpa banyak bantuan dari gula yang membalut tepung pisang goreng itu. penjual pisang goreng di gedungku ini juga nggak berlebihan memberi tepung. dia bukan tipe penjual yang bikin pisang goreng segede telapak tangan orang dewasa, tapi isinya tepung melulu. dan pisang goreng ini jenis yang dibelah-belah tanpa terputus, bukan yang dipotong-potong. yang berarti pisangnya masih dalam kondisi baik. hasilnya, pisang goreng berukuran sedang yang tepung tipis garing dan renyah, dengan pisang yang manis dan juicy di dalamnya. yum!

karena enaknya, setiap kali ia menggoreng, dalam waktu beberapa menit saja, pisang-pisang itu sudah ludes. kadang harus ditungguin, supaya masih kebagian. atau mengandalkan keberuntungan.

menulis ini bikin aku ingin makan pisang goreng. yuk?!

Thursday, October 29, 2015

postcard from the National Museum in Jakarta

I was visiting the National Museum last week, and I'm ashamed to say that albeit my 5 years staying in Jakarta, that was my first visit. I was there because of Jalur Rempah, an exhibition that struck me hard since the first time I stepped on the museum area. There were many people there. Most of them are middle class Jakartans like me, who complaints about traffic everyday, but using the comfortable cozy air-conditioned car whenever I get the chance. Middle classes who spend more time at the malls than in a museum with dusty displays, 5000 rupiah ticket, and the chance to devour thousands of artifacts, texts, documentations and objects that show the richness of my heritage.

I'm embarrassed because I realize that during my four months stay in New York, I have visited Museum of Modern Art a dozen time, and the other museums such as The New Museum, Whitney, MoMA PS1, The Met, Guggenheim, Jewish Museum, Brooklyn Museum and The American Museum of Natural History at least twice. But never to the National Museum in Jakarta, until last week.

JalurRempah started with one question that matters. "Why not Spice Route?"
I have been familiar with the Silk Road for years. To me, that name sounds so elegant and mysterious at the same time. Smooth and slippery, also unreachable at the same time. Just like high quality, pricey silk. But not until I visited the museum that day, I understand that the most traded, sought after commodity during the time of Silk Road was spices, not silk. On that day too, I learned that there are 188 spices in Indonesia, that the most important spices --that changes the face of this world-- are clove and nutmeg, and both, for many centuries are only grown in Indonesia, in Maluku, the island of spices. Those spices that I have taken for granted, but know nothing about.

For years, I have been complaining that the Indonesian museums do not look like the ones I visited abroad. In Singapore, Paris, Amsterdam, Zurich, Pittsburgh, Basel, Oslo, Stockholm, Chicago or Washington DC. The museums opening hours are weird and impossible if you are working in the office and not joining some sort of student field trip. That there are not enough information provided, no interesting display nor theme. That the toilets are dirty and smelly. That there must be no air conditioning and it will be hot! And above all, to be honest, I really don't know what's on.
So I complained but never came.

My visit to JalurRempah was the biggest slap in my face. It knocks down all of my snobbishness to the ground. The Museum Week and The Indonesian Museum Foundation did a great job promoting this exhibition and creating an easy to follow display with important facts and interesting information laid chronologically. Another thing that makes a difference is the public programs. Numerous programs for kids and adults are prepared and created for anyone willing to join. From what I see, this is one of the success keys for this exhibition. Those who come for the exhibition stay for a public program or two, and then curiously discover other things inside the museum. I believe many people, just like me, wandering inside the museum because of JalurRempah.

No, the toilets are not dirty nor smelly. Yes, the displays are dusty and has not been changed for years. Yes, there are no air conditioners. Yes, you have to find your own way among the dimly lit objects and limited information. Yes, mainly, there are no special exhibition with special curatorial process to follow. But come anyway! See the Indonesian museums and discover the wealth of our cultural treasure.

I learned so much from my first visit. I know you will too.

Sunday, September 13, 2015

This ain't a sentimental note

aku menulis ini sambil menonton Ally McBeal episode "Blowin in the Wind" karena masih belum bisa beranjak dari konser dua hari yang lalu. sebagian dariku masih berharap konsernya lebih spektakuler dan lebih mengesankan. sebagian lagi berusaha menerima kenyataan bahwa sudah dua puluh tahun berlalu dari laki-laki ganteng di dalam kepalaku yang berseru-seru
"all I got is my guitar, 
these chords and the truth. 
all I got is my guitar, 
and all I want, baby… you!"

dia masih ganteng. Jon Bon Jovi masih punya pesona saat menyanyi di panggung, membuatmu merasa mau memberikan segala-galanya. dengan senyum maut sama, yang mematikan; caranya mengerucutkan bibir yang bikin dia keliatan paling keren diantara 40,000 orang isi GBK Jumat lalu.

ada satu adegan dari Ally McBeal yang masih selalu aku ingat, waktu Victor Morrison menunduk dan Ally mendekatinya dari belakang, lalu mengendus bokongnya yang bagus, ketat-padat dan tampak menggemaskan saat diremas. aku masih ingat adegan itu seperti terjadi beberapa hari yang lalu, meskipun tiga belas tahun sudah lewat. banyak hal terjadi tahun itu, termasuk dirilisnya album Crush, yang menjembatani Bon Jovi dengan fans-nya yang lebih muda, yang mengenal mereka dengan lagu "It's My Life"

tampaknya aku yang lebih banyak berubah daripada Jon Bon Jovi. dia masih punya rumah di pinggir sungai di New Jersey, dengan keluarga yang sama, band yang sama. sementara aku sudah kehilangan sebagian besar perasaan mabuk kepayang dan terbuai itu. setiap kali mendengar lagunya, aku nggak lagi merasa dia sedang berbagi perasaan denganku. meskipun aku masih ingin memeluknya waktu dia bilang
"You know I need you like a poet needs the pain. 
And I would give anything, 
my blood my love, my life, 
if you were in these arms tonight"

dan membalas "you don't have to beg".

tapi di dalam hatiku, aku tahu setelah jejeritan di lapangan GBK sambil jingkrak-jingkrak, aku akan pulang ke pelukan Mahen sambil sibuk bercerita "baru sekali ini aku liat orang yang makin keringetan keliatan tambah ganteng, sayang. he's aging gracefully!"

memang sebagian lagunya nggak kukenal dengan baik lagi, karena aku berhenti beli album Bon Jovi setelah Lost Highway. meskipun kebetulan aku masih sepintas ngerti "Who Says You Can't Go Home" dan "Because We Can" tapi keduanya terasa lebih sebagai kenalan daripada teman akrab.
level hubungan yang jauh dengan "I'll Be There For You", "Never Say Goodbye" atau "Dry County"
bahkan wajah Jon yang mulai berkerut dan rambutnya yang kelabu juga tak kukenali. yang bikin dadaku tetap berdesir dengan cara yang sama adalah saat kamera menyorot bokongnya. saat dia membelakangi kami dan menandak-nandak, lalu bergoyang seirama gebukan drum Tico Torres, gitar Phil X, bass Hugh McDonald dan permainan keyboard David Bryan.

sepertinya aku harus menerima kenyataan bahwa sebuah era sudah berakhir, seiring perubahan musik dan jenis lagu yang terjadi. aku bukan lagi fans dengan cara dan kadar yang sama. meski posisi Bon Jovi, dan terutama posisi Jon Bon Jovi tetap tak tergantikan.
ia adalah laki-laki yang penting dalam hidupku, karena telah membantuku belajar bahasa Inggris di SMP. aku masih ingat keningku berkerut, membuka-buka kamus tebal sambil berusaha menerjemahkan frase seperti wayward son, atau memahami penggunaan ain't, kosakata yang nggak dikenal di kelas.

dan sesungguhnya, di satu sudut hatiku, aku merasa sedikit sendu, karena sepertinya, aku tak akan pernah bisa menonton konser Bon Jovi bersama Richie Sambora. pengalaman yang jika mungkin terjadi, rasanya akan luar biasa.

apa kamu masih menyukai band kesayanganmu saat remaja dengan cara yang sama?

Thursday, April 16, 2015

warung ibu belakang


sebelumnya ia berjualan sayur-mayur untuk penghuni kompleks di belakang kantor kami. beberapa tahun yang lalu, ia memutuskan untuk mengubah bisnisnya, dari sekedar menjual bahan mentah menjadi makanan siap saji. bukan, bukan fast food. tapi jadi warung makan yang menyediakan hidangan segar bagi orang-orang di sekitar.

aku biasa menyebutnya warung ibu belakang. saat waktu makan siang tiba, biasanya kami bergegas pergi ke sana bersama-sama. masakannya cukup enak, makanannya selalu baru, dan yang terutama, harganya mencengangkan. saking murahnya, awal-awal makan di situ aku selalu nggak percaya pada jumlah yang disebutkannya. jarang mencapai lima belas ribu rupiah, sudah dengan minuman. apakah ibu yang menyebut dirinya bude yati ini tidak khawatir tergerus inflasi? apakah ia tidak memiliki perencanaan keuangan dan business plan untuk warungnya? atau apakah ia sedang mengerjakan sebuah misi kemanusiaan untuk memastikan tidak ada orang yang kelaparan dalam radius 500 meter dari tempatnya berada?

ketika harga-harga mulai merambat naik akibat kenaikan BBM, aku mendapati bahwa dia juga ikut menaikkan harga. sedikit, tapi menenangkan. karena dengan demikian, ada jaminan bahwa dia akan terus berjualan selama keadaan memungkinkan, dan tak akan bangkrut dalam waktu dekat karena memberikan harga jauh di bawah daya beli pasar.

menu di warung ibu belakang cukup bervariasi, meskipun didasarkan pada genre masakan rumahan. sayur yang hampir selalu tersedia adalah sup sayuran atau sup kacang merah, sayur sambel goreng krecek yang mengandung kacang tolo, tahu dan tetelan dengan bumbu merah dan kuah santan, serta berbagai macam tumisan. selain tumis labu siam, juga cukup sering ada tumis kacang panjang, tumis toge, tumis kangkung, atau daun pepaya.

dalam kesempatan-kesempatan yang menyenangkan, kami akan menemukan lodeh terong, atau lodeh kluwih. ikan cuwe yang digoreng setengah matang lalu disiram sambal merona dengan potongan petai yang serius, ikan nila dimasak dengan cabai ijo dan oncom, ikan bandeng bakar atau masak pesmol adalah juga lauk yang sering kami temukan. pada hari lain, ada ayam bakar atau ayam opor atau ayam semur dengan kuah kecap yang sedap. setiap kali oncom dimasak dengan kemangi dan leunca muncul, biasanya sebagian akan kupindahkan ke piringku. sambal goreng kering berisi udang atau kentang dan hati adalah hidangan sehari-hari. selain itu biasanya selalu ada orek tempe, semur jengkol, rendang dan dendeng sapi, tahu goreng, telur asin, perkedel jagung, perkedel kentang, ikan kembung dan lele goreng serta ayam goreng lengkuas.

dua hal yang selalu kami tunggu-tunggu saat masih panas dan baru saja diangkat dari penggorengan adalah peyek udang segar dengan bagian tepung yang renyah dan udang nan gurih bertonjolan di berbagai penjuru. juga, tempe goreng yang dibumbu bawang putih dan garam. kami akan menyantapnya panas-panas dengan suka cita, diiringi sambal terasi ekstra pedas atau sambal kecap yang senantiasa terhidang di meja.

jadi kapan mau makan di warung ibu belakang bersamaku?


Wednesday, April 15, 2015

a notorious week

kalau ada ramalan bintang yang bilang: "minggu ini adalah saat anda dirundung kesialan berturut-turut. berhati-hati dan waspadalah" pasti aku nggak akan percaya. selama bertahun-tahun, aku terbiasa untuk percaya hanya pada peruntungan baik saja. jadi kalau ada kalimat-kalimat seperti "ada masalah keuangan" atau "cuaca kurang baik, menyebabkan anda sakit" aku akan menolaknya mentah-mentah.

tapi sayangnya, saat-saat kita ditimpa kemalangan memang benar-benar ada. dan dalam satu minggu, kemalangan itu bisa datang bertumpuk-tumpuk. seperti sedang dihinggapi penyakit sial.

awalnya, ketika aku ketinggalan pesawat.
seumur hidup, baru dua kali ini aku mengalaminya. dan dua-duanya di jakarta. dari semua kota di mana aku pernah terbang dari bandaranya, hanya di Jakarta aku selalu was-was dan khawatir ketinggalan pesawat setiap kali akan terbang dari bandara Soekarno-Hatta. dan hari itu, lalu lintas memang luar biasa macetnya. belakangan aku baru tahu bahwa kemacetan terjadi sejak sesaat setelah matahari terbit, sampai tengah malam. teman kantor bilang dia perlu 5 jam untuk pulang ke rumahnya hari itu. perjalanan yang biasanya ditempuh hanya dalam 45 menit sampai 1 jam saja.

tapi kesialan memang datang bertumpuk hari itu. nggak ada taksi tersedia dan jalanan depan kompleks sudah padat merayap. naik kereta ke pangkalan DAMRI dan kereta pun mengalami gangguan. sepanjang Jalan Raya Pasar Minggu sampai Pancoran, perlu waktu satu setengah jam sendiri. aku tiba di loket check-in tepat ketika pintu pesawat baru saja ditutup. karma selama bertahun-tahun mengalami keterlambatan pesawat ternyata tak terbayar hari itu. saat aku memerlukannya terlambat, pesawatku terbang tepat waktu, sesuai jadwal.

maka kesialan pertama hanya bisa ditebus dengan membeli tiket lagi. jangan tanya harganya. mahal. karena rupanya dua lembar tiket terakhir yang tersisa pada hari itu. semua penerbangan penuh. orang-orang bergegas pergi liburan.

kesialan kedua terjadi beberapa hari kemudian. di tengah kepadatan INACRAFT.
aku sudah datang di saat yang tepat. ketika orang sedang sibuk shalat Jumat dan makan siang. dengan sabar kukunjungi macam-macam stand. mencatat barang-barang yang menarik, dan seperti biasa, memegang barang-barang yang harganya paling mahal. seleraku masih bagus rupanya.

menjelang sore, aku kelaparan dan memutuskan makan dulu. lalu rencananya, pulang setelah selesai makan siang yang telat. tapi rencana tinggal rencana. setelah makan, aku melihat satu bagian di lobi utama yang belum aku lihat. jadi aku masuk lagi, memilih lagi, tertarik lagi. dan waktu berencana membeli sesuatu di salah satu stand, aku menyadari kalau dompetku hilang.
mungkin tertinggal di salah satu stand, tapi entah yang mana. mungkin diambil orang waktu secara tidak sadar kuletakkan di sebelah tanganku. yang jelas, dompet yang kusayang-sayang beserta kartu flazz limited edition DWP yang cakep itu, lenyap tak berbekas. lengkap dengan uang jajanku selama seminggu:(
#sedih

tapi ternyata itu pun masih belum cukup. dua hari kemudian, selepas tengah malam, waktu aku sedang enak-enaknya tidur, aku dibangunkan oleh rasa sakit yang luar biasa di perutku. tadinya kupikir ini mimpi aja, mimpi melahirkan bayi alien, mungkin. ternyata bukan. rupanya perutku unjuk rasa dan memaksaku untuk pergi ke kamar mandi. sekarang juga!

dengan mata pedas setengah terpejam, aku pergi ke kamar mandi dan menurutinya. membiarkan rasa sakit menyiksaku selama menit-menit yang panjang ketika unjuk rasa berlangsung, sampai akhinya kantuk sepenuhnya hilang. kurasa ini akibat bebek goreng dengan sambal luar biasa pedas sehari sebelumnya. menurutku enak, perutku tak setuju.

jam setengah tiga, setengah empat, sampai setengah lima. berkali-kali aku ke kamar mandi untuk memenuhi permintaan unjuk rasa, dan berkali-kali pula kantuk yang sudah sempat hinggap, terbang lagi. siyal. baru setengah enam pagi aku bisa tidur lagi. selama kira-kira sejam. *tarik-tarik selimut*

ketika minggu itu berakhir, aku harap minggu berikutnya --yaitu minggu ini-- akan lebih baik. cukuplah seminggu saja kesialan datang bertumpuk. dan biarkan aku hidup sehat, tenang, dan bahagia, setidaknya sampai saat tagihan kartu kredit datang minggu depan.

Sunday, January 11, 2015

si monokotil

kantor kami punya area terbuka yang cukup luas. selain parkiran yang tak seberapa besarnya dibandingkan dengan kapasitas gedung, kami juga punya halaman dengan pohon-pohon buah yang cukup bisa dibanggakan. pada masa-masa panen, kami bisa merasakan jamblang, nangka, sukun, mangga dan matoa dari kebun sendiri. di antara kebun, taman dengan kolam air jernih dan pohon-pohon itu, ada beberapa kucing liar bernaung.

mereka tidak mengganggu, cuma ikut berkeliaran di area-area terbuka, dan jadi penghuni tetap. ada satu yang warna bulunya belang kuning, sudah agak dewasa. kalau ternyata dia betina, mungkin sebentar lagi akan hamil di luar nikah dengan sesama kucing kampung lainnya. tapi mungkin juga, dia berhasil menarik perhatian kucing ras, supaya anak-anaknya nanti bisa naik pangkat dengan keturunan yang diperbaiki lewat percikan darah ningrat.

ada satu lagi yang warna bulunya belang hitam putih. badannya lebih kecil, mungkin lebih muda. dan kami ketahui kalau dia jantan. tapi kucing ini sakit. biji kemaluannya yang menggelantung di luar tampak memerah seperti strawberry. meradang. kami menduga dia terkena ambeien. beberapa kali kami membicarakannya saat sedang makan siang. dia kelihatan sengsara.

salah seorang di antara kami adalah penyayang binatang. di rumah, dia memelihara kucing dan anjing. keuntungan karena rumahnya punya halaman belakang yang cukup luas dan pasangannya tidak alergi pada bulu-buluan. buatku yang tinggal di gedung bertingkat, memelihara hewan piaraan apapun rasanya bukan ide bagus. teman kami yang penyayang binatang itu memutuskan untuk membawa si kucing berkelamin strawberry ke dokter hewan.

pada hari yang telah ditentukan, beberapa orang beramai-ramai berusaha menangkap kucing itu. dasar kucing liar, sekalinya ada manusia yang berusaha mendekat untuk menangkapnya, dia langsung kabur ketakutan. ketika pada akhirnya terpojok, ia terpaksa menyerah. tapi ketika ia akan dipindahkan ke dalam keranjang untuk dibawa ke dokter hewan, si kucing kabur. #drama.

selang sehari, si kucing berkelamin strawberry berhasil ditangkap dan dimasukkan ke dalam keranjang tertutup, lalu dibawa ke dokter hewan. kami dengar, dokter mendiagnosa bahwa ia tidak mengalami ambeien seperti yang kami duga sebelumnya, tapi ada peradangan di testisnya. dokter memutuskan untuk mengoperasinya, membabat habis kedua testisnya.

setelah operasi itu, selama seminggu ia harus pasrah berada dalam kerangkeng di dalam rawatan dokter hewan. tampaknya si kucing benci betul dengan kerangkeng, sehingga saat teman kami menjemputnya dari klinik, ia dengan suka rela melompat ke dalam keranjang yang seminggu sebelumnya membawanya ke klinik itu. langsung tahu bahwa ia akan dibawa pulang. sepanjang perjalanan, aku rasa kucing itu sudah jatuh cinta pada teman kami si penyayang binatang yang baik hati.


sekarang dia sudah kembali ke kantor kami. berkeliaran dengan bebas di alam terbuka, bisa main-main dekat pohon-pohonan dan minum air kolam yang jernih sesuka hati. setelah dioperasi, kami memanggilnya si Monokotil, singkatnya: Mono. dan sejak saat itu, dia jadi sayang dan jinak pada kami semua. selalu menggesek-gesekkan kepala dan badannya ke kaki kami saat sedang ngobrol di kedai, tak jarang naik ke kursi, mengharapkan kami mengusap kepalanya.


Wednesday, June 25, 2014

MozBelajar #01: Webmaker Workshop

Anazkia left her home just an hour after sunrise that Saturday morning, 14 June 2014. She had to catch the 6 a.m bus from her hometown in Serang, Banten. It took her about 3.5 hours to go to Jakarta. She had to be on time for a Webmaker Workshop, part of #MozBelajar series, that would start at 10 a.m in Gallery Qwords, in Kuningan area, Jakarta.

In her blogpost, Anazkia said that she wanted to learn and to know more about creating a web. As a blogger, she said, she didn't know enough.

She was one of more than twenty participants who enthusiastically registered for and attended the workshop that day. I'm touched because she was willing to spend so much time and effort to join the program. It was the first of #MozBelajar (belajar means to study) series, and the Eventbrite registration filled up quickly and was fully booked in less than 24 hours since its announcement.



I opened the workshop by asking the participants to share their hopes and expectations related to this program in post-notes. We stuck the notes to a tree I had drawn on a large sheet of paper, and from there, we made our "Tree of Hope" for this workshop. I learned that this inventory of expectations is important to get the participants focused on the things we are going to deliver in the program. If an
expectation exceeds the program plan, then I will set it aside for the time being and say that I will consider this expectation (such as: able to create a Forefox OS based applications) as a request to be
fulfilled in another, or a future, session.



After a short presentation about Mozilla Community and Mozilla projects, Fauzan and Rizky shared some Thimble, X-Ray Goggles and Popcorn basics, as the three important tools in creating “makes” with Webmaker. This session lasted until 12 o'clock in the afternoon, before participants could begin to try and use each tool by themselves.



When I planned this workshop, together with Rara and Fauzan, I decided that the whole workshop would feature one of most famous and versatile Indonesian food types—Soto, as a theme. Soto is a traditional soup, mainly composed of broth, meat and vegetables. The variations in Soto recipes are almost unlimited. Almost every region in Indonesia has its own version, with different kind of veggies, meat, condiments and even broth. Some use chicken, others use beef or buffalo meat. While a version of Soto may use coconut milk in its broth, another version can put ground peanuts in theirs. The chicken Soto in my hometown, for example, use only free-range chicken, with locally-sourced special thick soy sauce as part of its flavouring, and use deep-fried peanuts as well as home-made potato chips as condiments.

Soon after our Timbel (read it like Thimble) Rice, the next session began with Spectrogram on Soto. The participants decided their positions based on several statements/sentences related to Soto. It was a fun and funny session. Some participants had really strong arguments about the different aspects of Soto. But the most important thing was, once this spectrogram ended, they started to really really think about Soto.
 

Since morning, all participants had chosen to sit with their friends. So, we changed that arrangement when we asked them to started working together in small groups. We asked them to brainstorm about Soto, especially the one they intended to “make”. They were given 15 minutes to decide, before presenting results of their group discussion. All of these competing groups poured out their ideas to create the most attractive and unique food ever! During presentation, every group appeared to be very-very persuasive and proud with their ideas, with a tad of humour, of course!

 

The small group discussion continued with a two-hour session where participants tried to create “makes” together with their groups. We asked each group to create three “makes”, one using Thimble, the other two using X-Ray Goggles and Popcorn. We also asked them to create those “makes” based on the Soto they had chosen.

These are the “makes” they created in 2 hours:
Group 01:
Thimble: https://arieharyana.makes.org/thimble/OTcxNzAyMjcy/-mozillians-first-group-
X-Ray Google: http://alvinhutomo.makes.org/goggles/alvinhutomos-remix-of-websitebaguscom-websitebagus
Popcorn: https://roiacornia.makes.org/popcorn/23wz

Group 02:
Thimble: https://januarf.makes.org/thimble/OTU0OTI1MDU2/soto-ayam-cinta
X-Ray Google: http://januarf.makes.org/goggles/januarfs-remix-of-wajib-dicicipi-di-brazilia-moqueca-de-peixe-ikan-berkuah-gurih-dari-resep-ratusan-tahun--2
Popcorn: https://musyafirah.makes.org/popcorn/23wx

Group 03:
Thimble: https://ianborjonk.makes.org/thimble/ODU0MjYxNzYw/coto-kuda
X-Ray Google: http://priyossantoso.makes.org/goggles/priyossantosos-remix-of-cigna-living-well-cigna-living-well
Popcorn: https://ikhsanjepe.makes.org/popcorn/23wv

Group 04:
Thimble: https://tomong11.makes.org/thimble/OTA0NTkzNDA4/soto-jamur-kremes
X-Ray Google: http://nhie.makes.org/goggles/nhies-remix-of-coretanku-review-soto-jamur-instan
Popcorn: https://kuro.makes.org/popcorn/23wu

Group 05:
Thimble: https://anazkia.makes.org/thimble/OTIxMzcwNjI0/resep-soto-ikan-sarden
X-Ray Google: http://nikitomi.makes.org/goggles/nikitomis-remix-of-soloposcom-kuliner-nusantara-gurihnya-soto-lamongan-kuliner-nusantara-soto-soto-lamongan-lifestyle
Popcorn: https://budiman11120905.makes.org/popcorn/23wt

By the time they presented their works to everyone, we asked all participants and fellow Reps to vote for the most creative and most interesting “makes”. Group 03 became everyone's favourite. They clearly deserved to receive swag as a token of appreciation.


I would like to end this post by showing my deepest gratitude to my mentor Irayani Queencyputri, and Rendy Maulana, the owner of QWords who generously provided high-speed internet connection and lent a room in his office for us to use. Also, big thanks to fellow reps: Fauzan Alfi, Shinta Setiawan, Yofie Setiawan (nope, these two are not related) and one of the FSAs in Jakarta: Rizky Ariestyansyah. I wouldn't be able to host the event without your help, good people!

Saturday, June 14, 2014

Ternganga di Seoul


aku mengakhiri perjalanan ke Korea Selatan di Seoul. sebelumnya, aku menghabiskan hampir dua minggu sepanjang musim semi yang baru mulai, saat bunga-bunga bermekaran, di kota kecil bernama Paju, yang jaraknya kira-kira sejam berkereta (atau naik mobil) dari Seoul. Paju, adalah kota yang paling dekat letaknya dengan perbatasan antara Korea Utara dan Selatan. dan selama ini, kehadiran militer sangat terasa di daerah itu. Sebagaimana disebut dalam sejarah, sejak Perang Korea berlangsung sampai dengan kira-kira dua puluh tahun yang lalu, ancaman kekerasan antara dua negara sangatlah nyata.


di Paju, aku berkeliling ke beberapa tempat, tapi terutama dua area, Heyri Art Village dan Paju Bookcity. yang pertama adalah desa kecil yang dibangun bersama-sama oleh para pemilik lahan dan gedung, sebagai tempat kegiatan berkesenian. selain beberapa museum kecil, ada sejumlah studio, tempat workshop seni, galeri, dan ruang residensi. di sana-sini juga kita bisa melihat restoran, kafe tempat bermain anak-anak dan toko-toko yang artistik. hampir semua bangunan di sini bergaya modern dan minimalistik, menggunakan material seperti beton telanjang, pelapis kayu, atau lempengan besi di luar bangunannya, dan banyak dipengaruhi arsitek ternama di masa 90-an, misalnya Tadao Ando.

sementara Paju Bookcity, sesuai namanya --merupakan kawasan industri terpadu dalam bidang buku dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. selain perusahaan penerbitan (publishing company), di area ini terdapat juga perusahaan kertas, percetakan, perusahaan desain serta usaha transportasi dan distribusi buku. yang menarik sebetulnya karena untuk membangun Paju Bookcity, para inisiatornya memerlukan waktu perencanaan 10 tahun untuk memastikan bahwa setiap bangunan sesuai dengan zona yang dibuat. yang perlu ketenangan (publishing, desain) dibuat lebih mendekati gunung dan ada di kawasan 'dalam". Sementara yang lebih riuh dan perlu banyak akses (percetakan, distribusi) dibangun di kawasan 'luar'. perencanaan itu juga dibuat untuk menetapkan berapa jumlah lantai maksimal yang bisa dibangun (empat), dengan lantai dasar dibuat terbuka untuk publik (berisi perpustakaan, ruang pamer dan kafe) serta pembangunan yang menekankan penggunaan material yang mudah ditemukan, sehingga perawatannya lebih mudah dan lebih murah.

baik Heyri Art Village maupun Paju Bookcity menekankan pada konsep urban planning yang baik dan ramah lingkungan. para pemilik gedung menyepakati berapa persen area yang dapat digunakan untuk bangunan, dan berapa persen yang dibiarkan menjadi area terbuka hijau. untuk Heyri dan Bookcity, kawasan hijau dan terbuka ini juga penting, karena dapat digunakan sebagai tempat untuk meletakkan karya seni instalasi atau karya trimatra luar ruangan. sungai-sungai terjaga kebersihannya, dan ada area untuk taman dan gerumbul pepohonan dilengkapi bangku-bangku kayu dan besi, yang bisa dimanfaatkan untuk duduk-duduk dan bersantai, atau makan siang bersama.


tentu saja apa yang kulihat di Heyri dan Bookcity adalah kelanjutan dari sejarah kebangkitan Korea Selatan sejak berakhirnya PD II dan Perang Korea. sejarah mencatat bahwa bangsa Korea sudah mendiami Semenanjung (Korea) sejak 5000 tahun yang lalu, dan hingga kini mereka masih tinggal di tempat yang sama, dan kebudayaannya bersambung tanpa putus. ini berbeda dengan, misalnya --bangsa Mesir yang juga mendiami wilayah yang sama pada kurun waktu yang berdekatan, tetapi saat ini kebudayaannya terputus dengan kebudayaan Mesir Kuno. dua diantara beberapa museum di Heyri Art Village yang aku datangi adalah Museum Sejarah Korea Modern dan Museum Perhiasan Batu dan Giok. di museum yang kedua, aku melihat bukti-bukti kebudayaan dan peradaban Korea yang tinggi, terutama jika dilihat dari desain dan teknik yang rumit dalam pembuatan berbagai simbol dan stempel kerajaan. kita bisa melihat bahwa pemerintahan dinasti Joseon (1392-1910) memang merupakan masa kejayaan bangsa Korea yang panjang dan penting. sementara di museum yang pertama, aku melihat bagaimana bangsa Korea dengan kompak berjuang bersama untuk bangkit dari kemiskinan dan kehancuran pasca Perang Korea.

mengunjungi Museum Sejarah Korea Modern ini seperti kembali ke masa lalu. aku seperti bisa mengalami kembali suasana Seoul pada 50 atau 60 tahun yang lalu, ketika suasana kota belum menjadi sangat modern dan mengalami westernisasi yang hebat. museum ini disusun semirip mungkin dengan suasana permukiman padat pada tahun 60 dan 70-an, lengkap dengan bunyi-bunyian para pedagang keliling dan musik dari masa lampau, nuansa, bahkan aroma saat itu. para pengunjung dapat kembali ke masa lalu, mengintip ke dalam rumah-rumah dan tempat-tempat yang umum ada di jalanan di masa itu; misalnya: penjahit, penjual beras, warung makan, penjual produk-produk impor, dan lain sebagainya. ini adalah masa ketika bangsa Korea masih terjerat dalam kemiskinan. aku sudah membaca di berbagai literatur tentang bagaimana bangsa Korea bangkit, membangun dan mencapai kemajuan dalam waktu 30-40 tahun. dari museum ini aku mendapat gambaran yang cukup detil tentang bagaimana masa sebelum kebangkitan itu.

setelah berhasil mengatasi kemiskinan bersama, yang dilakukan bangsa Korea adalah mengejar industrialisasi, agar bisa menjadi negara maju. tahapan ini sebetulnya juga dipicu oleh permusuhan dan persaingan abadi dengan Jepang. maka kerja keras untuk mengejar berbagai ketinggalan dilakukan agar bangsa Korea bisa berdiri sejajar dengan bangsa Jepang. hasilnya, seperti kita lihat, tumbuhnya berbagai industri di Korea, mulai dari produk elektronik, telepon genggam, sampai mobil yang memicu juga industrialisasi di bidang yang lain, seperti makanan dan kosmetik. hal-hal yang makin banyak kita temukan di pasaran sekarang ini, dan semuanya buatan Korea. kelanjutan dari tahapan ini adalah gelombang penyebaran budaya pop Korea, mulai dari serial drama di TV, film hingga musik. saat ini, bangsa Korea sudah sampai di tahapan lebih lanjut dari kebangkitan itu, adalah dengan menjadi yang terdepan dalam bidang seni dan desain, sehingga banyak didirikan proyek-proyek ambisius untuk menunjukkan posisi dalam hal tersebut.

proyek-proyek inilah yang bikin aku terbengong-bengong setelah tiba di Seoul. salah satu diantaranya adalah Dongdaemun Design Plaza (DDP) yang dirancang sebagai pusat desain berkelas dunia. arsiteknya adalah Ziha Hadid, perempuan berdarah Iran yang kini menetap dan bekerja di London. bangunannya keliatan canggih dan memang canggih banget. huhuhuhu! aku jadi bengong sambil iri. karena semuanya dirancang dengan bagus dan mengedepankan akal sehat supaya jadi bangunan yang nyaman digunakan sekaligus hemat energi. ada material khusus yang digunakan di langit-langit lorong dan ruangan-ruangan di dalamnya, yang bersifat menyerap gaung. sehingga akustik bangunan ini di titik manapun tetap bagus. udah gitu, seluruh bangunan tidak menggunakan AC. tapi justru ventilasinya dibuat di lantai, dengan mengalirkan udara luar dari bawah, setelah melalui berbagai filter. cara ini, kalo nggak salah baca, mirip dengan proses aliran udara di dalam rumah rayap. dengan cara ini, berapapun suhu di luar gedung DDP saat itu, suhu di dalam ruangan akan berkisar 22-24˚C



dan gedung ini bukan hanya satu-satunya proyek yang mengagumkan yang bisa kita lihat di seantero Seoul. ada gedung perpustakaan yang baru dan futuristik, seperti pesawat ruang angkasa raksasa yang tiba-tiba hinggap di tengah kota Seoul, dan memutuskan pasang jangkar nggak jauh dari gedung balai kota yang bergaya arsitektur Korea tradisional. kontras antara kuil dan istana berusia ratusan tahun dan bangunan ultra-modern bisa ditemui di berbagai penjuru kota, memberi keunikan sendiri. begitu banyak lapisan kehidupan yang tetap dipertahankan, meskipun sudha berbungkus penampilan dan desain modern. selain DDP, juga ada MMCA (Museum of Modern and Contemporary Art) yang ingin jadi yang terdepan dalam menampilkan seni rupa internasional di asia. juga ada Seoul Arts Centre, yang melakukan hal serupa untuk berbagai seni pertunjukan, sekaligus membawa seniman-seniman ternama untuk berpameran di Korea.

sampai sekarang kekagumanku belum habis.

Tuesday, June 03, 2014

I am a Mozillian

My late mother in law told me this story:

"When I was 12 or 13 –this was in the 50's—my dad worked in the vicinity of the Presidential Palace. So we had a special pass, that we could use to go to the Palace through the back door. This was during President Soekarno's reign. One time, when I was there, in the Palace's backyard after dropping some snacks my mom had sent for the President's afternoon tea, he saw me and waved me to come closer. He looked at me and asked:
"How old are you? Are you in school?"
"I'm 12, I'm in junior high, first year"
He looked at me intently, and said something I never forget to this day
"You're so lucky because you can go to school. Many kids your age can't, because they don't have enough. Once you finish your school, please share your knowledge with everyone from Sabang to Merauke. They're all your brothers and sisters"


The story sticks. She told me "I think the memory of that conversation assured me to be what I am today." As a matter of fact, she was an activist who traveled tirelessly all over Indonesia, to the most remote area, to promote various issues such as prenatal and postnatal care for mothers and newborns, as well as reproductive health until the end of her life.

Until today, I think there are still many people living with limited resources in Indonesia, something that prevent them from pursuing higher education. Not only because of financial reasons, but also because they lack access to modern facilities, new books, and internet. I see the web as an unlimited resource for everyone.

I always have this 'itch' in me to do something more for the community, and it's been my fuel in activism and working with community-based organisations. And when I heard the story, I was convinced to share what I have with others. To stand for a big cause that can be spread and shared with many people from different walks of life.

That was how I started to become a Mozillian in 2011.
Because it is a cause, a community, a foundation and a corporation built to provide an open web for everyone. Where people can contribute all they have and all they can, as well as using all of those shared resources for good reasons. Because Mozilla believes in doing good, and believes in privacy when you are using the web.

This year, I pledged a bigger commitment with Mozilla by becoming a Mozilla Reps. I was approved as one of Mozilla Reps in Indonesia on Mozilla's birthday, March 31st. Such an auspicious day to start doing more and giving more for the community. I want to become Reps because I am passionate about community and using community-based organisation to make changes. In doing so, I started my Mozilla Reps program by engaging with students from vocational schools in Indonesia.

Internet users in Indonesia grow rapidly every year. And for the past 10 years, I saw a phenomenon of how Indonesian youngsters have huge interest in the Internet and its technology. Many of them started this passion at the very young age, by enrolling to vocational high schools, and majoring in Computer Engineering (combined with Network or Software pathway, or both). However, many of these schools—especially the ones in small cities, lack access and information to enrich their education. I see education and the Internet as their hope and means to bridge the gap between their living situations and the outside world.

Working with students in different areas in Indonesia is building a connection to the future. I believe that this new generation of technology savvy youngsters possess the skill required to create the next Indonesian world-class IT professionals.

So if you see me and other ReMo traveling to different islands in Indonesia in the coming years, bringing Mozilla projects to students from Sumatera to Papua, you know that we're sharing our knowledge and expertise. That I am working with communities from Sabang to Merauke because I am a Mozillian and they are all my brothers and sisters.

Friday, April 11, 2014

kota yang bisa kau sentuh


In New York!
Concrete jungle where dreams are made of
There's nothing you can't do
Now you're in New York!
These streets will make you feel brand new
Big lights will inspire you

--Empire State of Mind, Alicia Keys' part

lagu ini seperti angin yang berhembus di mana-mana menjelang keberangkatanku ke New York. aku mendengarnya diputar di radio saat naik taksi, di mal-mal, di radio dalam mobil bapak, jadi soundtrack episode tertentu serial yang diputar di TV kabel. seperti merayakan pertemuanku yang pertama dengan kota yang untuk seterusnya akan punya tempat khusus dalam hatiku.

tapi setelah aku sampai, barulah benar-benar kumengerti arti dari lagu itu. terutama bagian yang menegaskan bahwa semuanya mungkin. tak ada yang mustahil di New York, dan tiap hari terasa baru. baik hidup maupun kotamu.

karena setiap bagian kota yang besar menjulang dan melingkupi langkah-langkahmu itu bisa disentuh dengan mudah. tiap gedung tinggi, tiap bangunan megah dan luas, semuanya terasa dapat dijangkau, diraih. kota ini ada dalam genggaman kita karena tiap permukaannya bisa diraba, dan karenanya kita percaya bahwa semua mungkin.

aku tinggal di Midtown, kawasan yang riuh rendah dan sibuk tanpa kecuali, sepanjang waktu. suara-suara sudah dimulai pukul 4 pagi ketika truk-truk pengangkut sampah lewat, maju mundur membersihkan tumpukan plastik berisi sampah berbagai jenis. lalu kicau burung terdengar ramai, dan mobil yang lalu-lalang makin bertambah seiring naiknya matahari. kalau jendela apartemenku di lantai 8 kubuka, sayup-sayup bisa kudengar suara 'klik-klak' sepatu hi-heels, beradu dengan trotoar yang menghubungkan 1st dan 2nd Avenue. masih banyak yang memakai sepatu bertumit tinggi di sini. meskipun, sungguh! susah banget jalan kaki kesana kemari dengan tumit setinggi lebih dari 5cm!

dan jalan-jalan di Manhattan yang tampak selalu berubah, memang membuat hari-hari terasa baru. aku datang di awal September, ketika semua toko memajang diskon khusus Labor Day. Tak lama kemudian, kartu-kartu ucapan serta hadiah mulai disusun untuk menyambut Halloween, yang terasa semakin intensif saat Oktober menjelang. dua minggu sebelum akhir bulan, sudah ada tanda-tanda kedatangan para arwah di toko-toko, restoran, dan rumah-rumah. sarang labar-laba, lentera labu, hantu-hantuan yang mengintip dari balik penjuru, dan banjir kostum di jalanan. karena meskipun kamu berkostum Wonder Woman, dalam suhu 7 atau 10˚C kamu tetap harus jalan kaki ke stasiun subway.

tak lupa kemeriahan Columbus Day, Halloween, Thanksgiving yang tahun lalu berbarengan dengan Hannukah dilanjutkan oleh Black Friday, Cyber Monday, satu minggu penuh untuk belanja sebelum Natal, lalu seminggu lagi untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. rasanya hampir setiap minggu aku menemukan ada yang berubah di tiap sudut jalan. ada alasan lain untuk menoleh, untuk membeli, berpesta, berfoto-foto dan menjadi turis di kotamu sendiri. tidakkah itu terdengar baru?

mungkin bentuk gedung-gedung itu masih akan sama untuk waktu yang lama. tapi bahkan rona hitam dalam mantel-mantel yang dipakai semua orang setelah Halloween, bisa tampak berbeda setiap harinya. there are 50 shades of black, afterall!



Thursday, April 10, 2014

squirrels in the park

tiba-tiba aku teringat pada tupai-tupai di New York. yang berkeliaran bebas di taman dan seolah-olah jinak, mendekati manusia-manusia yang sedang menikmati taman yang tenang, angin sepoi dan sinar matahari yang hangat saat cuaca sedang baik.

di New York aku menjumpai mereka di taman-taman, dalam berbagai warna. yang satu ini, tupai bertubuh kecoklatan dengan ekor mekar berwarna kelabu muda. sebagian yang lain berwarna cokelat sedikit lebih gelap dan ekornya kemerahan. ada pula yang seluruh tubuhnya berwarna kelabu.

jika tak sedang ingin bermain-main di dahan pohon, mereka akan turun ke rerumputan yang menghampar. seperti sedang berada di sebuah pertunjukan, tupai-tupai itu akan berlompatan, lalu seperti saling memberi isyarat dengan tupai lainnya, menegakkan badan, mengamati sekeliling, lalu sibuk sendiri lagi.

tupai yang satu ini sedang menegakkan badan dan memandang waspada ke arah orang-orang di Central Park waktu aku memotretnya, di suatu hari Selasa yang sejuk, tak lama setelah aku sampai di New York. 

yang menurutku istimewa adalah tupai-tupai di Fort Tryon Park, taman di sekitar kawasan Washington Heights dan Hudson Heights. dari ujung kepala sampai ujung ekor, warnanya hitam kelam. warna matanya yang juga hitam tampak berkilauan. selain di area itu, aku tak menemukan lagi tupai-tupai berwarna hitam di tempat lain. meskipun ayahnya Rod --keluarga yang mengundangku merayakan Thanksgiving di Philadelphia--bilang, di daerah Bryn Mawr di pinggiran kota Philadelphia itu, juga ada banyak tupai hitam.

apa ada yang pernah melihat tupai berwarna hitam legam di Indonesia?

Friday, March 07, 2014

kehilangan


tadi pagi mendadak aku tertarik sama obrolan teman yang animator di salah satu perusahaan swasta di kota ini. dia mengeluhkan hilangnya satu software yang sering dia gunakan: xsi. dia bilang, teknologi software ini memang paling maju, kalau dibandingkan dengan maya atau 3ds max. dua software yang terakhir ini dimiliki oleh autodesk. 

si teman animator cerita kalo autodesk lalu membeli xsi. tak lama kemudian, xsi mulai dipreteli fitur-fiturnya, dan diberikan sebagai bonus, untuk pembelian maya atau 3ds max. dan akhirnya, keluar pengumuman bahwa xsi tidak akan mengeluarkan update lagi. supaya aku paham, si animator ini bilang "xsi dimatikan"

aku berkomentar bahwa kalau dua software lainnya kemudian ditempeli fitur-fitur xsi, mestinya nggak jadi masalah. tapi temanku bilang, tetap lain. karena tiga softwate ini ibarat tiga anak yang kepribadiannya lain-lain. si anak yang tadinya di luar rumah diadopsi, lalu bajunya dilucuti dan diberikan ke dua anak yang lainnya. setelah itu, si anak angkat nggak dikasih makan. tak lama kemudian, diracun sekalian. 

sampai di sini aku mulai menangkap penghancuran yang diceritakan temanku. konsepnya mirip sama apa yang dilakukan Richard Gere dalam Pretty Woman untuk perusahaan-perusahaan yang dibelinya. dipreteli, lalu dipecah jadi kecil-kecil. mungkin kita harus mengirim Julia Roberts untuk menyelamatkan xsi!

tapi rasa kehilangan itu, aku bisa memahaminya. kehilangan yang muncul karena ikatan kita yang sulit dijelaskan pada benda-benda mati. barangkali benar bahwa aku lebih sedih mendengar Michael Jackson meninggal, daripada ketika baju yang aku suka ketumpahan bleach di tukang laundry dan rusak selamanya. tapi toh aku tetap punya ikatan-ikatan tertentu dengan benda-benda milikku, yang mengelilingiku, dan ketika kubawa-bawa bisa membuatku merasa betah, di manapun aku berada. 

aku ingat suatu ketika selama berminggu-minggu aku merasa salah kostum karena lipstik bodyshop no.14 yang aku sudah kupakai bertahun-tahun mendadak lenyap dari peredaran. aku sempat membeli dua lipstik lain selama rentang waktu itu. tapi rasanya masih nggak benar juga. tapi kenapa kehilangan-kehilangan itu begitu mengganggu? sementara benda-benda mati adalah sesuatu yang mestinya mudah digantikan. 

barangkali karena di bawah sadar kita, setiap hari kita menyiapkan diri untuk menghadapi kehilangan paripurna yang tak bisa kita sangkal, dan tak bisa kita lawan. kehilangan yang tak dapat kita kendalikan. kematian orang-orang yang penting untuk kita. di sekitar kita. 

sementara benda-benda itu, yang kita kendalikan dan kuasai sepenuhnya, dapat kita perkirakan kepergiannya. rata-rata usia komputerku 5 tahun. telepon genggam sedikit lebih cepat kadaluwarsanya; 3 tahun sudah kuganti. tapi ketika menghadapi kehilangan-kehilangan yang tak kurencanakan, aku masih gagap. dan ketergantungan pada benda-benda mati itu juga, kurasa, yang membuatku akan merasa nyaman tinggal di suatu tempat baru. selama aku dikelilingi benda-benda milikku. 

bagaimana denganmu?
kehilangan benda apa yang menyesakkan dadamu?

Monday, July 08, 2013

pelajaran dari Eko Nugroho

6 Juli 2013, aku pergi ke Dia-lo-gue di Kemang untuk hari terakhir pameran Postcard Revolution #3-nya DGTMB, di mana Eko Nugroho mengundang siapapun mengirim karya seukuran postcard lalu memamerkannya berkeliling.

kemarin adalah hari terakhir acara pameran itu dan Eko datang untuk artist talk, ia bicara tentang karyanya dan mempresentasikan slide show yang berisi pameran-pameran yang pernah dibuatnya, karya-karya yang pernah dipamerkannya, dan proyek-proyek yang pernah ia buat dan menurutnya menarik. ia mulai misalnya dengan pameran tunggalnya di Cemeti Art House tahun 2002, yang jadi awal karir kesenimanannya, yang kemudian memberinya kesempatan untuk melakukan residensi di berbagai negara, juga melakukan proyek-proyek yang menarik. termasuk proyeknya dengan Louis Vuitton.

proyek dengan Louis Vuitton itu: membuat karya yang kemudian dijadikan desain untuk syal edisi khusus yang akan dipasarkan secara internasional mulai Juli ini. proyek semacam ini memang bukan hal yang baru buat LV, sebelumnya mereka pernah melakukan kolaborasi serupa dengan perupa internasional seperti Takashi Murakami dan Yayoi Kusama. jadi terasa lebih spesial sebetulnya, karena tidak banyak seniman yang ditawari kesempatan semacam ini, dan Eko adalah seniman Indonesia pertama mendapatkannya.

setelah artist talk, beberapa orang --termasuk aku, duduk semeja dengannya dan ngobrol. sebelum akhirnya pembicaraan diambil alih oleh dua orang yang mengaku jurnalis dan ingin membuat tulisan tentang Eko Nugroho. aku mendengarkan pertanyaan-pertanyaan mereka, dan mengamati bagaimana Eko dengan sabar dan menyeluruh menjawab semua pertanyaan itu datu demi satu.

salah satu pertanyaannya adalah; apa saran yang akan Eko berikan kepada seniman muda yang sedang memulai karirnya. jawaban pertanyaan itu membuatku tertegun.
Eko bilang, ada dua hal yang bisa dia sarankan. pertama tetap fokus pada tujuan dan tetap melakukan apa yang ingin dilakukan. ia menambahkan bahwa melakukan hal ini di Jakarta sama sekali tidak mudah. di kota ini, orang harus punya pekerjaan untuk bisa bertahan hidup, karena semua serba mahal. dan waktu berjalan lebih cepat karena untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain perlu waktu lama. tapi kalau memang kita punya minat, punya passion untuk melakukan sesuatu, kita harus terus melakukannya. meluangkan 20 persen waktu kita untuk melakukan hal yang kita minati. lalu mengumpulkannya pelan-pelan, misalnya tetap melukis sampai karya terkumpul lalu bisa mulai mengadakan pameran. karena seni perlu ditunjukkan pada publik. untuk melihat penerimaan publik dan mereview perkembangan karya yang kita buat.

aku jadi teringat pada tulisan-tulisanku, blog ini, dan bagaimana setelah mulai tinggal di Jakarta aku makin jarang menulis. aku meredup dan kehilangan produktivitasku yang biasa karena terlalu sibuk dengan hal-hal rutin di masa kini sehingga hampir kehilangan hal yang paling aku minati; menulis.
sampai saat ini aku masih sedikit tertegun dan memikirkannya. aku rasa aku harus melakukan sesuatu dan mengambil keputusan yang penting soal ini.

terima kasih, Eko Nugroho.

duka yang menyusun sendiri petualangannya

  rasa kehilangan seorang penonton pada aktor yang dia tonton sepanjang yang bisa dia ingat, adalah kehilangan yang senyap. ia tak bisa meng...