alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi
ini Pak Nasir yang itu
Thursday, August 23, 2007
aku disambut dengan senyum oleh tiga orang yang duduk di meja itu. tentu saja aku segera mendatangi Azlina, karena padanya aku berjanji untuk datang dan menemui teman-temannya dari Jakarta yang sedang ada di Ubud.
"this is Laura" katanya memperkenalkan gadis muda yang sibuk dengan pensil dan buku sketsa. wajahnya separuh asing namun bernuansa Asia. pastilah ia berdarah campuran.
"ini Pak Nasir" lelaki separuh baya itu tersenyum dan mengulurkan tangannya yang hangat.
aku duduk di satu-satunya kursi yang tersisa, membaca menu yang disodorkan pelayan, memesan dan mulai terlibat dalam percakapan mereka. Laura masih sibuk berkutat dengan pensil dan buku sketsanya. sudah bertahun-tahun aku tidak menganggap sikap seperti itu sebagai tidak sopan. seniman yang baik adalah seniman yang mencurahkan hidupnya untuk berkarya.
seperti yang ditulis Laura di sampul buku sketsanya.
home is here.
home is where a pen is near.
ketika Pak Nasir bercerita mengenai "Tribute to Rumi" yang sedang dipersiapkannya untuk Ubud Writers and Readers Festival, barulah Laura bereaksi. tampaknya dia sudah Rumi overloaded, karena selama lebih dari sebulan ini, ia terus menerus mendengar Pak Nasir bicara mengenai Rumi, pada siapapun yang duduk dengannya. "No more Rumi!" katanya sebelum memutuskan pindah ke meja di sebelah.
kami tertawa.
sejujurnya aku hanya tau sedikit sekali tentang Rumi. dan sempat berpikir untuk mencari tahu lebih banyak. aku membuat mental note untuk membaca karya Rumi. segera.
pesananku datang dan aku mulai makan. sebenarnya, mereka sudah lebih lama sampai dan sudah menyelesaikan makan malam, karena aku lebih dulu menyempatkan datang ke pembukaan pameran "Luminescence"-nya Tisna Sanjaya di Tonyraka Gallery. sambil makan aku sempat bercerita tentang diriku, latar belakangku dan pekerjaanku pada Pak Nasir.
tampaknya ia tertarik, karena kemudian memutuskan untuk datang ke Komaneka hari ini.
ia kemudian bercerita tentang biografi seorang tokoh yang tengah ditulisnya. mula-mula aku mengalami kesulitan mengingat nama perempuan yang fotonya ia tunjukkan. tapi kemudian aku ingat, setelah ia memberi petunjuk tambahan. wah! dari cerita Pak Nasir, perempuan ini hebat sekali. dan dia pasti bukan penulis sembarangan kalau sampai mendapat kesempatan menulis biografinya.
Laura baru kembali ke meja kami setelah seseorang nyaris memindahkan kursinya yang saat itu kosong ke meja yang lain. ia lalu menunjukkan gambar yang dibuatnya. potret diri dengan kedua tangan tertangkup di telinga, meneriakkan "NO MORE RUMI!" dengan bulan sendu yang separuhnya tertutup awan di latar belakang. sementara di bagian bawah gambar dirinya, ia menulis "I was raw, I got baked and sold at Casa Luna"
kami semua tertawa melihatnya. Casa Luna itu Restoran dan bakery di Ubud, kalo ada yang nggak tau. dan adalah Rumi yang berkata "I was raw, I got cooked, I burned"
Laura kemudian menunjukkan buku sketsanya. karena Pak Nasir bilang kalau aku manager galeri seni dan mengkurasi pameran juga. sambil melihat drawing didalamnya, kami mulai bicara tentang Takashi Murakami. aku bilang padanya kalau menurutku Takashi adalah salah satu seniman paling penting di Asia saat ini karena karyanya merangkum pop culture, media massa dan sub culture sekaligus. karya-karyanya menjelaskan bagaimana generasi yang tumbuh pada dekade 80'an dan seterusnya dibesarkan di depan televisi, oleh kartun, anime dan manga. dan fenomena ini menurutku, tidak hanya terjadi di Jepang, tapi juga beberapa negara lain di Asia Timur dan Tenggara.
*lirik-lirik id-anime*
sampai kemudian aku menemukan salah satu halaman buku sketsa Laura berisi gadis berusia belasan, dengan ekspresi yang mengingatkanku pada Usagi Tsukino, yang bilang "Leo, do you, do you, do you want to?"
and I simply said "Franz Ferdinand"
Ha! kami ternyata sama-sama suka 4 cowok Scottish yang tergabung dalam grup post-punk itu:D
sementara Pak Nasir berurusan dengan bill (he said jokingly "di negara ini, membayar bill adalah urusan laki-laki"), Laura menulis alamat emailnya untukku, karena aku berjanji merekomendasikan bacaan tentang Takashi Murakami untuknya. ia menulis. Laura-NASIR TAMARA.
aku tertegun.
pantas wajah itu terasa familiar.
bertahun-tahun yang lalu, waktu masih SMP, setiap hari aku membaca artikel-artikel yang ditulis oleh Nasir Tamara, karena kami langganan koran Republika di rumah dan ia menjadi editor disana. wawasan dan pikiranku tumbuh bersama tulisan-tulisannya. aku belum sepenuhnya memahami apa yang kubaca saat itu, tapi setidaknya, tulisan Nasir Tamara yang paling mudah dibaca. dan tentu akibat kelihaian kamera, aku mengira ia lebih jangkung daripada waktu aku bertemu langsung dengannya tadi malam. dulu juga rasanya ia lebih kurus:p
it was nice meeting you, Pak Nasir.
"this is Laura" katanya memperkenalkan gadis muda yang sibuk dengan pensil dan buku sketsa. wajahnya separuh asing namun bernuansa Asia. pastilah ia berdarah campuran.
"ini Pak Nasir" lelaki separuh baya itu tersenyum dan mengulurkan tangannya yang hangat.
aku duduk di satu-satunya kursi yang tersisa, membaca menu yang disodorkan pelayan, memesan dan mulai terlibat dalam percakapan mereka. Laura masih sibuk berkutat dengan pensil dan buku sketsanya. sudah bertahun-tahun aku tidak menganggap sikap seperti itu sebagai tidak sopan. seniman yang baik adalah seniman yang mencurahkan hidupnya untuk berkarya.
seperti yang ditulis Laura di sampul buku sketsanya.
home is here.
home is where a pen is near.
ketika Pak Nasir bercerita mengenai "Tribute to Rumi" yang sedang dipersiapkannya untuk Ubud Writers and Readers Festival, barulah Laura bereaksi. tampaknya dia sudah Rumi overloaded, karena selama lebih dari sebulan ini, ia terus menerus mendengar Pak Nasir bicara mengenai Rumi, pada siapapun yang duduk dengannya. "No more Rumi!" katanya sebelum memutuskan pindah ke meja di sebelah.
kami tertawa.
sejujurnya aku hanya tau sedikit sekali tentang Rumi. dan sempat berpikir untuk mencari tahu lebih banyak. aku membuat mental note untuk membaca karya Rumi. segera.
pesananku datang dan aku mulai makan. sebenarnya, mereka sudah lebih lama sampai dan sudah menyelesaikan makan malam, karena aku lebih dulu menyempatkan datang ke pembukaan pameran "Luminescence"-nya Tisna Sanjaya di Tonyraka Gallery. sambil makan aku sempat bercerita tentang diriku, latar belakangku dan pekerjaanku pada Pak Nasir.
tampaknya ia tertarik, karena kemudian memutuskan untuk datang ke Komaneka hari ini.
ia kemudian bercerita tentang biografi seorang tokoh yang tengah ditulisnya. mula-mula aku mengalami kesulitan mengingat nama perempuan yang fotonya ia tunjukkan. tapi kemudian aku ingat, setelah ia memberi petunjuk tambahan. wah! dari cerita Pak Nasir, perempuan ini hebat sekali. dan dia pasti bukan penulis sembarangan kalau sampai mendapat kesempatan menulis biografinya.
Laura baru kembali ke meja kami setelah seseorang nyaris memindahkan kursinya yang saat itu kosong ke meja yang lain. ia lalu menunjukkan gambar yang dibuatnya. potret diri dengan kedua tangan tertangkup di telinga, meneriakkan "NO MORE RUMI!" dengan bulan sendu yang separuhnya tertutup awan di latar belakang. sementara di bagian bawah gambar dirinya, ia menulis "I was raw, I got baked and sold at Casa Luna"
kami semua tertawa melihatnya. Casa Luna itu Restoran dan bakery di Ubud, kalo ada yang nggak tau. dan adalah Rumi yang berkata "I was raw, I got cooked, I burned"
Laura kemudian menunjukkan buku sketsanya. karena Pak Nasir bilang kalau aku manager galeri seni dan mengkurasi pameran juga. sambil melihat drawing didalamnya, kami mulai bicara tentang Takashi Murakami. aku bilang padanya kalau menurutku Takashi adalah salah satu seniman paling penting di Asia saat ini karena karyanya merangkum pop culture, media massa dan sub culture sekaligus. karya-karyanya menjelaskan bagaimana generasi yang tumbuh pada dekade 80'an dan seterusnya dibesarkan di depan televisi, oleh kartun, anime dan manga. dan fenomena ini menurutku, tidak hanya terjadi di Jepang, tapi juga beberapa negara lain di Asia Timur dan Tenggara.
*lirik-lirik id-anime*
sampai kemudian aku menemukan salah satu halaman buku sketsa Laura berisi gadis berusia belasan, dengan ekspresi yang mengingatkanku pada Usagi Tsukino, yang bilang "Leo, do you, do you, do you want to?"
and I simply said "Franz Ferdinand"
Ha! kami ternyata sama-sama suka 4 cowok Scottish yang tergabung dalam grup post-punk itu:D
sementara Pak Nasir berurusan dengan bill (he said jokingly "di negara ini, membayar bill adalah urusan laki-laki"), Laura menulis alamat emailnya untukku, karena aku berjanji merekomendasikan bacaan tentang Takashi Murakami untuknya. ia menulis. Laura-NASIR TAMARA.
aku tertegun.
pantas wajah itu terasa familiar.
bertahun-tahun yang lalu, waktu masih SMP, setiap hari aku membaca artikel-artikel yang ditulis oleh Nasir Tamara, karena kami langganan koran Republika di rumah dan ia menjadi editor disana. wawasan dan pikiranku tumbuh bersama tulisan-tulisannya. aku belum sepenuhnya memahami apa yang kubaca saat itu, tapi setidaknya, tulisan Nasir Tamara yang paling mudah dibaca. dan tentu akibat kelihaian kamera, aku mengira ia lebih jangkung daripada waktu aku bertemu langsung dengannya tadi malam. dulu juga rasanya ia lebih kurus:p
it was nice meeting you, Pak Nasir.
Previous posts
Archives
- December 2004
- January 2005
- February 2005
- March 2005
- April 2005
- May 2005
- June 2005
- July 2005
- August 2005
- September 2005
- October 2005
- November 2005
- December 2005
- January 2006
- February 2006
- March 2006
- April 2006
- May 2006
- June 2006
- July 2006
- August 2006
- September 2006
- October 2006
- November 2006
- December 2006
- January 2007
- February 2007
- March 2007
- April 2007
- May 2007
- June 2007
- July 2007
- August 2007
- September 2007
- October 2007
- November 2007
- December 2007
- January 2008
- February 2008
- March 2008
- April 2008
- May 2008
- June 2008
- July 2008
- August 2008
- September 2008
- October 2008
- November 2008
- December 2008
- January 2009
- February 2009
- March 2009
- April 2009
- May 2009
- June 2009
- July 2009
- August 2009
- September 2009
- October 2009
- November 2009
- December 2009
- January 2010
- February 2010
- March 2010
- May 2010
- January 2011
- April 2011
- May 2011
- June 2011
- October 2011
- November 2011
- May 2012
- October 2012
- March 2013
- April 2013


hmm...ga terlalu akrab dg nama itu..nampaknya aku mesti update info dg jaman sekarang...
*sigh*
Minta tanda tangan dan foto bareng nggak, Jeng? :-D
Ya...kalo jamannya ngkoh dulu kan blom ada republika. Korannya aja masih dipahat di batu
*kabooorrr*
Mudah-mudahan pendapat anda tidak berubah setelah mengenal lebih jauh pribadinya......:-) :-) :-)
Begitu hebat ???? No comment....
yang terlihat hebat di luar belum tentu hebat yang sesungguhnya kan...haha..
Wah, nampaknya anda kenal dekat dengan pak nasir yaa..sampai bernada sinis begitu?kita sih hanya mengagumi tulisan2 beliau di Republika dulu.Apa yang salah dengan personality-seorang nasir tamara?